Bab 1
“Istriku, kau masih tidak mau makan?”
Nick Bauer tampak mendesah pelan, karena istrinya tak kunjung keluar untuk sekedar makan. Ia sangat khawatir pada kondisi istrinya. Pria yang biasa disapa Nick itu tidak ingin istrinya jatuh sakit dan menjadi tanda tanya besar dari keluarga istrinya. Nick takut mertuanya akan mengira bahwa dirinya tak mampu menjaga putri mereka dengan baik.
Sekali lagi, Nick mengetuk pintu kamar istrinya. “Aku tahu, kau tidak suka padaku. Tapi setidaknya, keluarlah untuk makan. Nanti kau sakit.”
Meskipun Nick sudah bersikap lembut, tetap saja gadis yang berada didalam tak kunjung bersuara dan memang mungkin disengaja. Nick pun menyerah. Ia tidak akan memaksa istrinya lagi untuk hari ini. Dia juga harus segera berangkat ke kantor untuk mengurus beberapa berkas yang terbengkalai selama ia cuti 3 hari setelah menikah.
Nick melirik sekilas jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan waktu setempat. Ini sudah sangat terlambat untuknya. “Baiklah. Aku harap, kau akan makan setelah aku berangkat ke kantor. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu. Aku pergi.”
Nick melangkah pergi meninggalkan istrinya yang masih mengurung diri di kamar. Satu per satu kakinya melangkah menuruni anak tangga sambil tetap melihat kearah pintu kamar sang istri. Berharap, gadis yang baru saja ia nikahi 3 hari lalu akan keluar dan mengantarnya sampai ke depan rumah. Tapi lagi-lagi, Nick harus menelan kenyataan pahit yang memang tak bisa dipungkiri.
Pria berusia 28 tahun itu melangkah keluar dari rumah dan bergegas masuk kedalam mobil sedan hitam miliknya. Mobil tersebut bergerak pelan meninggalkan rumah super mewah yang didapat Nick dari hasil kerja kerasnya dalam membangun perusahaannya sendiri. Nick yang merupakan lulusan S2 Chemical Engineering itu berhasil membangun sebuah perusahaan bernama Wayolleverge Group yang memiliki 5 cabang di beberapa negara. Tak heran jika Sebastian Bauer dan Lara Wagner bangga padanya.
“Selamat pagi, Pak,” sapaan hangat dari beberapa karyawan yang menyambut kehadiran Nick di kantornya.
Nick pun tersenyum hangat pada mereka semua. Sepertinya mereka ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya yang berlangsung tanpa kesengajaan dan terkesan mendadak. Bahkan beberapa rekan bisnisnya juga tak menyangka jika Nick menikah secepat itu tanpa memberi kabar terlebih dulu.
“Aura pengantin baru memang terlihat lebih segar ya,” ujar salah satu rekan bisnis Nick yang bernama Michael. “Selamat ya, Nick. Maafkan aku yang tidak bisa datang, karena aku sedang di Jepang saat itu.”
Nick tersenyum manis. “Tidak apa-apa. Aku bisa memakluminya. Lagipula, ini juga terjadi dadakan. Jadi tidak bisa memberi kabar pada kalian semua.”
“Bagaimana kalau kita membuat perayaan sendiri untuk kalian, hm?” usul Michael. “Ya sekaligus berkenalan dengan istrimu. Kudengar, istrimu itu seorang dokter ya?”
“Ah, iya. Istriku dokter fisioterapis di Busch Hospital,” jawab Nick sedikit gugup. “Soal perayaan itu, kita adakan lain waktu saja ya.”
Michael mengernyit heran. “Kenapa? Apa ada masalah?”
“Oh, tidak. Semua baik-baik saja, Michael. Hanya saja, istriku sedang tidak enak badan. Aku hanya tidak ingin merepotkannya untuk menyiapkan perayaan itu,” ujar Nick berbohong.
Bukan tanpa alasan ia berbohong pada rekannya. Nick hanya berusaha untuk menutupi pernikahan seperti apa yang sedang ia jalani saat ini. Dia juga tidak ingin membebani sang istri karena harus berpura-pura di depan rekannya nanti. Jangan sampai itu terjadi.
“Masalah itu, biarkan kami yang menyiapkannya. Kau tidak perlu khawatir, Nick,” sahut rekan lain yang bernama Allan.
“Ya, Allan benar,” tambah Michael. “Lagipula, dia sakit juga karena kau, kan? Kau pasti memporsir dia untuk melakukan hal itu selama tiga hari ini. Benar, kan?”
Hal apa? Bahkan Nick tidak melakukan apapun pada istrinya. Bagaimana bisa Michael berpikir seperti itu? Jika memang dia melakukannya, ia tidak akan tega memporsir istrinya hingga sakit. Astaga. Pikiran Michael memang benar-benar m***m. Batin Nick.
Mendengar ucapan Michael, sontak Allan mendaratkan pukulan kecilnya di kepala Michael. Dia tak habis pikir dengan rekannya satu itu. Yang sedang digodanya adalah bos besar di Wayolleverge Group. “Kau itu tidak bisa menempatkan posisi, hah? Dasar otak m***m!” gerutu Allan kesal.
“Maaf,” ucap Michael sambil mengusap kepalanya.
Nick tersenyum sambil terkekeh kecil. “Tidak apa-apa, Allan. Jangan memarahinya seperti itu. Aku tidak tersinggung sama sekali.”
“Tapi dia sudah kelewatan.”
“Sudah, lupakan saja. Kita harus rapat, kan? Produk baru kita akan segera rilis. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini,” kata Nick yang diangguki anggota lainnya.
Nick dan rekan-rekannya memasuki ruang rapat dengan berkas di tangan mereka masing-masing. Sementara di rumah, istri Nick tampak menikmati makanannya di meja makan. Dia tidak memakan masakan Nick. Gadis itu memilih untuk masak mie instan saja.
Castellia Busch memasukkan sendok berisi mie itu kedalam mulutnya. Tatapannya terlihat kosong. Pikirannya pun sedang kacau saat ini. Gadis berusia 24 tahun itu masih harus menghabiskan masa cutinya 2 hari lagi, lalu setelah itu ia akan kembali bertugas sebagai fisioterapis di Busch Hospital yang didirikan oleh Karl Busch, ayahnya.
“Hhh.”
Dentingan sendok pun terdengar sedikit keras. Helaan napas lelah pun berkali-kali keluar dari mulut Castellia. Dia tidak mengerti, kenapa dirinya bisa menerima pernikahan ini? Siapa yang harus ia salahkan dalam hal ini?
“Astaga! Memikirkannya saja sudah membuatku pusing,” gumam Castellia.
Castellia menaruh mangkuk berisi mie instan itu ke tempat cucian piring dan langsung mencucinya. Setelah menikah, dia memang tidak selera untuk makan. Memang di kamarnya tersedia banyak camilan yang ia bawa dari rumah orang tuanya. Itu sebabnya dia bisa tahan berada di kamar. Dan di hari ketiga inilah baru ia keluar dari persembunyiannya untuk makan mie instan. Itupun tidak dimakan sampai habis.
Saat baru memasuki kamar, Castellia dikejutkan dengan suara dering ponselnya. Ia menatap layar ponsel dan sebuah nomor yang tak tersimpan menghubunginya. Tanpa ragu, gadis itu menerima panggilan teleponnya.
“Halo,” sapanya.
“Halo. Kau sudah makan? Ini aku, Nick.”
Kedua mata Castellia membelalak dan langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia pun mencampakkan ponsel tersebut di atas kasur sambil mendengus kesal. “Tahu darimana dia nomorku? Cih! Pasti adiknya yang memberitahu. Membosankan,” gerutunya.
Ponselnya kembali berdering dengan pemanggil yang sama seperti sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Castellia langsung mematikan ponselnya agar pria itu tidak bisa menghubunginya. Selanjutnya, Castellia berjalan ke arah balkon untuk melihat pemandangan luar dari sana.
“Aku berjanji, tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan mengecewakanmu, Castellia. Besok adalah hari bahagia kita. Jadi, kau jangan cemas ya.”
“Cih! Dasar penipu! Dia berjanji, tapi dia juga yang mengingkari. Pantas saja saat itu aku merasa cemas sebelum pernikahan. Ternyata kejadiannya akan seperti ini,” geram Castellia. “Dia meninggalkanku disaat acara berlangsung dan ya, sekarang aku menikah dengan pria menyebalkan itu. Takdir seperti apa yang kau berikan, Tuhan?”
Castellia kembali masuk ke kamar dan duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah buku diari yang biasa digunakannya untuk menulis berbagai keluhan dihidupnya. Tangan kanannya mulai menggoreskan tinta pena di atas kertas buku diari tersebut.
Tuhan, kenapa takdirku begitu berat? Kenapa harus Nick yang menjadi suamiku? Jelas-jelas aku tidak mencintainya. Aku tidak mungkin sanggup menjalani kehidupan berumah tangga tanpa adanya cinta. Memang dia tampan dan mapan, tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Aku harus apa sekarang?
Castellia menghela napas berat, kemudian menutup kembali buku diarinya. Kini, ia menopang dagu sambil menatap ke arah luar jendelanya. Airmatanya jatuh saat ia mengingat kejadian dimana dirinya ditinggalkan oleh kekasihnya.
“Hei, dimana mempelai prianya? Mempelai wanita dan keluarganya akan segera tiba. Kenapa mempelai prianya tidak ada di sini?” ujar salah satu keluarga mempelai pria.
“Tadi dia ada di sini, Tuan,” jawab si perias.
Pria paruh baya itu menggeram kesal. “Memangnya kau kemana, hah?! Kenapa dia bisa kabur?! Ini acara penting!”
“Maaf, Tuan. Saya hanya pergi sebentar ke toilet. Saya tidak tahu jika putra anda kabur dari sini,” ujar si perias, ketakutan.
“Astaga! Cepat cari dia!” titah pria paruh baya itu geram.
“Edward, ada apa?”
Pria yang kebingungan itu pun langsung menoleh ke arah belakang. Edward Teichmann menghela napas saat menatap sang istri. “Putra kita kabur, Mika. Padahal ini hari yang sangat penting. Kalau sampai wartawan tahu, kita akan malu.”
Mika Schreiber tampak terkejut. Dia memegang dadanya dan terduduk lemas di kursi rias. Edward pun langsung menenangkan sang istri sambil memberinya segelas air. Mika langsung meneguknya dan berusaha mengontrol diri.
“Sudah lebih baik sekarang?” tanya Edward cemas.
“Ya,” jawab Mika. “Ed, bagaimana ini? Castellia dan keluarganya akan segera datang. Jika mereka mengetahui hal ini, kita harus apa? Mereka pasti akan kecewa.”
Edward menggeleng lemah. “Aku juga tidak tahu, Mika. Putra kita benar-benar keterlaluan. Jika bertemu dengannya, aku tidak akan mengampuninya.”
Mika menangis. Sebagai seorang ibu, dia benar-benar merasa kecewa. Castellia adalah calon menantu idamannya. Selain cantik, Castellia juga dibesarkan dari keluarga yang baik-baik pula. Itu sebabnya ia dan Edward menyetujui hubungan Castellia dan putranya. Tapi, apa yang sudah diperbuat putranya saat ini? Benar-benar memalukan.
“Tenanglah, Mika. Jangan cemas. Aku akan mengurus semua ini,” ujar Edward.
“Tuan, mempelai wanita sudah datang. Tapi putra anda tidak kami temukan.”
Edward mengumpat kesal. Ia pun menuntun Mika untuk keluar, menyambut Castellia dan keluarganya. Edward sudah pasrah jika memang Castellia tak berjodoh dengan putranya.
Castellia berjalan menghampiri Edward dan Mika, didampingi oleh kedua orang tuanya, Karl Busch dan Elina Voigt. Ia menyapa calon mertuanya dan disambut baik oleh Edward serta istrinya.
“Nak, kau cantik sekali,” puji Mika.
“Terima kasih, Bu,” ucap Castellia.
Karl yang sejak tadi memandang ke arah altar pun mengernyit heran. “Edward,” panggilnya.
“Ya, Karl.”
“Kenapa di altar hanya ada pendeta saja? Putramu dimana?” tanya Karl tanpa basa-basi.
Edward dan Mika saling berpandangan. Mereka juga sedang kebingungan, karena tidak tahu harus berkata apa. “Ah, iya. Dimana calon menantuku itu, Mika?” sahut Elina.
“Ehm... begini, Karl. Putraku... dia ehm... dia....” Edward mulai gugup.
“Dia kenapa, Ed?” tanya Karl penasaran.
“Dia kabur,” jawab Mika.
Castellia tertawa. “Ibu bercanda, kan? Tidak mungkin dia kabur disaat penting seperti ini.”
“Tidak, Nak. Kami tidak sedang bercanda,” ujar Mika. “Dia memang kabur. Kami sudah berusaha mencarinya, tapi tidak kunjung ketemu.”
Castellia menatap ke arah tamu undangan yang tampaknya sudah mengetahui kejadian ini. Banyak dari mereka yang menatap Castellia dan saling berbisik. Astaga. Ternyata calon mertuanya itu tidak main-main. Calon suaminya benar-benar pergi disaat bahagia seperti ini.
Castellia memasuki gereja, memanggil-manggil nama pria yang harusnya ia nikahi. Namun usahanya sia-sia. Pria itu sudah pergi. Dia tidak akan kembali. Gadis cantik itu menangis dan terduduk di atas karpet merah, mengundang iba dari semua orang yang hadir. Sungguh menyakitkan jika hari bahagia berubah menjadi hari yang suram.
“Dasar penipu kau, Vincent Teichmann!”
TBC~