•Membosankan (B)•

919 Words
Di saat punggung Xavira mulai menjauh dan sudah masuk ke dalam arena butik, Gilang mengangkat panggilan teleponnya. "Sayang, aku lagi ada urusan. Nanti malam kita ketemuan di tempat biasa jam 10, ya. See you. Muuach." Senyum miring tercetak jelas di raut wajahnya. Setelah mematikan sambungan teleponnya, Gilang keluar dari dalam mobil. Memasuki butik, memberi salam pada Tiva dan ikut fitting baju pengantin. Selama fitting baju pengantin itu, Xavira memaksakan senyumnya. Mau bagaimana lagi, ia tidak mau mengecewakana banyak pihak nantinya. Tiva dan salah satu desainer baju pengantin ternama itu menghampiri Gilang dan Xavira sambil membawa baju pengantin yang benar-benar menakjubkan. Gilang tidak bisa membayangkan bagaimana seksinya Xavira kala mengenakan gaun itu nantinya. Gaun itu didesain dengan banyak pernak-pernik yang berkilauan di sepanjang tepian gaunnya. Satu hal yang membuat Gilang tidak sabar agar Xavira segera mencoba gaun itu adalah belahan d**a di sana yang sangat menggiurkan, apalagi di bagian punggung nantinya akan terekspos dengan sempurna karena hanya tidak ada penghalang. Xavira tampak ragu dengan pilihan gaun dari Tiva itu, ia melirik Gilang lalu bergantian menatap calon mama mertuanya. "Ma, ini apa nggak terlalu terbuka?" Tiva tersenyum sambil menggeleng mantap. "Enggak, Sayang. Mending kamu coba sekarang. Mama yakin, kamu pasti kelihatan cantik banget." Apa, sih, tolok ukur seorang perempuan yang dianggap cantik itu? Apakah yang selalu berpakain feminim dan terbuka sana-sini? Sungguh, Xavira tidak habis pikir dengan pola pikir yang seperti itu. "Ma..." suara Xavira terdengar pelan. "Aku nggak bisa?" "Nggak bisa apa, Sayang? Kamu tinggal coba gaun ini. Apa perlu bantuan..." ucapan Tiva terhenti karena Xavira memotongnya. "Aku nggak bisa untuk coba gaun ini, apalagi sampai pakai gaun ini di pesta pernikahan nanti. This not what I want." Tiva dan Gilang saling berpandangan. "Gaun ini buat aku nggak nyaman, maaf." Desainer yang mendesain gaun itu pun buka suara. Ia mengelilingi tubuh mungil Xavira. "Hmm... kamu ingin gaun yang seperti apa? Apa ada desain khusus untuk gaun pengantinmu?" Xavira tampak berpikir sejenak. "Aku ingin gaun pengantin yang sederhana." "Xavira Sayang," kata Tiva berniat membujuk Xavira. "Hari pernikahan kamu nantinya bakal jadi hari paling nggak bisa untuk dilupakan. Jadi, kamu harus totalitas untuk penampilanmu." Tetap saja, Xavira tidak mau. Ia menunduk dalam. Bagaimana bisa ia mengenakan sesuatu yang tidak nyaman membalut tubuhnya? "Ma..." suara berat Gilang terdengar, membuat Xavira mendongak. "Mama nggak bisa paksa Xavi. Kalau Xavi nggak nyaman pakai gaun itu... ya, udah. Jangan dipaksain." "Tapi, Lang... gaun ini sesuai dengan tema pesta pernikahan kalian." "Ma, please." Xavira menatap Gilang dengan bola mata yang berbinar. Ia masih tidak percaya, Gilang ikut menyuarakan suara hatinya. Gilang membelanya di depan mamanya. Satu poin plus untuk Gilang. ---------- "Enak," katanya dengan senyuman yang tidak pernah pudar selama beberapa jam ini. "Kapan-kapan kita ke Ancol, ya, Kak?" "Lihat ke depannya aja. Kalau aku ada waktu luang." "Harus ada!" "Angelin, kalau makan pelan-pelan." "Habisnya ini enak banget, sih, Kak. Kan, aku nggak pernah makan kayak gini di Amrik. Eh, ini tadi namanya nasi apa? Nasi pandan?" "Nasi padang," jawab Xabiru, tangannya menarik tisu dari kotaknya lalu mendaratkannya di bawah bibir perempuan itu. Mengusapnya perlahan, menghilangkan jejak bumbu nasi padang yang tertinggal di sana. Angelina pikir, Indonesia sangat membosankan. Ternyata, suasananya sangat berbeda dari tempat lahirnya. Apalagi, ia berkeliling hari ini ditemani Xabiru. Menambah buncahan kebahagian dalam hatinya. "Kak Biru, nggak makan?" tanya Angelina yang dihadiahi pelototan tajam oleh Xabiru. Lagi-lagi Angelina memanggilnya dengan sebutan Biru, mengingatkannya akan Xavira. "Eh, keceplosan. Maksudku, Kak Xabi." "Masih kenyang." Angelina mengangguk-anggukkan kepalanya lalu melanjutkan aktivitas makannya. Hanya butuh kurang dari sepuluh menit, semua makanan yang ia pesan sudah masuk ke dalam perut semua. Dengan senyum yang merekah, ia mengedip-ngedipkan bola matanya pada Xabiru. Laki-laki itu tahu Angelina akan meminta sesuatu lagi. "Apa lagi?" Xabiru langsung to the point. Angelina nyengir. "Beliin makanan penutup. Dessert." Xabiru tidak banyak bicara, ia bangkit dari tempat duduknya dan bersiap akan memesankan makanan pencuci mulut untuk Angelina. Namun, semua berjalan tidak sesuai apa yang ia pikirkan. Netranya menatap perempuan yang baru saja ia tiduri beberapa hari lalu bergandengan tangan dengan seorang laki-laki. Ya, dari penampilannya bisa jadi si laki-laki itu adalah apa yang dibicarakannya saat itu. Xabiru merasa oksigen yang ia hirup semakin sedikit. Dadanya terasa sesak, melebihi tumpukan rindu yang biasanya terbebani di benaknya. "Kak Xabi, kok diem aja, sih?" Angelina menyadari langkah kaki Xabiru yang berhenti tiba-tiba, ia pun menghampiri laki-laki itu. Arah pandangnya mengikuti arah pandang laki-laki itu. "Kakak, kenapa?" Entah apa yang diucapkan oleh Angelina, Xabiru tidak bisa menerima suara-suara di sekitarnya. Pikirannya penuh oleh apa yang ia lihat. Tangan Xabiru mengepal saat apa yang membuatnya diam mematung itu akan berjalan melewatinya. Sama halnya seperti Xabiru, Xavira pun merasakan hal yang sama. Bola matanya terasa panas. Bulir bening itu tidak boleh tumpah. Dua anak manusia yang dulunya sedekat nadi keberadaannya kini seakan tidak pernah mengenal satu sama lain. Mereka berdua saling melewatkan. Xavira menganggap Xabiru tidak terlihat. Perempuan itu meneruskan langkah kakinya seperti biasa, padahal ada Xabiru di depannya. Gilang yang berada di samping Xavira tidak mengetahui akan hal itu. Karena Gilang fokusnya bukan di situ. Tahan, Xav. Tahan. Jangan sampai Gilang tahu. Setelah berhasil melewati Xabiru, embusan napas panjang Xavira keluarkan. "Kak Xabi, kenapa, sih?" "Pulang." "Eh, bentar, Kak. Kita belum..." Angelina belum sempat beragumen dengan Xabiru, laki-laki itu sudah lebih dulu menarik tangannya dengan kasar. Menghempaskannya ke dalam mobil. Angelina tidak tahu, apa yang membuat Xabiru begitu kasar padanya. Apa karena ia terlalu banyak meminta diajak makan dan berkeliling kota hari? Namun, rasanya bukan karena hal itu. Pasti ada faktor lain. Aku bosan memperjuangkanmu. Shit! f**k you, Xavi. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD