What? Keningku berkerut. Aku menatap Hana. “apa-apaan si nih? Ini dari siapa?” tanyaku sambil memberikan surat itu kepada Hana.
“itu dari Kak Kikan, tadi waktu di sekolah aku di suruh memberikan ini ke kamu, tapi kamunya buru-buru kerja kelompok sama kelompok kamu.. makanya aku ngasihnya sekarang”
“Kak Kikan? Ketua osis itu?” Karin hanya menganggukkan kepalanya. “trus, Bagas? Bagas yang ketua kedisiplinan itu?” aku bertanya-tanya, karena memang benar nggak ngeh sama isi surat itu.
“Iyaaa… itu lho, Kak Bagas yang itu itu.. masak kamu yang tiap hari ke ruang pembinaan nggak ngeh?”
“apa sih maksud dia, yang bikin aku selalu masuk ruang pembinaan kan ya Kak Kikan ini, aku juga nggak begitu deket ama Kak Bagas, terakhir kali ketemu aja waktu aku diajak Kak Kikan ke ruang pembinaan kemudian Kak Bagas tiba-tiba ngikut masuk, trus aku tinggal pulang, trus aku nggak pernah ketemu lagi deh” kata ku bingung, kemudian mama datang dan memberikan dua cangkir teh.
“makasih ma”
“diminum gih tehnya” kata mama, kemudian mejauh dari kami berdua. Tapi, paling mama nguping dari belakang pintu, karena aku yakin beliau sempat mendengar aku menyebutkan nama cowok. Ya, biasalah orang tua suka kepo kalau anaknya ada hubungan sama cowok.
“trus aku mesti ngapain?” aku bertanya, memulai pembicaraan lagi.
“ya udah sih, jauhin aja Kak Bagas itu, dari pada kamu berurusan sama Kak Kikan yang nggak mau kalah itu” kata Hana sambil menyeruput tehnya. Bener juga sih kata Hana, jauhi Kak Bagas. Ah, itu masalah gampang.
“tapi kenapa harus aku yang dikasih surat kayak beginian, cewek-cewek yang pernah masuk ruang pembinaan dan bertemu dengan Kak Bagas kok nggak dikasih?” kataku kembali bingung dengan jalan pikiran Kak Kikan.
“nggak tau juga sih” kata Hana sambil menyeruput habis tehnya. Nikmat banget ya kayaknya…
Kami berdua akhirnya nggak hanya ngobrol tentang Kak Kikan dan Kak Bagas yang nggak penting banget itu, tapi kami juga ber-haha-hihi hingga akhirnya Hana pamit pulang. Saat aku mengantar Hana hingga depan pintu, Kak Rere baru saja datang, padahal udah jam tujuh malam.
“dari mana aja kamu kak? Kehabisan bensin? Tersesat di hutan?” tanyaku dengan nada mengejek. Seolah besok nggak butuh Kak Rere buat nganterin.
Kak Rere hanya menyenggol bahuku dengan muka sebal tanpa menjawab pertanyaanku. Huh, dia memang begitu!!
“komik siapa nih” tiba-tiba suara di belakangku mengagetkanku.
“punyaku kak!” ternyata Kak Rere sudah berada di tangga, sambil memegang komik baruku yang belum aku baca.
“mau?” tanyanya. Duh, bau-baunya nggak enak nih. Dia bakal balas dendam dengan ngerjain aku.
“mau dong!! Balikin gih! Itu komik baru beli, aku belinya nabung” kataku sambil berlari menuju Kak Rere yang sudah bersiap untuk berlari juga.
“ambil aja sendiri” Kak Rere berlari sangat cepat dan masuk kedalam kamarnya yang tepatnya disebelah kamarku. Dan, ctek, ctek. Kamar Kak Rere di kunci, gimana ngambilnya kalo udah gini??
Jdarr jdorr jdarr jdorr..
“KAK RERE!! BUKA DONG PINTUNYA!!” teriakku dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu dengan kejamnya.
“PASTI AKU BALIKIN KOK KOMIKNYA, TAPI SETELAH AKU SELESAI BACA SEMUAA.. ASIIKK” teriak Kak Rere dari dalam kamar. s****n memang kakakku yang satu ini.
Aku sebel banget sama Kak Rere, aku beli komik hari ini kan biar ada bacaan yang bisa aku baca. Akhirnya aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan marah dan sebel sama Kak Rere. Aku masuk ke dalam kamar dan membuka pintu balkon. Devan sudah nggak ada. Pintu balkon rumahnya juga terkunci, apa dia pergi? Aku pun keluar kamar menuju kamar Kak Yogi, kamar kakak pertamaku yang kosong karena sedang kuliah di luar kota.
Ya, kemarin sempat di rumah karena dia pulang untuk beberapa hari, jadwal dia pulang lebih tepatnya. Ada buku apa ya di sini? Aku membuka lemari kecil yang terletak dibawah di samping meja belajarnya. Ini!! kayaknya buku ‘IMPLY’ ini bagus deh, aku ambil aja buat baca-baca.
Aku keluar dari kamar Kak Yogi bersamaan dengan keluarnya Kak Rere dari kandangnya (soalnya, kamarnya kotor, berantakan kayak kandang sapi).
Aku berlari mengejarnya, tapi Kak Rere yang refleks langsung masuk kembali ke dalam kamarnya. Dan lagi-lagi, ctekk, ctekk, dia mengunci pintunya. Tau banget aku sedang mengintainya. Beruntung aku sudah mendapat ganti.
Tanpa menghiraukan lagi Kak Rere, aku masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu. Aku duduk di kursi balkon yang menghadap ke arah bintang-bintang yang nampaknya hari ini sedang senang. Aku mebuka buku yang berjudul IMPLY, imply itu apa artinya ya? Nggak tau ah!! Aku membuka halaman pertama buku itu. Waa!! Kenapa tulisan aja isinya?? Nggak ada gambarnya sama sekali?? Aku berlari keluar kamar menuju kamar Kak Yogi yang berada di samping kandang Kak Rere untuk mengembalikan buku aneh itu. Aku kembali duduk di kursi balkon tanpa melakukan apa-apa. Hingga aku tertidur…
**
“pagi semuaa” tidak seperti biasa, dengan semangat aku menyapa saat aku telah sampai di kelas. Hana yang duduk di bangkunya nampak bingung dengan sikapku pagi ini.
“masih waras kamu Tam?” tiba-tiba Hana menyodorkan pertanyaan nggak jelas kepadaku. Aku hanya tersenyum sambil menaruh tas di laci. Mungkin sebenarnya, aku lah yang nggak jelas.
“eh, kamu mau nganter aku ke kamar mandi nggak?” aku bertanya kepada Hana yang sedang mengerjakan PR fisika. Hana hanya menggeleng gelengkan kepala dengan pandangan terus menatap buku fisikanya. Duh, PR kan harusnya dikerjain di rumah. Aku yang kemarin sempat baca komik dan dan cekcok sama Kak Rere aja masih sempat ngerjain PR.
Eh, aku ngerjain di tempat les ding. Dibantuin guru lesku yang baik.
“ah kamu, ya udah deh, aku ke kamar mandi sendiri” kataku cepat-cepat keluar dari kelas.
Dua menit, lima menit, aku menunggu dan akhirnya tidak sabar.
“woy, yang di dalem cepet keluar dong!! Udah kebelet nih” teriakku karena orang yang ada di dalam kamar mandi udah lama nggak keluar-keluar. Kamar mandi ini satu-satunya kamar mandi yang dekat dengan kelasku. Kalau aku pilih yang di atas, takut bel masuk.
Jdarr jdorr jdarr jdorr!!
“cepetan dong.. gentian…. ” teriakku lagi.
Akhirnya, ceklekk, pintu dibuka!! Siapa sih orang rese’ yang ada di dalamnya?
Astaga!! Lagi-lagi Devan. Ini aku yang nyasar ke kamar mandi cowok, atau Devan yang nyasar ke kamar mandi cewek? Biarin deh, udah kebelet juga. Hah.. lega..
Aku harus cepat-cepat kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi. Saat aku sampai di kelas ada gerombolan kakak kelas yang berpidato di depan kelas. Aku masuk kedalam kelas tanpa menoleh ke arah kakak-kakak itu. Kemudian aku segera duduk di bangkuku.
“Han, ini ada apa?” aku berbisik kepada Hana yang sedang asyik mendengar ocehan kakak kelas itu.
“itu, pendaftaran yang mau ikutan osis. Kamu mau ikut?” tanya Hana tiba-tiba.
“aku? Mau ikut?” Aku menunjukkan jari telunjuk ke diriku sendiri. “Nggak deh, malu-maluin banget” aku segera menggeleng-geleng kepala.
“Ih… ayo ikut! barengin aku.. ya ya?” ajak Hana dengan wajah yang memelas. Aku paling males kalo ikut yang beginian ini. Banyak acara yang ngebikin aku nggak bebas kemana-mana.
“iya deh. Semoga aja kita nggak diterima ya..” kataku, tak kalah memelasnya dari Hana.
“Kok gitu sih, pokoknya kita harus bisa ikut keanggotaan osis Tam!” kata Hana dengan semangat yang berkobar layaknya pejuang perang kemerdekaan. Lah, dia aja kali, nggak usah ajak-ajak aku.
“Kok kakak kelasnya lama sih di sini? Padahal kan udah bel masuk, emang nggak ada pelajaran?” aku celangak-celinguk, bosan mendengar ocegan kakak-kakak yang aku tidak minat sama sekali ini, lalu bertanya heran kepada Hana.
“Emang nggak ada! Kamu itu dari mana aja sih kok nggak tau pengumumannya?” kata Hana sambil manyun kayak monyet dikasih kacang gosong.
“tadi aku kan ke kamar mandi deket kelas kita itu” aku berkata dengan wajah jengkel. Hana memang tidak setia kawan.
“oh iya ya, kok lama banget kamu?” aku tidak menjawab, melainkan aku hanya melirik ke arah Devan yang saat ini sedang sibuk dengan sesuatu di bawah mejanya, dan tidak menghiraukan kicauan kakak kelas atau lebih tepatnya kakak-kakak osis di depan.
“Devan? Kamu satu kamar mandi sama Devan? Trus kamu kekancingan bareng Devan? Trus gimana gimana?” katanya dengan wajah penasaran. Tentu saja aku ngakak di buatnya. Duhhh pikiran nih anak bisa kemana – mana gitu ya? Hahaha!!
“eh, siapa itu?” kata ketua osis alias Kak Kikan dengan wajah merasa terganggu oleh suara tertawaku yang biasa saja (menurutku sih! hehe). Tiba-tiba kakak osis cewek yang dikuncir kuda dan memakai kacamata menunjuk ke arahku, menunjukkan bahwa akulah yang tertawa dengan suara keras.
“kamu?” tanya Kak Kikan. “maju kamu ke sini” bentak Kak Kikan dengan suara yang lebih keras. Aku maju sambil menggebrak meja yang ada di depanku. “apa maksud kamu itu?” Kak Kikan nyambar lagi sambil mendekatiku sekarang. Tiba-tiba, PLAKK!! Tanpa sengaja aku menampar pipi Kak Kikan hingga memerah.
“maaf kak” kataku sambil memegangi pipi Kak Kikan yang baru saja aku tampar.
“BAWA DIA KE RUANG PEMBINAAN!!” teriak Kak Kikan sambil meneteskan air mata. Nggak malu apa nangis di depan adek-adek kelasnya? Dasar! Beraninya cuma nge-bully aja. Beraninya rombongan aja… ruang pembinaan mulu deh.
Lagi-lagi aku diseret menuju ruang pembinaan oleh Kak Bagas dan seorang kakak cewek yang tadi menunjukkan kalau akulah yang tertawa dengan suara keras. Dengan malas ku langkahkan kakiku memasuki wilayah yang nggak asing lagi bagiku, RUANG PEMBINAAN. Bu Lina yang baik hati tidak ada di dalam ruangan tersebut, terpaksa aku harus sabar jika diomelin oleh kakak-kakak ini. Tiba-tiba kakak cewek itu keluar dan sepertinya dia kembali menuju kelasku.
“siapa nama kamu?” tanya Kak Bagas tanpa menyuruhku duduk, kejam!
“Tami” kata ku dengan menundukkan kepalaku.
“Sudah berapa kali kamu masuk ruang pembinaan?” katanya datar.
“Yang pertama waktu aku telat MOS tujuh menit, yang ke dua karena dipanggil Kak Kikan trus yang Kak Bagas ikutan masuk itu lho, yang ke tiga.. oh, waktu aku nggak konsen pelajaran Pak Joko, yang ke empat ya sekarang ini. Kayaknya sih gitu kak” aku mencoba menjawab sambil mengingat-ingat satu per satu sambil menggaruk-nggaruk kepala dan memandang ke langit-langit ruang pembinaan.
Tiba-tiba Kak Bagas tertawa dengan memperlihatkan semua giginya. Ya Tuhan, betapa hebatnya kau telah menciptakan makhluk seindah Kak Bagas. Hush hush, omonganku kok jadi ngelantur gini sih? “lho, kenapa kak? Kakak nggak marah ke aku?” tanyaku heran kepada Kak Bagas.
“nggak marah? Hmmm, sebenarnya sih pengin marah, tapi salah kamu terlalu banyak sih, jadi bingung kalo marah mulai dari yang mana dulu” kata Kak Bagas sambil garuk-garuk kepala juga dan tersenyum manis. Semanis apa ya? Kayaknya madu kurang deh. Aku ter-patung-kan melihat senyuman manis itu.
“ha? Hehe” aku besuara, duh bener-bener nggak jelas saking saltingnya aku ini. Tiba-tiba tubuhku diguncang-guncang oleh seseorang yang wajahnya memudar. Wajah Kak Bagas yang tepat di depan wajahku mengagetkanku hingga membuyarkan lamunanku. “WAA!!” aku terkaget dan Kak Bagas langsung membungkam mulutku dengan tangannya dan menyeretku untuk duduk.
“Hap” kata Kak Bagas setelah ia mendudukkanku di sebuah kursi kosong yang berada di dekat kami. Lucu ya ternyata. “woy woy, jangan ngelamun woy” kata Kak Bagas sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku, mirip orang lagi joget. Wah, aku tertangkap basah sedang ngelamun, apalagi melamunkan Kak Bagas. Duh dia tau nggak ya, kalau dilah yang aku lamunkan.
Duh memalukan! Aku hanya tersenyum sambil mengcungkan dua jariku hingga membentuk peace. Lagi-lagi hanya itu yang bisa aku lakukan saat aku sudah ketangkap basah. Kak Bagas tiba-tiba mengajakku berdiri dan menarikku keluar menjauh dari ruangan keramat itu.
Tanganku terus digandeng hingga masuk ke dalam kelasku, di sana tampak Kak Kikan duduk di kursi guru masih memegangi pipinya. Saat dia melihatku memasuki ruangan kelas, aku masih digandeng Kak Bagas. Aku nggak tau juga kenapa Kak Bagas pake gandeng-gandeng aku gini.
Hingga pada akhirnya Kak Bagas menyuruhku duduk kembali di kursiku.
Kak Kikan memandangiku penuh kengerian, aku bisa-bisa muntah kalo liat mukanya terus.
“Tami, kamu diapain diruang pembinaan?” tanya Hana sesaat setelah aku duduk di bangku ku. Duh emang tampangku ini tampang diapa-apain ya? Aku nggak sampai nggak inget berapa kali Hana mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak terjadi apa-apa. Tidak seperti biasanya, Karin tidak bertanya macam-macam lagi. Mungkin dia merasa bersalah karena dia-lah yang membuat aku tertawa.