"Cinta kepada lawan jenis atau cinta kepada orang tua?"
-Xavira Naraya Rahadi-
----------
"Kita kawin lari, yuk!" ajakan itu terlontar dengan santainya dari mulut Xabiru. Laki-laki itu nengucapkannya dengan nada datarnya.
Xavira hanya mengembuskan napas panjang. Pikirannya masih dipenuhi tentang Rahadi. Papinya itu pasti sedang khawatir setengah mati dengan kondisinya yang tiba-tiba tidak pulang setelah acara reuni SMA-nya berlangsung.
"Kenapa diem aja, Xav? Apa yang kamu pikirin?"
"Papi..." lirih Xavira. "Gimana pun juga, Papi itu orang tua aku, Bi."
Xabiru tahu, perdebatan akan segera dimulai.
"Aku..."
"Lupain Papi, Xav!"
Xavira memutar bola matanya jengah. Ya, Xavira tahu mungkin Xabiru membenci Rahadi karena sangat tidak menghargainya. Menganggapnya rendah. Dan terlalu meremehkan Xabiru. Namun, tetap saja Xavira tidak bisa untuk melupakan orang tua kandungnya sendiri. Terlebih, Xavira tahu bagaimana perjuangan Rahadi membesarkannya hingga dewasa tanpa seorang pendamping hidup. Lagian, jika dipikir-pikir lagi maksud Rahadi menentang hubungan Xabiru dan Xavira itu baik.
Papi, maafin aku.
Seharusnya, Xavira senang karena sudah bisa bersama dengan Xabiru. Mereka berduaan saat ini. Hal yang paling Xavira dambakan terjadi setelah semua rentetan konflik muncul satu per satu. Namun, perasaannya tidak semudah itu. Perasaan cintanya untuk Xabiru terbagi juga untuk Rahadi.
"Aku tahu, Papi keterlaluan banget sama kamu," ucap Xavira dengan nada yang hampir menangis. Raut wajah khawatir Rahadi tiba-tiba terlintas di benaknya. Xavira merasa sudah menjadi anak yang amat durhaka. Bagaimana, jika terjadi apa-apa pada Rahadi karena terlalu mengkhawatirkannya. "Tapi, nggak seharusnya kamu gini sama aku."
"Terus aku harus gimana, Xav?" Xabiru pun sebenarnya tidak sampai hati melakukan itu. "Aku pengin kita nikah. Aku pengin sama kamu."
Akankah bisa?
"Kamu tahu sendiri 'kan... aku udah minta izin baik-baik sama Papi kamu, tapi..."
"Iya, aku tahu. Lagian, Bi..." Xavira yang tadinya tidak ingin bertatap muka dengan Xabiru kini memberanikan diri untuk saling berpandangan. "Aku udah jadi milik orang lain. Dua bulan lagi aku mau nikah."
"Omonganmu nggak lucu, Xav."
Matanya memejam sesaat lalu berujar lagi. "Terserah kamu mau percaya atau enggak. Aku udah punya tunangan. Dan yang terjadi semalam itu cuma khilaf. Nggak seharusnya terjadi."
"f**k!" umpat Xabiru.
"Jadi, aku mau kita udahan. Cukup sampai sini aja. Aku nggak pernah minta kamu buat pulang. Karena aku udah nggak bisa jadi tempat tujuan kamu. Rumahmu untuk berpulang, bukan aku."
"Harus kamu, Xav. I don't need any girl for me. I really need you. Persetan sama status atau apa..."
Xavira mengibaskan tangannya bermaksud menghentikan ucapan Xabiru. "Aku kira setelah pulang dari Amerika, kamu akan bisa lebih ngertiin aku. But, kamu jadi makin egois."
Semua tentang Xabiru berubah. Mulai dari cara berpakaiannya, nada bicara yang selalu menuntut, dan keegoisan laki-laki itu yang kian menjadi-jadi. Tidak ada lagi kelembutan di tiap tutur kata yang Xabiru ucapkan.
Apakah benar yang pulang ke Indonesia ini Xabiru Kamajaya? Laki-laki yang dicintainya.
Untuk beberapa menit berlangsung, mereka berdua sama-sama terdiam. Tidak ada lagi perdebatan yang terjadi.
Kala bersama dengan Rahadi, Xavira memikirkan Xabiru. Dan kala bersama Xabiru, Xavira yang ganti memikirkan Rahadi. Dua laki-laki itu membuatnya berada di antara pilihan yang sulit. Keduanya sama-sama mempunyai posisi yang penting bagi Xavira. Satunya orang yang ia cintai sebagai lawan jenis, sedangkan satunya lagi orang yang ia cintai sebagai orang tuanya.
Xavira sempat terkejut saat melihat Xabiru membuka lemari yang letaknya tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Di dalam lemari itu ada tas dan pakaian yang dipakainya tadi malam.
"Nih," Xabiru memberikannya pada Xavira. "Hape kamu ada di dalam tas. Udah penuh baterainya."
"Kamu yang chargerin?"
"Ya, gitu," Xabiru mengusap tengkuk lehernya. "Aku nggak tega lihat kamu kayak gini."
Seakan kamu ngga bahagia sama aku.
"Aku tunggu di mobil."
Setelahnya, Xabiru berlalu keluar dari apartemennya. Keputusan Xabiru adalah membiarkan Xavira lepas, tapi tidak benar-benar melepaskannya.
Entah apa yang tengah terjadi dengan diri Xabiru, kadang kasar dan juga bisa tiba-tiba melembut dengan sendirinya.
Xavira sudah mengganti pakaiannya dengan apa yang ia pakai tadi malam. Sekarang, ia dalam perjalanan pulang menuju rumahnya dengan diantar oleh Xabiru. Dan selama dalam perjalanan itu, keduanya hanya diam.
Xavira sesekali melirik ke arah Xabiru. Ia berdeham sejenak lalu mulai membuka pembicaraan. "Bi..."
Xabiru tidak menjawabnya, hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada jalanan.
"Kenapa kemarin malam kamu ngelakuin itu lagi?" tanya Xavira. "Padahal, kamu nggak lagi mabuk kayak waktu itu."
Kemarin malam 100% penuh kesadaran Xabiru.
Xabiru menarik napas dan masih tidak berniat memberi Xavira jawaban hingga perempuan itu bersuara lagi.
"Bi, jawab aku. Why you did that?"
"Karena... aku lagi pengin ngelakuinnya."
Lagi pengin?
Kening Xavira berkerut. Hatinya terasa diremas. Jangan bilang, Xabiru melakukannya hanya sekadar melakukannya tanpa arti apa pun.
"Aku laki-laki normal," kata Xabiru dengan pandangan mata yang masih fokus di jalanan. "Kebutuhan biologisku pasti minta dipenuhi."
Jadi, itu hanya untuk pemenuhan kebutuhan biologisnya?
Sungguh, Xavira menyesal telah menanyakan hal itu pada Xabiru dan mengetahui jawabannya.
---------
Xavira pikir, Rahadi akan marah besar dan mengamuk padanya. Ternyata, ia salah. Rahadi langsung memeluknya erat seraya terisak kecil. Itu menambah rasa bersalah di hati Xavira.
Tidak seharusnya, ia terlena pada cinta lawan jenisnya. Karena ada cinta tulus dari Rahadi.
"Xavi, kamu nggak kenapa-napa 'kan?" tanya Rahadi dengan memegang kedua bahu Xavira.
Para asisten rumah tangga, satpam, orang suruhan berseragam hitam, dan Gilang juga ada di sana menanti kepulangan Xavira.
"Xa-vi... nggak pa-pa."
Melihat ada kantung hitam di bawah kelopak mata Rahadi, menandakan dengan jelas bahwa papinya itu tidak tidur semalaman. Sedangkan, ia malah bercinta tanpa henti dengan Xabiru.
Sungguh, perbuatan laknat.
Xavira terduduk di lantai sambil mencium kaki Rahadi. Kata maaf yang ia gumamkan mungkin tidak pantas atas apa yang telah dilakukannya.
"Maafin, Xavi. Papi, maafin Xavi."
"Enggak-enggak. Kamu nggak salah," Rahadi membantu Xavira untuk berdiri lagi. "Putri Papi nggak salah."
See? Rahadi kian memupuk rasa salah bercampur dosa di hatinya.
Tangis Xavira semakin kencang. Semua kejadian tadi malam saat ia bersama Xabiru bercampur dengan raut wajah lelah Rahadi saat ini menjadi ingatan yang paling menyeramkan. Di tengah derasnya hujan, ia mendesah di bawah kendali laki-laki beremgsek, sedangkan Rahadi mati-matian tengah mencarinya.
"Ceritakan pada Papi. Kamu tadi malam dari mana?"
Bersambung...