Satu: Kehidupan
Aku membuka mataku. Aku terbangun karena mendengar suara orang yang sedang berbicara di dalam ruangan ini. Tapi, saat aku membuka mataku, aku tidak menemukan siapa pun. Mungkin mereka telah meninggalkan ruangan ini. Maka aku menutup mataku dan mencoba untuk tidur kembali. Sebelum aku jatuh terlelap, suara pintu terbuka memasuki ke indera pendengaran ku. Aku mengabaikan orang yang masuk ke dalam ruangan ini. Aku hanya ingin tidur sekarang. Perlahan aku mendengar suara seseorang menangis tersedu-sedu. Secara otomatis aku membuka kedua kelopak mataku.
"Mom, kenapa? Kenapa menangis?" Aku bertanya kepada seorang wanita yang sedang duduk di samping ranjang ku.
"Bagaimana Mom tidak menangis? Kata dokter kamu harus segera mendapatkan donor jantung. Tapi saat ini belum ada satupun jantung yang cocok untuk mu. Sementara kondisi tubuh kamu sudah sangat lemah sekarang." Mom mengusap pipinya yang basah karena air matanya menggunakan tisu yang sudah ada di tangannya.
"Mom jangan menangis lagi. Semua akan baik-baik saja. Aku pasti akan sembuh, Mom." Ucap ku untuk menenangkan hati wanita yang sudah melahirkan ku. Padahal aku juga tidak yakin tentang hal itu.
"Semua ini kesalahan Mom. Seandainya dulu Mom merawat mu dengan lebih baik, kamu pasti tidak akan jadi seperti ini. Mom terlalu memikirkan pekerjaan dari pada kamu. Mom bukanlah ibu yang baik." Mom mulai menggenggam tangan ku.
Aku dapat melihat ada rasa penyesalan pada raut wajah Mom. Ini bukanlah seratus persen kesalahan Mom. Aku juga turut andil dengan kondisi tubuh ku yang sekarang. Di saat kedua orang tua ku sibuk dengan urusan pekerjaan mereka, aku malah merusak tubuh ku karena salah pergaulan. Aku setiap hari selalu berkumpul bersama teman-teman ku yang tidak baik. Mereka mengajakku untuk menghabiskan waktu istirahat ku pada dunia malam. Alkohol, rokok dan obat-obatan terlarang menjadi kebutuhan ku. Bahkan aku selalu bergadang untuk bersenang-senang dengan teman-temanku. Dan beberapa bulan yang lalu aku mengalami kecelakaan mobil karena pengaruh alkohol. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menemukan sesuatu yang salah pada jantung ku. Aku terkena penyakit jantung koroner. Dokter menyarankan agar aku segera melakukan transplantasi jantung. Tapi, siapa yang mau mendonorkan jantungnya untuk ku?
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Seorang perawat pria masuk kedalam ruangan ku.
Sudah lebih dari sebulan aku di rawat di Rumah Sakit ini. Aku bosan disini. Aku seperti di penjara, dengan alat-alat medis yang menempel di seluruh tubuh ku ini, aku rasanya ingin mencabut semuanya. Tapi seketika aku teringat dengan Mom, dia pasti akan sedih kalau terjadi sesuatu padaku.
"Buruk. Sepertinya aku mau mengakhiri semua ini." Ucapku asal padanya.
"Hei, kau jangan berkata seperti itu. Kau masih bernafas hingga saat ini itu karena Tuhan masih menginginkan kau untuk tetap hidup. Kau seharusnya rajin berdoa. Cobalah minta kepada Tuhan agar kau segera diberikan kesembuhan." Ceramah juru rawat ini padaku.
"Aku tidak mungkin sembuh. Hanya sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan ku." Jelasku padanya.
Pria ini adalah perawat yang merawat aku. Dia sering datang untuk memeriksa kondisi ku. Seperti sekarang dia sedang memeriksa tekanan darah ku menggunakan alat medis yang tidak aku ketahui namanya. Setelah menuliskan sesuatu pada sebuah catatan yang selalu ia bawa, perawat pria ini mulai berjalan ke arah infus yang tergantung di atas tempat tidurku.
"Aku percaya suatu saat pasti akan ada pendonor jantung untuk mu. Kamu harus yakin kalau mukjizat itu nyata." Dia berbicara sambil menatap wajah ku.
Aku merasa sedikit tenang saat dia mengatakan hal itu pada ku. Seketika aku sangat mengharapkan bahwa sebuah mukjizat akan datang menghampiri ku.
"Kenapa tidak ada jantung yang sama dengan ukuran jantung ku?" Karena penasaran maka aku bertanya kepada perawat ini. Aku pernah mendengar percakapan dokter dengan Mom yang mengatakan bahwa hasil dari jantung yang telah mereka periksa tidak cocok untuk ku.
"Apa maksud mu?" Perawat ini mulai bingung dengan pertanyaan ku.
"Aku belum melakukan transplantasi jantung karena mungkin jantung yang mereka temukan dari pendonor tidak ada yang sebesar dengan ukuran jantungku. Atau mungkin terkadang dokter menemukan jantung yang terlalu besar dari jantungku." Aku menjelaskan padanya.
Seketika dia tertawa terpingkal-pingkal, ia bahkan memegang perutnya. Aku menjadi kesal karena sikapnya itu. Bagaimana bisa dia tertawa di hadapan pasien yang sedang kritis seperti ku? Setelah puas tertawa perawat itu mulai menetralkan suaranya dengan berdehem.
"Hmm. Kamu ini sudah berusia dua puluh lima tahun, tapi kenapa kelakuan mu seperti anak kecil?" Dia berbicara sambil tersenyum geli melihatku.
"Okay, jangan tersinggung. Biar aku jelaskan. Kecocokan untuk tranplantasi organ manusia, baik itu jantung, mata, hati, ginjal, dan lainnya bukan di cocokan melalui bentuk maupun ukurannya. Kecuali untuk anak-anak, karena mereka akan terus bertumbuh. Jadi mungkin akan ada perubahan ukuran. Tapi itu tidak berlaku untuk orang dewasa. Semuanya di tes atas kecocokan golongan darahnya. Walaupun ada yang cocok, terkadang tubuh si penerima pendonor juga bisa menolak organ tersebut. Maka dari itu, saat si penerima donor organ sudah menjalani transplantasi, maka pasien itu masih harus di bawah pengawasan tim medis." Penjelasannya sungguh membuatku malu.
"Hey, bukan salahku kalau menyimpulkan hal seperti itu. Dokter tidak menjelaskan secara rinci kepadaku. Lagi pula aku kan tidak pernah belajar tentang hal-hal medis." Kataku untuk menutupi rasa malu ku.
"Dokter pasti menjelaskannya, hanya saja ia menjelaskan pada keluarga pasien. Karena apa pun hasil dari pemeriksaan yang menyangkut pasien pihak rumah sakit tetap harus berdiskusi kepada keluarga pasien." Terangnya lagi kepadaku.
Dia menyuntikkan cairan ke dalam tabung infus ku. Lalu dia menyentuh selang infus yang tergantung di atas ranjang ku. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan pada selang infus ku.
"Aku berharap kamu akan segera mendapatkan pendonor yang cocok. Dan kamu sudah membuka pikiran ku hari ini." Dia berbicara sambil merapikan peralatan medis yang ia bawa tadi.
"Apa maksudmu? Aku membuka pikiranmu?" Tanyaku heran. Apa karena caraku menilai kecocokan tranplantasi tadi membuatnya tersadar akan sesuatu hal?
"Ya, kau membuatku sadar akan satu hal. Bahwa banyak orang lain yang sedang menunggu mukjizat dari Tuhan." Katanya saat ia telah selesai merapikan peralatannya.
"Semua orang tahu kalau mukjizat itu datangnya dari Tuhan, lalu apa hubungan dengan membuat pikiranmu terbuka?" Tanyaku padanya yang mulai menatap ke arah tabung infus ku.
"Aku ingin memberikan kesempatan untuk hidup kepada orang lain di saat aku telah kehilangannya." Perawat itu berkata seraya tersenyum padaku, lalu berjalan keluar dari ruangan ini.
Aku masih bingung dengan ucapannya. Saat ia sedang bertugas untuk memeriksa keadaan ku, aku menanyakan kepada pria itu tentang apa maksud perkataannya tempo hari. Tapi dia tidak pernah memberikan penjelasan kepada ku. Dia hanya mengatakan 'lupakan saja tentang hal itu' dan itu membuat ku kesal.
"Hai, hari ini jadwal ku untuk menemani mu. Kamu pasti senang kan?" Tiba-tiba seorang gadis masuk kedalam ruangan ku.
Dia membawa tas dan paperbag yang sudah pasti berisi barang-barang keperluannya selama menginap di rumah sakit ini.
"Ya, tentu saja. Dengan adanya kamu disini, jadi Mom bisa istirahat di rumah." Kata ku kepada gadis yang mulai mengeluarkan barang bawaannya dari paperbag.
Aku menaikan sedikit tempat tidur ku melalui tombol otomatis yang ada pada sisi ranjang ini. Entah mengapa sedari tadi pagi aku merasakan nyeri pada d**a sebelah kiri ku. Aku tidak memberitahukan kepada Mom karena aku tidak mau dia khawatir. Aku berniat untuk memberitahukan kondisi ku nanti pada dokter saat dia berkunjung kesini. Mungkin dokter akan memberikan aku obat pereda nyeri nanti.
"Kamu terlihat sangat akrab dengan perawat pria itu. Siapa namanya? Aku ingin berterima kasih kepadanya karena sudah mau merawat pasien yang cerewet seperti kamu." Katanya sambil terkekeh-kekeh.
"Namanya? Aku tidak pernah bertanya siapa namanya." Aku tidak menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah mengetahui siapa nama perawat pria itu.
"Kamu sungguh keterlaluan. Masa nama orang yang selama ini merawat mu saja kamu tidak tahu. Nanti aku akan cari tahu sendiri." Katanya sambil berjalan menuju toilet.
Ternyata dia mencuci buah yang dia bawa tadi ke wastafel yang terletak di dalam toilet. Dia memberikan aku sepotong apel yang sudah dia kupas kulitnya. Aku mengambil apel itu yang dia tusukan pada sebuah garpu. Di saat aku mengangkat tangan ku, rasa nyeri itu kembali menyerang ku. Aku mencoba untuk mengatur nafas ku berharap mungkin rasa nyeri ini dapat berkurang, tapi itu tidak berhasil.
"Kamu kenapa? Kamu jangan membuat aku takut! Tunggu sebentar aku panggil dokter!" Dia keluar ruangan sambil berteriak memanggil dokter.
Samar-samar aku melihat beberapa orang masuk kedalam ruangan ini sebelum semua pandangan ku menjadi gelap.
Sepuluh Tahun Kemudian
Seorang gadis kecil tersenyum sambil melihat nilai yang terukir pada rapornya. Nilai A+ diberikan pada setiap bidang studinya. Tak sia-sia gadis itu belajar keras selama ini. Selama seminggu terakhir ini, gadis itu belajar sampai larut malam. Saat ini gadis itu sedang duduk di bangku yang terletak di taman sekolahnya. Gadis kecil itu sedang menunggu seorang wanita tua yang biasanya menjemputnya untuk pulang.
"Coba saya lihat berapa nilai rapormu." Seorang gadis yang berusia sekitar sembilan tahun mengambil rapor milik seorang gadis yang masih duduk di bangku.
Di samping gadis kecil itu ada dua anak laki-laki yang merupakan teman-temannya. Gadis yang duduk di bangku hanya bisa menerima perilaku mereka. Sebenarnya dia bukan takut pada gerombolan bocah nakal itu, hanya saja dia tidak ingin menimbulkan masalah lagi. Karena perilaku nakal teman-temannya, ia selalu berhadapan dengan guru pembimbing.
“Bagaimana mungkin dia bisa mendapat nilai sempurna di setiap mata pelajaran?” Salah satu anak laki-laki bertanya setelah melihat hasil bacaannya.
"Dia mengalahkan nilai rapormu, Ly. Bukankah kamu punya dua nilai B di matematika dan sains?" Anak laki-laki lain menimpali.
Gadis kecil yang dipanggil Ly itu langsung melempar rapornya ke bawah.
"Dia pasti berbuat curang, makanya dia mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran." Tuduh gadis kecil itu kepada gadis yang mulai mengambil bukunya.
"Tidak. Aku belajar keras untuk mendapatkan nilai ini." Kata pemilik buku rapor itu.
"Bagaimana mungkin anak yatim piatu yang malang sepertimu bisa mendapat nilai bagus? Karena tidak ada yang bisa menemanimu belajar." Ucap gadis itu mulai mengejek.
"Aku selalu ditemani ibuku untuk belajar sampai larut malam, tapi kenapa nilaiku tidak sempurna?" Salah satu anak laki-laki mulai bertanya kepada Ly.
Gadis kecil yang tergabung dalam geng laki-laki itu mulai memutar bola matanya. Dasar anak bodoh, kenapa kau harus mengatakan bahwa nilaimu jelek, kata Ly dalam hati sambil mengumpat temannya.
"Aku tidak punya ayah, tetapi aku masih punya ibu, jadi aku bukan anak yatim piatu" Gadis kecil yang diganggu itu mulai kehilangan kesabarannya.
"Maksudmu wanita tua yang selalu menjemputmu dari sekolah itu ibumu? Dia lebih cocok jadi nenekmu daripada ibumu. Hahaha." Ucap Ly sambil tertawa bersama kedua sahabatnya.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" Suara seorang wanita menghentikan tawa mereka bertiga.
Mereka berlari bersama untuk meninggalkan tempat itu.
"Kau baik-baik saja, kan? Apakah mereka memukulmu?" Wanita itu memeriksa setiap lekuk tubuh gadis kecil itu.
“Tidak, mereka bahkan belum menyentuhku.” Gadis kecil itu berbicara dengan suara serak.
Gadis itu mengusap matanya, berharap air matanya tidak keluar.
“Lalu mengapa kamu menangis?” Wanita itu terkejut melihat gadis kecil itu mulai meneteskan air mata.
"Mereka tidak percaya kalau aku masih punya ibu." Gadis itu mulai terisak-isak.
Wanita itu memeluk gadis kecil itu untuk menenangkannya. Wanita itu khawatir dengan kondisi gadis kecil itu.
"Jangan menangis lagi, nanti kalau ada kesempatan kita akan tunjukkan kalau kamu punya ibu. Sekarang kita pulang. Aku sudah membuat kue kesukaanmu." Bujuk wanita itu lalu menyeka air mata gadis kecil itu.
***
Di tempat lain, seorang wanita sedang menonton video di ponselnya. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk dari ponselnya.
Saya hendak menghentikan kelakuan anak-anak nakal itu, tetapi wanita yang biasa menjemput gadis kecil itu datang.
"Apa yang kamu lihat? Kenapa kamu menatap ponselmu dengan begitu saksama, hmm?" Tiba-tiba seorang pria memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
"Lihat. Aku heran, apakah anak-anak itu tidak dididik dengan baik oleh guru-guru mereka. Mengapa mereka tega melakukan itu kepada teman sekolah mereka?" Ucap wanita itu tanpa membalikkan tubuhnya.
Pria itu mengambil telepon dan memutar ulang videonya.
"Sudahlah, tidak terjadi apa-apa kan? Kau harus jaga kesehatanmu. Bukankah dokter sudah bilang untuk mengendalikan emosimu?" Perlahan laki-laki itu membalikkan tubuh perempuan itu sehingga punggungnya masih membelakanginya.
"Saya ingin dia pindah sekolah." Wanita itu menyuarakan pendapatnya.
"Baiklah. Kita rencanakan nanti." Ucap pria itu lalu mencium bibir wanita itu untuk menenangkannya.
Wanita itu membalas ciuman pria itu, suara ciuman terdengar memenuhi ruangan.
*Continued*