Chiara mondar-mandir di dalam kamar hotel, langkahnya tak beraturan, sementara ponsel Lucan masih tergenggam erat di tangan.
Padahal semalam dia sudah berniat membuang benda itu, tapi entah kenapa, sampai sekarang belum juga tega melakukannya.
"Kok Taylor nggak ngirim pesan sama sekali, sih?" gumam Chiara resah, jemarinya mengetuk-ngetuk meja konsol.
Keningnya mengerut, sementara napas mulai berat.
Sejak kemarin Lucan bilang akan pulang yang entah ke mana, Chiara tidak mendapatkan informasi apapun mengenai dirinya.
Semua hening dan diam seperti ini, membuat Chiara hampir gilaa.
"Ini beneran nggak sih, dia lagi dalam bahaya?" katanya setengah berbisik, suara Chiara bergetar. "Takutnya beneran mati kalau nggak ada kabar kayak gini."
Tidak bermaksud mengkhawatirkan atau masih ada perasaan, salah Lucan sendiri yang menakut-nakuti Chiara. Andai Lucan tidak mengatakan hal seperti itu, Chiara tidak akan kepikiran.
Chiara melirik ponselnya lagi. Dia menimbang-nimbang.
"Apa aku tanya Taylor langsung aja?" ujarnya setengah putus asa. "Sumpah, Lucan ngeselin banget."
Dia bahkan tidak ikut jalan-jalan bersama Abella, karena pikirannya benar-benar kacau sejak semalam. Chiara menunggu kabar, setidaknya dari Taylor yang mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.
Chiara akhirnya duduk di ujung tempat tidur, mengetik cepat sambil terus mendumel.
"Nggak pa-pa, Chia, anggap aja ini rasa kemanusiaan."
"Besok kamu bisa lupain semuanya. Kamu nggak ada perasaan lagi kok, cuman mau memastikan aja Lucan masih hidup dan nggak merasa bersalah udah berkali-kali sumpahin dia cepat mati."
Chiara: Taylor, apa kalian baik-baik saja?
Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya pesan itu benar-benar terkirim. Awalnya centang satu, tidak lama berubah dua. Namun, hingga satu jam berlalu, tidak juga mendapat balasan.
Chiara mendesah frustasi, menjambak rambutnya sendiri sambil menatap layar ponsel. "Ya Tuhan, kenapa sih aku kayak orang stress nungguin orang yang bahkan bukan siapa-siapa aku lagi."
Dia bersandar di kepala ranjang, menatap langit-langit dengan mata berat, tapi jantungnya belum mau tenang.
Lalu, bel berbunyi. Chiara langsung bangkit. Langkahnya cepat menuju pintu, hampir terantuk karpet. Hatinya berdegup kencang tanpa alasan.
Jangan bilang ... itu Lucan?
Begitu pintu dibuka, yang muncul hanyalah petugas hotel yang tampak sopan dengan senyum profesional.
"Permisi, Nona. Ada kiriman bunga untuk Anda."
Chiara mengedip, sedikit kecewa tapi juga penasaran. Sebuah buket besar bunga lily putih dan ungu disodorkan kepadanya. Cantik sekali, aromanya lembut.
Setelah petugas itu pergi, Chiara mengambil kartu kecil yang terselip di antara kelopak bunga.
Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Tidurlah, saya masih hidup.
—L.M.
Chiara terdiam sesaat. Dadanya sesak, antara lega dan kesal.
"Tahu dari mana aku nggak tidur?" gumamnya. "Dia ini bener-bener resek. Dasar nggak jelas."
Meski bibir Chiara terus mengomel, pipinya merona samar. Tangan dia justru mengelus bunga-bunga itu perlahan, seperti takut merusaknya. Aroma lily memenuhi ruangan, menenangkan tapi juga membuat hatinya berdebar.
Baru saja Chiara hendak meletakkan buket itu di meja, telepon kamar berbunyi.
"Selamat siang, Nona Faresta." Suara resepsionis ramah terdengar. "Ada pengantaran kedua untuk Anda. Satu jam lagi, makan siang telah dipesan untuk Nona di ruang private dining."
Chiara terdiam. "Dipesan oleh siapa?" tanyanya hati-hati.
"Tidak disebutkan, Nona. Hanya ada inisial L.M."
Hening beberapa detik. Bibir Chiara terangkat samar. "Baik, terima kasih."
Begitu telepon ditutup, dia menatap buket bunga itu lagi. Senyumnya muncul pelan, lalu menghilang lagi.
"Lucan Maelric," bisiknya, pelan namun sarat sebal. "Sampai kapan sih kamu mau main-main terus? Giliran aku udah nyerah dan berusaha lupain semua tentang kamu, kamu datang lagi seolah nggak mau kehilangan."
"Kamu satu-satunya orang paling membingungkan yang pernah aku kenal, Lucan. Aku nggak mau ngejalanin sesuatu yang fana. Aku tahu kamu orangnya nggak bisa terikat, jadi sebaiknya nggak usah aja. Kita bakal saling menyakiti kalau dipaksain bersama.”
Namun meski suaranya terdengar penuh kekecewaan, matanya memantulkan sesuatu yang berbeda, kerinduan yang enggan diakui.
***
Abella memicing ketika menghampiri Chiara, mencubit kakaknya karena merasa ada yang sedang ditutup-tutupi di antara mereka.
“Bell, sakit ih.” Chiara mengusap lengannya, tetapi setelahnya kembali sibuk pada ponselnya. “Nanti dulu kalau mau ngomong, gue ada kerjaan.”
“Lo habis makan siang sama siapa? Gw denger dari Rici, restoran vvip dikosongkan selama sejam hanya untuk menjamu tamu spesial. Katanya tamu itu adalah Nona Chiara Faresta. Yang bener aja. Jujur nggak sama gue!”
“Enggak makan sama siapa-siapa.”
“Bohong. Nggak mungkin lo sewa restoran itu sendiri cuma buat makan siang. Gilaa lo, ya?”
“Gue makan sendirian.”
“Jangan bercanda. Lo lagi deket sama siapa? Kok nggak pernah cerita sama sekali?”
Chiara menyudahi kesibukannya, menatap Abella malas. “Memangnya Rici nggak ngasih tau gue makan sama siapa?”
Omong-omong, kekasih Abella itu adalah presdir hotel tempat mereka menginap.
“Cuma nama lo yang dikasih tau sama dia. Katanya privasi, dia cukup profesional kalau soal kerjaan.”
“Gue beneran makan sendiri. Liat aja tuh foto gue.” Chiara menunjuk buket lily yang kembali dia terima saat makan siang tadi. Di sela-sela bunga itu, ada beberapa potret Chiara—menggunakan gaun putih tulang pemberian Lucan juga.
“Kok bisa? Siapa pacar misterius lo yang kaya raya itu? Kok bisa sosweet banget?” Abella menopang dagu dengan mata berbinar, penasaran dan ikut senang. “Gue senang lo dirayain. Gue ikut bahagia kalau lo udah bener-bener pulih dan move on.”
Chiara terdiam beberapa saat, memikirkannya. “Menurut lo, kembali ke orang yang sama itu bener-bener seburuk itu atau biasa aja?”
“M—maksud lo?”
“Enggak deh, nggak jadi. Lupain aja. Sana ih, jangan ganggu. Gue lagi banyak kerjaan, ketumpuk selama kita di sini.”
Abella berdecak. “Kata lo selama kita liburan, nggak ada yang boleh sambil kerja. Kita harus menikmati waktu selama di sini buat bersenang-senang. Dan juga, dari kemarin gue liat sikap lo masam banget, gue kira lo lagi sedih.”
“Gue bahagia kok.”
“Kalau ada pacar baru, ceritain gue. Kita seleksi bareng-bareng, biar lo nggak salah pilih lagi.”
“Belum ada. Gue serius, Bell.”
“Jadi lo beneran bayar sendiri—eh, tunggu dulu … siapa nih, L.M?” Abella menemui kejanggalan pada sepucuk notes di buket lily. “Selamat menikmati makan siang dengan cantik. Tuh ‘kan, lo punya pacar!” Abella ikutan gemas, mengentakkan kedua kakinya antusias.
“Apa sih, Bell? I—itu dari temen. Iya, temen gue kok.”
“Temen apa? Temen hidup?”
“Bukan. Udah deh, Bell, berisik banget. Gue lagi pusing.”
“Siapa L.M?”
“Bukan siapa-siapa.”
Abella mendengkus, mengambil notes itu. “Gue cari tahu sendiri, gue paksa Rici buat bongkar siapa pemilik inisial L.M ini.”
Chiara berusaha merebut notes itu, namun lebih dulu disembunyikan oleh Abella.
“Selama di sini, gue juga baru nyadar lo banyak menerima kiriman buket lily. Nggak asing gue sama suasana ini, ternyata studio lo juga berhubungan dengan lily. J—jangan bilang …?”
“Apa? Jangan bilang apa? Nggak usah setengah-setengah kalau ngomong, Bell!”
“L.M? Sumpah, gue sebenarnya benci tiba-tiba kepikiran satu orang ini.” Abella menatap Chiara lama, membuat debaran jantung kakaknya itu konstan melaju.
Chiara membisu, sudah bisa menebak ke mana arah obrolan mereka meski hanya dari tatap-tatapan.
“Jangan bilang L.M itu si Lucan Maelric?”