Anna memasuki rumah sederhana dengan luas seratus lima puluh meter persegi, rumah yang sudah dihuninya selama hampir dua belas tahun bersama. Rumah yang dimasuki bersama ibunya, rumah yang cukup damai walau kini pemiliknya sudah pergi menghadap Tuhan selamanya.
Ya, rumah ini adalah milik lelaki bernama Najib Zakaria, lelaki yang dinikahi ibunya dua belas yang lalu. Ibu Anna, Saina seorang janda karena suaminya meninggal karena kecelakaan bis di jalan tol, kecelakaan beruntun yang melibatkan Anna juga, karena Anna juga berada di bis itu tiga belas tahun yang lalu.
Najib juga istrinya meninggal ketika melahirkan anak keduanya, Kiara. Ketika umur Kiara lima tahun, dia bertemu Saina di rumah sakit jiwa tempat dia bertugas sebagai dokter jiwa. Sejak suami Saina meninggal, wanita itu mengalami depresi akut sehingga membutuhkan psikiater untuk membantunya bangkit dari keterpurukan, kehadiran Anna cukup mencegah Saina dari kegilaan.
Selain Kiara Larasati yang sekarang sudah duduk di kelas sebelas SMA, Najib juga memiliki putra pertamanya bernama Kenzo Alfaro, yang kini sedang kuliah semester lima di universitas negeri di pulau Jawa.
Hubungan Anna dengan Kenzo dan Kiara termasuk hubungan yang sangat harmonis, Kenzo dan Kiara menghormati Anna sebagai kakak sulungnya, Anna juga sangat menyayangi adik-adiknya walaupun mereka hanya adik tiri. Sejak menikah dengan Najib, Saina juga lebih bersemangat dan gembira. Kenzo dan Kiara juga menerimanya sebagai seorang ibu yang sudah lama mereka rindukan, Kiara malah sangat manja pada Saina. Begitu juga dengan hubungan Najib dan Anna, walau ayah tiri, Najib juga memperlakukan Anna dengan adil seperti anaknya sendiri. Anna sangat menghormati Najib seperti ayahnya sendiri.
Namun kebahagiaan itu juga diwarnai kesedihan selama setahun karena Najib jatuh sakit dan divonis gagal ginjal, Saina dengan sabar merawat suaminya yang sakit, menemaninya cuci darah, dan berobat ke rumah sakit. Anna juga turut merawat lelaki yang sudah dianggap ayahnya dengan penuh kasih sayang, walau akhirnya setahun yang lalu lelaki paruh baya itu menghembuskan napas terakhirnya.
"Bu, masak apa?" sapa Anna sambil memeluk ibunya dari belakang.
Saina tersentak dan tersenyum cerah ketika menyadari kehadiran Anna.
"Ini lagi masak sop buntut kesukaan ayah kamu," jawab Saina dengan riang.
Sontak Anna melepaskan lingkaran tangannya dari perut wanita paruh baya itu. Sudah setahun, tetapi Saina masih juga secara tidak sadar belum bisa menerima kenyataan jika ayah Najib sudah tidak ada. Kadang Anna merasa kuatir, apabila Saina akan mengulangi kejadian yang sama saat suami pertamanya meninggal dulu, Saina sangat depresi hingga hampir kehilangan kewarasannya.
"Ibu, ayah sudah nggak ada. Tapi Anna sama Kiara juga suka kok sama SOP buntut, makasih ya ibu sudah hadir membuat kami tidak kesepian, makasih ibu ...." Anna kembali memeluk ibunya erat dari belakang.
Dada Saina kembali sesak setelah mendengar perkataan Anna. Air mata tak terasa meleleh di pipinya, Yah ... suaminya kini sudah meninggalkannya, walau ada perasaan sedih yang luar biasa, kadang Saina selalu bertanya, apa salahnya kepada Tuhan, hingga dua orang suami yang sangat dicintainya harus diambil semua? Namun setelah sadar dia menghela napas dan beristigfar, semua orang akan mati, tinggal menunggu giliran, semua ini sudah takdir.
Sekarang yang harus dipikirkannya adalah ketiga anaknya yang masih membutuhkannya. Yah, dia tidak sendirian, masih ada tiga anaknya. Tuhan masih baik padanya, walaupun dalam kecelakaan lalu, ketiga anaknya ikut menjadi korban kecelakaan bersama suaminya, tetapi Tuhan kini mengganti dengan tiga anak yang baik. Saina merasa berkurang kesedihannya jika mengingat ini.
"Ibu ... ibu jangan sedih, masih ada kami anakmu, Bu," ujar Anna masih memeluk ibunya dari belakang.
"Iya, kamu benar Anna. Ibu hanya merindukan ayahmu. Sudah, ayo kita makan, dagingnya sudah empuk."
Saina mengurai pelukan Anna, membalikkan badannya dan mengusap lembut pipi anak gadisnya. Air matanya sudah dia susut dengan ujung lengan bajunya.
"Sana panggil adik kamu untuk makan," ujarnya sambil tersenyum pada putrinya.
Anna mengangguk tersenyum dan buru-buru menuju kamar Kiara untuk mengajaknya makan bersama. Sambil makan, mereka melakukan Vidio call dengan Kenzo, mereka tertawa ketika Kiara memamerkan SOP buntut yang juga sangat disukai Kenzo, pria muda itu berteriak dan geram ketika melihatnya, dia bahkan melakukan drama sedih ketika memperlihatkan makan malamnya hanya dengan nasi bungkus sendirian di dalam kamar.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Saina masuk ke kamar putrinya, dilihatnya Anna sedang sibuk di depan laptop.
'Anak itu, masih juga bekerja walau sudah di rumah' batin Saina.
Saina menatap Anna dengan tatapan sedih, sejak suaminya Najib meninggal, secara otomatis sekarang Anna lah yang menjadi tulang punggung keluarganya, beruntung ketika Najib meninggal Anna sudah bekerja. Walau Najib meninggalkan uang pensiun sebagai dokter PNS, namun kebutuhan pendidikan Kenzo dan Kiara tidak bisa ter-cover jika Anna tidak membantu.
"Anna, masih bekerja juga?" tegur Saina.
Anna memalingkan wajahnya menatap ke arah ibunya, Anna mengamati wanita itu lebih dalam, baru disadarinya jika wanita itu semakin bertambah tua, matanya juga tampak begitu kuyu. Anna tidak bisa berleha-leha melihat semua itu, dia harus memikul tanggung jawab keluarganya, meringankan beban ibunya. Setelah menikah dengan ayah Najib, ibunya sudah tidak bekerja di luar lagi, dia sudah sepenuhnya jadi ibu rumah tangga yang baik. Walaupun setelah Najib meninggal Saina ingin membantu mencari uang demi kebutuhan rumah tangga tapi Anna dengan tegas melarangnya.
"Ini ada laporan yang harus Anna selesaikan, Bu. dari pada nganggur lebih baik Anna selesaikan, besok masih ada kerjaan lain yang menunggu."
"Maafkan ibu sudah membebani kamu seperti ini, Anna."
"Ibu ngomong apa sih, Bu? Anna nggak apa-apa Bu, Anna justru senang bisa berguna buat ibu dan adik-adik Anna."
Saina hanya mengelus rambut Anna dengan penuh perasaan, sudut hatinya sangat terenyuh, rasa bersalah pada gadis ini sulit sekali untuk ria sembunyikan, namun dia tidak bisa mengatakannya. Biarlah semua tersimpan di sudut hatinya, dia hanya tidak ingin kehilangan putrinya lagi seperti tiga belas tahun yang lalu.
"Anna, jangan terlalu fokus bekerja, kamu sudah dewasa, sudah seharusnya mikirin kehidupan dan masa depan kamu. Ibu ingin kamu menikah, Nak!"
Anna menatap wanita paruh baya di depannya dengan pandangan rumit, dia hanya menghela napas berat. Permintaan ibunya rasanya wajar, ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia.
"Anna juga ingin, Bu. Tapi jodohnya belum ada," jawab Anna dengan perasaan berat.
"Kamu harus membuka hati dulu, apakah kamu begitu patah hati ketika putus Ivan? sudah tiga tahun kamu putus dengannya, tiga tahun bukan waktu yang sebentar, cukup untuk melupakannya."
"Ibu jangan salah paham, aku sudah melupakan lelaki itu sejak kami putus, masalahnya, aku bukan gadis bodoh lagi, yang mudah saja jatuh cinta, aku harus menyeleksi lelaki yang akan hidup bersamaku nanti dengan benar."
"Ibu paham, jika kau kesulitan mendapatkan pria baik, bagaimana kalau ibu ikut mencarinya?" tanya Saina dengan mata berbinar.
Anna hanya tertawa mendengar perkataan ibunya, demi menyenangkan wanita itu di hanya menganggukkan kepala.
"Boleh? kalau begitu ibu akan mencarikan lelaki yang benar-benar baik," ujar Saina dengan semangat.
"Iya, boleh. Cuma ... Anna juga punya seseorang yang sekarang sedang aku taksir di kantor, Bu," ujar Anna dengan malu-malu.
"Apa? siapa? terus gimana?" Saina membulatkan matanya mendengar penuturan anaknya, dia sangat gembira mendengar Anna punya gebetan baru.
"Dia seorang teknisi komputer, orangnya Soleh, rajin salat. Ramah, murah senyum dan tampan. Sayangnya, usianya lebih muda dua tahun di bawah Anna."
Anna menghembuskan napasnya lega, dulu waktu dia dekat dengan Ivan, dia juga bercerita pada ibunya, waktu itu tanggapan ibunya tidak seantusias seperti ini, wanita itu hanya menasehatinya agar dia bisa menjaga diri. Mungkin karena sekarang sudah waktunya Anna menikah, maka Saina tampak lebih bersemangat.
"Memangnya kenapa kalau dia lebih muda darimu? kalau kalian suka sama suka, usia tidak akan menjadi halangan. Sekarang kamu harus fokus mengejarnya, Anna. jaman sekarang lelaki baik sudah jarang, kalau ketemu jangan dilepaskan. Siapa namanya?"
"Namanya Ilham Ramadhan, Ibu doakan Anna ya, semoga bisa berjodoh dengan lelaki baik itu."
Anna menggenggam tangan ibunya, meminta dukungan. Dia percaya bahwa doa seorang ibu akan selalu makbul untuk diijabah oleh Allah.
"Pasti, pasti ibu doakan, semangat Anna!" Saina bahkan mengepalkan tangan memberi semangat untuk putri sulungnya itu.
*****
Anna masih datang paling pagi ke kantor, sudah jadi kebiasaan bagi gadis itu sehingga sulit mengubah kebiasaan. Dia bahkan bangus jam empat pagi untuk memasak bekal makan siang dan sarapannya, kali ini dia memasak lebih istimewa, karena pembicaraannya dengan ibunya tadi malam, gadis itu jadi lebih bersemangat, dia bahkan menyiapkan dobel bekal, satunya rencananya akan dia berikan pada Ilham jika bertemu dengan lelaki pujaannya itu.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, rekan-rekannya masuk ke ruangan kerja bersama-sama, mereka membicarakan sesuatu yang serius dengan heboh. Ketika mereka melihat Anna berada di kubikel-nya tengah mengamati berkas yang menumpuk, salah seorang dari mereka langsung berseru menyebut namanya.
"Nah, kalau Anna aku setuju. Dia pasti akan menjadi pimpinan yang paling rajin."
Anna mengerutkan kening mendengar rekan wanitanya yang bernama Tiari itu berseru dengan gembira bahkan jemari telunjuknya mengarah padanya.
"Ngomong apa, sih?" ujar Anna yang merasa tengah digunjingkan.
"Iya, aku setuju juga," jawab rekan lelakinya yang bernama Anwar.
"Hei, setuju apa?" Anna benar-benar tidak sabar dengan rasa penasarannya.
"Aish, rajin doang kalau kurang pintar untuk apa?" ketus Grace, rekannya yang lebih senior.
Wanita tiga puluh lima tahun itu langsung ngeloyor dan duduk di kubikel-nya yang berada di seberang Anna.
"Kalian lagi ngomongin apa, sih?" lagi Anna benar-benar melotot tak suka kali ini, apalagi Grace yang cukup judes itu tiba-tiba julid padanya.
"Kamu tahu gak, kalau kepala divisi kita akan diambil dari pegawai internal?" tanya Adi sambil menatap Anna malas.