Siang itu, Kafe "Sudut Pandang" mendadak terasa lebih sempit bagi Rian. Padahal luas bangunannya tetap sama, meja-mejanya juga tidak bertambah. Yang bertambah adalah detak jantung Rian yang frekuensinya sudah mirip ketukan drum lagu metal.
"Bob, sini kamu sebentar!" panggil Rian dengan suara tertahan.
Bobi yang sedang asyik memutar-mutar gelas kosong di tangannya langsung menghampiri. "Ada apa, Mas? Wajahnya kok kayak orang lagi nahan bersin tapi nggak keluar-keluar gitu?"
"Ini darurat tingkat tinggi, Bob. Arini mau ke sini, Sarah juga mau ke sini, dan Nadin... dia sudah 'nangkring' di pojokan sana dari tadi," bisik Rian sambil melirik ke arah Nadin yang sedang serius mencatat sesuatu dari buku hukumnya.
Bobi melongo. "Waduh! Tiga-tiganya mau kumpul di sini? Wah, Mas Rian mau bikin reuni mantan yang bukan mantan ya?"
"Sembarangan kamu! Ini murni urusan 'pelayanan pelanggan'. Tapi kalau mereka ketemu barengan sekarang, auranya bisa tabrakan, Bob. Ilmu Titen saya bilang, kalau tiga wanita cantik dengan masalah berat kumpul di satu ruangan, oksigen di sini bisa habis disedot sama gengsi dan rasa penasaran mereka."
"Terus saya harus gimana, Mas? Pasang papan 'Kafe Penuh' di depan?"
"Jangan, itu namanya nolak rezeki. Gini, kamu bagi tugas. Kamu jagain Nadin di pojok sana, kasih dia camilan apa aja yang bikin dia sibuk ngunyah supaya nggak terlalu merhatiin sekitar. Terus kalau Arini datang, arahkan ke meja nomor satu dekat pintu masuk. Dan kalau Sarah datang, segera kabari saya, biar saya arahkan ke area outdoor belakang yang baru selesai kita rapihin."
"Siap, komandan! Operasi Lalu Lintas Hati dimulai!" seru Bobi sambil memberikan hormat ala prajurit.
Baru saja Bobi berbalik, pintu kafe berdenting. Kling!
Arini melangkah masuk. Kali ini dia terlihat sangat segar. Blazernya tersampir di lengan, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Di tangan kanannya, dia membawa sebuah tabung gambar yang cukup besar.
"Selamat siang, Rian! Masih ingat janji saya?" sapa Arini dengan senyum yang bisa membuat es batu di dalam dispenser langsung mencair.
Rian segera memasang wajah paling tenang sesedunia. "Siang, Mbak Arini. Tentu saja ingat. Janji Mbak itu lebih penting daripada janji kampanye calon lurah di kampung saya."
Arini tertawa kecil dan duduk di meja nomor satu, persis seperti skenario Rian. "Gombalan kamu makin hari makin 'jayus' ya, tapi entah kenapa saya suka."
"Itu namanya bakat terpendam, Mbak. Saking terpendamnya sampai hampir terkubur," balas Rian sambil melirik ke arah pojok. Nadin tampak mendongak sebentar, melihat ke arah Arini dengan tatapan ingin tahu yang sangat khas perempuan.
"Ini buat kamu," ujar Arini sambil menyerahkan tabung gambarnya. "Lukisan yang saya ceritakan kemarin. Belum selesai seratus persen sih, tapi saya mau kamu yang lihat pertama kali."
Rian membuka tabung itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada gulungan kertas kanvas. Saat dibuka, Rian tertegun. Itu lukisan sebuah kafe dari sudut pandang jalan raya di malam hari. Lampu-lampu kuning yang hangat, siluet orang di dalamnya, dan ada satu sosok pria di balik kaca yang sedang tertawa. Sosok itu sangat mirip Rian.
"Wah... ini... saya ya, Mbak?" tanya Rian takjub.
"Bukan, itu Bobi versi gantengan sedikit," canda Arini, tapi matanya menatap Rian dengan tulus. "Iya, itu kamu. Pemilik kafe yang hobi dengerin masalah orang. Makasih ya, Rian. Gara-gara kamu, saya jadi berani pegang kuas lagi."
Momen manis itu mendadak terinterupsi oleh suara langkah kaki di belakang Rian.
"Mas Rian, ini materi hukumnya ada yang saya nggak paham, boleh tanya sebentar?" tanya Nadin yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Rian.
Rian hampir saja melompat karena kaget. "Eh, Mbak Nadin. Oh... iya, sebentar ya."
Nadin melirik ke arah kanvas yang sedang dipegang Rian, lalu melirik ke arah Arini. Arini pun melakukan hal yang sama, menatap Nadin dengan tatapan 'CEO' yang menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Teman kamu, Rian?" tanya Arini dengan nada suara yang tetap elegan tapi ada sedikit penekanan.
"Oh, ini Nadin. Mahasiswi berprestasi yang lagi berjuang melawan tumpukan tugas," jawab Rian cepat. "Dan Nadin, ini Mbak Arini, pengusaha sukses yang ternyata punya bakat seni luar biasa."
Nadin tersenyum sopan. "Halo, Mbak. Wah, lukisannya bagus banget. Mirip banget sama aslinya, ya?"
"Terima kasih, Dek Nadin," balas Arini, menekankan kata 'Dek' yang membuat Nadin sedikit mengerucutkan bibirnya. "Rian ini memang model yang menarik untuk dilukis, wajahnya punya banyak 'cerita' di setiap garisnya."
Rian merasa keringat dingin mulai mengucur di punggungnya. Ilmu Titen-nya mendeteksi adanya percikan listrik statis di antara kedua wanita ini. Yang satu punya pesona wanita matang yang berkuasa, yang satu punya aura kecantikan muda yang polos tapi cerdas.
"Ehem! Mbak Nadin, itu bukunya ketinggalan di meja. Mari saya bantu jelaskan, kebetulan saya dulu pernah ikut cerdas cermat tingkat kelurahan!" Bobi tiba-tiba muncul dan merangkul Nadin untuk kembali ke mejanya.
"Tapi Mas Bobi kan baris—"
"Ssst! Barista juga manusia, Mbak. Punya pengetahuan luas tentang hukum... hukum rimba!" potong Bobi sambil menarik Nadin menjauh.
Rian menghela napas lega. "Maaf ya Mbak Arini, maklum, kafe saya ini memang tempat berkumpulnya segala macam spesies manusia."
"Nggak apa-apa, Rian. Dia cantik ya, mirip adik kelas saya dulu di kampus," ujar Arini sambil memutar gelas kopinya. "Sering curhat ke kamu juga?"
"Ya... begitulah. Namanya juga Kafe Sudut Pandang, Mbak. Saya cuma jadi telinga buat mereka."
Tepat saat suasana mulai rileks kembali, pintu kafe berdenting lagi. Kling!
Rian menoleh dan jantungnya hampir copot. Sarah masuk dengan wajah yang sangat berseri-seri. Dia membawa sebuah tas belanja besar berwarna biru.
"Rian! Kabar baik! Kabar sangat baik!" seru Sarah tanpa menyadari ada orang lain di sana. Dia langsung menghampiri Rian.
Rian segera berdiri. "Mbak Sarah! Wah, auranya beda banget hari ini. Kayak habis menang undian sabun cuci ya?"
Sarah tertawa lepas, lalu dia melihat Arini yang duduk di sana. Sarah mendadak diam dan merapikan hijabnya. "Oh, maaf... saya mengganggu ya?"
"Enggak, Mbak. Ini Mbak Arini, pelanggan tetap juga. Mbak Arini, ini Mbak Sarah," Rian memperkenalkan mereka dengan cepat.
Arini berdiri dan memberikan salam dengan sopan. "Arini. Senang bertemu Mbak."
"Sarah. Senang juga bisa kenal temannya Rian," jawab Sarah lembut.
Rian melihat Sarah membawa tas belanja. "Itu apa, Mbak? Kok kayaknya berat banget?"
"Ini... oleh-oleh buat kamu dan Bobi. Dan ada sesuatu buat kamu secara pribadi," Sarah mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi jam tangan kayu yang sangat artistik. "Terima kasih buat bantuannya semalam di Puncak. Berkat foto dari kamu, polisi sudah bergerak dan mantan suami saya akhirnya setuju buat mediasi hak asuh secara baik-baik. Minggu depan saya bisa ketemu Yusuf!"
Mata Sarah berkaca-kaca, tapi kali ini karena bahagia.
"Alhamdulillah! Wah, ikut senang saya, Mbak!" ujar Rian tulus.
Arini yang mendengar kata 'Puncak' dan 'semalam' langsung mengangkat alisnya. "Puncak? Semalam? Wah, Rian... kegiatan 'pelayanan pelanggan' kamu sampai ke luar kota juga ya?"
Suasana mendadak jadi sunyi. Hanya suara mesin kopi Bobi yang terdengar nggerung-nggerung di kejauhan. Nadin di pojokan sana juga tampak memasang telinga lebar-lebar.
Rian tertawa kaku. "Anu... itu... cuma bantuan darurat, Mbak. Kebetulan saya punya teman di sana."
"Rian ini memang luar biasa, Mbak Arini," sela Sarah dengan polosnya. "Dia rela begadang dan kedinginan cuma buat bantu saya cari alamat. Saya nggak tahu harus balas pakai apa selain jam tangan ini. Semoga kamu suka ya, Rian."
Rian menerima kotak itu dengan tangan sedikit gemetar. Dia merasa seperti sedang berdiri di atas panggung dan ada tiga lampu sorot yang semuanya tertuju padanya.
"Terima kasih ya, Mbak Sarah. Tapi sebenarnya nggak perlu repot-repot..."
"Repot itu kalau kamu disuruh benerin genteng kafe ini sendirian, Rian. Kalau ini sih bentuk penghargaan," ujar Sarah sambil tersenyum manis.
Arini melipat tangannya di d**a. "Jam tangan kayu yang bagus. Sangat... personal."
Nadin tiba-tiba berseru dari mejanya, "Mas Rian! Ini ada telepon buat Mas! Katanya dari 'Bang Jago'!"
Rian merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Dia tahu Bobi pasti sengaja menyuruh Nadin bicara begitu untuk memecah suasana, tapi malah makin bikin runyam.
"Ehh... saya ke belakang sebentar ya, Mbak Arini, Mbak Sarah. Bob! Sini kamu, temani tamu-tamu terhormat kita!" teriak Rian sambil kabur ke arah dapur.
Di dapur, Rian menyandarkan punggungnya ke pintu kulkas yang dingin. "Gila... gila banget. Ini lebih ngeri daripada dikejar debt collector."
Bobi masuk ke dapur sambil nyengir lebar. "Gimana, Mas? Rasanya dikelilingi tiga bidadari yang semuanya merasa Mas itu pahlawan mereka?"
"Pahlawan apa? Ini mah namanya tumbal proyek, Bob! Kamu lihat nggak tadi tatapan mereka? Arini sama lukisannya, Sarah sama jam tangannya, terus Nadin di sana kayak detektif lagi ngumpulin barang bukti. Bisa meledak ini kafe kalau salah langkah sedikit!"
"Tapi Mas, itu artinya Mas sukses. 'Ilmu Titen' Mas berhasil menyentuh hati mereka. Masalahnya sekarang, Mas mau pilih sudut pandang yang mana? Sudut pandang CEO, sudut pandang pengusaha properti, atau sudut pandang mahasiswi?"
Rian menjitak kepala Bobi. "Pilih sudut pandang pintu keluar! Sudah, sana keluar lagi. Kasih mereka camilan gratis yang paling enak. Apa saja, asal mereka nggak berantem di depan pelanggan lain."
"Siap! Saya kasih 'Cireng Kedamaian' ya, Mas? Biar mereka saling berbagi bumbu kacang."
Rian hanya bisa menghela napas panjang. Dia mengintip sedikit dari balik celah pintu dapur. Di luar sana, Arini dan Sarah ternyata sedang berbincang dengan tenang, sementara Nadin tampak ikut bergabung sambil membawa buku hukumnya.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Rian melihat mereka sesekali melirik ke arah dapur sambil tertawa kecil.
"Waduh... kalau wanita-wanita itu sudah bersatu, biasanya laki-laki yang jadi korbannya," gumam Rian ngeri.
Tapi di balik rasa ngerinya, ada perasaan hangat yang menyelinap di hati Rian. Melihat mereka bisa tersenyum dan berbagi cerita di kafenya adalah pencapaian terbesar bagi seorang 'penjaga sudut pandang' seperti dirinya.
Rian merapikan rambutnya, memakai jam tangan kayu dari Sarah, lalu melangkah keluar dengan percaya diri (yang dipaksakan).
"Oke, semuanya! Karena hari ini spesial, saya bakal buatkan menu rahasia buat kalian bertiga. Menu yang nggak ada di daftar, khusus buat para pejuang hidup yang hebat!" seru Rian sambil berjalan menuju bar.
Ketiga gadis itu menoleh serempak dan tersenyum ke arah Rian. Dan untuk pertama kalinya, Rian merasa bahwa 'Ilmu Titen'-nya kali ini mengatakan satu hal pasti:
Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang, sangat manis, dan sangat... mahal bagi stok bahan makanan kafenya.