Adinda berkali-kali menatap jam di layar handphone nya. Sudah puluhan kali menyumpah-nyumpah pada orang yang ia tunggu dari tadi. Bagaimana bisa orang itu membuat ia menunggu hampir 3 jam di lobby apartemen ini sendirian. Beberapa orang yang lewat menatapnya risih dan bertanya-tanya. Adinda paham arti tatapan mereka karena itu ia hanya diam dan tidak peduli. Coba lihat tampilannya malam ini sama persis seperti jalang yang sedang menjajakan dirinya.
Baju yang terbuka di bagian pundak nya hingga menempel asal di atas dadanya. Dan ia hanya memakai rok mini pendek hitam dan juga vans nya. Adinda tidak pernah peduli dengan apa yang ia kenakan yang penting perasaan nyaman saat mengenakannya. Ia tidak peduli dengan mata-mata yang melihatnya, malah Adinda merasa senang karena ia terlihat seksi. Lamunannya terhenti ketika melihat sosok pria yang ia kenal.
"Hai dinda maaf ya kamu harus nunggu lama disini, harusnya aku meminta pak Agus membawamu ke apartemen" ucap pria itu dengan wajah merasa berdosa.
"Heem ,, trus sekarang ngapain kamu yang datang nemuin aku yo ? Juna mana ?" Mata Adinda mencari-cari pria yang sebenarnya ditunggu.
"Ahhh itu yaa, aku minta maaf atas nama Juna dinda, tapi dia mabuk berat sekarang malah di bawa sama anak-anak pulang ke rumahnya" jawab pria yang bernama Yoyo tersebut.
Emosi Adinda makin memuncak bagaimana bisa Juna meninggalkannya disini sendirian, harusnya ia tahu hari ini Adinda ulang tahun dan ingin merayakan dengannya berdua. Adinda pun bergegas ingin pulang, dia merasa bodoh harus menunggu pria itu disini.Tapi dengan cepat Yoyo mencegahnya, Adinda menatap tangan pria itu dengan ekspresi tidak mengerti.
"Maaf Dinda kamu beneran mau pulang dalam keadaan emosi gini? Udah jam 2 dini hari lo?" Yoyo menatap gadis manis namun urakan di depannya ini, matanya yang bulat terlihat ingin protes padanya.
Adinda terdiam, ia sebenarnya takut jika pulang jam segini dan sendirian. Dan hal yang lain membuatnya malas adalah ia sangat benci sendirian di hari ulang tahunnya apalagi dari 3 hari yang lalu Adinda merasa dalam puncak High nya.
"Terus aku harus ngapain? Juna aja ga ada!!" Jawab Adinda kesal.
"Kalo kamu mau ke rumahku aja, disitu dekat toko buku disimpang jalan, tenang aja dirumah ada kakak cewek ku kok" tawar Yoyo padanya, Adinda pun menimbang-nimbang apa perlu ia ikut sahabat pacarnya ini.
Akhirnya Adinda setuju dan mengikuti langkah pria itu yang membawanya keluar dari gedung ini. Mereka berdua memasuki mobil yang dikendarai supir tersebut. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam tanpa ada yang memulai obrolan.
Rumah yoyo terlihat sepi mungkin karena jam 2 malam, siapa juga yang mau keluyuran jam segini kalo bukan anak-anak yang mau dugem.
"Yuk masuk Dinda,," ajak Yoyo membukakan pintu rumahnya, Adinda menatap seisi ruangan ini. Sangat minimalis namun nyaman.
"Yoo maaf aku boleh ke kamar mandi ga? Mau pipis" adinda sudah dari tadi menahannya.
Ia pun diantar yoyo ke depan kamar mandi yang berada di lantai atas.
Setelah Adinda selesai dan tidak lupa ia membersihkan dirinya, entah kenapa ia tiba-tiba ingin terlihat bersih dan lebih seksi lagi didepan Yoyo.
Adinda merasa mulai aneh lagi akan tubuhnya tapi ia tidak peduli, bra yang bertali terang tadi ia kenakan langsung dilepas Adinda. Kini dadanya polos tanpa dalaman apapun, tak lupa ia menganti panty nya dengan yang paling seksi yang berbentuk hanya garis dibokongnya.
"Shit... You really are b***h tonight dinda!!!"
Adinda membuka pelan pintu kamar mandi tapi tidak terlihat dimana yoyo, mungkin saja ia berada dibawah. Adinda menuruni tangga tapi ia terkejut ketika melihat yoyo menaiki tangga, di luar terdengar suara perempuan memanggil yoyo. Lalu laki-laki itu berbalik arah.
Adinda melihat perempuan cantik berwajah hampir mirip dengan Yoyo pergi keluar membawa tas besar.
"Siapa yo??" Tanya Adinda mendekati yoyo yang menutup pintunya kembali.
"Oh itu kakak ku, dia harus pergi ke bandara malam ini karena paginya ada kerjaan mendadak di luar kota" jawab Yoyo sambil duduk disofa dan bertanya lagi apakah Dinda ingin minum sesuatu tapi gadis itu hanya menggeleng.
"Din.. gak papa kan kakak ku ga ada disini? Aku bisa aja antar kamu kalo mobil ku ga dipinjam anak-anak sih"
Yoyo bertanya sambil menatap mata gadis itu tapi ia agak gugup ketika melihat ada yang aneh dibalik baju gadis tersebut. Yoyo langsung menatap ke arah lain, juna benar gadis ini memang luar biasa penggodanya.
"Santai aja, aku gak papa ko.. aku capek yo jangan ajak aku ngobrol terus" ucap Adinda sambil merebahkan tubuhnya di samping Yoyo.
Yoyo melirik gadis itu sesaat, astaga benar-benar menguji iman para pria ini namanya, dia kan pria normal wajar saja pemandangan seperti ini membuatnya pusing dan sesak. Sayang Adinda pacar sahabatnya.
"Yo... kamu punya pacar gak sih?" Tiba-tiba pertanyaan dinda membuat Yoyo kaget.
"Gak ada ,dulu sih ada tapi 5 bulan lalu kita putus " jawab Yoyo jujur, dia memang sudah putus dengan pacarnya yang terlalu posesif.
"Hahaha ,jomblo ni yee emangnya enak?" Olok dinda menatap wajah tampan pria disampingnya.
Yoyo hanya tersenyum sambil memukul pelan jidat Dinda
"Sok tau kamu din, enak kali jomblo palingan ga enaknya karena ga ada yang manjain doang"
"Yaelah.. manjain ,, n***e kali maksud lo kan hahaha"
"Ih Dinda mulutnya" Yoyo tertawa dengan kencangnya, heran aja sih kenapa juga ada gadis sefrontal Dinda malam ini.
"Ah lo yo pura-pura ga tau sih, kita itu udah dewasa kali" ucap Dinda sambil menarik rambutnya ke atas dan mengikatnya, terlihat leher jenjang Adinda yang putih dan membuat Yoyo bergetar menatapnya.
"Napa lo liat-liat Yo pengen lo ya sama gue? Hahahaha" ucapan dinda yang keras membuat yoyo tersadar dan tersenyum malu.
"Apaan sih Din, ya gak lah.. biasa aja gue nya mah liat begituan"
"Beneran lo santai aja nih liatnya? Kalo gue naked disini juga lo ngaceng yo hahaa"
"Anjir lo Din, yailah ngaceng gue cowok normal kali"
Mereka tertawa dengan keras di tengah malam ini yang hampir menunjukan jam setengah 4 dini hari. Mata kedua manusia ini belum ada ngantuk-ngantuknya, mereka seperti saling menunggu menginginkan sesuatu dibawah sana.