bc

SORE DI SUDUT CAFE

book_age16+
19
FOLLOW
1K
READ
HE
friends to lovers
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
brilliant
campus
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

PERINGATAN !!!

Novel ini bisa menyebabkan anda tertawa ngakak dan senyum-senyum sendiri, harap berhati-hati.

​"Hidup itu ibarat kopi s**u. Kalau kepahitan, ya tambahin gula. Kalau kurang gurih, ya tambahin krimer. Jangan malah ditambahin beban pikiran, nanti meledak!"

​Kenalkan Rian, owner kafe yang lebih jago membaca gestur tubuh pelanggan daripada membaca laporan keuangan. Bersama Bobi, barista yang merasa dirinya idol K-Pop gagal, mereka melayani jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan. Mulai dari masalah korporat sampai drama penguntit kampus, semuanya tuntas di meja pojok Kafe Sudut Pandang. Siapkan tawa dan sedikit tisu, karena cerita ini tentang bagaimana segelas minuman dingin bisa menghangatkan hati yang sedang beku.

chap-preview
Free preview
Bab 1: Ilmu Titen dan Secangkir Kopi Terlalu Manis
Sore itu, matahari Jakarta sedang malas-malasan, menggantung rendah seperti lampu bohlam lima watt yang sudah mau putus. Di sebuah sudut jalan yang tidak terlalu bising, berdiri sebuah kafe bernama "Sudut Pandang". Sesuai namanya, kafe ini memang punya sudut pandang yang enak buat melihat orang lalu lalang, atau sekadar melihat cicak berantem memperebutkan wilayah di langit-langit. Rian, sang pemilik kafe, duduk di kursi favoritnya. Kursi rotan tua yang bunyinya kriet-kriet setiap kali dia bergeser, mirip suara sendi orang usia tiga puluhan yang jarang olahraga. Di depannya tersedia secangkir kopi s**u yang level manisnya bisa bikin dokter gigi langsung naik haji kalau melihatnya. "Mas Rian, itu kopinya apa nggak kemanisan? Gula semua itu isinya," tegur Bobi, barista andalannya yang rambutnya selalu klimis mirip habis dicelup ke oli samping. Rian menyesap kopinya pelan, lalu mendesah nikmat. "Bob, hidup ini sudah pahit. Kalau kopi saya pahit juga, nanti saya jadi aktivis demo kenaikan harga cabai. Manis itu perlu, biar senyum saya nggak hambar saat melihat tagihan listrik kafe bulan ini." Bobi cuma geleng-geleng kepala sambil mengelap meja bar. "Terserah Bos sajalah. Eh, itu ada pelanggan baru masuk. Kayaknya tipenya 'S-T-P'." "Apaan tuh STP? Standard Trading Port?" tanya Rian. "Bukan. Sedang Terlilit Pinjol," jawab Bobi asal. Rian tertawa kecil. Dia memperbaiki posisi duduknya. Inilah hobi Rian setiap sore: memantau kafenya bukan lewat laporan keuangan atau CCTV, tapi lewat gestur tubuh pelanggan yang masuk. Rian menyebutnya 'Ilmu Titen'—kemampuan membaca gerak-gerik yang dia asah selama bertahun-tahun jadi pengamat manusia amatir. Pintu kaca kafe berdenting. Seorang pria muda masuk dengan langkah terburu-buru. Bahunya miring ke kiri, tangannya terus-menerus meraba saku celana, dan matanya tidak fokus. "Bobi, taruhan. Pria itu bukan mau pesan kopi, tapi mau numpang ngecas HP atau nanya alamat," bisik Rian. Benar saja, pria itu mendekati bar, tapi bukannya melihat menu, dia malah bertanya, "Mas, numpang tanya, alamat kantor Jasa Pengiriman Cepat di mana ya? HP saya mati, nggak bisa buka maps." Bobi melirik Rian dengan tatapan 'Kok Bos tahu?', lalu memberikan arahan. Setelah pria itu pergi, Bobi mendekat ke meja Rian. "Kok bisa tahu, Mas? Dukun ya?" "Bukan dukun, Bob. Lihat bahunya. Orang kalau mau ngopi santai itu bahunya rileks, jatuhnya seimbang. Kalau miring sebelah dan pegang saku terus, artinya dia lagi cemas soal barang digitalnya—entah HP-nya mati atau dompetnya ketinggalan. Dan langkahnya yang staccato alias terputus-putus itu menandakan dia lagi dikejar waktu, bukan dikejar rindu." "Wah, ngeri juga. Berarti kalau saya jalannya sambil kayang, artinya apa Mas?" "Artinya kamu harus segera saya bawa ke psikiater, Bob. Sana balik kerja!" Rian kembali menyesap kopinya. Namun, ketenangannya terusik ketika pintu kafe kembali terbuka. Kali ini suaranya lebih tegas. Kling! Seorang wanita masuk. Penampilannya sangat kontras dengan suasana kafe yang santai. Dia mengenakan blazer biru navy yang potongan jahitannya terlihat sangat mahal—mungkin seharga motor matic terbaru. Rambutnya disanggul rapi, tapi ada beberapa helai yang keluar, menandakan dia baru saja melewati hari yang sangat panjang atau baru saja menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi. Rian menyipitkan mata. Ilmu Titen-nya mendadak bergejolak. "Waduh, ini sih bukan STP lagi, Bob," gumam Rian. "Terus apa, Mas?" "Ini tipe 'P-B-U'. Penguasa Butuh Udara." Wanita itu berjalan menuju meja di pojok, paling jauh dari keramaian. Langkahnya tegas, tapi setiap kali tumit sepatunya menyentuh lantai, ada jeda sepersekian detik yang menunjukkan keraguan. Saat duduk, dia tidak langsung membuka tas atau HP. Dia malah menghela napas panjang sampai poninya naik-turun. "Bob, antarkan menu. Tapi jangan tanya 'mau pesan apa'. Tanya aja 'mau yang dingin atau yang hangat buat dinginin hati'," perintah Rian. "Nanti saya dikira mau gombalin pelanggan, Mas! Mana cantik banget lagi itu mbaknya. Kayak artis-artis di drama yang jadi CEO itu lho." "Memang dia CEO, Bob. Lihat cara dia naruh tasnya. Tegak di samping kursi, bukan ditaruh di lantai atau dipangku. Itu kebiasaan orang yang terbiasa memegang kendali dan ingin barang-barangnya siap setiap saat. Tapi lihat jarinya, dia ngetuk-ngetuk meja pakai irama lagu 'Stayin' Alive'. Dia lagi stres tingkat dewa." Bobi akhirnya melangkah maju dengan ragu. Benar saja, tak lama kemudian Bobi kembali dengan wajah bingung. "Mas, dia cuma pesan air mineral dingin sama double shot espresso. Katanya biar jantungnya deg-degan karena kafein, bukan karena masalah kerjaan." Rian tersenyum. "Menarik." Rian berdiri, membawa cangkir kopinya yang tinggal setengah. Dia berjalan pelan, tidak langsung menghampiri meja wanita itu, melainkan pura-pura mengecek tanaman hias di dekat sana. "Tanaman ini kalau kebanyakan disiram malah layu, Mbak. Sama kayak masalah, kalau dipikirin terus tanpa jeda, malah bikin kepala mau pecah," ujar Rian santai tanpa menoleh ke wanita itu. Wanita itu mendongak. Matanya tajam, namun ada gurat kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh concealer mahal sekalipun. "Maaf? Anda bicara dengan saya?" Rian menoleh, memberikan senyum paling netral yang dia punya—senyum yang tidak mengancam tapi juga tidak terlalu ramah. "Oh, maaf. Saya cuma lagi bicara sama tanaman saya. Dia ini egois, maunya diperhatikan tapi nggak mau dikasih beban berat. Kayak karyawan Mbak, mungkin?" Wanita itu terdiam sejenak. Dia meletakkan ponselnya yang sedari tadi bergetar tanpa henti di atas meja. "Karyawan saya bukan tanaman. Mereka lebih mirip benalu kalau proyek lagi macet." "Hahaha, jawaban yang jujur. Saya Rian, pemilik tempat yang kopinya mungkin terlalu manis buat selera Mbak yang serius ini." Rian memperkenalkan diri dengan sopan. "Saya Arini. Dan ya, kopi saya harus pahit hari ini. Saya butuh tetap sadar untuk memecat dua manajer besok pagi." Rian menarik kursi di depan Arini, tentu setelah Arini memberikan kode lewat tatapan mata bahwa dia tidak keberatan. "Memecat orang itu butuh energi besar ya? Padahal yang dipecat yang kehilangan kerjaan, tapi yang memecat yang malah nggak bisa tidur." Arini mengerutkan kening. "Kok Anda tahu saya nggak bisa tidur?" "Kantong mata Mbak Arini berusaha disembunyikan pakai makeup tebal, tapi cara Mbak mengedipkan mata itu lebih lambat dari orang normal. Itu tanda saraf Mbak lagi kelelahan luar biasa. Ditambah lagi, Mbak terus-menerus memutar cincin di jari manis, padahal nggak ada cincinnya di situ. Artinya Mbak baru saja melepaskan sesuatu yang penting atau sedang merasa kehilangan kendali." Arini terpaku. Dia melihat jari manisnya sendiri. Benar, tidak ada cincin. Dia memang sering memutar-mutar jari itu jika sedang gugup sejak bercerai setahun lalu, atau jika ada masalah perusahaan yang pelik. "Anda... pengamat yang cukup menyebalkan, ya?" Arini mencoba bercanda, meski nada bicaranya masih kaku. "Itu pujian terbaik yang saya terima minggu ini," balas Rian terkekeh. "Begini, Mbak Arini. Di kafe ini, aturannya cuma satu: dilarang bawa pulang stres. Kalau Mbak mau cerita kenapa dua manajer itu harus dipecat, silakan. Saya pendengar yang baik. Tenang, saya nggak akan bocorin ke kompetitor Mbak, saya bahkan nggak tahu Mbak kerja di perusahaan apa." Arini menatap Rian lama. Ada sesuatu pada pria ini yang membuatnya merasa aman. Mungkin karena Rian tidak terlihat seperti pria-pria di kantornya yang selalu punya agenda tersembunyi. Rian terlihat seperti... orang yang benar-benar hanya ingin menikmati kopi manisnya sambil melihat dunia berputar. "Mereka melakukan penggelapan dana proyek di Kalimantan. Nilainya nggak seberapa buat perusahaan, tapi pengkhianatannya itu yang bikin saya..." Arini menggantung kalimatnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia segera berdehem keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Gengsi CEO-nya masih terlalu tinggi. "Bikin Mbak merasa gagal jadi pemimpin?" potong Rian lembut. Arini mengangguk pelan. "Mbak, dengerin ya. Pemimpin itu bukan Tuhan yang bisa tahu isi hati semua orang. Tugas Mbak itu kasih arahan, kalau mereka belok ya itu pilihan mereka. Jangan hukum diri Mbak atas kesalahan yang dilakukan orang lain dengan sadar." Rian kemudian memanggil Bobi. "Bob! Buatkan 'Ramuan Penenang Badai'. Kurangi kopinya, banyakin susunya, kasih cokelat sedikit." "Siap, Bos!" seru Bobi dari jauh. "Apa itu 'Ramuan Penenang Badai'?" tanya Arini penasaran. "Itu minuman rahasia. Rasanya seperti pelukan ibu, tapi dalam bentuk cair. Dan jangan khawatir, ini gratis buat pelanggan pertama yang berani mengakui kalau dia lagi nggak baik-baik saja." Selama satu jam berikutnya, suasana kaku itu mencair. Arini yang tadinya hanya bicara soal angka dan target perusahaan, mulai bercerita tentang betapa capeknya dia harus selalu terlihat kuat di depan ratusan karyawannya. Dia bercerita tentang ibunya yang terus menuntutnya untuk segera menikah lagi, padahal dia sendiri merasa sudah 'mati rasa' soal cinta. Rian mendengarkan dengan seksama, sesekali melempar banyolan receh yang membuat Arini tertawa kecil. Tawa yang sangat jarang Arini keluarkan belakangan ini. "Lucu ya," ujar Arini sambil menyesap minuman cokelat-s**u buatan Bobi. "Saya datang ke sini mau minum kopi pahit biar makin stres, eh malah dikasih minuman manis sama pemilik kafe yang hobinya baca gerak-gerik orang." "Hidup itu penuh kejutan, Mbak. Kadang kita butuh berhenti sejenak buat lihat sudut pandang yang berbeda. Makanya kafe ini saya kasih nama Sudut Pandang." Saat matahari benar-benar sudah tenggelam dan lampu-lampu jalan mulai menyala, Arini bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, meski blazer mahalnya sudah sedikit kusut. "Terima kasih, Rian. Saya merasa... lebih ringan." "Sama-sama, Mbak CEO. Besok kalau mau pecat orang, jangan lupa sarapan dulu ya. Biar kalau mereka protes, Mbak punya tenaga buat dengerinnya." Arini tertawa, kali ini lebih lepas. "Saya akan kembali lagi. Tapi jangan harap saya bakal curhat terus ya." "Pintu saya selalu terbuka, Mbak. Tapi kalau curhat lagi, minuman selanjutnya bayar dua kali lipat ya sebagai biaya konsultasi," canda Rian. Arini berjalan keluar dengan langkah yang lebih ringan. Rian memperhatikannya sampai mobil mewah berwarna hitam menjemput wanita itu. "Gimana, Mas? Sukses?" tanya Bobi menghampiri. "Sukses bikin satu orang nggak jadi gila malam ini, Bob." "Wah, Mas Rian memang hebat. Tapi Mas, itu kopinya Mas Rian yang tadi..." Bobi menunjuk cangkir Rian. "Kenapa?" "Ada lalat mati di dalamnya. Kayaknya dia juga pingsan gara-gara kopinya kemanisan." Rian melihat ke dalam cangkirnya. Benar saja, ada seekor lalat yang mengapung dengan tragis di sana. "Ya ampun... lalat aja nggak kuat sama manisnya hidup saya, apalagi kamu, Bob." Rian tertawa sendiri, sementara Bobi hanya bisa memijat keningnya. Hari itu baru satu tamu yang 'tertangani', tapi Rian tahu, hari-hari ke depan kafe Sudut Pandang akan kedatangan tamu-tamu lain dengan masalah yang lebih pelik. Dan dia sudah siap dengan 'Ilmu Titen'-nya, dan tentu saja, dengan stok gula yang melimpah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
201.7K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

JANUARI

read
50.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
5.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook