11 | Tunduk Pada Cintanya

1571 Words
Cahaya matahari menembus tirai kaca penthouse yang menghadap langit kota Roma. Suara pelan mesin espresso memenuhi ruangan. Lucan mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih yang masih sedikit terbuka di dadaa, berdiri di depan jendela besar, menatap jauh ke arah Colosseum. Taylor menghampiri, memegang tablet berisi laporan harian. "Pagi yang indah untuk seseorang yang tidur hanya tiga jam," ucapnya datar, tapi setengah mengejek. Lucan menyesap kopinya, menatap bayangan dirinya di kaca. "Tidur cukup hanya untuk mereka yang tidak diburu, Taylor." "Kalau begitu, sepertinya kita berdua pantas mati muda," sahut Taylor sarkastik. Lucan tersenyum tipis, tatapannya penuh dengan makna tersirat. "Kamu saja, saya tidak. Saya ada janji pada seseorang untuk tetap hidup lebih lama." "Sekarang saya percaya, bahkan jelmaan ibliss pun akan tetap tunduk pada cintanya." Lucan meletakkan gelas kopinya, mengangguk-angguk pelan, "Hebat, Taylor, kamu baru saja mengatai saya." Lantas mencebikkan bibir, kemudian hanya dibalas tawa kecil oleh Taylor. Taylor menaruh tablet di meja. "Laporan dari Napoli sudah masuk. Pengiriman senjata tiba dengan aman. Tapi ada rumor, pihak Dominus Consortium mulai mengendus keberadaan jaringan kita di Roma. Ke depannya, kita harus lebih berhati-hati agar tidak ada tikus yang menyusup ke wilayah kita." Lucan hanya menatapnya sebentar. "Rumor akan berhenti kalau mereka sibuk menghadapi ketakutan mereka sendiri. Pastikan mereka punya hal yang lebih penting untuk dikhawatirkan." “Selebihnya, kamu pastikan saja sebelum tikus-tikus itu masuk, siapkan perangkap dan racunnya terlebih dahulu.” Taylor mengangguk paham, lalu keluar. Lucan memutar jam tangannya, bersiap menuju kantor. Setibanya di kantor dan melangkah masuk ke lobi, semua mata otomatis mengarah padanya. "Buongiorno, Signore Maelric," sapa resepsionis dengan senyum gugup. Lucan hanya mengangguk tipis. Asistennya, Giulia, berjalan cepat di sampingnya, membawa folder tebal. Gedung kaca setinggi 30 lantai berdiri di tengah distrik bisnis Roma. Logo Voss Corporation berkilau di bawah sinar matahari. Lucan Maelric duduk di balik meja, mengenakan jas abu-abu gelap. Tangannya memegang pena Montblanc, menandatangani dokumen dengan tenang. Semua gerak-geriknya terukur, elegan, seolah tak ada yang bisa mengusik kendali dirinya. "Jadwal Anda hari ini padat, Signore Maelric," ucap Giulia, sekretaris pribadinya. "Rapat dengan investor Swiss pukul sembilan, makan siang dengan walikota Roma pukul satu, dan wawancara televisi sore nanti." Lucan menatapnya singkat, nada suaranya tenang tapi dalam. "Pastikan tidak ada yang menanyakan kehidupan pribadi saya. Wartawan kadang terlalu ingin tahu." Giulia tersenyum gugup. "Sudah saya antisipasi, Signore." Lucan berdiri, merapikan jasnya. "Bagus. Voss Corporation harus tetap terlihat steril, sebersih Roma di musim semi." "Dimengerti, Signore." *** Udara siang Roma begitu jernih, langit biru terpantul di permukaan kaca besar restoran La Rivolta, tempat para pebisnis dan politisi kelas atas biasa bersantap. Aroma roti panggang dan anggur tua memenuhi ruangan. Denting sendok dan gelas berpadu dengan suara lembut biola dari musisi jalanan di luar, menciptakan suasana yang tampak tenang, meski meja di pojok ruangan menyimpan percakapan yang jauh dari sekadar makan siang santai. Lucan Maelric duduk berhadapan dengan Walikota Roma, Signore Aldo Ferrani, pria berusia lima puluhan dengan rambut memutih di pelipis dan perut yang mulai menonjol karena terlalu sering menghadiri jamuan seperti ini. Pelayan baru saja menuangkan anggur putih dingin ke dalam dua gelas kristal, menunduk sopan sebelum berlalu. "Signore Maelric," ucap sang walikota, dengan nada ramah namun hati-hati. "Voss Corporation membawa angin segar bagi kota ini. Pabrik farmasi Anda di distrik Fiumicino menciptakan lebih dari dua ribu lapangan kerja. Tak banyak pengusaha muda yang mampu berbuat seperti itu." Lucan tersenyum kecil, senyum yang tampak ramah, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Roma memberi saya tempat untuk hidup," katanya tenang, menatap anggur di gelasnya sebelum mengangkatnya sedikit. "Saya hanya membayar kembali dengan cara yang pantas." Nada suaranya terdengar tulus, namun ada sesuatu di balik ketenangan itu. Sesuatu yang membuat sang walikota, tanpa tahu mengapa, merasakan hawa dingin samar menelusup di antara kata-kata. Sorot mata Lucan tajam, reflektif, seperti seseorang yang terbiasa memandang lebih dalam dari yang terlihat. Ferrani tertawa kecil, berusaha menjaga suasana tetap ringan. "Kalimat yang bijak sekali. Tapi saya harap Anda tidak terlalu keras pada diri sendiri, Signore. Dunia bisnis kadang membutuhkan sedikit kelonggaran." Lucan menatapnya dalam diam sejenak. "Kelonggaran adalah awal dari kelengahan," balasnya pelan, lalu menyesap anggur putihnya perlahan. "Saya tidak terbiasa membiarkan apa pun berjalan tanpa kendali." Hening singkat turun di antara mereka. Walikota berdeham kecil, menatap keluar jendela restoran, tepatnya ke arah Piazza Navona yang dipenuhi turis dan seniman jalanan. "Kota ini memang keras kepala," katanya, mencoba mengalihkan topik. "Tapi Anda berhasil menaklukkannya, setidaknya di bidang industri farmasi. Roma butuh orang seperti Anda." Lucan ikut melirik ke luar. Matanya mengikuti burung-burung yang beterbangan di atas atap kuno, menukik di antara bayangan patung di tengah Piazza. Lucan tersenyum tipis. "Tiap kota punya dua wajah," ujarnya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri. "Satu untuk dilihat, satu lagi untuk disembunyikan. Roma pun begitu." Ferrani terkekeh, mengira itu hanya filosofi seorang pengusaha muda yang terlalu banyak berpikir. "Kedengarannya filosofis sekali, Signore Maelric." "Mungkin," jawab Lucan datar, tapi suaranya memantul seperti gema dingin. "Atau mungkin saya terlalu banyak belajar dari kehidupan." Pelayan datang membawa hidangan utama, sea bass alla romana dan pasta al tartufo nero. Lucan hanya menatap makanannya sebentar sebelum menaruh serbet di pangkuan. "Bagaimana dengan izin ekspansi pabrik kami di Tivoli?" tanyanya tenang, tapi matanya menatap langsung pada sang walikota, membuat pria itu sedikit gelisah. Ferrani meneguk anggurnya, lalu menurunkan gelasnya perlahan. "Masih dalam proses, tentu. Ada beberapa detail administratif yang perlu dibicarakan." Lucan tersenyum samar, lagi-lagi senyum yang tidak membuat lega siapa pun. "Saya tidak suka menunggu terlalu lama, Signore Ferrani. Waktu adalah aset paling mahal yang kita miliki." Ferrani mengangguk cepat. "Tentu, tentu. Saya akan percepat prosesnya." Lucan mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya lebih rendah, lebih lembut tapi justru menekan. "Roma punya wajah indah, tapi juga bayangan panjang di belakangnya. Saya hanya ingin memastikan saya berdiri di sisi yang benar." Ferrani kembali tertawa, tapi nadanya gugup kali ini. "Anda benar-benar orang yang penuh perhitungan, Signore Maelric." Lucan kembali bersandar, meraih gelasnya dan mengangkatnya sedikit. "Bukan perhitungan. Saya hanya memastikan semuanya bersih. Di sini, di kota ini." Anggur beradu lembut di udara. Sementara itu, di luar restoran, lonceng basilika berdentang pelan, menandai pukul satu siang. Lucan menatap ke arah suara itu dan di matanya, untuk sepersekian detik, tersirat kelelahan. Seperti seseorang yang tahu, sebersih apa pun dia hidup di Roma, bayangan masa lalunya tidak akan pernah benar-benar hilang. *** Setelah lelah bekerja seharian penuh, bukannya istirahat, Lucan malah turun mengunjungi pelabuhan Naples sekitar pukul sebelas malam. Angin laut berembus membawa aroma asin, bercampur dengan bau logam karat dan oli dari kapal kargo yang baru bersandar. Lampu jalan berkelip, sebagian padam, memantulkan cahaya samar ke genangan air di antara kontainer yang berjejer seperti benteng. Taylor menunggu Lucan di depan pintu baja besar, wajahnya tegang seperti biasanya. "Semua sudah siap, Lucan. Barang dari Belanda sudah sampai," katanya dengan nada hati-hati. "Tapi ada sesuatu yang harus Anda lihat." Lucan tidak menjawab. Tatapannya dingin, fokus, seolah sudah tahu apa yang akan dia temui. Dia memberi isyarat tangan, dan Taylor segera membuka kunci besar di pintu gudang. Logam berderit pelan, lalu terbuka, menyingkap ruang luas berisi rak kontainer dan meja kerja dengan lampu sorot redup menggantung di atasnya. Di tengah ruangan, dua pria memegangi seseorang yang matanya ditutup kain dan tangan diikat kabel plastik. Tubuhnya gemetar. Nafasnya cepat dan tidak beraturan. Lucan berjalan pelan, langkahnya teratur, suaranya tenang tapi tajam. "Siapa dia?" Taylor menoleh sekilas ke arah pria itu. "Penguntit yang mengikuti Anda di Via dei Condotti tadi sore. Katanya cuma wartawan, tapi—" Lucan mengangkat tangannya, satu gerakan kecil yang membuat semua orang diam. Dia mendekat, berdiri hanya sejengkal dari pria yang berlutut di lantai. Lalu tanpa emosi, Lucan mengambil pisau kecil dari meja logam di sampingnya. Pisau itu berkilat di bawah cahaya dingin. "Wartawan tidak menunggu di belakang gedung jam dua pagi." "Sa-saya ... saya cuma disuruh. Saya nggak tahu siapa yang bayar saya!" Suara pria itu pecah, panik. Lucan memutar pisau di tangannya, menatap pantulan wajahnya di bilah logam. Suaranya datar dan penuh intimidasi. Alasan klasik yang sering dia dengar belakangan ini. "Kalimat itu baru akan terdengar meyakinkan setelah tiga pukulan lagi." Lucan menoleh sedikit. "Taylor?" Taylor menarik napas panjang, menatap Lucan sejenak, tatapan yang sudah memahami tanpa perlu banyak kata. "Seperti biasa?" tanyanya dengan atmosfer yang sudah berubah. Lucan menaruh pisau di atas meja, lalu berjalan menjauh dengan tenang. "Seperti biasa." Taylor memberi isyarat singkat, dan dua orang anak buahnya mulai bekerja. Suara pukulan keras terdengar, diikuti jeritan tertahan. Lucan berdiri di dekat jendela besar yang kacanya sudah retak. Dia menatap keluar, laut gelap yang memantulkan cahaya bulan pucat. Jeritan itu kembali terdengar. Lalu sunyi. Lucan tidak menoleh. Hanya tatapannya yang berubah sedikit dingin tapi dalam. "Roma indah malam ini," katanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Taylor menatap punggung Lucan dari kejauhan. "Karena Anda masih hidup," jawabnya penuh makna. Lucan memandangi refleksinya di kaca retak. Ada darah yang menetes di lantai di belakangnya, tapi dia tidak bergeming. "Hanya untuk sekarang," gumam Lucan tipis. Senyum samar muncul di sudut bibirnya, senyum milik pria yang tahu bahwa hidupnya selalu berada di ujung pisau. Lalu Lucan berbalik, berjalan keluar gudang, meninggalkan bau logam, darah, dan ketakutan. Mesin mobil hitamnya menyala, memecah keheningan malam pelabuhan Naples. Di luar, angin laut berhembus lebih keras, seolah ikut berbisik, "Lucan Maelric masih hidup." Untuk malam ini. "Taylor, kepala saya sangat pusing." "Anda perlu rawat inap, Lucan? Satu bulan terakhir sejak pulang dari Macau, Anda hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat." "Tidak. Tolong, siapkan perjalanan menuju Jakarta besok pagi. Obat saya ketinggalan di sana."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD