“woy, woy, woy, sudah sampai” kata Devan sambil menepuk-nepuk tanganku yang melingkar di perutnya.
Aku kaget sekaligus malu, sehingga langsung melepaskan pelukanku dari pinggangnya. Kemudian aku turun dari motor Ninja nya yang cukup gede dan merepotkan itu.
Aku berlari menuju kamar mandi di dekat ruang pembinaan, berjalan melewati lapangan basket yang sudah sangat sepi. Tanpa aku sadari aku sendirian di lapangan basket yang gelap dan sunyi. Aku pun berlari kembali ke tempat parkir dimana Devan memarkir sepeda motornya. Tapi Devan sudah tidak ada, hanya meninggalkan motor Ninja nya yang terpakir bersama sepeda motor Pak Tedjo, penjaga sekolah kami.
Aku pun membulatkan tekad berjalan sendirian di tengah lapangan basket yang konon katanya.. hush hush, nggak boleh negative thinking. Aku melewati ruang guru yang hanya diterangi satu bohlam kecil, aku tidak berani menoleh ke dalam ruang guru yang pintunya sedikit terbuka. Tiba tiba..
“haa~” teriak seseorang dari dalam ruang guru. Aku sangat kaget hingga kepalaku serasa berputar.
Brukk’.. aku terjatuh. Dan enggak tau kenapa kepalaku semakin terasa berat dan pusing.
“lho lho, Tami, Tami. Bangun bangun” seorang cowok melambai lambaikan tangannya di depan mataku.
“Tami, kamu nggak apa kan?” kata cowok itu saat aku berusaha membuka mata. Aku berhasil membuka mataku, melihat sekeliling yang masih gelap, dan melihat cowok yang memegangi kepalaku.
“Devan! Kamu dari mana aja?” aku langsung bangun dan memeluk Devan yang berjongkok memegangi kepalaku dan aku pun tak dapat menahan air mata ini. Devan menyambut pelukanku. “kamu dari mana aja?” kataku sambil memukul-mukul pundak Devan.
Devan melepaskan pelukanku dan mengajakku berdiri menuju UKS yang sangat terang. “kita harus cari Hana” kataku lagi masih dengan meneteskan air mata.
“kamu tenang aja, Hana udah aman” kata Devan menggandeng tanganku dan menarikku menuju ruang UKS.
Nampak Pak Tedjo bersama Hana yang terlihat lelah duduk di atas kasur UKS dengan bekas air mata di pipinya. Aku yang melihat Hana seperti itu langsung berlari kearahnya dengan tangisan yang enggak bisa di tahan lagi.
“kamu dari mana aja?” aku bertanya sambil memeluk Hana yang tampak sangat lemah. Hana menangis hingga aku mendengar suara tangisannya itu. “maafin aku, maafin aku yang udah ninggalin kamu sendirian di sini. Maafin aku..” aku nggak bisa berkata-kata lagi, air mataku terlalu deras mengalir dari mataku.
“udah, jangan salahin diri kamu aja. Bukan kamu kok yang salah..” kata Hana dengan tersedu-sedu. Aku semakin nggak tega melihat sahabatku menangis karena aku. “Kak Kikan.. Kak Kikan yang salah..” lanjut Hana dan melepaskan pelukanku sambil tersenyum. Devan mendekati kami berdua sambil mengerutkan keningnya, sama penasarannya denganku. “saat kamu telah pergi bersama Kak Bagas, aku hendak keluar dari persembunyianku di dalam kamar mandi, tapi tiba-tiba Kak Kikan masuk kamar mandi, mendorongku masuk dan menggembok pintu kamar mandi..” Hana menceritakan kejadian yang sesungguhnya dengan air mata yang tidak ada henti-hentinya.
“saya neng, saya yang menemukan neng Hana di dalam kamar mandi” sela Pak Tedjo kepadaku. “saya juga nggak tau, neng Kikan dapat gembok dari mana, saya mendobrak pintu kamar mandi hingga jebol” lanjut Pak Tedjo sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi..
“terima kasih pak..” kataku sambil melirik Hana yang sudah terlihat lebih baik.
**
Aku pulang bersama Pak tedjo, sedangkan Hana bersama Devan yang menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tapi aku merasa iri kepada mereka, perjalanan pulang kali ini terasa dingin, tidak seperti perjalanan berangkat tadi yang terasa hangat dan nyaman.
“sudah sampek neng” kata Pak Tedjo membangunkan lamunanku. Aku segera turun dari sepeda motor Pak Tedjo.
“terima kasih pak, Bapak mau mampir dulu?” aku bertanya sambil membuka pintu gerbang yang ternyata cukup alot.
“nggak usah nen, terima kasih. Bapak harus kembali ke sekolah” kata Pak Tedjo, kemudian berlalu sambil tersenyum kepadaku. Aku sampai di rumah tepat pukul sembilan malam, dan pintu depan rumah tidak terkunci. Apa mama sama papa udah pulang?
Aku masuk ke dalam rumah dan melihat Kak Rere duduk berdua dengan pacarnya sambil senyam senyum ke arahku. Pantas saja dia berani membawa ceweknya ke rumah, emang mama sama papa belum datang dari Bandung. Aku hanya tersenyum sinis ke arah pacar Kak Rere yang memberikan senyuman manisnya tapi nggak manis banget.
“dianter siapa dia?” aku bertanya kepada Kak Rere sambil menunjuk kejam kearah pacar Kak Rere.
“kamu apa apaan sih, udah naik sana ke kamar!” kata Kak Rere dengan suara meninggi, dan menunjuk-nunjuk tangga..
Aku mendekati pacar Kak Rere dan duduk di sampingnya. “mau apa kamu?” kata Kak Rere lagi. Aku hanya melirik sengit kearah Kak Rere.
“kakak tadi dijemput Kak Rere atau jalan sendiri ke sini?” tanyaku kepada pacar Kak Rere, Kak Dewi namanya, dengan nada menyindir Kak Rere.
“dijemput Rere kok dek, emang kenapa?” kata Kak Dewi baik-baik.
“oh.. gitu ya kak?” aku melihat senyum manis Kak Dewi yang sekarang benar-benar manis. “jadi kalau nganterin adiknya nggak mau ya..” kataku sambil berdiri dan berjalan menaiki tangga. Aku melirik mereka lagi, sepertinya di bawah Kak Dewi marah dan meminta penjelasan dari Kak Rere. Aku hanya melihat mereka bertengkar sambil tertawa ngakak. Aku segera mengganti baju, cuci muka, gosok gigi dan menuju balkon kamarku.. Perasaanku semakin tak karuan, perasaan yang selalu datang menggangguku di saat aku kesepian. Entah mengapa akhir-akhir ini air mata seakan dengan mudahnya mengalir di pipiku, seperti saat ini aku yang tidak mengerti arti tangisan malam ini.
Drrtt.. drrt.. I miss your tan skin, your sweet smile so good to me so right.. drrtt.. drrtt.. aku mendengarkan nada dering HP ku milik Taylor Swift – Back to December hingga akhir. Sebelum aku membuka pesan singkat itu.
From : Devan bodo!!
Km uda nympe di rmh? Bls bls bls
Aku membaca pesan singkat dari Devan sambil tersenyum dan entah mengapa perasaan ku menjadi sangat lega.
Send :
Uda, km skrg di mana? Kok blm plg?
Drrtt.. drrt.. I miss your tan skin, your sweet.. sebelum nada deringku selesai, aku segera membuka pesan singkat itu.
From : Devan bodo!!
Iy, aku msih d rmh Hana, saat smpe rmh dia sempet pngsan, jd ak nunggu smpe dia bangun dulu.
Aku lega karena Hana tidak kenapa kenapa, tapi anehnya juga merasa sedih, entah karena Devan bersama Hana atau apa aku juga nggak ngerti! Aku tidak membalas pesan singkat Devan dan menaruh Hpku diatas meja balkon. Aku menangis untuk kesekian kalinya pada hari ini. Aku memejamkan mata, dan.. Zzz..
Suara sepeda motor membangunkanku dari tidurku di balkon kamar. Aku kembali duduk di kursi balkon dan mengambil Hpku dan melihat...
4 Message Devan Bodo!!
3 Missed calls Devan
Bodo!!
Aku tersenyum melihat layar Hpku.
“lho, kamu kok masih disini malam-malam gini?” aku mengalihkan pandanganku dari layar Hp ke sumber suara. Devan! Asataga, dia sudah berada di balkon rumahnya dengan menenteng helm.
Aku nungguin kamu? Tapi kamu nggak datang datang, aku udah lama lho disini. “udah lama ya?” Devan mendekat ke pagar balkon rumahnya seakan dapat membaca pikiranku, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sekuat mungkin. “nungguin aku ya?” kata Devan lagi dengan menyunggingkan senyum geli kearahku. Penyakit saltingku mucul lagi secara tiba-tiba “hahaha, salting kamu ya?” kata Devan semakin mengejekku.
“enggak kok, aku emang nungguin kamu, aku khawatir sama kamu!” penyakit ceplas-ceplosku juga muncul, aku yang sudah ketangkap basah hanya menunduk kembali memandangi Hpku.
“aku juga khawatir sama kamu, aku mencoba menghubungi tapi nggak dibales sama kamu, aku sempet kepikiran kalau kamu tidur” Devan semakin mengatakan hal hal aneh yang membuat aku terkena penyakit jantungan.
Aku memandang wajah Devan yang memang nampak serius, mau tidak mau aku harus mengalihkan pembicaraan agar nggak melenceng kemana mana.
“gimana keadaan Hana?”
“baik” katanya singkat tanpa menatap wajahku.
*****
“Gimana kondisi kamu sekarang?” aku bertanya kepada Hana saat Hana baru saja duduk di sampingku.
“udah baikan kok Tam” katanya sambil tersenyum. “papa sama mama aku mau lapor sama kepala sekolah hari ini, tentang kejadian yang menimpa aku semalam” lanjutnya sambil menaruh tas ungu di lacinya.
“Eh Tami, aku mau cerita” kata Hana sambil menghadap kearahku. Aku menoleh kearah Hana dengan wajah yang sangat ingin tau.
“aku suka sama cowok” katanya sambil berbisik di telingaku. Jantungku mulai berdebar tak karuan, aku melihat wajah Hana yang nampak berbunga-bunga. Aku nggak mungkin menghancurkan kebahagiaannya kali ini.
“Devan?” aku menebak dengan suara agak berbisik seraya melirik Devan yang sedang asik dengan yang lain. Hana tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala dengan kuat.
“hahaha, masak kamu suka anak kayak dia?” aku kaget melihat sahabatku menyukai cowok aneh seperti Devan. Karin segera membungkam mulutku dengan wajah merah padam.
“kamu itu, jangan keras-keras kalo ngomong! Ini masih jadi rahasia kita” katanya, masih dengan wajah merah padam.
Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan dua jari membentuk peace. Bel masuk sudah berdering kira-kira lima belas menit yang lalu, namun guru jam pertama sepertinya tidak dapat mengajar. Aku segera mengambil komik yang berada di dalam tas cokelatku. Aku sudah tenggelam pada cerita dalam komik, hingga Hana menyenggol-nyenggol sikuku.
“apaan sih, masih seru serunya nih” kataku, tanpa melihat wajah Hana dan tetap membaca komik. Hana terus saja menyenggol-nyenggol sikuku tanpa henti.
Saat aku melihat Hana, arah matanya menuju pintu kelas dan disana sudah berdiri Bu Lina, sepertinya mencariku. Aku berdiri dan mengahampiri Bu Lina. “maaf, ibu panggil saya?”
“iya, juga teman kamu yang bernama Fitriana ParaHana, saya tunggu di ruang pembinaan” kata Bu Lina sambil melihat buku catatan tebalnya.
Aku menyunggingkan senyum dan kembali ke bangkuku untuk memanggil Hana. Aku dan Hana bergegas menuju ruang pembinaan. Saat kami telah sampai di ruang pembinaan, sudah ada Kak Kikan dan Kak Bagas yang duduk bersebelahan. Aku dan Hana duduk agak jauh dari mereka berdua.
“baik, semuanya sudah berkumpul, saya mau penjelasan dari KaTami dulu tentang kejadian semalam di kamar mandi sekolah” kata Bu Lina sambil mengahadap kearahku. Aku menarik kursiku mendekati Bu Lina.
“jadi awalnya, Kak Kikan mengajak bertemu saya di ruang ekskul musik” kataku sambil melirik Kak Kikan yang sudah memasang tampang bingung. “Hana maksa ikut karena takut ada apa-apa bu. Ternyata dugaannya benar, Kak Kikan menarik rambut sa..”
“nggak benar itu bu, saya nggak mungkin kayak gitu” sela Kak Kikan sambil berdiri dari kursinya. Bu Lina tak menanggapi Kak Kikan dan masih melihat ke wajahku.
“Kak Kikan menarik-narik rambut saya” lanjutku. “saat itu Hana memanggil Kak Bagas agar membantu saya. Saat saya dan Kak Bagas pulang, saya nggak tau kalau Hana masih di dalam kamar mandi, hanya segitu yang saya tau” kataku kemudian mengahadap kearah Hana agar meneruskan kalimatku. Bu Lina juga mengahdap kearah Hana.
“memang saya di kamar mandi untuk bersembunyi agar Tami tidak terganggu” katanya dengan tersenyum kearahku, aku yang melihat wajahnya tak kuasa untuk menahan tertawa. “saat Tami dan Kak Bagas sudah pergi, saya keluar dari kamar mandi, tapi tiba-tiba Kak Kikan mendorong saya masuk kamar mandi lagi dan menggembok pintu kamar mandi. Hingga sekitar pukul delapan malam, Pak Tedjo mendobrak pintu kamar mandi setelah mendengar teriakan saya” katanya lagi dengan melirik Kak Kikan yang saat ini hanya tertunduk.
“apa benar Kikan?” tanya Bu Lina dengan ketus kepada Kak Kikan. Tiba-tiba Kak Kikan mendongakkan kepala dan menangis dibuat-buat yang menjijikkan. “saya tidak akan tertipu dengan tangisan mu yang seperti itu, cepat ngomong yang sejujurnya” bentak Bu Lina.
“orang tua Fitriana Hana Paramita baru saja datang kemari meminta tanggung jawab kamu, bahkan ingin sekali bertemu denganmu dan orangtuamu. Sebenarnya kelakuan macam kamu ini sangat pantas jika di beri peringatan akan dikeluarkan dari sekolah” lanjut Bu Lina dengan wajah menyeramkan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Tubuh Kak Kikan seakan beku di tempat, aku dan Hana saling berhadapan dan sama-sama menahan tertawa. Aku melirik kearah Kak Bagas, sepertinya dia juga nggak tahan dengan kelakuan Kak Kikan.
“maaf, maafkan saya bu.. maafkan saya” ucap Kak Kikan dengan suara yang meninggi disertai suara tangisannya. Bu Lina tidak mau memandang wajah Kak Kikan, yang sudah memohon-mohon.
“seharusnya kamu minta maaf pada mereka bukan pada saya!” bentak Bu Lina tanpa memandang wajah Kak Kikan. “kamu memperburuk citra sekolah kita yang sudah sangat baik” aku tertawa dalam hati mendengar kata kata Bu Lina yang nyaris persis dengan kata kata yang pernah di ucapkan oleh Kak Rere kepadaku.
Tiba-tiba Kak Kikan bangkit dari kursinya dan berjongkok sambil memegangi kaki ku dan Hana. Aku dan Hana yang tak percaya dengan gelagat Kak Kikan segera melepaskan tangannya yang memegangi kaki kami berdua. Bu Lina yang melihat gelagat Kak Kikan, sudah mulai leleh.
“sudah sudah Kikan berdiri” katanya kepada Kak Kikan. “kamu pertanggung jawabkan ini pada kepala sekolah, entah bagaimana nasib kamu, saya juga tidak tau” kata Bu Lina dan meninggalkan kami berempat di dalam ruang pembinaan. Aku segera menarik tangan Hana keluar dari ruang pembinaan.
Tapi Kak Bagas juga lebih cepat menggandeng tanganku.
“nanti pulang denganku ya?” ajak Kak Bagas saat kami bertiga meninggalkan Kak Kikan sendiri di ruang pembinaan. Aku menoleh kepada Hana yang berada di sebelah kiriku, meminta pendapat atau saran atau hanya sekedar mengalihkan pembicaraan, agar aku tidak terlihat salting di depan Kak Bagas.
Tapi Hana hanya senyam senyum dan berlari meninggalkanku berdua dengan Kak Bagas. s**l! Tubuhku terasa panas dingin di samping Kak Bagas yang sedang melihati ku dengan s***s. “gimana mau nggak?” tanya Kak Bagas lagi.
“apa nggak ngerepotin kakak?”
“enggak kok, mau ya?” katanya lagi sambil mengelus elus rambutku. Aku hanya menyunggingkan senyum kepada Kak Bagas. Dan aku tidak menyangka ekspresi Kak Bagas yang langsung tersenyum memperlihatkan semua giginya, yang membuat jantungku seakan berdetak ribuan kali lebih cepat.