Sudah menikah?

1416 Words
Mala terdiam sesaat, ia juga bertanya-tanya kenapa hidupnya bisa berubah dalam beberapa waktu saja. Padahal Mala sudah bersiap untuk masuk dunia perkuliahan setelah mendapat beasiswa dari satu universitas yang ada di kota Bandung. Lantas sekarang semua mimpi-mimpi harus dienyahkan oleh Mala. Miris? ya mungkin saja, tetapi setidaknya ia tidak akan bertemu dengan orang-orang yang selalu mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya. Jika keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang, maka bagi Mala tidak. Sejak kecil ia terus-terusan mendengar kata yang tidak baik. Apa yang salah dari dirinya? Apa keinginannya lahir dari sosok ibu yang sudah tidak ada? Apa karena sang ayah tidak ada, Mala harus mendengar kata-kata yang tidak pantas? Tentu saja semua ini bukan menjadi pilihan Mala melainkan apa yang terjadi adalah jalan hidup yang harus Mala hadapi dengan baik.  Rasanya tidak ada gunanya menangis sama sekali, sudah banyak air mata yang keluar tetapi hidupnya tidak ada perubahan sama sekali. Mala tidak tahu hal apa yang menunggu dirinya di depan sana, apakah hal baik atau hal yang bahkan lebih buruk dari sebelumnya? Entahlah, kita lihat saja nanti. "Kenapa melamun?" tanya Nazeef yang susah memperhatikan sang istri sejak tadi. Ia ikut melihat objek yang menarik perhatian indra penglihatan Mala. Saat ini, Mala sedang melihat rombongan perempuan yang sepertinya seusia dengan dirinya tengah asik menikmati berbagai menu di restoran. Mereka bahkan mengambil gambar dengan berbagai pose yang tidak pernah habisnya. Mala dapat tahu harga dari ponsel yang mereka pegang masing-masing, hampir semua orang juga ingin memilikinya bahkan ada yang mau menggadaikan organ tubuh bagai diri mereka sendiri. "Eh nggak apa-apa," balas Mala seperti orang yang sedang tertangkap basah. Padahal ia tidak melakukan hal yang aneh saat ini. "Kamu menyesal menikah?" Nazeef berkata dengan nada sinis, dia tahu gadis kecil di depannya ini pasti tidak ingin menikah dengan cepat. Jelas saja, sedangkan Mika ets ralat, maksud Nazeef adalah mantannya yang bahkan tidak ingin menikah dengannya padahal usianya sudah sangat matang untuk membina rumah tangga. Wahh, sepertinya Nazeef melupakan sesuatu, sang mantan tidak ingin menikah dengannya bukan karena belum ada keinginan menikah melainkan ia memang tidak ingin menikah karena finansial Nazeef yang masih terlihat belum stabil. Bolehkan Nazeef tertawa sekarang? Lucu sekali hidupnya, cinta membuat dia sampai tidak bisa melihat mana yang tulus dan mana yang hanya pura-pura tulus saja. Benar kata orang, cinta bisa membuat sosok yang terkenal pintar menjadi bodoh dalam hitungan detik. "Menyesal menikah?" ulang Mala tidak mengerti.  Ia sepertinya sudah lupa jika sekarang sudah menikah, apalagi ia tidak mengenal siapa sosok laki-laki di depannya ini. Jangan sampai dia adalah seorang mafia seperti drama-drama atau seorang agen penjual manusia. Bukannya hidup Mala tambah baik malah tambah hancur. Kepala Mala otomatis geleng-geleng sendiri, ia terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak. "Kamu masih sehat kan?" tanya Nazeef merasa aneh sendiri. Jangan sampai ia mempunyai istri yang kadar kewarasannya patut dipertanyakan. "Maaf Om, saya mau tanya boleh?" Nazeef mengerutkan keningnya. "Apa?" ucap Nazeef dengan nada datar. Mala ingin bertanya sesuatu hanya untuk sekedar memastikan saja, tidak ada niat lain sebenarnya. Tetapi sel-sel dalam tubuhnya seperti berperang, di satu sisi pertanyaan ini mungkin saja akan menyakiti lawan bicaranya. Disisi lain, pertanyaan ini harus diajukan untuk memastikan. Tolonglah sel-sel dalam tubuh, bekerjasamalah dengan baik. Jika nanti pertanyaan ini membuat Mala harus terlibat drama, maka tidak masalah karena di dalam restoran masih banyak orang. Mala bisa saja nanti berteriak kan? Oke sejauh ini tidak masalah. Ia memberanikan diri untuk merangkai kata agar tidak menimbulkan salah paham. "Kamu mau nanya apa?" ujar Nazeef lagi. Ia malah jadi penasaran sendiri sekarang, padahal ia tidak pernah jadi sosok yang kepo begini. "Kan gini, jangan marah ya Om. Saya hanya ingin memastikan sesuatu, Om-" "Buruan!!!" potong Nazeef yang sudah tidak sabaran. "Om bukan suami orangkan?" tanya Mala dengan nada suara yang cukup tinggi, bahkan beberapa orang melihat ke arah mereka. Nazeef memijit pelipisnya sejenak, satu kata yang cukup membuat dirinya ingin terjun ke lembah tidak berpenghuni yaitu "malu". "Aduuhh Om, saya nggak ada maksud apa-apa. Saya cuma ingin memasti-" Mala tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya lagi. Ia menunduk dalam seakan-akan pertanyaannya memang tidak layak untuk diajukan. Bolehkan Mala menangis sekarang? Padahal ini masih pertanyaan awal, masih ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan tetapi kenapa malah mentalnya sudah kena begini. Bisik-bisik tetangga mulai mampir ke dalam indra pendengaran Nazeef, tentu saja mereka akan beranggapan Nazeef seperti laki-laki yang tidak baik. "Kalau mau cari selingkuhan jangan anak kecil gitu dong Mas?" suara satu mulai terlihat.  Nazeef menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa malah harus ada drama dikala moodnya sedang tidak baik begini? "Iya Mas, kasihan tahu!" suara dua seakan mendukung suara pertama. "Maaf ya Mbak, ini nggak seperti yang kalian pikirkan," balas Nazeef membela diri. Ia seharusnya diam saja, tetapi lidahnya tidak bisa. "Jadi apa Mas? ganteng doang tetapi malah nggak ada pikiran." Lebih baik Nazeef diam sekarang, jika ia terus meladeni maka tidak akan ada habisnya. Jangan sampai ia menjadi viral kemana-mana karena drama ini. "Apa yang menjadi alasan kamu berpikiran kalau saya suami orang?" tanya Nazeef yang sudah geram. Ia bahkan tidak minat untuk menikmati berbagai makanan yang ada di depannya sekarang. Suami orang katanya? apa ia sudah seperti suami orang sekarang? Masih dengan raut wajah takut, Mala memberanikan diri untuk menjawab, "hanya menebak saja Om." Jawaban simple itu mampu membuat mood Nazeef sampai pada tingkat yang paling rendah. Ia langsung mengambil minuman dan menyesap minuman sampai kandas tidak bersisa lagi. Kesegaran air mampu membuat dirinya menjadi lebih rilex dari sebelumnya, beruntung mereka makan di restoran yang rasanya lumayan cocok di indra perasa Nazeef. "Menjadi istri kedua tidak masalahkan?" ucap Nazeef dengan senyum miring. Mala langsung kaget dong, padahal ia menginginkan jawaban tidak tetapi kenapa malah sebaliknya. Memang tidak ada salahnya menjadi istri kedua asal istri pertama setuju tentunya, tetapi konsepnya bukan begini. Mala tidak mau merusak hubungan orang lain, jelas saja dijelaskan dari manapun tetap ia yang salah. Wajah Mala pucat, bahkan tangannya bergetar tanpa sadar. Ia tidak berani beradu kontak mata dengan Nazeef. Sel-sel dalam tubuhnya mulai berkecamuk tidak jelas. Nazeef melihat hal itu, ia tersenyum puas. Salah sendiri siapa yang memancing-mancing, lihat sekarangkan? "Kenapa diam, menjadi istri kedua tidak masalah bukan?" ulang Nazeef lagi. Mala tidak mampu menjawab, ia memilih untuk menunduk dan sibuk berperang dalam pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin ia menikah dengan suami orang lain? Mala benar-benar merasa menjadi seorang yang akan merusak rumah tangga orang lain. "Saya belum menikah," ucap Nazeef jujur. Ia jadi tidak tega melihat Mala terdiam dengan bibir pucat seakan-akan sudah melakukan kesalahan yang besar. "Om nggak bohongkan?" tanya Mala. Wajahnya sudah terangkat sehingga terjadi kontak mata diantara mereka berdua. Nazeef tidak mengerti jalan pikiran Mala, apa wajahnya seperti orang yang sering berbohong? Tentu saja tidak, sejak dulu orang tuanya selalu mengajarkan agar Nazeef menjadi orang yang hidup dengan kejujuran. "Saya belum menikah, saya tidak setua yang kamu pikir," celetuk Nazeef geram. Ia lantas bangkit dari tempat duduk. "Om, saya minta maaf!" Mala buru-buru meminta maaf, jangan sampai ia ditinggalkan di tempat asing yang baru saja ia datangi. Mala memang sekolah di kota Bandung, tetapi ia hanya tahu daerah sekolah saja. Ia bahkan tidak pernah pergi kemana-mana, jadi wajar ia masih merasa aneh dan buta arah. Nazeef memperhatikan orang-orang disekitar mereka, kembali bisik-bisik tetangga terdengar. Jangan sampai ada yang merekam mereka, Nazeef selalu mengikuti beberapa keviralan yang terjadi di negara kelahirannya ini. Kebanyakan orang-orang merekam tanpa izin dan menyebarkan begitu saja tanpa tahu duduk permasalahannya. "Tunggu di sini, saya mau bayar dulu!" Nazeef memberikan instruksi, untung saja ia tidak pernah meninggalkan dompet jika pergi kemana-mana. Meskipun penampilan Nazeef terlihat amburadul, namun jangan meremehkan nol yang ada di kartu ATMnya. Mala mengangguk, jangan sampai karena tingkah anehnya malah ditinggal di sini. Berulang-ulang kali Mala menggaruk bagian-bagian tubuhnya yang mendadak gatal. Ia awalnya bingung kenapa bisa gatal-gatal, namun setelah dipikir dengan baik-baik ternyata gatal-gatal itu akibat ia terakhir kali mandi kemarin pagi. Bahkan bajunya saja tidak bertukar sama sekali, bagaimana mungkin tidak menimbulkan gatal-gatal dibagian-bagian tertentu dari tubuhnya. "Berapa Mas?" tanya Nazeef di tempat kasir. "Rp. 87.000 Mas." "Bisa pakai kartu debit Mas?" Karyawan kasir mengangguk. Nazeef langsung mengambil kartu debit yang sudah digunakan selama bertahun-tahun. Di dalam kartu itu sudah ada uang tabungan untuk menikah, namun nyatanya uang itu tidak berguna sama sekali. Jangan heran jika Nazeef masih lancar berbahasa Indonesia padahal ia sudah hidup bertahun-tahun di Singapura. Bagaimana mungkin Nazeef melupakan bahasa tersebut jika sang ibu selalu menggunakannya di rumah. Jangankan Nazeef, adik-adiknya saja bisa begitu lancar berbahasa Indonesia. Nazeef menunggu sejenak, ia melihat Mala dari jarak yang lumayan jauh. Sepertinya Nazeef sangat sadar apa yang tengah dialami perempuan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD