Nick dan Castellia masih berada di ruang tamu. Castellia duduk di sofa, memikirkan kejadian yang hampir merenggut nyawanya tadi. Jika ia tidak segera bersembunyi, mungkin pelaku itu akan membunuhnya secara brutal. Sementara Nick, menatap istrinya begitu dalam. Ada rasa bersalah dalam hatinya. "Maafkan aku, Istriku," ucap Nick sambil duduk di samping istrinya. "Karena kesalahanku, kau terkena imbasnya." "Nick, kau tidak salah apa-apa. Aku rasa, ada seseorang yang iri pada kesuksesanmu. Mungkin dengan melenyapkanku, kau akan depresi dan perusahaanmu segera bangkrut karena tidak ada yang mengurus. Itu tujuannya." "Aku juga tidak tahu pasti." Sekilas, Castellia teringat akan berita mengenai pembunuhan terhadap seorang pria berinisial V itu. "Nick, tadi di berita, ada seorang pria dibunuh d

