Kamu Bukan yang Pertama Untukku

2209 Words
Vanya bahagia. Sangat bahagia. Wanita mana yang tidak akan bahagia jika laki laki yang dipujanya, yang dicintainya sejak dia masih memakai putih biru menjadi suaminya? Ini seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Kenyataan yang indah.Sejak dulu Vanya percaya pada semua kisah kisah para princess yang mendapatkan pangeran impian mereka. Dan dia berharap dia bisa menjadi salah satu dari para princess itu. Sejak dulu dia selalu menganggap Dev adalah pangeran yang dikirimakn Tuhan untuknya, dan sekarang ketika dia bisa memiliki Dev, dia seperti sedang bermimpi. Mimpi yang indah. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Acara resepsi sudah selesai dilaksanakan. Vanya dan Dev akan pergi untuk bulan madu diantar para kolega terdekat. Sedikit aneh memang. Setelah hari yang panjang untuk pernikahan, mereka malah memilih untuk langsung pergi berbulan madu. Dan ini adalah usulan Dev. Tentu saja Vanya mengiyakan dengan cepat. Dev membukakan pintu audi L8 miliknya untuk Vanya, Vanya tersenyum kecil, terharu dengan sikap manis yang diberikan Dev. Dia lalu masuk ke dalam. Dev lalu mengitari mobil dan duduk di sebelahnya. Mereka menggunakan supir. Seorang pria berusia pertengahan 40 yang sudah mengabdi sejak masih remaja pada keluarga Dev. Vanya menoleh ke luar jendela dan mendapati beberapa kolega dekat mereka melambaikan tangan ke arah mereka. Vanya membuka kaca jendelanya dan melambai membalas para koleganya. Wajahnnya terlihat sangat cantik dengan kebahagiaan yang menular. Mobil lalu meluncur ke arah pantai. ********************************* Waktu menunjukkan pukul 11 malam saat mereka sampai di sebuah pantai tropis yang sangat indah. Cahaya malam membuat Vanya tidak bisa puas menikmati pemandangan. Dev membuka pintu mobil dan melangkah mendekat ke dermaga, meninggalkan sang istri. Vanya membuka pintu mobil dan berlari kecil mengejar Dev. beberapa kali dia terhantuk karang yang tersembunyi di antara pasir. Keadaan yang gelap tanpa penerangan, dan heels yang dia kenakan bukanlah padanan yang bagus untuk berlari di pantai. Dev berhenti di sebelah sebuah kapal pesiar mewah bertuliskan Royale di belakangnya. Vanya terpaku menatap kapal pesiar itu. Cantik dan mewah. Kadang dia melupakan fakta bawa suaminya adalah seorang CEO perusahaan multi internasional yang sedang berkembang pesat. Tapi suatu ingatan mengganggunya, bukankah mereka akan pergi ke rumah pantai keluarga Dev? "Dev?" Vanya berdiri di samping suaminya dan memandang suaminya dengan banyak pertanyaan,"Kukira, kita akan ke rumah pantai keluargamu?" "Memang", Suara sedingin es serasa mencengkram kehangatan jantung Vanya. Vanya menelan salivanya kaku,"Lalu? Kenapa kita sekarang berada di dermaga?" "Karena rumah pantainya berada di pulau pribadi keluargaku." Glek Vanya merasa heran dengan jawaban yang diberikan Dev. Tapi, peringatan dalam nada suaranya membuatnya bungkam. Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang sedang berdiam siap keluar bibir cantiknya. Kenapa Dev begitu dingin padanya? Bagaimana bisa Dev mendapatkan pulau pribadinya? Apa penjual belian pulau itu legal? Vanya menggelengkan kepalanya memutuskan tidak bertanya, nada suara Dev tadi jelas kalau Dev tidak mau diusik. Dev berjalan menaiki kapal pesiar itu. Vanya berdiam diri masih memikirkan semua pertanyaan di otaknya. "Kamu mau berdiam diri di situ sampai kapan? Aku tidak memiliki waktu untuk menunggumu" Vanya tersentak dengan pertanyaan sederhana yang disampaikan dengan tajam. Dia tersadar dari pemikirannya sendiri dan menoleh mencari di mana laki laki yang telah berstatus menjadi suaminya itu. Vanya melihat Dev sudah berdiri di atas kapal pesiar dengan segala pesona yang dimiliki pria itu. Wajah suaminya tampak dingin dan tidak senang. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Dev memiliki wajah yang tampan, rambutnya terlihat sangat lembut menari bersama hembusan angin yang menerpanya. "Vanya, kamu mau ikut atau tidak?" Vanya mengerjap sadar dari keterpukauannya, dia menggigit bibirnya dan menunduk,"Maaf". Vanya bergerak dan mencoba menaiki kapal pesiar itu. Tapi dia terlihat kesusahan dengan jarak yang terbentang antara dermaga dan kapal pesiar itu ditambah dia memakai A-line skirt yang menyentuh mata kakinya . Dia menatap Dev berharap Dev akan membantunya. Tapi harapan tinggalah harapan. Dev hanya mendengus melihat istrinya kesusahan dan berjalan masuk ke salah satu ruangan. Vanya kembali menelan kekecewaaan. "Nona, mari saya bantu." Vanya menoleh ke belakang dan mendapati seorang pengawal pria memakai tuksedo hitam menundukkan badannya hormat. Dari wajahnya dia perkirakan laki laki di depannya berumur sekitar pertengahan dua puluhan. "Nona terlihat kesusahan" Bahkan pria asing pun tahu kalau dia kesusahan tetapi, mengapa suaminya tidak tahu? "Terimakasih", Vanya tersenyum hangat. "Maaf nona", Pria itu menyentuh pinggang Vanya dan mengangkatnya sedikit hingga Vanya bisa menginjakkan kaki di kapal. Setelah sampai di atas kapal, pelayan pria itu undur diri. Vanya menghela nafas lelah. Vanya kamu harus kuat. Aku harusnya bisa lebih bersyukur. Karena dia sekarang adalah suamiku. Lagi pula , aku harusnya sudah terbiasa dengan sikapnya. 15 tahun menantinya harusnya bisa membuatku terbiasa. Vanya meyakinkan dirinya sendiri. Sebuah senyum kembali mengembang di wajahnya. Tapi, hati kecilnya tahu. Dia tidak pernah terbiasa. Luka selalu tertoreh. Setiap hari. Selama 15 tahun. Dan mungkin, sampai selamanya. Dikarenakan satu orang yang sama. Pria yang dicintainya Devano Albertus Royale. ******************************** Kapal pesiar berhenti di sebuah dermaga kecil. Dev turun dari kapal dengan mudah. Disusul Vanya yang turun dibantu pengawal yang tadi membantunya. "Terimakasih" Pengawal itu tersenyum hendak undur diri. "Tunggu" Pengawal itu berhenti dan menatap Vanya. "Siapa namamu?" Pengawal itu tersenyum lalu menundukkan badannya sedikit,"Saya biasa dipanggil Aries" "Terimakasih Aries" Vanya tersenyum tulus. Pria bernama Aries itu pun kembali ke dalam kapal. Dev melihat semuanya. Bagaimana Vanya bertanya dengan ramahnya pada salah satu pengawalnya. Murahan Satu kata itu diumpatkan Dev dalam hatinya. ******************************** Dev dan Vanya tiba di sebuah pondok yang sangat besar dan nyaman. Seluruh dinding didominasi kaca yang langsung memberi panorama pantai berpasir putih yang indah. Dev melangkah memasuki sebuah ruangan. Vanya melangkah mengekori Dev. Sebuah kamar yang sangat luas. Home theater mini, meja rias, pintu walk in closet dan pintu toilet didominasi warna putih yang sangat kontras dengan warna lantai yang coklat mahoni. Kaca mendominasi seluruh dinding, terdapat gordeng yang diikat di samping kaca kaca. Mata Vanya kembali menjelajahi ruangan. Hingga matanya berporos pada sebuah kasur king size yang telah ditaburi mawar. Glek Vanya menelan salivanya. Malam ini. Dia akan kehilangan keperawanannya oleh pria yang telah dicintainya selama 15 tahun. Pangerannya. Cinta pertamanya. Hidupnya. Entah kenapa rasa gugup tiba tiba menyerang dirinya. "A..aku yang pa..pakai kamar mandi pertama" Vanya langsung berlari ke dalam kamar mandi. Bahkan dia tidak sengaja menutup pintu kamar mandi keras. Vanya gugup, takut, senang, cemas, semua berkumpul jadi satu. Dia menatap wajahnya di cermin. Wajahnya memerah tidak karuan. Senyum tidak bisa berhenti mengembang di wajah tirusnya. Vanya menggelengkan kepala dan langsung melangkah ke bilik shower. ******************************** Lain Vanya lain Dev. Dev mendengus melihat kelakuan konyol Vanya. Idiot Maki Dev dalam otaknya. Entah sudah berapa puluh makian Dev untuk istrinya itu hari ini. Istri? Dev tertawa sinis saat menyebutkan kata istrinya. Tubuhnya bahkan bergetar jijik saat mengingat sebutan istri untuk perempuan yang sedang berada dalam kamar mandi itu. Harusnya bukan Vanya yang menjadi istrinya. Harusnya bukan Vanya yang menyandang nama Mrs. Royale. Bukan perempuan murahan itu! Ceklek Vanya keluar dari kamar mandi sambil menundukkan wajahnya. Badannya hanya dibalut handuk putih dari atas dadanya hingga pertengahan pahanya. Glek Penampilan Vanya membuat Dev tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dia bahkan merasa kesulitan saat menegak salivanya yang terasa panas. Dia adalah seorang laki laki yang normal, meski dia membenci Vanya, dia tidak bisa memungkiri kalau Vanya terlihat sangat menggoda. Pria mana yang tidak akan tergoda dengan sosok perempuan yang baru memasuki kamar itu? Rambutnya setengah basah, dibalut handuk dari d**a hingga pertengahan pahanya yang dia berani bertaruh tidak terdapat sehelai kain pun di balik handuk itu. Kaki putih yang jenjang dan telapak kaki yang telanjang dengan sebuah gelang kaki di kaki kirinya. Dan yang paling membuatnya bisa menggila adalah wajah merona merah karena malu. "Maaf" Dev tersadar dari keterpanaannya saat mendengar suara kecil Vanya. "Aku.. Lupa membawa baju ganti. Jadi, aku tidak memiliki pilihan lain" Dev mengerang menahan gejolak nafsunya. Dev berjalan kaku ke arah Vanya dan mendorong Vanya dari pintu kamar mandi. Dia lalu masuk kamar mandi dan menutup pintunya kasar. ******************************** Vanya merasa heran dengan sikap Dev tadi. Vanya bahkan berani bersumpah dia melihat Dev merona. Suatu hal yang tidak pernah Dev tampilkan dari wajah dinginnya. Vanya menghembuskan nafas lelah dan berjalan ke arah kopernya. Dia membuka koper itu dan melihat baju yang dia bawa. Hampir setengah koper diisi lingerie yang dipenuhi oleh mama Dev. Vanya berjengit melihat setumpuk pakaian yang transparan itu bahkan ada beberapa bermotif leopard. Baju yang lain hanyalah terusan pendek, kaos dan jeans. Tentu saja memakai jeans saat tidur sangat tidak mengenakan. Tidak usah pakai baju saja. Nanti juga kamu tidak tidak akan pakai baju saat bercinta bersama Dev. Oh astaga sejak kapan aku memiliki otak m***m seperti itu? Vanya mengambil sebuah kaos besar yang panjangnya hampir menutupi pahanya. Kaos polos berwarna abu itu milik sahabatnya Gatson Abigael. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. Kenangannya memutar sosok laki laki bernama Gatson. Laki laki jangkung berbadan tegap dan rupawan itu sahabatnya. Sahabat terdekatnya selain Gwen. Andai saja Gatson bisa datang ke acara pernikahannya pasti lengkap sudah kebahagiaannya. Sayang, pria itu masih di New Orleans untuk mengurusi rumah sakit keluarganya. Sebenarnya sahabatnya itu ingin menjadi seorang pemain band. Tapi, karena tradisi keluarganya membuatnya harus menjadi seorang dokter dan mengurusi rumah sakit serta yayasan yang didirikan oleh ayahnya. Setelah memakai baju Gatson, Vanya membereskan koper miliknya dan Dev. Dia menaruh koper itu di dalam walk in closet. Ceklek. Pintu toilet yang dibuka membuat Vanya mematung. Refleks dia langsung membalikkan badannya yang sedang membereskan kasur ke arah pintu toilet. Glek Vanya terpaksa harus menelan salivanya gugup. Dev hanya memakai celana panjang katun yang menggantung rendah di pinggangnya, membelah lekukan V yang menggoda. Badannya yang sempurna terpahat indah, dengan d**a bidang dan six pack. Tidak ada lemak yang mengganggu. Ditambah tato di badannya membuat dia semakin sempurna. Dia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya. Tiba tiba rasa gugup kembali menyergapnya. Malam ini akan menjadi malam pertamanya. ******************************** Sial! Kenapa sosoknya terlihat sesexy ini sekarang? Demi Tuhan, dia hanya memakai kaos polos kebesaran. Yaya aku tahu tanpa celana. Biar kuulangi HANYA SEBUAH KAOS.  Paha putih mulusnya seolah sedang menertawai ego milik Dev. Dev kembali memaki dalam hatinya. Ya! Tentu saja dia tahu ini adalah malam pertama mereka. Tapi Dev tidak akan menyentuhnya! Dia tidak akan menyentuh perempuan murahan itu. Walau sebenarnya birahinya sudah menggelegak berteriak. Dev berhenti mengeringkan rambutnya. Dia melihat setelan baju tidur sudah disiapkan di nakas dekat tempat tidur. Pasti perempuan itu yang menyiapkan. Dev berjalan mendekat ke arah nakas. Kebetulan perempuan itu berdiri di depan nakas. Dev berdiri di depan Vanya, terus melangkah memperkecil jarak di antara mereka. Dev bahkan bisa mencium aroma mawar yang menguar dari tubuh Vanya. Dev melihat Vanya yang semakin menundukkan kepalanya. Dia bisa melihat warna wajah dan sekitar leher hingga telinganya memerah. ******************************** Vanya menegak salivanya berkali kali. Wajahnya serasa memanas. Apakah ini benar terjadi? Apakah malam ini aku akan kehilangan keperawananku? Memikirkannya membuat Vanya semakin menundukkan kepalanya. Jarak Dev dan Vanya sudah semakin menipis. Aroma parfume brit for men menguar dari badannya. Membuat Vanya semakin mundur hingga badannya tertahan nakas. Dev mengulurkan lengannya melewati Vanya. Vanya menutup matanya erat erat. .. .. .. Tidak terjadi apapun. Vanya membuka matanya dan mendapati sosok tegap Dev yang sedang memunggunginya memakai kaos yang telah disiapkannya. Setelah selesai memakai kaosnya, Dev berjalan keluar. Saat tangannya menyentuh ganggang pintu, Vanya baru tersadar dari lamunannya. "Dev!" Vanya tidak menyangka dia akan meneriakkan nama orang yang dicintainya itu sefrustasi tadi. Dev tidak membalikkan badannya. Dia hanya berhenti dan menunggu kelanjutan ucapan Vanya.  "Kamu.." Vanya mencoba mengumpulkan semua keberaniannya. Dia menelan salivanya keras. Dia meremas tangannya untuk mengurangi rasa takutnya. "Kamu mau ke mana? Bukankah.. Bukankah malam ini harusnya menjadi malam pertama kita? Ka.. Kalau kamu lelah, kamu bisa istirahat di sini. Ja.. Jangan pergi" Dev mendengus jengkel. Dia berbalik dan menatap sosok Vanya yang masih menunduk. "Kamu mau apa? Kamu mau aku bercinta denganmu di tempat ini?" Vanya tersentak dengan tuturan Dev. Vanya mengangkat wajahnya hingga mata hazel lembutnya bertemu dengan mata abu gelap yang memandangnya tajam. "Kukira, kamu mengajakku langsung ke tempat ini untuk.. Berbulan madu?" Vanya merasakan wajahnya memerah. Dia masih terus mengumpulkan keberaniannya. Dev tertawa meremehkan. Dia berjalan mendekat hingga jaraknya dan Vanya tidak lebih dari sepanjang lengan. "Buat apa berbulan madu atas sebuah pernikahan yang sama sekali tidak kukehendaki? Aku membawa ke sini agar mama dan papaku tidak merecokiku terus dengan segala hal yang berkaitan dengan malam pertama sialan ini. Aku bahkan tidak peduli kalau kau masih perawan atau tidak. Karena bagiku, ini bukan malam pertamaku." Dev mempertipis jarak di antara mereka. Vanya merasa jantungnya dicengkram kuat saat mendengar semua penuturan laki laki yang dicintainya. Air mata mendesak ingin keluar. Dev menundukkan wajahnya agar wajahnya kini sejajar dengan Vanya. "Kamu bukan wanita pertamaku. Aku membencimu. Aku tidak pernah mencintaimu. Dulu, sekarang dan bahkan selamanya" Air mata lolos dari mata hazel Vanya. Hatinya sakit bagai ditusuk tombak panas. Jantungnya diremas kuat. Dev memundurkan wajahnya. Dia tidak mempedulikan isakan yang lolos dari bibir tipis istrinya. Dev membalikkan badan dan hendak keluar. "Lalu kenapa kamu melamarku? Kenapa kamu menikahiku?" Vanya tetap menanyakannya meski dia sudah tahu pasti jawaban yang akan didengarnya. "Karena aku terpaksa" Blam Pintu dibanting tertutup seperginya Dev. Vanya terduduk dengan air mata membasahi wajahnya. Dia menundukkan kepalanya. Membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Dia memeluk lututnya seolah itu adalah pegangannya untuk tetap hidup. Harusnya aku tahu kenapa Dev menikahiku. Harusnya aku siap menerima sikap Dev yang bahkan lebih kejam dari saat yang lalu. Ini mungkin salahku. Ini mungkin memang hukuman untukku. Karena merebut tunangan sahabatku Gwen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD