CEO TAMPAN DAN GADIS MISKIN 6
**
Hampir seminggu Karina bekerja dengan Andrew majikannya yang ngeselin. Tingkah Andrew sangat menyebalkan belum lagi ia suka mencela dan berkata kata yang membuat Karina sakit hati. Namun, ia hanya bisa pasrah dan mengumpat didalam hati.
Berbeda dengan Karina, yang sangat tersiksa bekerja dengan Majikannya. Andrew sangat menikmati pemandangan mengganggu Karina. ia merasa mendapat hiburan-hiburan tersendiri. Seperti hari ini, makan malam sudah dihidangkan oleh Karina, Andrew sudah duduk di kursi makan hendak makan malam.
"Hmmm, sepertinya enak." Andrew berkata sambil menggesekkan kedua tangannya siap menyambut makanan.
"Tuan Andrew sepertinya tugas saya hari ini telah selesai." Karina hendak pergi meninggalkan majikannya tetapi Andrew memanggilnya.
"Mau kemana kamu?"
"Saya mau pulang tuan."
"Kamu jangan pulang dulu sebelum membersihkan bekas makan ku. Aku tidak mau rumahku berantakan, jadi kamu harus menungguku selesai makan barulah kamu bisa pulang," ujar Andrew, Karina menghela nafas dan menyetujuinya.
"Baiklah tuan Andrew."
"Hei, mau kemana kamu?" panggil Andrew ketika Karina berniat meninggalkannya.
"Saya mau kebelakang dulu tuan sambil menunggu Tuan selesai makan."
"Kamu harus melayaniku. Sekarang cepat taruhkan nasi ku ke dalam piring beserta lauknya," sela Andrew, Karina heran dan membulatkan matanya.
"Maksud, Tuan?
"Apalagi? Aku membayar mu untuk melayaniku. Cepat taruhkan nasi ku ke dalam piring!"
"Tapi tuan, 'kan punya tangan sendiri kenapa harus saya taruhkan."
"Tidak mau kamu yang harus taruhkan, atau kamu tahukan …."
Andrew menggantung ucapannya.
"Ihhhh …." jerit Karina tertahan, Karina meng-geram kesal melihat ulah Andrew selalu saja mengancam nya dan menyuruhnya melakukan hal yang tidak-tidak.
"Dasar manja!" cicit Karina yang masih bisa didengar Andrew.
Andrew hanya tersenyum tidak jelas.
Dengan setengah hati Karina menyendok kan nasi ke piring majikannya yang ngeselin.
"Sudah tuan. Apa lagi yang harus saya kerjakan, apa perlu sekalian saya menyuapi tuan makan." tantang Karina kesal.
Sebenarnya ia hanya asal bicara untuk meredakan rasa kesalnya.
"Kenapa tidak, sekarang kamu suapi aku makan," ujar Andrew yang terus menahan senyumnya.
"Apa!" Karina kaget dengan permintaan Andrew padahal ia hanya bergurau.
"Cepat suapi aku makan. Jangan mengumpat didalam hati kamu pikir aku tidak tahu isi hatimu!"
"Memang tuan siapa? Anda kan bukan Tuhan mana mungkin mengetahui isi hati orang lain." jawab Karina kesal mengerucutkan bibirnya.
"Kau lupa aku memiliki buku harian mu yang terpampang jelas isi hatimu. Sudah jangan banyak berdebat cepat suapi aku. Apa kamu tidak mau pulang? Nanti kamu kemalaman, mau kamu nginap disini?" gurau Andrew.
Karina menyerah ia kemudian duduk di kursi makan bersebelahan dengan Andrew. Lalu menyuapi Andrew. Disela sela makan Andrew terus tersenyum tidak jelas melihat raut wajah kesal Karina. Pemandangan yang di anggapnya menyenangkan. Karina kembali menyendok kan nasi ke mulut majikannya yang dianggapnya aneh itu.
"Mulai besok bila saya hendak makan maka kamu harus taruhkan nasi ke piringku beserta lauknya, paham kan!" ucap Andrew ke Karina yang dijawab pasrah oleh Karina.
"Ya terserah kamu saja tuan."
*****
Karina menjatuhkan badannya di kasurnya yang berada dikontrakan nya, ia sangat lelah, dilihatnya stealing dagangannya yang sudah teronggok di sana. Andrew memang sudah membayar upahnya tetapi sebenarnya Karina hanya terpaksa bekerja dengannya.
Karina sudah mencari buku hariannya ke seluruh penjuru rumah namun ia tetap tidak menemukannya, bukunya bagaikan hilang ditelan bumi. Kamar Andrew pun sudah di acak acak oleh Karina ketika ia berangkat ke kantor namun hasilnya tetap saja nihil bukunya tetap tidak ada. Belum lagi kecerewetan Andrew yang harus dihadapi Karina. Rumah harus bersih, pakaian harus bersih rapi dan disetrika, makan harus tersedia dan Kamar tidur majikannya pun harus Karina yang membersihkan, sprei tidur setiap tiga hari sekali harus diganti, bla bla bla. Andrew terus menuntut ini dan
itu.
Sementara Andrew merasa harinya lebih baik dengan keberadaan Karina. Setiap hari ia membersihkan rumah, menyetrika, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Ia tidak pernah menyesal mempekerjakan Karina dirumahnya. Hasil kerjanya bagus dan yang paling menyenangkan ia hanya bisa pasrah bila Andrew menyuruhnya melakukan pekerjaan yang dianggapnya aneh.
"Kok senyum senyum begitu, Bro?"
Suara Miko mengagetkan Andrew.
"Huh, lu bisa nggak masuk ketuk pintu dulu!" kesal Andrew.
"Udah tadi tapi lu kayaknya lagi ngayal bombai. Ada apa sih? lu lagi jatuh cinta ya?" tanya Miko membuat Andrew nyengir sendiri.
"Nggak lah, btw ngapain lu ke sini, nggak ada kerjaan di kantor ku?" tanya Andrew mengalihkan pembicaraan.
"Lupa ya. kita kan ada meeting setengah jam lagi membahas kerja sama produk terbaru." Miko mengingatkan.
"Astaga, bukannya dua jam lagi, kok lu bilang setengah jam lagi." Andrew menyandarkan dirinya di kursi empuknya.
"Makanya jangan kebanyakan ngayal lu, bukannya sekretaris lu bilang tadi udah menyetujui jadwal baru." Miko geleng-geleng kepala menyaksikan kelupaan akut temannya.
"Ya, gue ingat. Ya sudah mari ke ruangan, rapat segera kita mulai bersama direksi lainnya," ujar Andrew kemudian.
"Sob, selesai rapat kita makan bareng yuk dengan pacar gue juga, mau nggak lu?" sela Miko sebelum mereka melangkah ke ruang rapat.
"Ah, males gue, ntar lu berdua mesra mesra-an dan gue diabaikan, mending
gue makan di rumah."
Andrew melengos keluar dari ruang kerjanya diikuti Miko.
"Wait. Ada apa di rumah lu, nggak biasanya makan di rumah." tanya Miko penuh selidik. Andrew menjadi salah tingkah.
"Nggak ada apa apa kok. cuma delivery order aja," ucap Andrew menutupi kegugupannya.
Miko hanya tersenyum melihat tingkah temannya, ia mengenal Andrew pasti ada sesuatu.
*****
Karina sedang mengepel lantai ketika Andrew memasuki rumahnya.
"Jangan diinjak tuan, saya baru mengepelnya."
"Kenapa kau mengepel se-siang ini."
"Kenapa anda bilang? Lihat pekerjaan rumah tangga yang anda berikan sangat banyak. Kenapa anda cepat sekali pulang bukannya anda pulang sore hari?"
"Kenapa? ini kan rumahku terserah ku mau pulang kapan saja, cepat buatkan makan siang aku lapar," kata Andrew sembari memasuki rumahnya. Ia tidak mempedulikan tatapan Karina yang menatapnya dengan garang karena sudah menginjak injak lantai yang baru saja di pel nya.
"Hah, makan siang? bukannya setiap siang anda selalu makan di kantor tuan?"
Karina kaget pasalnya ia tidak memasak banyak
"Mulai sekarang aku akan makan di rumah, bukannya sekarang sudah ada kau yang memasak! Buat apa aku membayar mahal-mahal kalau aku harus makan diluar," ujar Andrew sambil terus berjalan.
Karina melengos sembari menghembuskan nafasnya secara kasar dan mulai beranjak menuju dapur.
"Tunggu!" Langkah Andrew terhenti di anak tangga.
"Apa lagi tuan?" sahut Karina lemas sambil menoleh ke arah majikannya.
"Kalau sudah selesai panggil aku ya."
Andrew tersenyum simpul ke Karina. Entahlah karina bingung mengartikan senyumannya apa senyuman mengejek atau senyuman memberi semangat. Namun, Karina langsung membuang pilihan kedua. Pasti senyuman mengejek tidak mungkin memberi semangat. Majikan sialan sangat menyusahkan teriak dewi batin Karina.
Bersambung