CERITA 6

2692 Words
Hari Minggu pagi yang cerah dan santai, aku berada di balkon kamarku sambil membaca komikku yang baru diberikan Kak rere tadi pagi. Lebih tepatnya bukan ‘diberikan’, tetapi Kak Rere memberikan komik itu padaku karena aku menang Tamuhan dengannya. Tamuhan kami cukup mudah bagiku, yaitu menebak siapakah yang memenangkan pertandingan antara Barcelona versus Inter Milan. Dan ternyata tebakanku benar, dan mau tidak mau komik baruku harus berada di tangan ku saat itu juga. Saat aku mulai terhanyut dalam bacaanku, tiba-tiba pintu balkon rumah Devan terbuka, dan Devan keluar dengan membawa bacaan juga. Aku hanya meliriknya tanpa berkata-kata dan melanjutkan membaca komikku. Tidak biasanya Devan tak menegurku, bahkan dia hanya diam di situ. Kenapa sih diam, kalo gini jadinya kan kikuk. Aku masih duduk di balkon tanpa melirik Devan sama sekali. Tidak lama kemudian, Devan berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Saat itu aku melihatnya, ternyata bukan Devan. Seorang cowok berbadan tinggi, tapi tadi aku ngelirik persis Devan tapi Devan nggak setinggi itu deh. Ya udahlah biarin, kan besok bisa nanya’ ke Devan nya. Aku kembali melanjutkan kegiatan membacaku, tak lama seorang cowok muncul lagi dari dalam rumah Devan. Ternyata kali ini benar-benar Devan yang keluar. “Ingusan! Ngapain kamu di situ?” Devan tiba-tiba mendekati pagar balkon dan mengejekku lagi dan lagi. Ya ampuuun, padahal aku udah mulai melabeli dia anak baik lho gara-gara habis memberiku tumpangan waktu itu. Ehhh, dia malah berulah lagi. Aku meliriknya dan segera berdiri mendekati Devan. “Eh, tadi tuh siapa?” tanyaku tiba tiba, memilih mengabaikan pertanyaanya. Mendengar pertanyaanku, Devan hanya merespons dengan mengerutkan keningnya tanda bahwa dia tidak mengerti maksudku. Aku pun memperjelas pertanyaanku. “yang tadi duduk di kursimu itu lho” kataku sambil menunjuk kursi empuk itu. “baru aja pergi kok, cowok, tinggi kayak kamu, tapi bukan kamu,” kataku sambil menggerak-gerakkan tanganku. “oh, dia abangku” katanya dengan wajah yang sepertinya tak senang begitu. Keningku berkerut, lalu aku bertanya lagi dengan suara agak keras. Eh, dari tadi emang agak keras sih suaraku. Kalau cuma bisik – bisik, si cowok di seberangku itu mana dengar. “Muka kamu kok gitu? Lagi tengkar ama kakakmu?” Ia mengedikkan bahu, masih kelihatan enggan. “nggak, aku emang nggak pernah suka aja sama dia!” kata Devan dengan tegas. Apa katanya? Nggak suka sama saudara sendiri? “kok gitu?” aku bertanya lagi, yang langsung kusesali. Rasanya, kok aku bawel banget ya. Maaf deh. Entah ini kepo, basa-basi, atau aku mencoba ramah. Tapi sepertinya lebih baik nggak aku teruskan kalau itu membuatnya tidak nyaman. “ya gitu deh” mungkin Devan jengkel melihatku ingin tau masalahnya. “iya deh, nanya aja. Nggak dijawab juga nggak pa-pa,” balasku, aku pun kembali duduk di kursi balkon kembali membaca komik. “komik lagi?” kata Devan sambil menujuk-nunjuk buku yang aku bawa. Aku menganggukkan kapalaku, lalu lanjut membaca. Devan pun tidak bertanya lagi. Kami sama-sama tediam meski tidak beranjak dari tempat masing-masing. Saat aku selesai membaca, Devan sudah tertidur di kursi empuk itu untuk ke dua kalinya. Perlahan, aku mendekati pagar balkon agar bisa melihat wajahnya dengan jelas, di bawah mata bagian kanannya tampak ada bekas luka seperti goresan. Jika aku ada di balkon rumahnya, aku ingin menyelimutinya. Entah mengapa pikiran itu muncul begitu saja di otakku. “Tami, ada telepon” terdengar suara Mama dari bawah, aku pun harus segera turun. Mama memberikan gagang telepon setelah aku sampai di meja telepon. “halo?” sapaku. “Tami? Ini Hana” Ohh, Hana ternyata yang meneleponku. “Hana? Ada apa? Mau ke rumah?” tanyaku menebak. “emm, iya sih, aku dititipin surat lagi oleh Kak Kikan” katanya sedikit ragu. “ya ampuun, ketua osis itu nggak ada matinya, iya deh aku tunggu di rumah” kataku sambil terheran-heran dengan kelakuan Kak Kikan. Nggak berani ya, dia ngomong sendiri di depanku? Gini kan jadinya ngerepotin orang banget? Kasihan Hana. Udah dia penakut gitu. Kalau aku jadi Hana sih, palingan aku buang di tong sampah suratnya. Biarin deh dibilang nggak amanah. Orang nitipnya juga maksa! Aku menunggu Hana di ruang tamu dengan membawa sepiring kue coklat keju bikinan mama, dua kaleng soft drink, satu stoples kacang bakar dan tiga batang coklat. Tak lama setelah aku meminum soft drink-ku, seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku segera membuka pintu. “Silahkan masuk” Aku membuka pintu dan menyapa Hana yang membawa amplop berwarna merah tua, seperti ingin menyatakan cinta. “apaan tuh” kata ku sambil menunjuk-nunjuk amplop surat yang di bawa Hana dengan geli, lalu berjalan membimbingnya untuk masuk ke dalam rumah. “ini suratnya Kak Kikan buat kamu” kata Hana setelah kami berdua duduk di ruang tamu. Aku kaget, maksud Kak Kikan ngasih aku surat berwarna merah tua itu apa sih? Aku membuka surat itu secara perlahan kemudian membacanya, begitu pula dengan Hana yang berada di sampingku. BESOK GUE TUNGGU ELO DI RUANG EKSKUL MUSIK SEUSAI BEL PULANG. ON TIME ! Aku memandang Hana dengan tatapan geli. Kemudian kami berdua tertawa bersama-sama setelah membaca pesan yang lagi-lagi sangat konyol menurutku dan Hana. Aku mulai tak lagi memikirkan omongan-omongan Kak Kikan itu. Nggak penting juga. Emang kalau aku nggak dateng, dia mau apa? Lapor pak kepala sekolah gitu? Aku dan Hana malah asyik ber-haha-hihi hingga sore hingga Hana pamit untuk pulang. Sepulangnya Hana dari rumah, aku mengambil amplop merah tua itu dan membawanya ke kamarku. Aku membaca lagi isi surat singkat itu, menimbang-nimbang apakah besok aku harus datang ke ruang ekskul musik atau tidak. Jika aku datang, pasti yang dibicarakan hanya masalah sepele tentang Kak Bagas dan aku. Tapi jika aku tidak datang, masalah sepele ini akan jadi kesalah pahaman antara aku, Kak Bagas dan Kak Kikan. Duhhh, kenapa juga aku harus terlibat sama mereka. **** Krringg.. krringg.. krringg.. ada sepeda, sepedaku roda dua… Eh bukan ding! Kring Kring itu bunyi bel sekolahku. Yeay! Waktunya pulang guys… Bel pulang berbunyi begitu nyaring. Namun, alih-alih bersorak seperti biasanya, aku malah deg-degan parah. Sedari tadi masuk sekolah, aku sudah menyiapkan mentalku untuk menemui Kak Kikan di ruang ekskul musik, tapi Hana memaksa ikut untuk jaga-jaga bila terjadi sesuatu hal yang tidak kami inginkan. Aku memandang Hana yang sudah siap di depan pintu, sedangkan aku masih memasukkan buku-buku dengan pelan dan muncul perasaan enggan untuk menemui Kak Kikan. Setelah aku selesai memasukkan buku-buku-ku di dalam tas, aku duduk di kursi ku lagi sambil menggigit kuku-ku yang bentuknya tak karuan ini. “Tami yang aku kenal orangnya gak cemen kayak gitu kok” teriak Hana dari depan pintu dengan nada menyindir. Aku segera bangkit dari kursiku langsung berlari menuju Hana yang hanya cengar-cengir tanpa tau omongannya benar-benar menyindir lubuk hati ku yang terdalam. Aku menjewer kupingnya dan kami berdua sama-sama tertawa nggak jelas. Aku dan Hana hampir sampai di depan ruang ekskul musik, tapi Hana tidak ikut masuk agar tak mencampuri urusanku dengan Kak Kikan. Hana berdiri di depan pintu ruang ekskul musik tanpa sepengetahuan Kak Kikan. Aku masuk tanpa menundukkan kepalaku, aku merasa aku tidak menjadi ‘tersangka’ dalam masalah sepele ini. Kak Kikan sudah siap dengan menyilangkan tangannya di dalam ruang ekskul musik yang tak ada orang lain karena memang ekskul musik bukan hari ini. “gue bilang on time kan sama elo?!” Kak Kikan berteriak, ia masih menyilangkan tangannya dan menyalahkan aku seperti aku tertuduh mencuri secuil mangga tetangga. Aku tak menjawab ocehan nggak penting Kak Kikan itu, dan memilih duduk di bangku kosong tepat di tengah ruang ekskul. Brakk’.. Saking kerasnya, aku rasa suara itu mungkin terdengar hingga ke luar ruangan. Tiba-tiba Kak Kikan menarikku dari kursi hingga aku terjatuh dan tertindih kursi itu. “aduh, apa-apaan sih Kak?” protesku sambil mengangkat kursi yang menindih lututku. Lututku yang sekarang penuh darah. Aku saja kaget saat melihatnya, lalu pandanganku beralih ke kursi itu. Rupanya ada paku menancap di sana. Benar-benar s**l! Aku menatap Kak Kikan dan berdiri dengan susah payah. “apa sih mau Kakak?” aku masih memegangi lututku yang perih. Perih dan nyut-nyutan lebih tepatnya. Tapi aku bisa menahannya, dan semoga saja nggak infeksi. “jauhin Bagas, jangan ganjen dan kecentilan sama Bagas” Kak Kikan berseru sambil menjambak rambutku. Duh, ini kan p**********n!“ bentar lagi Bagas itu jadi pacar gue” lanjutnya, semakin menjambak rambutku. Aku melihat keluar ke arah pintu ruang ekskul dan memohon agar Hana segera menyelamatkanku, tapi aku tak bisa berkata-kata lagi, kepalaku terlalu pusing. Sebenarnya aku sudah mengira dari awal kalau Hana memang bersekongkol dengan Kak Kikan, buktinya setiap ada surat dari Kak Kikan, selalu saja Hana yang memberikannya kepadaku, kenapa bukan orang lain saja? Aku semakin nggak kuat dan ingin pingsan, seluruh ruangan serasa berputar. Pandanganku makin buram saja. Kepalaku semakin nyeri gara-gara akar rambutku ditarik. Lututku perih, kepalaku pusing dan sakit karena sampai sekarang si Kikan manusia ikan ini belum juga melepaskan tangannya dari rambutku. “lepasin dia!!” teriak seorang cowok dengan suara berat dan serak. Aku hanya melirik ke arah sumber suara. Jelas aja, karena menoleh pun aku nggak bisa untuk saat ini. Itu Kak Bagas! Tapi kenapa dia bisa berada di sini? Aku dan Kak Kikan melihat ke arah Kak Bagas yang masuk ke dalam ruang ekskul musik dengan wajah yang ingin menerkam. Kemudian nampak Hana di belakang Kak Bagas sambil mengerlingkan satu matanya ke arahku. Oh, rupanya Hana yang memanggil Kak Bagas agar menyelamatkanku, duh aku sudah berpikiran buruk tentang sahabatku sendiri. Tapi lagi-lagi, siapa juga yang nggak punya pikiran macam-macam jika berada dalam posisi sepertiku. Bayangkan saja, sudah jatuh, ketiban tangga, eh kursi maksudku, masih dijambak-jambak begini. Kak Kikan seketika melepaskan tangannya dari rambutku. Rambutku yang sudah amburadul. Kemudian dia berlari ke arah Kak Bagas, entah mau mengucapkan maaf atau mau memfitnahku, aku nggak peduli. Bodo amatlah. Yang penting rambutku sudah terlepas dari nenek lampir itu. Untung saja tadi aku tadi tidak mengeluarkan jurus semburan ilerku atau cakaran mautku, yaaa meski kukuku pendek begini, setidaknya masih bisa melukainya kalau dia sampai bertindak lebih kelewat batas lagi. Aku segera berlari ke arah Hana dan memeluknya erat-erat. “maafin aku” aku bicara lirih, masih memeluk Hana sambil meneteskan air mata yang memang sudah mengalir deras sejak Kak Kikan menjambak rambutku. Hana melepaskan pelukanku sambil tersenyum dan membimbingku keluar ruang ekskul. Kami meninggalkan Kak Kikan dan Kak Bagas yang bertengkar sepertinya. Dasar pasangan aneh! Emang beneran pasangan ya? Kok tadi Kak Kikan bilangnya masih mau pacaran sih? Tiba-tiba seseorang menarik pundakku dari belakang, aku pun terkesiap dan menoleh ke pemilik tangan itu. Ternyata Kak Bagas yang mengejarku dan Hana saat kami sudah berada di depan kamar mandi di dekat ruang pembinan. Aku memandang Kak Bagas dengan wajah menyeramkan. “maaf ya?” ucap Kak Bagas sambil mengelus-elus rambutku. Aku menoleh ke arah Hana yang tadi berada di sampingku. Sekarang baik aku mau pun Hana malah hilang bagai ditelan bumi. Entah mengapa air mata sudah terkumpul di pelupuk mataku. Aku nggak suka seperti ini, aku nggak mau nangis di depan cowok yang aku sukai, aku nggak mau dia menganggapku sebagai cewek lemah! Nggak mau! Tuhan tolong aku…. Namun, air mataku sudah menetes dengan deras ke pipi dan aku hanya bisa menunduk. Semoga saja dnegan menunduk begini, aku ingusku nggak ikut meluber. Melihat aku menangis tersedu-sedu, Kak Bagas merespons dengan terus mengelus-elus rambutku yang sudah sangat berantakan itu. Makin jelek deh aku. Udah rambut semrawut gini, pake nangis lagi! Mau ditaruh mana mukaku setelah ini? Tiba tiba Kak Bagas memberikan pelukan kepadaku. Pelukan yang sangat hangat. Namun alih-alih diam, aku malah semakin tak dapat menahan air mata yang berlomba-lomba untuk keluar dari mataku ini. Duh… air mata ini memang suka nakal ya? Nggak bisa dikasih tau oleh yang punya mata! “pulang sama aku ya?” ajak Kak Bagas sambil menepuk-nepuk bahuku, lalu melepaskan pelukannya. Kemudian ia membungkukkan badan dan menatap kedua mataku lamat lamat. Duh.., please. Jangan dekat dekat dong Kak. Detak jantungku jadi semakin tak karuan. Kakak mau, aku abis teraniaya, kemudian jantungan? Aku mencari-cari sosok Hana, agar menyelamatkanku dari penyakit salting yang selalu muncul secara tiba-tiba ini. Namun, aku tidak kunjung menemukannya. s**l! Ke mana dia tadi? Dia punya jubah Harry Potter ya? Dari tadi jago banget ngilangnya! “Kamu mencari temanmu yang tadi?” Kak Bagas bertanya dengan suara beratnya, sambil menunjuk-nunjuk tempat di mana terakhir kalinya aku melihat Hana berdiri. Aku menganggukkan kepalaku. “bukannya dia bilang mau pulang duluan?” Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan lemah. Iya, tenagaku hampir habis. Rasanya mau ambruk saja setelah segala drama yang menyakiti fisik berhargaku ini. “kamu ini lugu banget ya?” kata Kak Bagas, ia tersenyum lebar dengan memperlihatkan semua giginya yang sedikit gingsul di bagian taring. Duh enak ya dia, masih bisa senyum sementara aku kesakitan begini huhu. “manis” samara-samar aku mengatakan itu, yang semoga tidak didengar oleh Kak Bagas, karena bahkan aku sendiri tak dapat mendengarkan suaraku itu dengan jelas. Kak Bagas kemudian mengulurkan tangannya untuk menggandeng tanganku dan mengajakku pulang bersama. Kami berjalan bersama menuju tempat parkir di mana sepeda motor Kak Bagas terparkir. Dengan begini, kalian bisa menebak sendiri skenarionya. Yaps, aku bakal diantar pulang oleh Kak Bagas. Sesampainya di tempat parkir yang sudah mulai tampak sepi, tinggal beberapa motor dan sepeda kayuh yang sepertinya punya anak-anak ekskul atau anak-anak yang sedang kerja kelompok, Kak Bagas berhenti di dekat sepeda motor bebek warna biru tua, otomatis aku juga ikut berhenti. Helm di sepeda itu cuma ada satu. Kemudian, dia melirik ke arahku. Gandengan kami sudah terlepas entah sejak kapan. Beberapa detik yang lalu mungkin, aku terlalu fokus melamun untuk mengetahui hal-hal detail saat ini. “rumah kamu di mana?” tanya Kak Bagas. Ia sekalian meraih helm dan memberikannya kepadaku. Aku mendongak dan menatap ke arahnya. “Loh, kalau helmnya dikasih ke aku, kakak bakal pake helm apa?” tanyaku dengan polosnya. Kak Bagas tersenyum “Nggak usah. Buat kamu aja. Aku udah biasa kok.” Aku menyodorkan helm itu kepada Kak Bagas. “Buat kakak aja. Kakak kan yang punya helmnya. Aku cuma nebeng, udah bener ditolongin, eh malah nyusahin.” “Nggak nyusahin kok Tami… Sekalian biar nolongnya nggak nanggung.” Kak Bagas lalu meraih helm dari tanganku, membuka pengaitnya, lalu secara kilat memakaikannya di kepalaku. “Nih, dipake ya. Nggak usah bawel. Biar kamu terjamin keselamatannya sampai tujuan. Kalo nanti sampai rumah kamu dengan keadaan kamu kenapa – napa karena nggak pake helm, aku malah yang repot. Bisa dituntut juga. Apalagi kalo bokap kamu galak.” Kak Bagas mencerocos panjang lebar, lalu menaiki motornya. “Mama aku juga galak lho ngomong-ngomong. Dan aku masih punya dua abang, yang juga nggak kalah galah,” aku berkata, kemudian ikut naik ke atas motornya dengan menyingkap rokku. “Wow.. takut…” kata Kak Bagas, lalu meraih kunci motor dari saku celananya, kemudian menstater mesin. Dan… kami pun meninggalkan sekolah. “Eh iya, gara-gara debat masalah helm tadi, aku sampe lupa nanya lagi alamat kamu di mana?” Kak Bagas membuka suara. “di perumahan cempaka putih,” aku menjawab dengan suara agak lantang supaya terdengar olehnya yang sedang menyetir di tengah kebisingan kota dan kendaraan yang saling beradu klakson karena tidak sabar dengan kemacetan jalanan kota metropolitan yang penuh sesak ini. “Eh, lutut kamu berdarah kan?” Kak Bagas tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, sambil membelokkan setirnya ke arah kanan setelah lampu hijau menyala, diikuti kendaraan lain di sekelilingnya. Kami masih berada di sekitaran Blok M, dengan fly over di atas kami, dan mobil – mobil juga sepeda motor yang saling berserobot berebut celah untuk duluan. “iya, tapi udah nggak apa-apa kok, Kak” aku yang duduk di atas sepeda motor bebek milik Kak Bagas, menjawab sambil memencet-mencet lututku yang masih terasa perih. Semilir angin terasa menyapu lututku. Aku sedikit mendesis, Tiba-tiba, setelah melewati satu belokan lagi, sepeda motor Kak Bagas berhenti di sebuah café yang cukup besar, yang masih agak jauh dari rumahku. “lho kak, kok berhenti?” aku bertanya karena bingung. “Iya, kita berhenti dulu aja bentar. Kamu pasti belum makan” sela Kak Bagas, sambil turun dari motornya, kemudian membantuku melepas helm, tanpa aku memintanya. Huuu, padahal aku bisa melepasnya sendiri lho. Aku kan mandiri! Nggak kayak cewek-cewek lain yang sok nggak bisa buka helm demi modus supaya dibukain cowoknya. Eh, apa aku bilang tadi? Cowoknya? Emang Kak Bagas cowokku? Kan bukan? Eh, belum… hihi Sebelum aku selesai berbicara, Kak Bagas sudah menarikku untuk masuk ke dalam café yang di plang-nya bertuliskan besar “Hanara Cafe”. Mungkinkah yang punya keluarganya Hana? Ah tidak, aku hanya bercanda kok. Habis namanya nyempil nama Hana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD