Bab 2

1501 Words
"Makan tu hati-hati, sampai tersedak gitu," ujar Rania sambil mengulurkan botol air mineral "Kenapa cerai?" tanya Anna setelah dia bisa mengatasi tersedak yang membuat hidung dan kerongkongannya sakit. "Katanya gak mau tahu urusan mantan? kenapa jadi kepo begini?" "Rania! kamu yang mancing-mancing, ya! cepat katakan!" "Aku juga gak tahu kenapa, yang jelas itu karma bagi mereka karena sudah nyakitin kamu, bukan cuma kamu yang sakit, sebagai teman aku juga ikutan sakit, tahu!" Anna hanya bisa menarik napas panjang mendengar perkataan Rania. Wanita itu benar, mungkin itu karma bagi mereka, pernikahan yang diawali pengkhianatan tidak akan berakhir dengan baik. "Udah, ayo kerja! kita harus menunjukkan kinerja yang bagus, kabarnya semua divisi akan terjadi pergantian pemimpin, mungkin akan di rolling. Kita gak tahu akan dapat pimpinan seperti apa, kalau kepala divisi kita masih Pak Rangga, kita tidak perlu kuatir," ujar Rania sambil kembali ke kubikel-nya, mulai bekerja dengan serius. Anna mendesah setelah membuang bungkus sarapannya, dengan perlahan dia teguk air mineral yang ada di atas meja. Dia menghirup napas dengan berat, tak pelak pikirannya tetap melayang memikirkan lelaki yang telah menjadi kekasihnya selama tiga tahun itu. Anna menatap komputer di hadapannya dengan tatapan kosong, sungguh walau peristiwa itu sudah berlalu selama tiga tahun, tetapi sudut hatinya masih terasa sakit. "An? masih juga melamun? apa mikirin cowok b******k itu? makanya cepat tembak Ilham, apa perlu aku comblangin? sudah tiga tahun ini loh, tetapi kamu belum juga dapat pengganti Ivan. Nanti lelaki b******k itu besar kepala, dikira kamu masih belum bisa move on dari dia," keluh Rania ketika melihat temannya itu masih saja melamun. "Siapa yang melamun? Aku lagi mikirin kerjaan ini?" elak Anna. "Haish, gak usah bohong, Neng! Mikirin kerjaan apaan? komputernya aja belum kamu nyalain gitu," cebik Rania Anna segera menghidupkan komputer di hadapannya, banyak laporan bulanan yang belum dia selesaikan, Pak Rangga kepala divisinya sudah memintanya sebelum istirahat makan siang nanti. ***** "An, Ayo istirahat dulu," ujar Rania yang telah membereskan berkas di atas mejanya. "Aduh, laporan bulanan ini belum selesai, nanggung tinggal dikit lagi. Kamu tahu sendiri kan, kalau Pak Rangga dari tadi sudah meminta laporan ini. Kamu duluan saja, tolong bawakan makan siang untukku, ya?" Anna berkata dengan nada cemas tanpa melihat ke arah Rania, matanya terus menatap layar komputer, tangannya terus sibuk di atas keyboard. "Ya, sudah. Nanti aku bawakan makan siang untukmu, aku pergi dulu ya?" Rania pergi sendiri ke kafetaria, rekan satu ruangannya sudah sepuluh menit keluar dari kantor untuk melakukan salat Zuhur dulu, kebetulan dia dan Anna sedang datang bulan, jadi masih bisa santai karena tidak terpotong waktu salat. Rania sebenarnya kasihan melihat Anna diburu deadline seperti itu, Pak Rangga hanya memberinya waktu dua hari untuk menyelesaikan laporan bulanan dengan data yang demikian banyak. Rania ingin sekali menolong Anna jika dia dipercaya oleh Pak Rangga, sayangnya lelaki empat puluh tahunan itu hanya mempercayakan Anna saja yang melakukannya, mungkin karena kinerja Anna yang lebih teliti dan tahan banting bekerja di bawah tekanan. Ketika Rania kembali dari makan siang, Anna sudah merapikan berkas laporan dan menjilidnya agar lebih rapi. "Sudah selesai, An?" tanya Rania sambil meletakkan nasi kotak di meja Anna. "Alhamdulillah, Sudah. Pak Rangga sudah kembali makan siang belum, ya?" "Loh, memangnya kamu gak lihat dia datang?" "He ... he ... Aku gak memperhatikan tadi." "Hadeh, kebiasaan kamu, kalau dah fokus lupa dengan alam sekitar. Ini ... Ada undangan dari mantan." Rania meletakkan sebuah kartu undangan dengan kasar di atas meja Anna. "Undangan dari siapa?" tanya Anna sambil menghentikan kegiatannya yang tengah memasang lakban di dokumen. "Dari mantan kamu, siapa lagi kalau bukan Ivan!" "What? Undangan apa?" "Ya, undangan kawinlah, apalagi?" ujar Rania dengan nada sewot. "Loh, bukannya baru mau cerai sama si ulat bulu, kok udah mau nikah aja? emangnya siapa yang ngasih undangan ke kamu?" "Ya, dia sendirilah. Tadi ketemu di kafetaria, kusuruh ngantar sendiri ke kamu, sepertinya dia tidak berani, malu mungkin. Ternyata dia sama Rita sudah cerai seminggu yang lalu." Anna jadi penasaran, dia segera mengambil dan membuka undangan pernikahan itu yang tampak mewah desainnya. Gadis itu membaca dengan teliti waktu acara pernikahannya. "Baru cerai seminggu, Minggu depan sudah mau nikah? Ck .. Ck ... sepertinya Rita akan lebih sakit hati daripada aku dulu." Anna tersenyum sinis menatap undangan yang tidak ada foto prewedding kedua mempelai itu. "Masih mendingan kamu, Anna. Kamu harus bersyukur dikuatkan hatimu untuk memutuskannya, sebelum terlanjur nikah." "Aku cuma penasaran, si Ivan berani nggak ya, ngirim undangan secara langsung kepada Rita seperti dia dulu dengan bangga memberikan surat undangan kepadaku?" "Kurasa nggak berani, tapi gak tahu juga, siapa tahu hati lelaki itu semakin kejam. Jadi tega aja." "Kurasa nggak berani, Ran. soalnya ngasih undangan ke aku saja dia gak berani." "Anna, laporannya sudah belum? sehabis makan siang ini akan ada meeting pembahasan laporan bulanan dengan manajer keuangan. Nanti sore ada pertemuan dengan seluruh pimpinan perusahaan, akan ada pertukaran jabatan di lingkungan kantor pusat dan kantor cabang." Pembicaraan Anna dan Rania terputus oleh suara Pak Rangga yang tidak sabaran menghampiri meja Anna. "Sudah, ini Pak," jawab Anna sambil menyerahkan laporan yang sudah selesai dia jilid. "Jadi gosipnya seluruh pimpinan mau dirolling itu benar ya, Pak?" tanya Rania setelah mendengar perkataan Rangga. "Iya, doakan saya dapat penempatan yang strategis dan nyaman ya?" ujar Pak Rangga. "Iya, doakan juga kami agar mendapat pimpinan yang baik kayak Bapak, saya doakan, siapa tahu Pak Rangga masih di sini," kata Rania. "Sepertinya itu gak mungkin, Ran. Sebelum Pak Nurdin Hamzah pensiun dari direktur utama, sepertinya dia akan me-reshuffle semua jabatan di kantor pusat dan seluruh kantor cabang, katanya sih untuk penyegaran, walau banyak pihak yang keberatan, Pak Nurdin sepertinya nggak peduli. Tapi menurut gosip, sebelum putranya menggantikannya, dia harus menempatkan semua pimpinan yang royal dan mendukung putranya." Rania dan Anna mengangguk paham dengan penjelasan Pak Rangga walau mereka tidak bisa menyembunyikan rasa cemas jika mereka memiliki pimpinan yang sulit dihadapi. ***** Hari sudah jam lima sore, Anna menuju parkiran untuk pulang. Memang sudah lewat satu jam kepulangannya, Rania saja sudah pulang dari sejam yang lalu. Karena Rania memiliki bayi yang masih ASI eklusif, Pak Rangga juga tidak mempersulitnya, Rania diberi pekerjaan yang cukup ringan, sehingga bisa pulang cepat. Entah nanti pimpinan baru mereka akan sebaik Pak Rangga atau nggak, mereka hanya bisa harap-harap cemas. "Anna ...," panggil seseorang. Anna menoleh ke sumber suara, sepertinya orang itu sengaja menunggunya di tempat itu. Melihat siapa yang ada di sana membuat perasaan Anna buruk seketika, dengan acuh tak acuh, gadis itu mengabaikan orang tersebut dengan melanjutkan langkahnya dengan tatapan berpaling dari lelaki itu. "Anna, kamu sudah menerima undangan ku?" tanya lelaki sambil mensejajarkan langkah. "Sudah!" jawab Anna ketus. Sungguh Anna sebenarnya ingin memblokir lelaki itu, andai menyingkirkan lelaki ini semudah memblokir pertemanan di media sosial, namun sayangnya dunia nyata ini lebih rumit dan lebih kompleks permasalahannya. "Jadi, kau mau datang ke pernikahanku?" Ya, ampun Tuhan ... Kenapa lelaki ini tidak punya perasaan? oh ya lupa, memang lelaki ini wujudnya saja yang manusia, tetapi dalamnya lebih kejam dari setan. "Untuk apa? Kau sepertinya belum puas ya, kudatangi di pernikahanmu yang pertama dulu. Maaf saja, aku masih banyak hal penting yang harus aku lakukan, bagiku pernikahan ataupun kehidupanmu tidak penting sama sekali." Sungguh, Anna tidak ingin membuang waktu berurusan dengan lelaki b******k ini. "Kenapa kamu gak mau datang? Apa kamu masih menyukaiku?" Tenggorokan Anna terasa tercekat mendengar pertanyaan dari lelaki itu, di telinga gadis itu pertanyaan Ivan menggelitik sekaligus menyakiti pendengarannya. Seperti lelaki itu bertanya, Kapan kamu akan mati? atau dengan cara apa kamu akan mati? Tiba-tiba emosi melonjak ke atas kepala gadis itu menyebabkan telinganya mendengung dan wajahnya memerah dengan warna mata yang juga merah karena amarah. "Menyukaimu? apakah lelaki macam kau masih pantas disukai olehku? lelaki pemuja syahwat dan s**********n seperti kau, mendekatiku saja najis, apalagi kusukai? buang pemikiranmu itu ke jamban!" Anna tidak lagi memperdulikan lelaki itu, jika lelaki itu nekad menghadangnya lagi akan dia beri semprotan cabe yang selalu dia siapkan di tas untuk jaga-jaga melindungi diri. Untungnya Ivan tidak berani lagi mendekat, lelaki itu hanya memandangi Anna dari jauh hingga gadis itu pergi dan menghilang dari pandangannya. "b******k! kenapa aku masih bertemu dengan makhluk jadi-jadian itu," gumam Anna kesal, tangannya menarik gas lebih kencang. Anna bertemu lelaki itu ketika mereka masih jadi mahasiswa, saat itu Anna semester empat dan lelaki itu kakak tingkat satu tahun di atasnya. Namanya Evander Setiawan, sering dipanggil Ivan. Sayang sekali sifat lelaki itu berbanding terbalik dengan namanya, sangat tidak cocok lelaki itu dinamai Setiawan, karena dia sungguh benar-benar bukan lelaki yang setia. Awalnya Ivan memang lelaki yang setia dimata Anna, hubungan mereka sudah terjalin ketika Anna menginjak semester enam, selama setahun Ivan dengan gigih mengejarnya. Awalnya Anna memiliki prinsip tidak akan pacaran, karena memang dia sendiri tahu hukum pacaran itu haram dalan Islam, namun kegigihan Ivan meruntuhkan pertahanannya. Anna memberi syarat jika mereka pacaran tidak akan melakukan sentuhan fisik, baik itu gandengan tangan atau lebih, Anna hanya mau disentuh jika dia sudah resmi menjadi istrinya. Ivan yang penasaran ingin menaklukan Anna menerima syarat tersebut. Namun di perjalanan hubungan mereka, Ivan tidak sekuat itu untuk tidak menyentuh makhluk indah bernama perempuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD