Pelajaran terakhir aku sangat tidak dapat berkonsentrasi, aku hanya memikirkan ajakan pulang dari Kak Bagas yang memang bukan untuk yang pertama kalinya. Tapi sekarang ini beda, bukan ajakan pulang karena aku terlibat masalah yang melibatkannya.
Tapi karena dia memang benar-benar mengajakku. Aku tidak sadar bahwa Hana sedang melihatku sambil senyam-senyum.
“apaan sih kamu, ngeliatin aku sambil senyum senyum gitu? Kurang kerjaan deh. Mendingan dengerin tuh omongan Bu Martini” aku mengoceh pada Hana agar mendengarkan pelajaran kewarganegaraan yang sangat mebosankan.
“kamu sendiri? Ngelamun ngelamun nggak jelas gitu.. hayo, diajakin pulang sama Kak Bagas senengnya nggak karuan gitu..”
“kok gitu sih?” kataku jengkel pada Hana yang tak henti-henti mengejekku.
“eh, siapa aja udah tau kalau kamu sekarang ini lagi seneng” katanya lagi sambil berbisik, aku hanya mengerutkan keningku.
“liat tuh muka kamu, kayak abis kepanggang, merah banget!” katanya lagi dan kali ini dengan ekspresi wajah yang sangat menjengkelkan. Aku tidak tahan melihat ejekan Hana dan memilih izin ke kamar mandi.
Aku memilih kamar mandi yang dekat dengan ruang pembinaan agar dapat mengulur-ulur waktu. Aku harus menunggu di depan kamar mandi karena ada sesorang yang berada di dalamnya.
“lho, Devan?” aku kaget karena Devan keluar dari kamar mandi ruang pembinaan yang cukup jauh dari kelas kami. “ini kenapa?” aku menyentuh bekas luka yang masih baru di dekat bibir Devan. Devan langsung menepis tanganku dan berjalan meninggalkanku yang berdiri penasaran di sana. “Devan kamu berantem sama siapa?” tanya ku lagi sambil menarik tangan Devan.
“nggak ada urusannya sama kamu” kata Devan tanpa memandang sedikitpun kearah ku.
“tapi kan aku khawatir sam kamu! Kamu ini kan tetanggaku, temenku, bahkan aku udah nganggep kamu sebagai sahabatku. Kamu ada disaat aku ngebutuhin kamu, kamu seharusnya nggak segan dong kalau cerita ke aku?” kata ku lagi, kali ini suaraku sedikit meninggi.
Devan memegangi bahuku dengan wajah yang semakin dekat dengan wajahku. “apa benar kamu mengkhawatirkan ku?” tanyanya kali ini dengan sedikit senyum yang membuatku sedikit lega. Aku langsung tersenyum melihat Devan yang sudah nampak lebih baik.
“yaudah, ayo!” kataku sambil menggandeng tangan Devan menuju kelas.
“bukannya kamu mau ke kamar mandi?” kata Devan terbingung-bingung. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kearah Devan yang tambah makin bingung.
Aku menggandeng terus tangan Devan hingga sampai di depan kelas. Bu Martini melihat ke arah tanganku yang menggandeng tangan Devan, sehingga beliau berdeham pelan.
Aku pun langsung melepaskan tangan ku dan segera duduk di kursiku.
Krringg.. krringg.. krringg..
Bel berbunyi ketika aku baru saja duduk di kursi ku dan melihat Hana yang memasang wajah aneh. Astaga! Aku lupa pada pengakuan Hana bahwa dia menyukai Devan. Padahal aku tadi menggandeng tangan Devan hingga sampai di depan kelas, dan pastinya Hana melihat aku melakukan hal aneh itu.
“ada yang lagi jealous ya?” kataku sambil pura-pura menyindir Hana yang lagi memasukkan buku-buku pelajaran dalam tas butut ungunya dengan sebal. Aku memandangi Hana yang memang benar-benar serius marah, aku semakin nggak tau mau ngapain lagi. “kamu cemburu ngeliat aku sama Devan?” tanyaku sambil berbisik.
Hana hanya melirikku dan langsung bangkit dari kursinya. Aku segera menariknya duduk.
“maafin aku dong Han, barusan aku ketemu Devan di kamar mandi dengan muka bonyok semua. Nggak ada maksud apa-apa kok” kataku pelan agar teman-temanku yang masih berada di kelas tidak mendengarnya.
“udah! Kamu bener bener nggak bisa dipercaya” bentak Hana kepada ku dan langsung membuat murid yang masih berada didalam kelas menoleh kearah kami berdua. Hana langsung berlari keluar kelas, pada saat yang sama di pintu kelas juga sudah ada Kak Bagas yang sepertinya baru datang dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“bukannya itu temen kamu? Kenapa?” tanya Kak Bagas sambil menunjuk-nunjuk Hana yang baru saja keluar melewati Kak Bagas dengan menangis. Sebenarnya aku ingin mengejarnya, tapi bukan salahku juga. Aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Hana tidak mau mendengar dan malah nyelonong pergi. Aku hanya menggelengkan kepala dengan pasrah.
“ya udah, ayo” ajak Kak Bagas sambil menjulurkan tangannya kepadaku. Dengan lemas aku menyambut tangan Kak Bagas dan menuju tempat parkir dimana sepeda motor Kak Bagas terparkir. “kamu enggak apa kan?” tanya Kak Bagas lagi, memastikan bahwa aku memang benar benar tidak ada masalah.
Aku memandang wajah Kak Bagas dan menggeleng gelengkan kepala. Aku kaget saat melihat wajah Kak Bagas yang juga tedapat bekas luka baru di wajahnya.
“ini kenapa?” tanyaku sambil menyentuh bekas luka di dekat pelipis mata Kak Bagas, sama persis ketika aku menanyakan bekas luka pada wajah Devan.
Kak Bagas mengambil tanganku pelan sambil tersenyum tipis kepadaku. aku enggak bisa berkata-kata lagi dan segera menaiki sepeda motor Kak Bagas. Dingin, tidak ada pembicaraan di antara kami berdua sepanjang jalan.
“kakak berantem sama siapa?” pada akhirnya akulah yang membuka pembicaraan.
Kak Bagas menoleh ke belakang kearahku. “biasa, cuma anak iseng aja” kata Kak Bagas dengan senyum manis itu untuk kesekian kalinya. Aku tidak mempermasalahkan bekas luka itu lagi kepada Kak Bagas.
“makasih ya kak” kataku saat kami sudah sampai di depan rumahku.
Tiba tiba Kak Bagas mengeluarkan kertas dari saku kemejanya dan memberikan benda itu kepadaku. “ini nomer handphone ku, aku ingin kamu menghubungi aku kapan aja kamu mau” kata Kak Bagas sambil tersenyum, kemudian meninggalkanku yang masih membeku.
Aku segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Kak Rere yang berada persis di samping kamarku.
Tokktokk.. tokk.. tokktokk. Tokk..
Aku cepat cepat mengetuk kamar alias kandang Kak Rere. Kak Rere yang hanya mengenakan celana pendek keluar dengan wajah yang hancur lebur sambil menggaruk garuk kepala.
“apaan sih, ganggu orang tidur aja” Kak Rere yang sudah kelas dua belas selalu di pulangkan pagi oleh sekolahnya, sehingga setiap aku baru pulang sekolah, Kak Rere malah baru bangun tidur.
“aku mau cerita nih, ayo ayo” kataku, sambil mendorong masuk Kak Rere ke dalam kamarnya lagi. Kak Rere yang masih mengantuk mengikuti saja permintaanku dengan lemas. Aku meberikan kertas yang di berikan Kak Bagas kepada Kak Rere dengan cengar cengir.
Kak Rere mebaca deretan nomor yang aku berikan. “apaan sih nih, kalo mau cerita ya cerita aja, nggak usah ngasih aku tebak-tebakkan deh” kata Kak Rere dan meremas-remas kertas tersebut dan melemparkannya kepadaku.
Aku segera membuka kertas tersebut yang sudah lecek dan menjewer telinga Kak Rere. “aduuw!!” Kak Rere langsung membuka matanya sambil memegangi telinganya.
Aku tak memperdulikan Kak Rere yang sedang kesakitan. “ini nomernya cowok yang aku suka kak.. dia ngasih sendiri lho ke aku” kata ku dengan bangga kepada Kak Rere yang terheran-heran melihatku curhat kepadanya.
“tumben cerita ke kakak? Berantem sama temen ya?” Kak Rere memang kakak yang paling pengertian deh kalo maslah kayak gini. Aku mengangguk sambil memandangi nomor handphone Kak Bagas.
“kenapa emang bisa berantem ama temen kamu?”
“cuma masalah salah paham kok”
“salah pahamnya gimana?”
“aku ngegandeng Devan. Nah temen aku ini kan suka Devan. Ya gitu deh. Jadinya tadi dia ngambek ke aku,” kata ku enteng sambil berjalan keluar dari kamar kandang Kak Rere.
****
Aku meihat Hana yang sudah duduk di kelas. Tempat duduk kami di rolling, jadi kami sekarang duduk di barisan paling depan. Aku masih mengira bahwa Hana benar-benar marah kepadaku. Aku segera duduk di bangku dan menghadap kearah Hana.
“Han, maafin aku ya.. kemarin itu aku cuma iseng aja. Beneran.” Aku mengucap maaf serta memandang wajah Hana yang nampak kebingungan.
“o, yang kemarin itu? Aku nggak marah kok ke kamu, Tam,” kata Hana sambil menjulurkan lidahnya. Aku memang tidak yakin kalau Hana marah kepadaku, tapi nggak apa lah, dia kan udah maafin aku.
“kamu tau sekarang sekolah pulang pagi?” kata Hana membangunkan lamunanku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. “aduh, apa sih yang kamu tau Ra?” lanjut Hana sambil menunjuk-nunjuk kepalaku.
“emang ada apaan?” kataku, sambil memandang Hana yang sepertinya jengkel.
“huh, kita dipulangin cepet, soalnya kepala sekolah dapet pesan singkat dari salah satu murid SMA Teratai, katanya sih mau tawuran gitu di deket SMA kita.
Kepala sekolah takut kita jadi korban atau malah terlibat tawuran. Bahaya banget kan, makanya kita di pulangin pagi deh. Sering sering deh ya tawuran gini. Jadi kita bakal sering dipulangi lebih cepat. Hehe.” Hana menceritakan dengan semangat penuh dan kebahagiaan yang setara dengan habis mendapat nilai seratus pada ulangan kimia.
Aku yang melihatnya bercerita hanya mengangguk anggukkan kepala. “ngerti nggak kamu?” tanya Hana memastikan.
“ngerti dong, kalau aku tau kayak gini, mending nggak sekolah deh. Pelajaran pertama nggak ada gurunya kayak gini. Ngabis ngabisin ongkos sama bedak aja,” ucapku. Kemudian menyapukan pandangan ke segala arah.
Anak anak lain juga tengah bermain main. Ada yang main UNO, ada yang lagi asyik ngerumpi, ada yang main kapal kapalan, ada yang chatting, baca cerita fanfict, atau nonton video korea.
Aku menoleh ke Hana lagi. ‘Ke kantin yuk, aku belum sarapan nih” kataku sambil menarik paksa tangan Hana.
“kayaknya Kak Bagas juga suka kamu deh” tiba-tiba Hana ngomong nyeleneh yang nggak aku mengerti. Aku menghadap kewajah Hana meminta penjelasan.
“kata siapa aku suka Kak Bagas?” kataku saat kami sampai di kantin dan memilih duduk di kursi pojok.
“kamu bilang gitu, mukamu merah lho.. jangan boong deh” aku tidak bisa ngomong apa-apa lagi, sepertinya aku terpojok di pojokkan. Aku hanya senyam-senyum nggak jelas.
“aku mau bilang sesuatu ke kamu, tapi kamu jangan marah ya..” kata Hana mulai hati-hati. Aku yang nggak ngerti maksud Karin hanya mengiyakan ucapannya itu.
“aku kemarin sebel banget sama kamu” kata Hana pelan. “jadi, aku kemarin bilang ke adiknya Kak Bagas kalau kamu suka sama Kak Bagas” lanjut Hana dengan menatap mataku.
“adik?”
“iya, adiknya itu kursus musik bareng aku, aku bener bener minta maaf sama kamu.. aku kemarin itu bener bener sebel sama kamu..” kata Hana dengan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya.
“udah, udah, aku udah maafin kok. Tapi maafin aku juga yang masalah aku ngegandeng Devan, itu cuma iseng aja kok, kamu tau sendiri kan kalau aku emang akrab sama dia, nggak ada perasaan apa apa kok aku sama Devan.
Pokoknya aku mau memperjuangkan kamu sama Devan” kataku yang kali ini sangat semangat.
“tapi, waktu aku dianterin pulang pas aku kekancingan itu, Devan ngomongin kamu terus di jalan” kata Hana sambil mengaduk cappuccino-nya. Aku yang kaget nggak bisa menjawab pernyataan dari Hana. Aku langsung menyeruput habis es teh manisku (nggak bermutu banget ya minumanku).
“yang penting kan kamu tau kalo aku nggak suka sama Devan” kataku sambil tersenyum kepada Hana.
Hana mengangguk-anggukkan kepala. Aku berpikir untuk mencari bahan obrolan yang lain agar aku nggak semakin terpojokkan.
“emm, emang Kak Bagas punya saudara berapa?” tanyaku.
“yang aku tau sih cuma satu, ya adik perempuan yang kursus bareng aku itu” kata Hana sambil mengaduk cappuccino-nya lagi, bikin ngiler deh.
“namanya siapa? Kelas berapa? Gimana orangnya?” Aku memberondong Hana dengan pertanyaan bertubi tubi.
“he? Nanya kok nggak pakek nafas kayak gitu!” kata Hana sambil geleng geleng kepala, aku hanya tersenyum sambil mengangkat dua jari membentuk peace.
“emm, namanya Zahra. Masih kelas dua SMP sih. Tapi main musiknya udah jago banget lho, apa lagi main piano, aku aja kalo ngeliat sampe pengin ngiler ngiler gitu. Hahaha. Emm, pertanyaan terakhir tadi apa?” saking hebohnya, Hana sampai lupa pertanyaan terakhirku.
“haduh~ si Zahra Zahra itu kayak gimana orangnya?”
Hana tampak berpikir. “Dia sih agak cuek gitu, aku nggak terlalu kenal sih, soalnya beda ruangan sama dia, tapi dia cantik banget tauuu, imut imut, manis gitu, kayak..”
“kayak Kak Bagas!” aku menyela cepat sebelum Hana selesai bicara. Hana yang melihat aku ngomong ngawur kayak gitu langsung tertawa terbahak bahak. “lho, ngapain tertawa, emang benar kan?”
“iya iya Tam, terserah kamu aja deh, kamu kan sedang dimabuk cinta” kata Hana sambil menutupi mulutnya yang sedang tertawa.