Bab 2

1553 Words
Di kantor, Nick tampak tidak fokus pada pekerjaannya. Pikirannya terus melayang ke istrinya di rumah. Nick cemas, apakah istrinya itu sudah makan atau belum? Semua hal tentang istrinya ia pikirkan. Rasanya ingin sekali ia cepat kembali ke rumah untuk melihat istrinya. Tapi pekerjaannya juga teramat penting saat ini. Nick sedikit kecewa karena Castellia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ya, ia tahu istrinya tidak ingin berbicara padanya. Tapi, apa dia salah menghubungi istrinya untuk menanyakan hal tersebut? Nick bingung harus berbuat apa sekarang. “Nick,” panggil Allan. “Kau baik-baik saja?” “Ah, iya. Aku baik-baik saja,” jawab Nick bohong. “Kau jangan bohong. Aku tahu, kau sedang memikirkan hal lain. Jika ingin berbagi, katakan saja padaku. Aku hanya tidak ingin melihat temanku gelisah seperti ini,” ujar Allan. Nick tersenyum. “Aku hanya memikirkan keadaan istriku di rumah. Hanya itu.” “Pulanglah. Aku akan mengurus pekerjaan ini. Istrimu lebih membutuhkamu,” kata Allan. “Tapi rapatnya ba....” Allan menggeleng cepat. “Kau tidak perlu cemas. Rapatnya ditunda sampai besok. Jadi sekarang, pulanglah dan temui istrimu.” Nick terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Allan memang benar. Castellia lebih membutuhkannya saat ini. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa membuat Castellia makan. Setidaknya sedikit saja. Nick pun akhirnya mengangguk setuju, lalu membereskan beberapa barangnya. “Baiklah. Aku pulang ya. Tolong handle semua kerjaan hari ini,” ujar Nick bersemangat. “Siap, Bos!” “Ah, iya. Jika perlu sesuatu, hubungi aku ya.” “Ya, baiklah. Sudah pulang sana,” usir Allan. Nick tertawa lalu bergegas keluar dari kantor. Di perjalanan, Nick berhenti untuk membeli beberapa makanan ringan untuk istrinya. Meskipun ia tak tahu makanan kesukaan Castellia. Tapi setidaknya, dia tetap berusaha. Nick berharap, Castellia akan menerima makanan yang dibelinya. Setibanya di rumah, Nick langsung naik ke lantai atas sambil membawa dua jinjing plastik berisi aneka makanan ringan. Sejenak ia melirik ke arah dapur, dan makanan yang ia masak tak tersentuh sama sekali. Sudah pasti Castellia tidak memakannya. Nick mengetuk pintu kamar Castellia. “Istriku, aku sudah pulang. Lihat, aku bawakan banyak makanan ringan untukmu. Ayo, keluarlah.” Namun tak ada sahutan apapun. Nick tertunduk sedih. Usahanya sia-sia saja. Nick mencoba kembali memanggil Castellia. Berharap gadis itu akan segera keluar. “Castellia, kumohon terimalah. Untuk kali ini saja,” pinta Nick, namun kembali sia-sia. “Baiklah, aku tidak memaksa. Tapi jika kau mau, makanannya aku taruh di depan pintu kamarmu.” Setelah meletakkan plastik itu di depan pintu kamar istrinya, Nick berjalan lesu ke arah dapur. Ia memanaskan makanan yang ada di tudung saji sambil melamun. “Apa lagi yang harus kulakukan untuk membuatnya bahagia, Tuhan? Apa ini masih belum cukup?” gumamnya. *** Malam ini, Nick tengah sibuk berkutat di depan layar Macbooknya. Sesekali ia melirik jam dinding dan melihat ke arah pintu kamar Castellia. Plastik berisi makanan itupun tak kunjung diambil oleh istrinya. Lagi-lagi ia harus menghela napas berat. Mungkin memang pantas ia diperlakukan seperti ini, karena telah lancang menikahi Castellia saat itu. Nick mendesah pelan. “Aku hanya berniat baik saja. Aku tidak tega melihatmu jadi bahan gunjingan orang-orang di gereja waktu itu. Tapi mungkin waktunya saja tidak tepat. Harusnya aku tidak mengatakan itu di hari yang sama.” “Bagaimana ini, Ayah, Ibu? Aku dipermalukan oleh Vincent.” Tangis Castellia pecah saat Vincent tak kunjung ditemukan. Dia bingung harus bagaimana. Hari bahagianya ternyata tidak terjadi sesuai ekspektasinya. Orang yang sangat ia cintai justru tega menyakitinya dengan cara seperti ini. “Sudahlah, Nak. Jangan ditangisi pria kurang ajar itu,” ujar Karl sambil menatap tajam kearah Edward. “Sejak awal, Ayah memang tidak setuju kau menikah dengannya. Ayah tahu, dia bukan pria yang baik untukmu. Airmatamu ini jangan dibuang untuk orang seperti dia.” “Ayahmu benar, Nak. Ibu dan Ayah melarang bukan tanpa alasan. Kami hanya inginkan kau bahagia setelah menikah, seperti saat kau hidup bersama kami,” sahut Elina sambil memeluk Castellia dan mengelus punggungnya. Castellia tak mampu membalas perkataan orang tuanya. Ia mengakui bahwa semua ini adalah salahnya. Sejak awal ia tak menghiraukan nasehat kedua orang tuanya dan lebih mementingkan perasaan Vincent saat itu. Tapi buktinya sekarang, justru Vincent yang tak menjaga perasaannya. Dia pergi seenaknya di acara penting dan tak memberi kabar. “Paman Karl,” Nick memanggil ayah Castellia. Karl mendongak lalu berdiri di hadapan Nick. “Ada apa, Nick?” “Aku tahu, ini tidak tepat. Tapi, bolehkah aku yang menjadi pendamping putrimu? Aku berjanji akan membahagiakannya, sama seperti kalian yang selalu memberinya kebahagiaan. Itupun jika kalian setuju,” ujar Nick sedikit ragu dengan keputusannya ini. Karl tersenyum senang. Ia menatap Elina dan mendapat anggukan langsung dari istrinya. Hanya saja, Castellia tampak tidak senang dengan permintaan Nick. “Aku tidak mau,” tolak Castellia. “Nak, dia Nick. Pria yang sebelumnya akan Ayah jodohkan padamu,” ujar Karl. “Dia pria yang baik dan bertanggungjawab. Ayah lebih menyukainya daripada Vincent.” “Ayahmu benar, Nak,” tambah Elina. Castellia berdiri dan berhadapan dengan Nick. Tatapan tidak sukanya masih terlihat jelas. Sementara Nick hanya tersenyum manis dan terlihat begitu tulus. “Aku tidak akan memaksa jika kau tidak ingin. Aku hanya tidak tega melihat seorang wanita menangis di hari pernikahannya,” ucap Nick dengan suara lembutnya. Gadis di hadapan Nick itu mendecih sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a. “Jangan jadi pahlawan kesiangan, Tuan Nick. Aku sudah tidak ingin menikah dengan pria manapun, termasuk kau. Bagiku, semua pria sama saja.” “Kau benar. Memang semua pria itu sama. Egois dan tidak memikirkan perasaan wanita,” kata Nick tetap dengan tatapan teduhnya. “Aku tidak akan memaksamu. Niatku hanya ingin membuatmu bahagia. Hanya itu saja.” Castellia melengos dan pergi dari hadapan Nick. Rasa sesak akibat penolakan itu pasti ada. Hanya saja, Nick mampu menyembunyikannya dengan baik. Lagipula, memaksakan kehendak pada orang lain itu tidak baik, apalagi pada seorang wanita. “Huh! Dia sama sekali tidak bersyukur ya. Padahal sudah ditinggal calonnya, tapi masih saja bersikap sombong,” cibir salah satu tamu undangan. “Putri Tuan Karl itu memang terkenal sombong. Kalau dia tidak mau menikah dengan putra Tuan Sebastian, aku anggap dia gadis yang bodoh,” ujar yang lainnya. “Ya, kau benar. Kita semua tahu siapa Nick itu. Dia itu sangat mapan dan hebatnya, dia bisa membangun perusahaan sendiri tanpa campur tangan ayahnya. Jika aku punya anak gadis, mungkin akan kujodohkan dengannya,” kata tamu yang lain. Castellia mendengus kesal saat mendengar cibiran itu. Ia tidak peduli Nick itu siapa. Yang jelas, dia tidak suka dan tidak ingin menikah dengan pria itu. Ia pun mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari gereja itu. Namun langkahnya tiba-tiba dihentikan oleh seseorang. “Kau harus menikah dengannya, Cas,” ucap gadis di depan Castellia itu. “Nick itu yang sering aku ceritakan padamu. Dia kakak kandungku. Kau lebih cocok bersanding dengannya, daripada dengan Vincent. Percayalah, dia orang yang baik.” Castellia menggeleng. “Tidak, Kath. Aku tidak bisa.” “Kau belum menjalaninya, Cas. Aku yakin, hidupmu akan bahagia bersama dengannya,” ujar Katharina Bauer yang merupakan adik kandung Nick, sekaligus teman baik Castellia di rumah sakit. “Aku mohon, Cas. Terima niat baik kakakku.” Nick yang mendengar itu pun langsung mendekati Katharina dan Castellia. “Tidak, Kath. Jangan paksa dia. Kakak tidak ingin ada paksaan di sini. Biarkan dia pergi.” “Kak, mau sampai kapan kakak hidup sendiri. Kakak juga harus menikah. Aku yakin, kalian berdua memang ditakdirkan untuk bersama.” Nick menggeleng pelan, namun tatapan memelas adiknya itu membuat ia tak sanggup untuk membantah lagi. Dia memilih diam sambil menatap Castellia. “Cas, ayolah. Ini demi kebaikanmu. Lihat, tamu undangan memandangmu sebelah mata. Mereka mengira, kau yang salah dalam hal ini sampai Vincent tega meninggalkanmu. Kakakku sudah berbaik hati melamarmu di depan orang tuamu. Jadi tolong, hargai sedikit usahanya,” ujar Katharina. Castellia menutup mata sambil menghela napas berat. Sejujurnya, ia tidak tega melihat temannya itu memohon padanya. Tapi ia juga tidak bisa menikahi pria yang tidak ia kenal sebelumnya. Bahkan ini adalah pertemuan pertamanya dengan Nick. “Aku mohon, Cas,” pinta Katharina. “Ya, baiklah. Aku bersedia menikah dengannya,” ucap Castellia akhirnya. Nick dan lainnya turut senang atas ucapan Castellia. Nick pun bergegas menuntun Castellia ke atas altar untuk berhadapan dengan pendeta dan melangsungkan pernikahan mendadak. Sungguh, takdir Tuhan tidak pernah ada yang tahu. Nick tersadar dari lamunannya saat mengingat pernikahan yang terjadi beberapa hari lalu. Sanggupkah ia menjalani kehidupan pernikahan seperti ini? Pikirnya. Nick pun menutup layar Macbook dan bergegas masuk ke kamar untuk istirahat. Kebetulan kamarnya ada di lantai satu. Meski terbilang besar, rumah Nick hanya memiliki satu penjaga yang ada di gerbang utama. Rumah sebesar dan seluas itu hanya dihuni oleh dua orang saja, Nick dan Castellia. Tak lama setelah Nick masuk, Castellia membuka pintu kamar secara perlahan lalu mengambil dua kantong plastik putih tersebut. Setelah itu, ia kembali menutup pintu dan menguncinya. Ia melihat isinya satu per satu dan entah karena kebetulan, semua adalah makanan kesukaan Castellia. Ia sampai bingung dibuatnya. “Darimana dia tahu kesukaanku?” gumam Castellia heran. “Ah sudahlah. Itu tidak penting. Yang terpenting saat ini aku makan. Astaga, perutku benar-benar tidak bisa berkompromi.” Castellia pun membuka salah satu keripik kentang lalu memutar sebuah film di Macbooknya. Ia memakan keripik tersebut sambil menonton film drama korea kesukaannya. Dia benar-benar melupakan siapa yang sudah memberikannya semua makanan itu. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD