Aku membuka pintu kamar. Saat perjalanan pulang tadi, aku aku sempat berselancar di toko online, banyak sepatu-sepatu lucu dan keren yang ingin kumiliki. Iya, jadi aku telat beli sepatu. Meski sudah masuk SMA dan jadi murid baru, sepatuku masih sepatu lama yang kupakai saat SMP. Semuanya gara-gara kakakku yang rewel minta dibeliin laptop sama Papa, jadinya sepatuku ditunda, dengan alasan masih bisa pakai yang lama. Dan Papa menjanjikan beli sepatunya bulan depan.
Jadi, tadi aku iseng cari model-model sepatu gitu. Siapa tahu nemu sepatu yang bagus dan murah. Lumayan kan? Dan beruntungnya, aku menemukannya. Namun sialnya, uangnya nggak ada hehe.
Masih terbayang barang-barang desain sepatu di online shop tadi, sepatu keluaran terbaru!!! Aku sangat ingin membelinya… Namun, setelah aku membuka isi dompetku yang tinggal 250.000 untuk jangka waktu seminggu, tentunya dengan sederet keperluan penting yang harus kubayar seperti buku, angkot, juga jajan di kantin. Ya kali aku nggak fotokopi tugas dan nggak makan di kantin.
Bisa gizi buruk nanti.
Aku pun menelan ludah getir, menarik napas panjang lalu mencoba menahan keinginanku. Namun semakin aku menahannya, benda-benda mahal itu semakin betah saja muncul di benakku. Aku masih belum bisa tidur memikirkannya, padahal besok hari Senin dan harus masuk pagi. Alhasil..
“Cukup!” Aku tidak tahan dengan godaan ini, aku memutuskan untuk membelinya dengan cara menjalankan misi penghematan dan cari uang sendiri. Aku pun meraih phone-cell di atas meja dekat tempat tidurku, beraksi memanfaatkan gratisan internet untuk browsing majalah-majalah yang menawarkan honor bagi pengirim cerpen! Daannn... Akhirnya aku bisa tidur juga setelah menemukan daftar email majalah yang menawarkan itu. Dengan honor lumayan tentunya.
****
Pagi harinya…
“Kak… Tungguin!!!! Aku berangkat bareng kakak yaaa.” Aku berteriak sambil berlari dan masih menyisir rambutku yang panjang dan ribet, demi mengejar Kak Rere ke ruang tamu.
“Bareng? Berangkat sendiri sana! Naik angkot! Katanya nggak mau kalau kakak anterin!” serunya.
Auuuu kemakan omongan sendiri deh aku. Tapi, kali ini nggak pa-pa deh.”Plis kakkkk!” aku memohon.
“Kakak buru-buru…” seru Kak Rere seraya menaiki motornya.
Ahh nih orang! Buru-buru atau emang ogah? Udah ditungguin ceweknya? Benar-benar nggak bisa diajak kompromi, aku kan lagi dalam misi penghematan demi sepatu keren, sayang dong kalau uang habis buat beli bensin dan ongkos parkir. Lagian kalau dibonceng kan bisa noleh kanan-kiri lihat pemandangan, siapa tahu dapat inspirasi buat cerpen, kekeke..
“Ayolah… bentar lagi selesai kok, tinggal pakai sepatu doang!!” teriakku lagii.
“Makannnya.. rambut yang kayak ekor kuda tu potong aja biar nggak bikin lama!” erangnya.
Akhirnya, aku berhasil berangkat bersama kakak ke duaku.
Misi pertama sukses, dan ide baru muncul dari benakku. Aku akan memotong rambutku, tapi aku akan memanfaatkan Hana dan meminta tantenya yang baik hati untuk memotong rambutku dengan tarif Rp-0, sekalian ngikut motornya ke salon tantenya yang cukup dekat dengan rumahku.
****
“Potong di mana? Kok tambah jelek?” celetuk Kak Yogi ketika baru datang. Kak Yogi adalah kakak peramaku. Jadi, aku punya dua kakak. Yang pertama adalah Kak Yogi. Orangnya tinggiiiii banget, hampir nyentuh atap kalo atapnya nggak terlalu tinggi. Tapi, yang tinggi tuh bukan cuma badannya, nilai akademisnya juga, sehingga bikin dia lagi lagi tinggi satunya lagi… Apa lagi kalau bukan tinggi hati!
Seketika bibirku manyun, kemudian menjawab.
“Di tantenya temanku! Gratis lhoo… Ini tu model rambutnya Sohyoung tau… Tau Sooyoung nggak?”
“Nggak.” Jawabnya pendek. Ih emang orang kuper sih. Taunya tokoh-tokoh sains doang! Bener-bener gak asyik! Tapi, bagaimana pun dia adalah kakaku dan aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin dmei keberhasilan misi hematku.
“Oh iya Kak, nanti sore anterin ke supermarket ya? Aku mau beli bahan buat praktek bikin yogurt ” pintaku dengan wajah imut, maksudnya sih bukan cuma dianterin. Tapi dibayarin juga.
“Ok, ntar kalau kakak udah nggak capek.” Wahhhh beneran? Mimpi apa aku kakakku bisa semudah ini dibujuk? Terimma kasih Tuhan… Engkau mengabulkan doa anak yang tulus menabung demi meringankan beban orang tua ini!
“Yeee.. makasih kak Rere!” Seruku berterimakasih dengan sangat manis tentunya. Supaya kakak tersayangku ini tidak berubah pikiran.
Sorenya, Kak Yogi benar-benar mengantarku ke supermarket. Ini deh gunanya punya kakak cowok. Akhirnya setelah muter-muter cari bahan buat yogurt, kami pun pergi ke kasir. Sebelum sampai di kasir, tanpa sengaja aku melihat wajah dan tampilan baru rambutku di cermin besar yang semakin lama dilihat semakin mirip artis Korea.
“Kak, tidakkah aku terlalu cantik untuk menjadi saudaramu? Bahkan aku lebih manis dari artis idolamu si Yoona” ujarku sambil menarik tangan Kak Yogi agar turut melihat wajahku.
“Dasar! Terlalu PD… ayo jalan, aku mau cepet-cepet pulang terus belajar.” Jawabnya sambil mengacak rambutku yang bagus lalu mendorong kereta belanja ke kasir. Belajar-belajar… itu lah yang ada di pikirannya.
Saat sampai di rumah, kini saatnya beraksi dengan tidak menyia-nyiakan keberadaan kakakku yang satunya, kini giliran Kak Rere.. Si tengahyang super ganteng. Aku langsung meminjam modemnya untuk internetan gratis buat ngirim cerpen ke redaksi majalah yang aku pilih.
“Kak, besok siang bisa jemput aku di rumah Hana ya? Sekalian ngantar aku les juga.”
“Nggak bisa, kakak besok pulang sore.” Jawab Kak Rere
Aku pun memutar otakku, memanfaatkan pikiran cerdikku. Aha! Aku akan menyuruh teman-temanku kerja kelompok di rumah, dan saat mereka pulang, aku akan minta antar salah satu dari mereka untuk ke tempat les.
****
“Tami! Aku lihat-lihat si Devan itu mirip Jungkook!” bisik Rita, teman yang berdasarkan absen terpilih untuk satu kelompok denganku.
“Jungkook? Jauh… cuma matanya aja yang sama.” Jawabku
“Tapi kan punya kesamaan Tam!” ia bersikeras.
“Iya juga yaa.. lama-lama dia good looking juga!” timpal Anjani. Hhh.. dasar!
Usai kerja kelompok, aku pun ikut motor temanku yang juga les di tempat lesku dan ternyata orang itu adalah Devan! Jungkook palsu yang ternyata nggak terlalu ngeselin juga.
Akhirnya, dia pun mengantarkanku ke tempat les yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Cukup lama, dan keadaan ini membuat jantungku sedikit menaikkan tempo getarannya. Kami berdua, hanya berdua! Melihat gayanya saat membawa motor sambil memboncengku membuatnya sedikit banyak mirip aktor keren.
“Rambutmu bagus.” Kata Devan tiba-tiba memulai pembicaraan
“Bagus?” aku balik bertanya mendengar Devan mengucapkan kata itu, Devan adalah orang yang rese’. Ya, Devan ini yang kemarin ikut menyembunyikan tasku. Untuk apa dia tiba-tiba membicarakan masalah rambut, rambutku pula.. Apa itu tidak aneh? Ini kan bukan hal penting..
“Iya.. kamu kelihatan manis seperti Krystal.” Jawabnya
Apa? Krystal f(x) yang cantik itu? Mendengar perkataannya, serasa ada kembang api meledak di dadaku, Duarr Duarr! Ada apa ini? Masa aku naksir Devan sih?
***
“Tami.. ada telepon!” Mama berteriak memanggilku dari bawah saat aku baru saja sampai di rumah setelah menjalani hari-hari awal di SMA Angkasa yang full pelajaran, ditambah les yang melelahkan. Aku pun turun tanpa mengganti baju terlebih dahulu.
“Siapa Ma?”
“Hana, temen kamu katanya” kata mama sambil memberikan gagang telepon kepadaku. Aku mengambil gagang telepon dan duduk di kursi yang menghadap ke layar televisi.
“Halo?” sapaku, seperti format yang biasa dipakai penelpon pada umumnya.
“Tami? Ini aku Hana” kata suara dari seberang.
“Iya, mamaku udah bilang tadi. Ada apa, tumben telepon? Dapet nomer rumahku dari siapa?”
“Aku dapet nomer rumah kamu dari Bu Lina, aku juga tadi minta alamat ruma h kamu, soalnya aku mau ke rumah kamu, kamu abis ini nggak kemana-mana kan?” kata Hana tanpa bernafas sepertinya. Nih anak gercep banget minta alamat dan nomor teleponku, udah kayak detektif aja. Saking nggak ada temennya kayaknya sampai-sampai mau berkunjung ke rumah. Tapi nggak apa-apa sih. Biasanya kalau ada tamu begini, mama jadi masak enak hehe.
“Nggak kemana-mana kok” balasku. “Oke aku tunggu ya, awas aja kalo sampek nggak datang” kataku mengancam tapi kemudian kami berdua tertawa bersamaan.
“Oke, aku berangkat sekarang deh”
“Oke boss hati-hati ya!”.
Tuutt.. tuutt.. tuutt.. tuttt… telepon pun terputus.
Aku bergegas menuju kamarku untuk mengganti baju dan mengambil komik yang baru saja aku beli saat pulang dari sekolah. Mandinya nanti-nanti aja deh.
Aku mengambil komikku yang masih terbungkus plastik di dalam tasku. Aku membuang bungkus plastik di tempat sampah kecil yang terletak di balkon rumahku. Aku melihat Devan telah tertidur pulas di kursi balkon rumahnya yang nampak empuk dengan sandaran yang empuk juga.
Aku mendekati pagar balkonku, ingin melihat wajah ‘sang dewa penyelamatku’ lebih dekat. Haha, lucu, kayak anak kecil, tapi manis juga.
Tokk.. tokk.. tokk.. suara ketukan pintu membangunkan lamunanku dan menutup kembali pintu kamar yang menghubungkan anTami balkon dan kamarku. Dan aku membuka pintun kamarku yang di ketuk oleh seseorang. Ternyata mama yang mengetuk pintu kamarku.
“ada temen kamu di bawah”
“oh, iya ma” aku kemudian menutup pintu kamarku dan turun bersama mama. “mama, buatin minum ya, aku juga deh” kataku kemudian. Mama mengangguk dan menuju dapur.
“hai Hana, udah lama?” aku bertanya ber-basa-basi. Jelas saja belom lama. Ya mana mungkin mama nyuruh anak orang nunggu di bawah tanpa dipersilahkan masuk dan dan bertemu denganku, teman yang ingin ditemuinya. Mau ditemui Kak Rere? Kan nggak mungkin. Bisa-bisa dicemburui sama ceweknya.
“enggak kok, sini duduk, aku mau ngomong” kata Hana sambil menepuk sofa di sampingnya. Aku pun menurutinya, dan duduk sambil menaruh komikku di atas meja.
“aku cuma mau ngasih ini ke kamu?" Hana menyodorkan amplop coklat kecil kepadaku.
“apa nih?” tanyaku.
“buka aja sendiri” kata Hana sambil mengangkat bahunya. Aku yang penasaran segera mebuka amplop surat dan mengeluarkan surat itu dengan cepat.
to : Tami
jauhi BAGAS. Thank’s.