"Kita harus mencoba hal baru agar hidup tidak lagi terasa membosankan. Namun, itu justru membuatku terlena dan terlempar ke dalam jurang yang paling dalam."
-Xabiru Kamajaya-
----------
"Sial!!!!" Xabiru mencengkeram erat kemudi mobilnya. "Bego banget, sih, lo, Bi!"
Xabiru membentur-benturkan kepalanya dengan pelan pada setir mobil. Apa yang diucapkannya pada Xavira tadi sungguh disesalinya. Entah mengapa, saat Xavira menanyakan hal itu Xabiru sedikit terkejut dan refleks memberinya jawaban asal ceplosnya yang berimbas sakit hati. Seharusnya, Xabiru tidak menjawab seperti itu.
"Xav, tadi malam itu suasananya pas banget. You know? Kamu kelihatan cantik banget dan menggairahkan." Xabiru menyuarakan isi hatinya sambil menatap kaca mobil seakan sedang berbicara dengan Xavira. "Xavi, sumpah. Pertama kali ngelihat kamu duduk di samping Dea... s**t! gue udah terangsang."
Jujur.
Menurut pengamatan Xabiru, Xavira tidak banyak berubah. Ucapannya dan sikapnya itu masih Xavira banget. Tiga tahun berlalu, pertemuan keduanya melalui acara reuni SMA dengan Xavira yang memakai pakaian tidak biasa. Terlihat sangat anggun. Membuat Xabiru mabuk, bukan karena minuman beralkohol.
That's why Xabiru do it.
"Bego banget lo, Bi! Xavira jadi makin ilfeel sama lo!" sekali lagi Xabiru memukul kepalanya dengan kepalan tangan karena gemas dengan tingkah lakunya yang tidak terkontrol.
Selanjutnya, Xabiru kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemennya.
Kini, Xabiru sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia karena dirasa gajinya selama bekerja di perusahaan swasta bersama Pak Robert itu sudah lebih dari cukup untuk membuka usaha sendiri. Xabiru juga mulai belajar tentang bisnis properti dan membeli beberapa persen saham di salah satu perusahaan Xavira. Namun, ia rahasiakan namanya.
Entah kenapa, ada keinginan menggebu bagi Xabiru untuk bisa membuktikan pada Rahadi bahwa ia layak untuk Xavira.
Xabiru tidak menyangka saat kakinya sudah akan sampai di depan apartemennya, ia melihat ada seseorang yang hampir selalu menemaninya selama di Los Angeles.
"Kak Biru!"
Xabiru menghela napas. Sudah berapa kali ia melarang untuk menyebut dengan panggilan itu. Namun, tetap saja perempuan itu keukeuh menyebutnya seperti itu. "Panggil aku Xabi, bukan Biru."
"Tapi, 'kan... kata Biru itu juga bagian dari namamu. Tidak salah dong aku memanggilmu begitu."
Bego! Biru itu panggilan spesial untuk Xavira.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Xabiru to the point. Ia ingin masuk ke dalam apartemennya dan mengistirahatkan tubuhnya. Namun, Xabiru tidak ingin perempuan yang ada di hadapannya ini juga ikut masuk. Jadi, Xabiru menahannya di depan pintu apartemennya.
Perempuan itu tersenyum seraya tangannya langsung mengapit lengan Xabiru. "Ayo, kita jalan-jalan. Kak Biru 'kan sudah pernah berjanji akan mengajakku jalan-jalan, jika sudah tiba di Indonesia."
Oh, God!
"Aku ingin beristirahat."
"Yaaaaah, Kak." Wajahnya berubah murung dan makin merengek pada Xabiru. "Kak Biru, padahal sudah janji. Masak mau diingkari? Nanti umurnya pendek, lho, Kak."
Astaga!?
Nih, anak doain umur gue pendek?
"Mau, ya, Kak? Ya? Ya-ya-ya?" rayunya pada Xabiru. "Ayolah, Kak."
Xabiru memejamkan matanya sebentar lalu mengangguk. "Tapi, jangan panggil aku dengan sebutan Biru lagi. Panggil Xabi saja."
"Oke," perempuan itu menyeringai. "Kalau tidak lupa."
Pikir Xabiru, ada baiknya ia pergi keluar untuk jalan-jalan keliling ibu kota karena sudah tiga tahun ia tidak ada di sana. Pasti ada perubahan yang terjadi. Dan itu akan lebih baik, daripada waktunya ia habiskan untuk tidur di dalam apartemennya seorang diri. Xabiru tidak mau harinya berakhir membosankan. Jadi, ia akan melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan atau sudah lama tidak dilakukannya lagi.
Xabiru menoleh sebentar pada sosok perempuan yang berumur dua puluh tahun itu, tingkahnya mirip dengan Xavira semasa SMA. Selalu menempel padanya dan ingin diajak jalan-jalan, padahal Xabiru tidak punya apa-apa kala itu.
"Bi, besok 'kan hari libur. Ajak aku jalan-jalan keliling kota, ya?"
"Enggak, ah, Xav. Kamu mending ngabisin waktu liburmu buat belajar. Nanti nilaimu turun."
"Biru, nggak belajar satu hari aja itu nggak masalah. Nggak mungkin hanya karena itu aku langsung jadi si i***t yang bodoh."
Xabiru tertawa. Ada benarnya juga ucapan Xavira itu. Namun, yang membuatnya menolak ajakan Xavira untuk berjalan-jalan adalah karena ia tidak punya cukup uang untuk itu. Biasanya, Xabiru akan mengumpulkan dulu uang sakunya agar bisa mengajaknya jalan-jalan saat weekend.
----------
"Pernikahannya juga masih lama. Masih dua bulan lagi, Lang."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil lagi, Xav. Sudah cukup," Gilang mulai tidak tahan oleh tingkah Xavira. "Ini juga bukan sepenuhnya kemauanku. Papimu lah yang pertama kali meminta perjodohan ini."
Xavira diam. Karena apa yang Gilang ucapkan memang benar adanya.
"Dan ingat! Jika pernikahan ini sampai batal... kamu akan tahu hal fatal apa yang akan menimpa keluargamu, termasuk Papi dan nasib perusahaanmu."
Oke, Gilang mulai mengancamnya.
"Iya..." Xavira menggigit bagian bawah bibirnya sejenak lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Kita ke butik sekarang."
"Gitu, dong. Minta diancam dulu baru mau jalan."
Rencananya, resepsi pernikahan Gilang dan Xavira itu akan digelar semewah mungkin dengan tema King and Queen. Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana meriahnya pesta pernikahan itu nanti. Maklum, baik Gilang maupun Xavira adalah putra dan putri tunggal dari keluarga terpandang. Jadi, kedua pihak keluarga setuju merayakannya dengan banyak mengeluarkan pundi-pundi rupiah.
Sebenarnya, Xavira sudah tidak menolak akan adanya pernikahan itu. Cepat atau pun lambat itu semua pasti akan terjadi.
Xavira bosan membantah, berdebat, bahkan memohon pada Rahadi untuk membatalkan pernikahan yang didasarkan oleh perjodohan orang tua mereka. Sebab, keputusan Rahadi sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat.
Kepala Xavira terasa sedikit pusing. Mungkin, karena peliknya masalah hidup yang datang tiada henti menerpanya. Ia melirik Gilang yang tengah bersenandung riang sambil mengendarai mobilnya dengan santai.
Tidak ada salahnya 'kan, jika Xavira mulai membuka hati untuk Gilang yang notabenenya akan segera menjadi calon suaminya. Lagipula, Gilang sepertinya bukan tipe laki-laki berengsek karena ia tidak pernah memaksa kontak fisik dengan Xavira. Dan itu satu-satunya hal yang Xavira suka dari Gilang, meskipun terkadang menyebalkan dan membosankan.
"Lang..."
"Hmm?" Gilang mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik rock yang mengalun dengan volume keras di dalam mobilnya.
"Kamu masih mau 'kan, lebih bersabar lagi ngadepin aku?"
Gilang berhenti bersenandung dan menoleh pada Xavira. Namun, segera fokus lagi ke depan. Tidak seperti biasanya Xavira berucap dengan nada serius seperti ini.
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Aku butuh waktu. Untuk lupain semuanya."
"No problem. Nggak usah terlalu dipikirin," kata Gilang. Tangannya mengusap puncak kepala Xavira.
"Aku akan coba sedikit buka hatiku buat kamu."
Karena Xavira sadar, ia terlalu tertutup pada Gilang. Komunikasi pun jarang, jika bukan Gilang yang memulainya.
Yesh! Akhirnya, luluh juga 'kan lo. Dan tinggal lihat tanggal jatuhnya aja.
"Aku nggak pernah maksa kamu, Xav."
Gilang bersorak dalam hati beriringan dengan mobilnya yang sudah tiba di depan butik ternama di Jakarta.
Xavira melepas sabuk pengamannya diikuti oleh Gilang. Baru saja Xavira akan keluar dari dalam mobil, ponsel Gilang berdering. Sontak saja Xavira bertanya karena Gilang yang tidak kunjung mengangkat panggilan teleponnya itu. "Siapa, Lang?"
"Temen. Biasa lah ngajak nongkrong," jawab Gilang. "Kamu duluan aja. Nanti aku nyusul."
"Mama kamu udah ada di dalam, 'kan?"
"Yap. Mama udah nungguin dari tadi."
Xavira tersenyum simpul lalu keluar dari mobil dengan langkah kaki santai menuju butik. Dalam hatinya ia terus meyakinkan bahwa ini adalah pilihan terbaik untuk Xavira sambil mengusap perutnya.
Tanggal ini bukan masa-masa suburku, 'kan?
Dulu, Xavira pernah berharap bisa hamil karena Xabiru sudah melakukannya. Namun, nyatanya tidak. Sekarang, ia berbalik berharap tidak hamil anak Xabiru karena mereka berdua sudah tidak mungkin bersatu.
Di saat punggung Xavira mulai menjauh dan sudah masuk ke dalam arena butik, Gilang mengangkat panggilan teleponnya. "Sayang, aku lagi ada urusan. Nanti malam kita ketemuan di tempat biasa jam 10, ya. See you. Muuach."
Bersambung...