BAB 7. Benda Pribadi

1164 Words
CEO TAMPAN DAN GADIS MISKIN 7. ** Karina kembali bekerja sesuai kemauan sang majikan. Karina dengan sigap menyiapkan makanan untuk majikannya. setelah makanan selesai, ia membawanya ke meja makan dan menyusunnya. Karina lupa bahwa pekerjaan lainnya menunggu. Ia berencana memutar mesin cuci barulah memanggil Andrew untuk turun makan. Lagian makanan dimeja makan masih panas, sehingga Karina berpikir tak apalah memanggil Andrew setelah memutar cucian di mesin cuci. 'Salah dia sendiri mengapa pulang begitu cepat seharusnya aku kan tidak perlu memasak lagi siang ini, cukup masak buat malam saja. Gara gara dia pulang pekerjaanku semakin bertambah.' Teriak dewi batin Karina. Karina bergegas kembali menuju dapur dan kamar mandi. Kamar mandi nya saja begitu luas, hampir seluas rumah di kontrakan Karina. Ia kemudian mengambil beberapa helai pakaian kotor Andrew yang sengaja di letakkan dalam ember untuk pakaian kotor. Karina harus hati hati mencucinya jika tidak Majikan cerewetnya akan mengomel sepanjang hari. Pakaian Kotor Andrew tidak sulit mencucinya karena memang tidak terlalu kotor. Hanya tinggal pisahkan yang putih dan lainnya kemudian masukkan mesin cuci lalu di putar. Masukkan lagi pewangi yang banyak kemudian putar lagi, begitu seterusnya. Ketika Karina baru memasukkan pakaian putihnya ke mesin cuci dan memutarnya. Di ember paling bawah Karina membulatkan matanya sempurna. Ia kaget dan jijik pasalnya ada beberapa helai pakaian dalam Andrew disitu. Rasa jijik juga kesal bercampur aduk di hati Karina. Bagaimana mungkin majikannya menyuruh pembantu mencuci pakaian dalam? Kalau pakaian kerja dan pakaian rumah baiklah Karina cuci karena itu memang tugas dan tanggung jawabnya. Namun, apa apaan ini, Wait! Pakaian dalam? Itu tidak termasuk tugasnya dalam mencucinya. Ia kira siapa diriku beraninya menyuruhku mencuci pakaian dalamnya? Awas saja kamu Andrew! Dewi batin Karina lagi lagi berteriak. Karina bergegas mendatangi kamar majikannya dan bertanya perihal pakaian dalamnya. Membayangkannya saja Karina mual pasalnya itukan pakaian yang membungkus sesuatu milik. Karina segera memukul kepalanya menghilangkan pikiran pikiran kotor dari otaknya. Ia membuka pintu kamar Andrew tanpa mengetuknya. Andrew yang ketika itu sedang menonton televisi dengan santai di kamarnya ter-lonjak kaget karena ulah Karina. "Tuan Andrew!" "Hei, bisa tidak kalau masuk kamar orang ketuk pintu dahulu. Bagaimana bila aku tidak pakai baju sehelai pun? bagaimana? Apa kamu tidak malu sudah melihatku begitu?" ucap Andrew kaget karena Karina tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Mendengar ucapan Andrew, Karina langsung mendatangi Andrew dan menjambak jambak serta memukul mukul Andrew sesukanya. Ia bahkan menendang Andrew kemudian menjambak jambak rambutnya kembali. Sesuatu yang selama ini ingin Karina lakukan dengan majikan cerewetnya itu. "Andrew! Mengapa pakaian dalam mu ada di ember cucian kotor? Apa kamu tidak malu menyuruhku mencuci nya? cepat ambil kembali pakaian dalam mu yang kotor itu!" teriak Karina sambil terus menjambak-jambak rambut Andrew bahkan ia sudah menghilangkan kata tuan yang biasa gunakan selama ini. "Sakit Karin, ya aku ambil tetapi cepat lepaskan tanganmu." Karina tersenyum manis kemudian melepaskan tangannya dari rambut Andrew yang dari tadi ia jambak. "Hei. Hei. Mengapa kamu melamun dan tersenyum senyum sendiri? Dasar gadis aneh." ucap Andrew santai. Sesaat Karina sadar bahwa yang ia lakukan tadi hanya ada di khayalannya bukan di dunia nyata. Karina mendengkus kesal ke Andrew pasalnya pria itu sudah membuyarkan lamunan indahnya. "Tuan Andrew." "Apa?" jawab Andrew enteng. "Mengapa pakaian dalam mu ada di pakaian kotor? Apa harus juga aku mencucinya? Cepat segera tuan ambil, Apa tuan tidak malu menyuruhku mencuci pakaian dalam tuan juga." Kata Karina terbata pasalnya ia malu menyinggung pakaian dalam majikannya. Wajahnya juga sudah memerah "Tidak mau, itu memang tugasmu dan kau harus mencucinya." Dengan enteng Andrew kembali menjawab. "Kalau pakaian biasa dan kantor tak apalah saya cuci, ini pakaian dalam mengapa harus saja cuci juga." protes Karina kesal. "Aku sudah membayar mu mahal, Bibi, jadi jangan banyak protes cuci saja! Makan siang sudah siap belum?" tanya Andrew dengan raut wajah sulit diartikan namun dalam hatinya terus tertawa. "Huh. Sudah!!! Cepat turun!" Teriak Karina kesal. Dan Andrew hanya nyengir. Karina berniat meninggalkan Andrew kemudian Andrew memanggilnya. "Hei. Karin tunggu." panggil Andrew. Karina menghentikan langkahnya sejenak. Baru kali ini majikan sialannya memanggil namanya biasanya ia hanya berkata hei atau Bibi. "Apa tuan?" "Kamu tahu banyak yang ingin memegang barang barang pribadiku. Namun, aku tidak memberi izin mereka. Kamu salah satu orang yang beruntung karena dapat memegang benda pribadiku." ujar Andrew. Karina kesal mendengarnya. 'Siapa yang mau memegang benda pribadimu apalagi pakaian dalam?' Dewi batin Karina kembali berteriak. Andrew hanya tersenyum smirk melihat Karina dan berniat beranjak untuk makan siang karena perutnya memang sudah lapar. ***** Seperti biasa Karina menyendok kan nasi ke piring Andrew. Tugas ini harus selalu di laksanakan. Karina melayaninya mirip seorang raja. Ketika Andrew hendak memakannya. "Pantas kamu mau pulang cepat Drew. Rupanya ada seseorang di rumahmu." Suara bariton mengagetkan keduanya. Andrew langsung salah tingkah pasalnya itu suara sahabatnya, Miko. Karina melihat ke belakang, ada seorang pria lain. Perasaannya jadi tak enak. "Kamu bukannya …." Miko menggantung ucapannya sekaligus berpikir. "Ya, dia gadis recehan yang kita jumpa tempo hari." kata Andrew memotong perkataan temannya. Karina memonyongkan bibirnya tanda kesal ke Andrew karena dipanggil gadis recehan. "Kok kamu ada disini?' tanya Miko ke Karina. "Saya …." Kebingungan Karina menjadi. Bagaimana dia menyampaikan sesuatu yang memalukan perihal bukunya. "Aku yang memaksanya bekerja disini. Dia pembantuku." sela Andrew lagi. "What? Pantas kamu lebih suka makan di rumah dari pada di kantor." Miko kaget dan tertawa geli. Andrew menghela napas karena ketahuan. "Ngapain kesini?" katanya ketus "Kesal amat. Mau menyelesaikan beberapa proposal dan peninjauan kembali. Kata sekretaris kamu, kamu nggak ada di kantor. Ya udah aku kesini," ujar Miko yang matanya beralih ke meja makan. "Kenapa nggak telepon sih mau datang ke rumah. Jangan menyelesaikan masalah kantor di rumah. Tunggu di kantor bisa nggak sih," ucap Andrew menyendok kan nasi ke mulutnya. "Yuhu, kayaknya enak masakan kamu. Oh ya nama kamu siapa?" tanya Miko yang sudah duduk di kursi makan. "Saya Karina, Tuan." Sahut Karina yang masih berdiri bengong di situ. "Karin kamu nggak kunci pintu pagar ya? Makanya dia bisa masuk. Kalau ada maling gimana?" tanya Andrew ketus. "Udah tuan Andrew." potong Karina mengerucutkan bibirnya. "Jangan marah marah, Tuan Andrew. Kamu kok lupa akut ya. Sejak kapan pintu rumahmu tertutup untuk ku. Aku kan bebas keluar masuk rumahmu. Pasti sejak Karin bekerja disini ya. Kamu lupa aku hapal sandi gerbang rumahmu," ujar Miko kembali tertawa dan mengambil piring. Persahabatan yang kental antara mereka dari kecil membuat Andrew percaya pada Miko pun sebaliknya. Dia mengenal Miko dan keluarga lelaki itu karena orang tua mereka juga berteman baik. "Besok aku ganti, ngapain lu makan disini. Bukannya udah makan sama pacar lu." "Belum, Bro. Pacar gue ada keperluan dan kayak nya enak gue mau cobain masakan Karin. Karin, sendok-in dong kayak Andrew," ucap Miko manja ke ke Karin. Andrew yang melihat langsung kesal. "Karin, cepat kebelakang bukannya kamu harus mencuci!" titah Andrew. "Ya Tuan, maaf tuan Miko saya kebelakang dulu." cicit Karina. "Karin, kalau majikan mu galak kamu bisa bekerja dengan ku." gurau Miko tertawa, membuat Andrew mendengkus kesal. "Sorry, Bro. Dia pembantu gue dan sudah teken kontrak dengan gue sebagai majikannya." sambung Andrew tersenyum ringan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD