CERITA 7

1848 Words
Aku hanya tersenyum melihat Kak Bagas yang khawatir dengan keadaanku sekarang. Saat masuk ke dalam, Kak Bagas memilih untuk duduk di kursi pojok depan yang dikelilingi oleh kaca sehingga membuat suasana yang kesannya sangat nyaman. Aku menurut saja. Kami berdua pun memilih menu. Kak Bagas langsung memesan tanpa melihat buku menunya. Sepertinya ia sudah sering datang ke sini. Sementara aku yang baru pertama kali datang kemari, melihat-lihat dulu daftar menu agak lama, kemudian baru menyebutkan pesanan. Aku memilih Ayam karage dengan kentang goreng dan saus mayo, juga minum lemon sprite. Sementara Kak Bagas nasi goreng dengan lemon tea. Setelah mengucapkan pesanan dan dicatat oleh mbak – mbak pramusaji, kami menunggu pesanan kami datang dengan mengobrol pendek. “mbak” seru Kak Bagas di sela-sela obrolan kami, sambil mengangkat tangannya kepada si mbak-mbak pelayan yang lain. “ada apa mas?” tanya mbak pelayan itu sambil menghampiri Kak Bagas. “emm, boleh minta air hangat sama kain nggak mbak?” tanya Kak Bagas dengan memberikan senyuman yang membuat hati mbak pelayan itu leleh. Sudah pasti. “boleh kok mas, tunggu sebentar ya?” kata mbak pelayan dengan logat jawanya yang masih kental. Memang, café ini sebenarnya sangat khas dengan makanan jawanya, tapi makanan barat juga nggak kalah enaknya kok. Makanya aku berani pilih. “tadi kenapa?” Kak Bagas membuka percakapan kami. Hhhh, diungkit kembali begini oleh Kak Bagas, aku jadi bête lagi. “nggak tau ah, nggak mau nginget-nginget” aku menjawab dengan memanyunkan bibir. “hahaha, lucu banget deh” kata Kak Bagas sambil menunjuk-nunjuk bibirku yang manyun tanpa disengaja itu. Aku segera menutupi bibirku dengan kedua tanganku. Hih, kok dia malah salfok bibirku sih. “nggak apa-apa kok, aku lebih suka kepribadian kamu dari pada Kikan” Loh loh, kok jadi ngebandingin kepribadian aku dan Kak Kikan, dan ngebagas apa yang dia suka dan lebih dia suka? Kok Kak Bagas ngomongnya ngawur kayak gitu sih. Tapi, meski ngawur, aku malah senyam-senyum. Tak lama kemudian mbak pelayan yang tadi, muncul lagi sambil membawa satu bak air hangat dan kain. “makasih mbak” kata Kak Bagas sambil menyunggingkan senyum manis itu untuk ke sekian kalinya kepada si Mbak-Mbak, eh aku juga ikutan menikmatinya sih. Mbak pelayan itu pun membalas senyumannya kemudian pergi. “siniin kaki kamu yang berdarah” kata Kak Bagas sambil menarik kursiku supaya lebih dekat dengan tempat duduknya. Oh, jadi semua ini buat aku? Kirain air hangat buat nyeduh minuman atau apa. Ternyata buat ngompres. Kok jadi mendadak lemot gini yah, nih otak? Aku hanya memandangi Kak Bagas yang dengan hati-hati mengusap darah yang telah mengering di lututku. “masih perih ya?” tanya Kak Bagas saat kakiku bergetar ketika Kak Bagas mengusapkan kain basah itu di lututku. Aku hanya mengangguk pelan. Tapi, aku tetap tidak ingin kelihatan lemah di hadapan Kak Bagas. Aku pun mulai menceritakan pengalamanku dengan adegan jatuh-jatuh ini. “Tapi nggak masalah kok Kak, aku udah sering luka kayak gini, malah ada yang lebih parah,” Kemudian aku menunjukkan lutut kananku yang tedapat bekas luka yang lumayan besar. “ini nih yang waktu aku terpeleset dan jatuh dari pohon mangga dekat rumah, yang di bawahnya banyak kerikil tajam.” Kataku. Mendengar celotehanku, Kak Bagas langsung tertawa lepas seakan sudah tak khawatir lagi. Mungkin Kak Bagas merasa bersalah karena Kak Kikan marah ke aku gara-gara dia. Aku yang melihat Kak Bagas tertawa pun jadi ikutan tertawa. Dan, tidak lama setelah itu pesanan kami datang!! Yummi.. Makan dulu yaaa **** Tepat pukul setengah lima sore, Kak Bagas tiba di depan rumah. Kak Rere sudah mencegatku di depan pintu rumah saat Kak Bagas baru saja memacu sepeda motornya meninggalkan rumah. ”dari mana aja kamu?” tanya Kak Rere dengan wajah yang tidak senang sambil berkacak pinggang. Udah kayak hansip yang jaga di komplek, terus mergokin ada warganya yang melanggar jam malam. Eh iya, badannya yang rada kurus juga bikin dia kayak wayang-wayangan yang suka berkacak pinggang. “mama sama papa mana?” aku memilih tak menjawab pertanyaan Kak Rere dan malah nyelonong masuk rumah setelah melontarkan pertanyaan. “tunggu!” Kak Rere menarik kuat-kuat tanganku. Duh, bisa lembut dikit nggak sama adeknya? Masa lembut sama pacar doang. Ia pun bicara lagi. “mama sama papa sekarang lagi jenguk Kak Yogi di Bandung” kata Kak Rere, kemudian seolah belum puas, ia menarikku duduk di sofa ruang tamu kami. “kamu dari mana?” tanya Kak Rere lagi, kali ini dengan nada sedikit membentak. Kak Rere ini memang kakakku yang selalu ingin tau urusan orang lain. “lho, lutut kamu kenapa diplester segala?” Belum terjawab pertanyaan satunya, pertanyaan bertubi-tubi serta hujan lokal diberikan Kak Rere kepadaku. Aku menghela napas, lalu mau tidak mau menceritakan kejadian hari ini kepada Kak Rere, agar tidak semakin panjang dan aku semakin capek. “tadi aku abis digebukin sama kakak kelas cewek cuma gara-gara kakak kelas cowok, trus aku diajak makan deh ama kakak kelas cowok yang tadi diributin kakak kelas cewek itu” kataku sambil memencet-mencet lututku yang kembali tersa perih. Mata Kak Rere yang belo memicing ke atas. “trus? Kamu kalah sama kakak kelas cewek itu?” Ia berdecak. “Ah, dasar! Kamu memperburuk citra baik kakak sebagai cowok tak terkalahkan di SMA kakak! Bla bla bla bla…” kata Kak Rere menggebu-gebu. Loh loh, apa ini? Kirain aku bakal dimarahi karena terlibat adu k*******n. Eh, malah diminta adu pukul biar nggak mencemari namanya. Nggak apalah, biar dia nggak kurang kerjaan. Jarang-jarang juga dia mendukungku habis habisan. Biasanya kan menjahiliku habis habisan. “udah-udah kak, aku tau..” aku berkata sambil menutup telinga kemudian buru-buru berlari menuju kamarku yang terletak di lantai atas. Dari tangga, aku melirik ke arah Kak Rere lagi, dia masih aja ngoceh dengan heboh. Dengan begini, aku baru tahu. ternyata kakakku dulunya biang onar. Dan untuk yang satu ini memang pantes di sebut kakak, lucu banget! Brukk’.. aku melemparkan tas ransel cokelatku di atas kasur. Blamm’.. aku menyurul melemparkan tubuhku juga di atas kasur, lalu memejamkan mata. Aku masih membayangkan kejadian tadi sore di sekolah, di ruang ekskul musik, juga di café yang membuatku bisa terkena penyakit jantung gara-gara detak jantung yang berlebihan. Haha. Setelah capekku agak hilang, aku bangkit untuk menghubungi seseorang. Pip pip pip.. tuutt tuutt tuutt.. aku menelepon rumah Hana untuk memastikan keadaannya sekarang. “halo” kata suara berat dari seberang. “maaf, bisa bicara dengan Hana?” aku berucap dengan hati-hati. “kamu siapa ya? Apa kamu temannya? Hana belum datang!” sepertinya itu suara ayah Hana dengan nada khawatir. “apa? Hana belum pulang?” “Iya, Hana belum pulang dan nggak ada kabar? Apa kamu tau Hana di mana?” “Oh, maaf Om, saya nggak tau, tapi saya akan coba tanya yang lain.” Tuutt.. tuutt.. aku segera mematikan teleponnya dan mengambil jaket kemudian berlari keluar kamar masih mengenakan seragam sekolah. “eh eh, mau ke mana?” teriak Kak Rere yang baru saja bermain playstation di depan kamarku. “nanya-nanya doang, Kakak mau nganterin aku gak?” aku bertanya sambil memasang jaket abu-abu kesayanganku. “ke mana?” tanya Kak Rere, seperti enggan melepas stick PS-nya. “Nyari cewek cantik, ayo buruan!” kataku sambil menarik tangan Kak Rere hingga menjatuhkan stick PS–nya. Nggak biasanya Kak Rere langsung mau mengantarku, padahal biasanya butuh rapat panjaang agar dia mau mengantarku. Tapi karena aku menyebut cewek cantik, dia kayaknya jadi penasaran. Begitu sampai depan, Kak Rere mengunci pintu rumah, sedangkan aku sudah bersiap di depan gerbang rumah. “mau ke mana?” tiba-tiba sosok Devan muncul begitu saja. “wah, untung ada kamu, ayo ikut!” ajakku. “Kamu kan bawa sepeda motor” kataku lagi, saat melihat Devan yang tiba-tiba muncul dengan sepeda motor bebek nya. Aku baru ingat sepeda ini mirip dengan sepeda motor Kak Bagas, biru tua Kak Rere tiba-tiba berjalan mendekatiku. “bensin kakak abis nih, kamu bareng Devan aja deh. Bye” kata Kak Rere sambil menutup gerbang. Wah, dasar licik! “nggak apa-apa kan?” aku pun menoleh memastikan jika Devan benar-benar mau mengantarku. “enggak apa apanya? Orang aku ke sini emang disuruh Kak Rere kok. Katany ke sini suruh bawa motor, urgent. Ehh taunya nganter kamu. Kalo aku tau sih, aku bakal pura-pura mules aja,” kata Devan, well dia dan Kak Rere memang sudah saling mengenal. Nggak tau juga tuh cowok dua kok pada cepet banget akrabnya. Sama-sama nyebelin pula. “s**l! Ya udah deh, anterin aku ke sekolah!’ aku berkata cepat, lalu menaiki sepeda motor bebek yang persis seperti milik Kak Bagas itu. “ha? Ke sekolah? Ngapain? Malam-malam gini?” Devan belum juga menyalakan mesin motonya. Aku mendongak. Benar juga, sudah malam. Berarti aku harus semakin cepat. “Udah deh jangan banyak nanya! Buruan jalan!” aku memerintah seolah aku bosnya dan membayar tumpangan ini layaknya penumpang ke tukang ojek. Kurang ajar banget sih aku. Tapi ini kan demi Hana, keadaannya sangat amat darurat. Devan pun menyalakan motornya. Terdengar suara brum brum brum… Kami melaju keluar komplek, sesampainya di jalanan agak besar, Devan semakin mempercepat laju sepeda motornya itu. “Kamu belum jawab. Kita ngapain sih ke sekolah malem-malem gini? Kamu mau bertapa pesugihan biar nilaimu bagus ya?” tanya Devan sambil meliak-liuk di jalanan ramai. “Hush! Sembarangan!” aku berseloroh sambil menepuk bahunya. “Terus apa dong? Mau nyari wangsit? Haha hihi sama om jin buat dikasih mantera supaya sukses ngegebet kakak kelas?” tanyanya, lagi-lagi ngawur. Nih anak kebanyakan nonton serial Mbah Dukun di salah satu stasiun televisi kali ya? Bisa – bisanya anak SMA Angkasa dan jago pelajaran kimia yang sangat sains itu masih berpikiran klenik seperti ini? Aku memilih tidak menghiraukan pertanyaannya. Detik itu, aku tiba-tiba terpikir untuk menanyakan sesuatu. “ini sepeda motor kamu?” tanyaku di sela-sela angin bertiup yang membuat rambutku ke sana kemari. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Aku lega. Kirain Kak Bagas dan Dean saling kenal, atau mereka teman baik, bahkan saudara, sehingga saling pinjam meminjam motor. Namun ternyata, ini benar motor milik Devan yang berarti Devan dan Kak Bagas nggak ada hubungan apa-apa. Yaiyalah Tam! Masa pabrik cuma memproduksi produk dengan model yang satu biji doang! Ya pasti banyak kembarannya lah. Apalagi ini motor bebek biasa, bukan motor edisi terbatas. Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh! “Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa ke sekolah malam-malam gini? Kalau nggak mau jawab juga, aku turunin di sini nih!” Dia mengancam. “Yeee, nggak mungkin. Emang kamu berani ngadepin Kak Rere kalau aku ngadu ke dia kamu udah jahat sama aku?” aku mengancam balik. “Ya udah aku putar balik aja. Susah amat.” Devan berkata sambil menyalakan lampu sisi kanan dan mulai melajukan motornya ke arah kanan, menuju belokan putar balik. Wah, dia serius rupanya. Aku pun mengalah. Dia lah yang punya kendali di atas motor ini. Aku pun mengalah dan akhirnya menjawab. “Hana nggak ada di rumahnya” “Terus, kenapa kamu menyimpulkan kalo Hana berada di sekolah?” tanya Devan, ya logis sih. Aku pun menjelaskan apa yang menjadi ketakutan dan kekhawatiranku. “Tadi aku terakhir ngelihat dia di sekolah waktu aku sama Kak Bagas” aku menundukkan kepalaku. Mendengar itu, Devan tidak lagi bertanya tanya. Detik kemudian, dia berseru. “pegangan yang kenceng. Aku ngebut!” kata Devan dengan nada tak senang. Aku hanya memegangi bagian belakang baju Devan. Whuuss.. aku ngebut kayak Valentino Rossi. “WAAA” aku langsung memeluk Devan kuat-kuat. Namun anehnya, alih-alih merasa takut, aku malah merasa sangat nyaman saat ini, memejamkan mata dan senyam-senyum di sepanjang jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD