Beberapa jam sebelumnya.
Langit di Beijing terlihat cerah, menyisakan pantulan jingga di jendela kaca tinggi hotel yang Lucan tempati.
Lucan Maelric berdiri diam, satu tangan memegang gelas whisky, satu lagi terselip di saku celana kain hitamnya.
Dia menatap ke jalanan di bawah sana, matanya tajam seperti sedang mengukur jarak antara dirinya dan sesuatu yang tak kasatmata.
Saat menginjakkan kaki di Beijing, insting Lucan terus berteriak. Ada seseorang yang mengikuti dan mengawasi setiap gerak-geriknya. Entah di tengah keramaian atau di tempat-tempat yang seharusnya aman.
Lucan bukan pria yang mudah diterka. Dia jarang percaya pada kebetulan dan sekarang, dia memutuskan memburu balik bayangan yang sejak tadi bersembunyi di belakangnya.
Dengan langkah tenang, Lucan keluar dari lobi, mengenakan mantel panjang, kacamata gelap, dan topi hitam. Dua mobil pengawal mengikutinya dari jauh, sesuai instruksi.
Jalanan Beijing cukup padat, tapi Lucan tahu cara membuat jebakan. Kali ini dia sengaja mengunjungi pinggiran kota—tepatnya salah satu permukiman yang memiliki beberapa lorong atau gang kecil.
Lucan berpura-pura sedang menelepon seseorang, sementara matanya menangkap bayangan yang terus bergerak dari jarak sekitar dua puluh meter.
Begitu pria itu berbelok ke lorong yang sama, semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Lucan menunggu sampai langkah kaki asing itu mendekat, lalu menendang tong besi di sudut lorong hingga mengeluarkan bunyi keras. Saat penguntit itu menoleh refleks, Lucan muncul dari balik bayangan, menekan lehernya dengan siku, dan mengunci tangannya ke belakang.
Satu pukulan keras menghantam pelipis kiri pria itu. Tubuhnya langsung terjatuh tanpa suara.
“Kesalahanmu satu,” bisik Lucan dengan nada rendah, suaranya berat dan dingin. “Kalian mengira saya tidak tahu.”
Lucan menyuruh Taylor dan pengawalnya yang lain mengamankan pria itu, membawanya ke suatu tempat untuk di eksekusi.
***
Suara tetesan air terdengar seperti jarum di telinga. Ruangan itu gelap, hanya diterangi satu lampu gantung tua yang berayun pelan.
Pria penguntit tadi kini terikat di kursi besi, darah mengering di pelipisnya. Lucan berdiri di depannya, membuka sarung tangan kulit hitamnya perlahan. Taylor berdiri di sisi pintu, diam, memantau dengan wajah datar. Dua orang pengawal berpencar ke sekeliling untuk memastikan keadaan luar aman.
Lucan menyalakan cerutu, menghembuskan asapnya perlahan ke wajah penguntit itu. “Siapa yang menyuruhmu?” tanya Lucan datar menggunakan bahasa Mandarin. Tak ada intonasi amarah, hanya kehampaan yang menakutkan.
Penguntit itu terdiam, matanya bergerak gugup.
Dia terlihat seperti warga lokal, bukan seseorang yang sengaja dikirim dari belahan dunia sana.
Lucan menunduk sedikit, menatap tajam. “Saya tidak akan mengulang pertanyaan ini dua kali.”
“Saya tidak tahu nama mereka. Saya cuma disuruh—”
Sebuah suara keras memotong kalimatnya. Lucan menendang kursi logam itu dengan keras hingga tubuh penguntit terguncang, darah kembali mengalir dari hidungnya.
Lucan mengambil batang besi di meja, memutarnya di tangan.
“Setiap kalimat bohong,” katanya dingin, “Saya pukul satu kali.”
Dentuman logam menghantam tulang kering. Penguntit itu berteriak, napasnya tersengal. Taylor menatap ke arah lain, tapi Lucan tidak berhenti. Dia bukan pria yang tersentuh belas kasihan, Lucan hanya berhenti ketika mendapatkan kebenaran.
“Siapa?” tanya Lucan lagi.
Pria itu menggigil, tapi tetap menggeleng.
Lucan menurunkan rokoknya ke dadaa pria itu, menekannya perlahan. Bau daging terbakar mengisi ruangan.
“Kesempatan terakhir.”
Tangannya kemudian mencengkeram rahang si penguntit, memaksa matanya menatap langsung ke arah Lucan. Sorot mata itu dingin, kosong, tapi sangat hidup—seperti tatapan seseorang yang sudah terlalu sering berdiri di antara hidup dan mati.
“Saya … saya hanya menerima uang melalui perantara. Tidak tahu siapa dia,” gumam penguntit itu terbata. “Hanya kode … D—Consortium.”
Lucan diam, wajahnya berubah kaku. Nama itu membuat udara di ruangan seolah membeku. Dia menegakkan tubuh, menatap Taylor sebentar.
“Dominus Consortium,” ulangnya pelan, suaranya seperti geraman yang tertahan.
Lucan mendekat, menepuk pipi pria itu dua kali. “Sayang sekali,” katanya dengan nada dingin. “Kamu akhirnya jujur, tapi terlambat.”
Pukulan terakhir datang begitu cepat hingga tak ada waktu bagi pria itu untuk menjerit. Tubuhnya terkulai lemah. Lucan berdiri tegak, menghapus darah di tangan dengan sapu tangan putihnya. Dia menatap Taylor. “Bersihkan ini. Buang di laut sebelum tengah malam.”
Sebelum meninggalkan tempat itu, Lucan sempat berhenti di depan pintu, menatap ke ruangan sunyi yang terbengkalai.
“Kalau mereka pikir bisa mengintai saya seperti binatang liar,” gumam Lucan pelan, “Maka mereka belum tahu … siapa yang sebenarnya sedang mereka buru.”
Langkah sepatunya bergema pelan saat Lucan berjalan pergi, meninggalkan aroma darah dan asap tembakau yang masih menggantung di udara—tanda kehadiran seorang pria yang bukan sekadar mafia, tapi predator yang lahir dari kegelapan itu sendiri.
***
Langit senja turun dengan cepat. Di kamarnya, Lucan sedang mengawasi The High-Roller Room dari layar benda canggihnya.
Dia memandangi kesenangan yang berkilau seperti surga palsu, tempat para manusia tamak dan putus asa datang untuk berjudi dengan takdir mereka. Hanya saja, pikiran Lucan justru sedang tidak lagi berpusat pada mereka.
Nama itu terus-menerus terngiang di kepalanya.
Dominus Consortium.
Hantu masa lalu yang seharusnya sudah mati.
Lucan mengetuk-ngetuk jarinya di tepi meja, pikirannya bergerak cepat seperti mesin perang.
Jika Dominus benar-benar bergerak lagi, itu berarti mereka menginginkan sesuatu dan sesuatu itu pasti Cerulean Bliss. Obat biru yang kini menjadi pusat imperiumnya. Satu langkah salah, maka seluruh jaringannya di Amsterdam bisa terbakar.
“Taylor.”
Suara Lucan dalam dan pelan, tapi cukup untuk membuat tangan kanannya berdiri tegak di ambang pintu.
“Ya, Lucan.”
Lucan menatap pantulan wajahnya di kaca, lalu berkata, “Saya ingin tahu siapa perantara yang mengirim uang pada penguntit tadi. Telusuri jalur transfernya, lintas tiga lapisan bank kalau perlu. Gunakan nama Voss Corporation sebagai kamuflase. Dan Taylor .…”
“Ya?”
“Kalau orang itu masih hidup, pastikan malam ini dia tidak bernapas lagi. Saya ingin saat kita kembali ke Macau, semuanya sudah bersih.”
Taylor hanya mengangguk. Tak ada yang berani mempertanyakan perintah Lucan karena sekali dia berbicara dengan nada seperti itu, artinya keputusan sudah bersifat final.
Voss Corporation ini perusahaan farmasi internasional milik Dr. Elara Voss, ilmuwan jenius yang pernah bekerja di bawah kontrak pemerintah Eropa sebelum dipecat karena eksperimen ilegal terhadap obat penenang dan halusinogen, yang kemudian menjadi dasar terciptanya Cerulean Bliss.
Voss Corporation akhirnya digunakan Lucan sebagai cover bisnis legal, menutupi distribusi obat terlarang dan pencucian uang.
***
Lucan membalik kursinya menghadap area luar hotel yang menunjukkan gedung-gedung pencakar langit, menyalakan sebatang rokok. Asap putih melingkar di udara, kontras dengan bayangan matanya yang tajam.
Di dinding ruang itu, terpajang peta dunia besar dengan garis-garis merah yang menghubungkan titik-titik penting, Naples, Palermo, Amsterdam, Macau.
“Empat wilayah,” gumamnya. “Empat pintu kekuasaan.”
Lucan menatap titik Palermo lama, lalu menyeringai tipis.
“Mereka pikir saya masih Alaric Maelric, bocah kecil yang tidak tahu apa-apa.” Dia menekan ujung rokoknya di peta, tepat di Palermo. “Sekarang lihatlah, saya yang menciptakan perang itu sendiri.”
Pintu ruangan terbuka, Taylor kembali dengan wajah tegang. “Lucan, saya baru dapat informasi. Orang yang mempekerjakan penguntit itu menggunakan jaringan lama, jalur yang sama seperti Consortium dulu menyalurkan senjata ke timur tengah.”
Lucan menatapnya lama. “Artinya mereka ingin mengulang sejarah.”
Taylor mengangguk. “Apa yang akan Anda lakukan?”
Lucan mengambil pistol perak dan memasangnya dengan peredam. Gerakannya pelan, nyaris tenang, tapi ada aura mematikan di setiap detailnya.
“Kalau mereka ingin bermain,” kata Lucan datar, “Kita akan berikan panggung. Tapi kali ini, mereka tidak akan keluar hidup-hidup.”
Taylor menunduk. “Dan Nona Chiara, Lucan? Anda yakin dia akan aman? Sepertinya mereka tahu jika tujuan Anda ke sini untuk menemui Nona Chiara.”
Lucan berhenti sejenak, matanya sedikit bergetar saat mendengar nama wanitanya disebut. Sebuah senyum tipis, pahit, muncul di wajahnya.
“Chiara seharusnya tidak perlu tahu dunia ini, Taylor. Tapi kita harus berhati-hati untuk ke depannya. Tolong terus awasi Chiara, jangan sampai mereka menjadikan ini satu-satunya hal yang bisa membuat saya kehilangan fokus.”
Lucan mengunci pistolnya ke pinggang. “Kalau Dominus Consortium berani mengganggu apalagi sampai menyentuh Chiara,” katanya pelan, “Maka mereka baru saja menandatangani surat kematian mereka sendiri, Taylor.
Lucan berjalan keluar, meninggalkan Taylor berdiri dalam diam.
“Jangan melamun, Taylor. Ayo kita susul Chiara. Mereka sedang makan malam di sebuah restoran tengah kota. Saya ingin menemuinya terlebih dahulu sebelum kita pulang. Pastikan pengawal lain membereskan mayatt penguntit itu dan mencari tahu siapa biang masalah ini sebelum besok pagi.”
“Baik, Lucan. Sudah saya bereskan semua itu. Mereka sedang bergerak sesuai perintah. Saya pastikan besok pagi, Anda kembali ke Macau tanpa beban apapun.”
“Satu lagi, pastikan jika perangkat yang ada di bawah kulit Chiara itu selalu berfungsi dengan baik. Jangan sampai kita lengah dan Chiara dalam bahaya tanpa pengawasan.”