EPISODE 10

1867 Words
Krringg.. krriingg.. krringg.. Seperti gosip tadi, sepertinya memang benar benar ada tawuran. “Tami, ayo kita pulang” kata Hana yang sedang membayar kepada Pak Yadi. “kamu duluan aja deh, aku mau pipis dulu,” ucapku. “mau aku tunggu?” tanya Hana. “nggak usah deh,” kataku. “ya udah aku duluan ya?” kata Hana yang sudah menenteng tas helo kittynya sambil berjalan meninggalkan ku di kantin yang sudah lumayan sepi. Aku segera membayar es teh manis dan langsung berlari menuju kamar mandi paling dekat dengan kantin, yaitu kamar mandi ruang pembinaan. Mungkin karena aku ke kamar mandinya lari, jadi aku pipisnya jadi deg deg an. “semua siswa diharap segera meninggalkan sekolah. Pintu gerbang akan segera ditutup lima menit lagi” kata suara dari pengeras suara yang terdengar dari dalam kamar mandi. Setelah aku selesai, aku segera lari menuju kelasku yang berada di lantai dua. Di setiap kelas yang aku lewati sudah tidak ada siswa yang berada di dalamnya. Saat aku sampai didalam kelas, nampak Devan yang ketiduran di bangkunya. Aku segera mengemasi barang-barangku dan berlari menuju bangku Devan. Aku berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan cepat dan sedikit kasar. Aku mengangkat kepala Devan yang menempel di mejanya, aku kaget melihat bekas tonjokkan yang memenuhi wajahnya. “Devan? Devan? Bangun, bangun! Devan?” kataku, masih terus mengguncang-guncang tubuhnya. Aku segera berlari meminta pertolongan, tidak ada seorangpun yang tersisa termasuk Pak Tedjo yang biasanya menjaga sekolah. Aku berlari menuju UKS yang pintunya sudah tertutup, aku mencoba membuka pintunya. Sukurlah, pintu UKS tidak terkunci. Aku segera mengambil obat merah, alcohol, dan plester, dan langsung berlari kembali menuju kelasku. Aku menaruh obat obat di atas meja Devan yang sudah bercecer darah. Aku memang bukan petugas PMR sekolah yang mengetahui bagaimana cara mengobati seseorang dengan benar. Dipikiranku yang penting Devan bisa bangun secepat mungkin. Aku yang tidak tau bagaimana membangunkan orang dengan cara yang benar, segera membuka sepatuku yang tidak pernah aku cuci semenjak pertama kali beli dan menempelkannya ke hidung Devan. “uhuk.. uhuk.. uhuk..” tanpa menunggu terlalu lama Devan terbangun sambil memegangi kepalanya. “Devan? Devan? Uda bangun kan?” kataku, sambil melambai-lambai di depan matanya. Mungkin Devan masih pusing, sehingga tidak menjawab pertanyaan nggak jelas dari ku. “lho, Tami? Kenapa kamu ada di sini?” kata Devan setelah benar-benar sadar. “kenapa kamu bonyok kayak gini?” kataku agak keras karena di luar sepertinya sudah terjadi tawuran dengan suara yang sangat bising. “nggak penting kamu nanya kayak gitu. Mendingan kita segera keluar dari sini” kata Devan juga mengeraskan volume suaranya dan berusaha berdiri dari bangkunya. “berdiri aja kamu nggak kuat, apalagi kalo mau keluar!” kataku, sambil mendorong Devan duduk di kursinya lagi. Devan memandangiku dengan tatapan memelas. “kamu harus segera menyelamatkan diri” sambil memegangi bekas luka di pipinya. “tapi kamu harus bareng sama aku” kataku mulai pelan karena kegaduhan diluar sekolah sudah mulai mereda. “kita ke UKS dulu aja, ayo” kataku sambil menjulurkan tangan, Devan menyambut tanganku dengan tangan yang sangat dingin. Aku merangkulkan tangan Devan ke bahuku, dan menuruni tangga menuju ruang UKS. Untung saja ruang UKS berada di bangunan belakang sekolah, sehingga tidak terlalu terdengar kegaduhan di luar sekolah. “kenapa kamu nyelametin aku? Kenapa kamu tadi nggak langsung pergi aja?” tiba-tiba Devan memberikan pertanyaan aneh kepadaku. “tentu aja aku nyelametin kamu, kamu itu tetanggaku, sahabatku, jadi aku nggak mungkin ninggalin kamu” Devan tersenyum mendengar kata-kataku. “emm, apa aku boleh tau kamu berantem sama siapa?” kataku dengan hati-hati. Devan memandang wajahku dengan serius, aku yang melihatnya jadi ngeri sendiri. “ini cuma masalah keluarga kok?” kata Devan sambil tersenyum. Aku tidak mengerti maksud Devan, dia kan berantemnya di sekolah, tapi kenapa dia bilang masalah keluarga? “oh, trus gimana cara kita keluar dari sekolah?” aku benar-benar kebingungan padahal baru jam sepuluh pagi. “kita nggak akan bisa keluar sampek tawurannya selesai, kamu tenang aja deh, kita kan bareng-bareng di sini” kata Devan dengan tenang, sehingga juga membuatku tenang dan nyaman. Kemudian Devan bercermin dan melihat wajahnya yang sudah bonyok semua itu. “ha? Siapa nih, yang mlester luka luka ku?” kata Devan sambil memegangi plester-an ku. Aku segera menunjuk nunjuk bahuku untuk pamer kepada Devan. “jelek banget sih! nggak karuan” kata Devan sambil membenahi plesternya. Aku hanya manyun sambil menaruh tasku di kasur ruang UKS. “kok diem, nggak enak banget suasananya kalo gini. Kamu nggak mau cerita-cerita ke aku?” tanya Devan mendekatiku yang duduk di kasur putih ruang UKS. Aku memikirkan apa yang akan aku ceritakan ke Devan. Masalah Kak Bagas? Nggak ada hubungannya sama Devan! Masalah Kak Kikan? Apa lagi itu, nggak ada hubungannya sama Devan. O, Hana! “aku mau ngomong sesuatu, tapi kamu janji nggak bakalan bilang siapa-siapa” kataku sambil menjulurkan jari kelingkingku. Devan menyambut jari kelingkingku sambil mengangguk dan tersenyum manis. “Hana cerita ke aku..” kataku dengan suara agak keras. “dia suka kamu” kali ini aku mengecilkan volume suaraku. Aku mengahadap kearah Devan yang tidak bereaksi apapun. “gimana? Gimana?” Devan menggaruk garuk kepalanya. “aku nggak suka sama dia” kata Devan singkat. Aku mengerti, memang cinta itu nggak bisa dipaksa. “nggak apa kok, cinta itu emang nggak bisa dipaksa, kan? Tapi kamu jangan jauhin Hana, dia itu sahabatku juga, aku nggak ingin dia sedih” kataku dengan suara pelan tapi penuh semangat. Devan tidak sedikit pun memandang wajahku. Setelah itu, kami ber-haha-hihi nggak jelas hingga ada lemparan batu yang mengenai kaca ruang UKS. “ayo! Kita harus keluar dari sini” kata Devan sambil menarik tanganku. Aku dan Devan berlari menuju pintu gerbang belakang sekolah. Kami mengira tawuran tidak akan sampai gerbang belakang, tapi ternyata kami salah, di belakang sekolah banyak cowok dari SMA Teratai, bahkan ada cowok dari SMA Angkasa juga! “bukannya itu Kak Bagas?” kataku sambil menunjuk-nunjuk cowok berbadan tinggi, berkulit coklat dan rambut sedikit gondrong. Devan segera menarik tanganku dan berlari menuju lantai dua, dan kami bersembunyi dibalik tangga. “kenapa kita kesini? Bukannya kita mau keluar tadi?” aku masih terengah-engah. “bisa-bisa kita jadi korban kalau kita nekad keluar!”Devan juga masih terengah-engah. “apa tadi yang kamu liat bener-bener Kak Bagas?” kata Devan dengan suara pelan. Aku hanya menganggukkan kepala sambil menghadap kewajah Devan yang nampak khawatir. “apa kamu suka dia?” Devan tiba-tiba mengajukan pertanyaan di waktu yang nggak tepat. Aku menoleh kearah Devan sambil mengerutkan keningku, aku mengira Devan hanya bercanda. Namun, dari raut wajahnya, Devan nampak serius dan ingin tau jawabanku. “kamu kenapa ngomong gitu?” aku masih terus memandang wajah Devan yang sekarang menundukkan kepalanya. “jawab aja” “iya!” tiba-tiba aku mengeluarkan air mata, Devan mengahadap kearahku dan kaget sambil mengelus-elus rambutku. “kenapa nangis?” Devan masih mengelus-elus rambutku. “aku khawatir sama Kak Bagas, aku takut terjadi apa-apa sama dia, aku..” “udah, udah. Kamu harus yakin dia nggak apa-apa” sela Devan yang juga nampak khawatir. Kami berdua hanya berdiam diri hingga suara tawuran nggak terdengar lagi. Saat aku ngelihat layar Hp ku, ternyata sekarang sudah pukul setengah tiga lebih lima belas menit. “Devan, ayo kita keluar” aku mengguncang-guncang tubuh Devan yang ketiduran di balik tangga. Devan mengucek-ucek matanya kemudian membuka matanya, “ini udah jam berapa?” “jam empat! Ayo bangun. Kita mesti pulang sekarang” aku menarik lengan Devan. Devan bangun dan berdiri terhuyung-huyung menuruni tangga. Kami berdua berjalan sambil menunduk dan bersikap siaga. Kami menuju gerbang belakang sekolah yang sudah tidak ada seorangpun disana, hanya menyisakan bekas terbakar, sampah-sampah bahkan tembok belakang SMA Angkasa juga mengalami retakan yang cukup besar. Kami melompati pagar belakang sekolah yang cukup tinggi di bandingkan pagar utama sekolah. Aku dan Devan berhasil melompati pagar yang begitu tinggi dan berlari menuju halte bus terdekat dengan sekolah. Kami menunggu kira-kira lima belas menit dan tidak ada bus yang datang, mungkin bus juga di liburkan gara-gara tawuran nggak jelas tadi. “kamu nggak laper?” Devan berdiri dan melihat ke wajahku yang sudah pucat. Aku memang belum sarapan dari pagi, dan hanya meminum segelas teh dikantin sekolah. Aku menggelengkan kepala. “nggak ada duit” aku memandang wajah Devan dengan muka sedih. “nggak apa, ayo” Devan menjulurkan tangannya, aku pun meraih tangan Devan. “kita lari ya?” tanpa meminta persetujuanku Devan sudah menarik tanganku dan kami berdua pun berlari. Aku tidak mengerti tujuan Devan kemana, tapi aku sudah benar-benar lapar, tak palah mengikuti permintaannya. Kami berdua sampai di depan mall yang cukup besar dan sedikit jauh dari sekolah kami. Kata Devan sih milih yang aman gitu. Kami berdua memasuki mall besar itu masih dengan seragam sekolah yang sudah sangat lusuh dan kotor, bahkan di baju kami banyak percikkan darah akibat luka Devan, dan sepatu kami sudah bercampur dengan lumpur akibat kami melewati sepetak sawah agar cepat menuju mall besar ini. Kami memasuki resto kecil di dalam mall dan mulai memesan makanan. Hari sudah berganti malam, tapi orang tuaku nggak membingungkanku, jadi aku nggak perlu terlalu khawatir. Oh ya, mama sama papa kan ke Bandung berarti aku harus menghubungi Kak Rere. Aku mengeluarkan Hp yang dari tadi bersembunyi di dalam tas coklatku yang sekarang sudah berwarna abu-abu karena terjatuh di Lumpur. Aku melihat layar Hpku. 5 Message Rere Bro 13 Missed calls Rere Bro Kak Rere benar-benar mengkhawatirkanku. “TAMI!! Kamu di mana aja!!” suara dari sebrang saat aku menelpon Kak Rere. “aku aman di sini, aku nggak akan pulang malam. Ya udah. Bye” Pip. Aku mematikan telpon ku saat pesanan kami sudah datang. Aku melihat makanan yang sudah siap di meja dengan mata berbinar-binar. Aku melirik Devan yang biasa saja menatap makanan di meja kami, kemudian Devan melirik kearah ku sambil tertawa. Mungkin karena aku seakan ingin menerkam mangsaku. Aku segera memakan nasi goreng jumbo spesial pesananku yang seharusnya untuk dua porsi. Tanpa basa-basi lagi aku menyuapkan nasi pertamaku kedalam mulutku untuk hari ini. Aku melirik lagi kearah Devan yang memakan sepotong daging yang di lumuri saus putih dengan dedaunan di sampingnya. Hiiy, menjijikkan dan sangat nggak mengenyangkan! Aku sudah melahap habis nasi goreng jumbo spesialku dengan cepat dan menyeruput habis es teh manis (minuman andalanku) dan satu cup es krim coklat. Yang tak ku sangka-sangka, aku nggak kuat bediri karena perutku terlalu full. “gimana kalo kita main dulu di sana?” Devan menunjuk game zone di depan tempat resto kami. Aku menganggukkan kepala dan berjalan pelan menuju game zone itu. Aku memenangkan semua permainan yang aku mainkan sehingga mengumpulkan banyak tiket sedangakan Devan hanya menyumbangkan sedikit. Kami menukarkan tiket itu dan memperoleh boneka beruang besar berwarna cokelat. aku masih tidak puaas hanya mendapat satu boneka, dan masih mencoba-coba permainan lain dan Devan yang membawakan beruang besarku dengan sabar. Tanpa sengaja aku merusakkan permaianan ‘pukul tikusnya!’, salah satu tikus nggak bisa keluar gara-gara aku memukulnya terlalu keras, dan mungkin ini memang hari tidak menyenangkan untukku. Seorang cewek sepetinya penjaga game zone mendatangi ku dan memarah-marahiku. Untung saja Devan mendukungku, tapi cewek itu tetap saja nggak nyerah marah-marahnya. Kami sangat kaget saat cewek penjaga ini memanggilkan satpam untuk kami.Aku dan Devan benar-benar kaget mendengar cewek penjaga itu memanggil satpam. Devan langsung menarik tanganku dan kami berdua berlari menghindar dari satpam-satpam yang telah mengejar kami. Aku melihat kearah Devan yang kebingungan melihat jalan karena tertutupi beruang besarku yang di pegang dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menarikku agar berlari lebih cepat. Tapi karena kekompakkan serta kegesitan kami, akhirnya kami berhasil keluar dari mall dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Yippee!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD