Chapter 1
Suara terompet istana menggema memenuhi sebuah ruangan luas dengan jendela-jendela kaca besar mengelilinginya. Puluhan orang-orang yang sedang berbisik kecil sehingga menimbulkan sedikit kegaduhan seketika menutup mulut dan menegakkan tubuh mereka.
Sosok tinggi berjalan memasuki ruangan, menapakkan kaki jenjangnya pada karpet merah cerah yang menjadi alas. Seluruh penghuni ruangan memberi hormat sementara sosok itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Dua sosok lain berdiri di belakang sosok tertinggi dengan pakaian kebanggaan mereka, mengangkat wajah tinggi memperlihatkan betapa kuat dan gagahnya mereka.
Sang Raja duduk di kursi utama, sementara dua pengawalnya berdiri di belakangnya. Suara terompet berhenti dan keadaan menjadi sangat hening.
"Bagaimana hasilnya Gilbert?" suara berat itu menyapu seluruh isi ruangan. Suara yang mampu mencerminkan betapa kuat dan tangguhnya sosok itu.
Seorang pria paruh baya yang merupakan penasehat istana melangkah maju dengan membawa sebuah kertas di tangannya. Ia membukanya pelan dan berdeham sebelum akhirnya mulai bicara.
"Data ini diambil dari tiga tabib berbeda, untuk setiap orang. Setelah dua bulan ritual yang telah Paduka Raja lakukan, maka hasilnya adalah nihil. Semua negatif." Terdengar helaan nafas kekecewaan mengisi ruangan, tak terkecuali Sang Raja yang juga ikut menghela nafas pelan.
"Maafkan saya Paduka, kami telah berusaha melakukan yang terbaik." Ucap Gilbert sambil memberi hormat.
"Tidak masalah, terima kasih untuk kerja keras kalian. Aku rasa pertemuan ini kita ak_"
"Maaf Paduka, tapi kami memiliki beberapa calon lain."
"Apa?" kali ini salah satu dari dua pengawal setia Raja melangkah maju. Seorang pria bertubuh tinggi dengan kulit tan indahnya dia adalah Victor. Putra dari selir utama Kerajaan yang kini menduduki posisi sebagai Jendral penyusun strategi perang yang merupakan salah satu kaki tangan Raja. Dia terkenal dengan keahliannya dalam memanah dan pedang, karena itu tidak ada yang berani bermain-main dengannya.
"Tenang Jendral Victor!" ucap Sang Raja.
"Tapi tidak bisa seperti ini Paduka, anda butuh istirahat." Ucap Victor sambil mencoba menyakinkan Raja-nya.
"Maaf Paduka, kami bukannya ingin membuat anda terlalu lelah. Namun anda tahu sendiri, bahwa rumor tentang Anda sudah menyebar keseluruh Kerajaan tetangga. Kami hanya tidak ingin Northwest mengalami kejatuhan kembali karena i_" ucapan Gilbert terhenti karena sebuah pedang terhunus di depan wajahnya.
Dia adalah Albern, pengawal kepercayaan Raja yang lain, putra dari Jendral Perang terdahulu yang kini posisinya diambil alih olehnya, ia mengabdikan dirinya untuk Sang Raja sebagai seorang ahli persenjataan. Dia adalah penguasa seluruh permainan pedang terbaik yang ada di Northwest.
Dia adalah sisi berlawanan dari Victor. Jika Victor pria yang gegabah maka Albern adalah pria dengan penuh ketenangan yang mampu menghanyutkan pemikiran siapapun, namun bila sudah menyangkut tentang Sang Raja ia tak segan-segan memenggal siapapun dengan pedangnya. Ia sudah sangat dipercaya oleh pemimpin Negeri tersebut.
"Turunkan pedangmu, Jendral Albern!" ucap Sang Raja lembut. Dengan terpaksa sosok berkulit putih itu menurunkan pedangnya dan melangkah mudur.
"Jendral Albern, Jendral Victor. Kami hanya melakukan tugas kami. Kami hanya berharap bahwa hal itu bukanlah sebuah kutukan, kami ingin yang terbaik untuk_"
"Gilbert, silahkan lanjutkan rencana anda!" ucap Sang Raja.
"Baiklah paduka. Biarkan mereka masuk!" ucap Gilbert kepada para pengawal istana dan tak lama pintu terbuka menampakkan beberapa pengawal yang melangkah serempak lalu dibelakang mereka diikuti oleh beberapa wanita dengan wajah bak dewi Yunani.
Kedua Jendral perang itu mengernyit dan melirik Raja mereka yang nampak menghela nafas pasrah.
"Perkenalkan Paduka, mereka adalah seluruh wanita terbaik yang kami ambil dari desa mereka. Biar saya perkenalkan." Ucap Gilbert.
"Dia adalah wanita dari desa Santhor , wanita yang terkenal dengan kesuburan mereka. Tidak diragukan lagi bahwa wanita-wanita di desa mereka mampu melahirkan anak-anak setiap tahunnya dan rata-rata adalah kembar. Dia adalah yang terbaik di desanya." Ucap Gilbert sambil meminta seorang wanita bertubuh tinggi dengan kulit putih dan bermata coklat terang dengan rambut panjang bergelombang yang indah.
"Yang kedua, dia adalah wanita dari desa Carvwenth, desa ini terkenal dengan pasukan mereka yang kuat karena rata-rata kelahiran disana adalah anak laki-laki dengan fisik yang kuat, jadi akan sangat baik jika Northwest memiliki putra mahkota yang kuat." Sang Raja hanya mengangguk sambil menatap wanita bertubuh tinggi dengan sorot mata tajam dengan mata berwarna abu-abu tua dan senyuman yang sangat manis.
"Dia yang ketiga, desa mereka terkenal dengan kepintaran anak-anak yang terlahir disana , kita tidak asing lagi dengan nama Lanthosa bukan? Desa dengan penghasil sastrawan-sastrawan berbakat, bahkan beberapa anggota istana berasal dari desa mereka." Sang Raja kembali mengangguk dan mendengarkan kembali semua wanita yang diperkenalkan hingga pada wanita keenam.
"Jadi Paduka, kami sudah mengatur_"
"Tunggu! Apa mereka akan menjadi selirku?" tanya Sang Raja.
"Itu semua tergantung Paduka sendiri, Paduka bisa menjadikan mereka selir jika Paduka mau."
"Tapi aku telah memiliki ratuan selir, aku tidak mungkin menambah jumlah mereka."
"Tidak ada yang mustahil Paduka."
"Tidak. Ini konyol, Paduka tidak bisa melakukannya." Ucap Victor menahan emosinya, Sang Raja menatap pengawalnya lalu beralih menatap seluruh anggota istana yang mengharapkan persetujuannya.
"Bisakah aku tidak menjadikan mereka selir?"
"Tentu Paduka, itu tidak masalah. Sekarang saya akan membacakan jadwal untuk setiap wanita selama dua minggu ke depan_"
"Gilbert, jangan bercanda!" bentak Victor yang melangkah maju. Sang Raja menaikkan tangannya meminta Victor untuk kembali tenang.
Sang Raja menatap Gilbert sebentar lalu menghela nafas dan membiarkan pria paruh baya itu untuk melanjutkan pekerjaanya.
***
Menjadi orang nomer satu di negrinya membuat Edward mau tidak mau harus mengesampingkan keegoisannya demi kebaikan seluruh rakyatnya.
Sebuah Kerajaan dianggap hebat bila Sang Raja dianggap layak. Edward sebenarnya sangat layak untuk menyandang gelar itu. Dengan wajah tampan bak dewa Yunani , otak cerdas dan sifat yang bijaksana membuat Edward sangat pantas dilihat dari segi apapun. Negeri yang ia pimpin sangat makmur dan wilayah mereka semakin meluas setiap waktunya, membuat Northwest menjadi pesaing ketat di dunia.
Namun satu hal yang membuat rakyat Northwest kecewa dengan Raja mereka, bahwa Sang Raja tidak mampu memberikan keturunan. Seberapa banyak wanita yang diangkat menjadi selir setiap minggunya, hingga beberapa wanita sewaan yang rahimnya akan dipinjam tidak juga membuat Kerajaan Northwest mendapatkan putra mahkota mereka.
Dulu sekali Edward pernah memiliki seorang permaisuri, namun dua tahun tidak mendapat keturunan membuat sang permaisuri muak dan akhirnya berkhianat dengan berpura-pura diculik oleh Kerajaan lawan membuat sebuah peperangan tidak ter-elakan namun pada kenyataannya sang permaisuri telah jatuh cinta pada Raja tersebut.
Perang besar yang menewaskan banyak prajurit, membuat Ayahanda sang Raja meninggal dunia karena jatuh sakit, menyusul ibunda Sang Raja yang telah lebih dulu meninggal
Northwest sempat dalam keadaan hancur, namun akhirnya kembali bangkit . Edward bersama dua Jendral kepercayaannya membangun kembali Kerajaannya dengan strategi baru, hingga akhirnya Northwest kembali berada pada masa jayanya.
Namun, hanya saja satu hal yang masih membuat ketakutan para rakyat dan seluruh anggota Kerajaan yaitu bahwa Raja mereka tidak bisa memberikan keturunan. Berbagai hal mulai dijadikan kemungkinan bahwa Edward mandul atau yang terparah bahwa itu semua adalah sebuah kutukan.
Tidak ingin membuat rakyatnya merasa terancam karena bagaimana pun keturunan adalah suatu kebanggaan bagi sebuah kerajaan, akhirnya Edward memutuskan untuk menerima apapun yang disarankan oleh para anak buahnya.
Termasuk seperti sekarang. Meniduri wanita-wanita terpilih yang kemudian akan menjadi ibu dari calon penerus kerajaan.
Edward menatap langit-langit kamarnya dengan tubuh telanjang berkeringat dan disebelahnya nampak seorang wanita yang berbalut sehelai kain sedang tertidur pulas. Edward menghela nafas, merasa bersyukur karena wanita disampingnya adalah wanita terakhir malam ini, karena sejujurnya ia merasa sangat lelah.
Dengan segera ia bangkit, mengambil pakaian tidurnya dan berjalan keluar istana. Tidak ada satupun penjaga di depan kamarnya setiap ia melakukan penyatuan tubuh, karena menurutnya itu sangat memalukan, sehingga saat ini ia bebas berkeliaran tanpa ada satupun pengawal yang mengikutinya.
Edward berdiri di balkon istana sambil menatap hamparan langit luas.
"Paduka?"
"Victor?" sapa Edward ketika melihat Victor berjalan kearahnya sambil membawa sebuah busur.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"Berlatih." Ucap Victor sambil mengangkat busurnya pelan.
"Beristirahatlah ini sudah malam!"
"Tentu Paduka, lalu Paduka sendiri ?"
"Aku butuh udara segar, terjebak di dalam kamar bersama wanita-wanita itu membuatku sesak." Victor menghela nafas, memasang wajah prihatin.
"Maafkan aku Paduka, tidak seharusnya Paduka mengalami ini. Gilbert sungguh keterlaluan."
"Tidak, ini bukan salah siapapun, mungkin benar ini sebuah kutukan."
"Tidak Paduka, jangan berkata seperti itu!" Edward mengangguk pelan lalu tersenyum.
"Tidurlah! Ini sudah larut."
"Baik Paduka, aku permisi." Edward hanya mengangguk membiarkan pengawalnya melangkah menjauh.
Dua bulan setelah malam itu pembacaan untuk hasil ritual Sang Raja dibacakan. Seperti biasa Gilbert akan berdiri ditengah ruangan dengan kertas berisi hasil-hasil dari beberapa tabib yang melakukan pemeriksaan.
Edward berdoa dalam hati setidaknya salah satu dari wanita itu ada yang mengandung anaknya, karena jika tidak berarti ia harus meniduri wanita lain lagi hingga akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka mau.
"…..nihil." Kesadaran Edward kembali mendengar hasil akhir dari Gilbert. Ia memandang wajah seluruh penghuni ruangan yang nampak kecewa. Semua kerja kerasnya selama dua minggu penuh sia-sia. Lagi-lagi ia tidak mendapatkan apa yang mereka mau.
***
Edward sedang berada diruangannya ketika Victor dan Albern melangkah masuk. Mereka memberi hormat seperti biasa sementara Edward sedang memakai jubah hitamnya.
"Bagaimana?"
"Semua sudah siap Paduka."
Pagi ini mereka akan pergi ke pusat kota untuk melakukan survei lapangan seperti yang biasa mereka lakukan setiap bulannya.
Edward memang tidak terlalu mempercayai laporan tahunan dari para anak buahnya, untuk itu ia dan kedua pengawalnya akan menyamar sebagai orang biasa untuk menanyakan secara langsung pada seluruh pedagang dan rakyat disana tentang kehidupan mereka.
Sejak kecil Edward diajarkan untuk selalu memperhatikan kemakmuran rakyatnya untuk itu ia tidak pernah berberat hati mendatangi pusat kota atau desa-desa yang berada dibawah kekuasaannya.
Mereka mulai berpencar dan bertanya pada setiap pedagang yang mereka temui mengenai pajak dan hasil panen mereka. Edward berjalan perlahan sambil melihat situasi ketika pendengarannya menangkap suara seorang nenek yang berteriak cukup keras disudut pasar , terduduk diatas karpet lusuh dan sebuah mangkuk dihadapannya.
"Tuan, Tuan kemari! Biarkan aku membaca masa depan anda. Nyonya hei, Nyonya, kemarilah!" panggil nenek itu.
Edward mendekat lalu berjongkok, ia hendak meraih koin emas dibalik jubahnya namun tangannya ditahan untuk kemudian ditarik oleh sang nenek.
"Biarkan aku membaca garis tanganmu tuan." Ucap nenek itu dan Edward tidak melawan. Ia hanya memperhatikan bagaiman nenek itu membersihkan telapak tangannya dan mengusapnya pelan.
"Aku melihat sesuatu yang baik. Harta, Kejayaan, kekuasaan dan tunggu! Pa..paduka?" ucap nenek tersebut.
"Ssst." Edward meletakan telunjuknya di bibir, meminta nenek tersebut tidak bicara terlalu keras dan membongkar penyamarannya.
"Biarkan aku melihatnya lagi_"
"Tidak usah, aku akan memberikan_" ucapan Edward terputus ketika nenek itu kembali menarik tangannya.
"Aku melihat kebahagiaan, anak laki-laki berlarian di dalam istana, tidak! aku melihat lebih dari satu. Paduka, mereka adalah putra mahkota, anda akan memiliki mereka." Ucap nenek itu senang. Edward mengernyit, antara keterkejutan dan ketidak yakinan. Namun, ia mulai tertarik.
"Benarkah? " tanya Edward sedikit antusias. Tapi kemudian sesuatu seolah menghantam kepalanya dan ia pun tersadar dengan segera menarik tangannya, lalu memasukan sebuah koin mas ke dalam mangkuk kosong nenek tersebut.
"Paduka?" panggil sang nenek membuat Edward mengurungkan niatnya untuk bangkit.
"Anak ke-12 dari 12 bersaudara. Dia tinggal di desa Schanteela."
"Siapa?" tanya Edward heran.
"Orang yang akan mengandung anak Paduka." Seketika bola mata Edward membulat.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Takdir anda yang memberitahuku." Ucap nenek itu sambil tersenyum, Edward tidak memberikan respon, ia membalik tubuhnya dan kembali berjalan.
Dari tempatnya nenek itu tersenyum senang menatap punggung Sang Raja yang telah menjauh , bercampur ke dalam kerumunan orang-orang yang berlalu lalang