5. Cinta Vs Penghianatan

1615 Words
Hai, hai, hai! Satu pertanyaan buat kalian. Kalian pilih menghianati atau dihianati? Kenapa? Tinggalkan jawaban kalian di kolom komentar ya! Selamat membaca! *** Sudah sejak satu minggu lamanya Romeo tinggal di apartemen Juliet tanpa melakukan apapun. Ia bangun pagi hari, jogging, menyiapkan sarapan untuk Juliet yang bekerja selama seharian penuh. Selama Juliet bekerja, kegiatan Romeo hanya akan diisi dengan menonton TV, mendengarkan musik atau membaca buku. Dan hal itu cukup membuat Romeo bosan setengah mati. Sebenarnya, Romeo juga mulai malu karena sebagai seorang pria, ia malah justru menumpang hidup pada Juliet. Meski tunangannya itu menerima Romeo dengan senang hati di sana tapi egonya mengatakan ini sudah lebih dari cukup. Dia laki-laki. Seharusnya dia bekerja dan melindungi Juliet bukan malah sebaliknya! Maka hari ini, Romeo bertekad untuk mencari pekerjaan. Pria itu bangun pagi-pagi sekali, mandi dan bersiap dengan kemeja yang dibelikan Juliet sebab ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun termasuk baju kecuali pakaian training yang hari itu Romeo pakai, akhirnya Juliet pun membelikannya beberapa. Tidak bisa terbilang mahal dan berkualitas tinggi seperti yang selalu dimiliki Romeo, tapi bagi Romeo, semua pemberian Juliet sangatlah berharga. Wanitanya itu memberikan lebih dari cukup untuk Romeo. "Kau mau ke mana?" Romeo menoleh saat mendengar suara serak dan seksi itu. Di sana, ada Juliet yang baru bangun. Wanita itu mengerjabkan mata menghalau sinar matahari yang menerobos melalui celah jendela kamar. "Bagaimana penampilanku? Apakah aku cukup baik?" tanya Romeo sembari memutar tubuh. Juliet beringsut bangun dan tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Mengamati penampilan Romeo dari atas ke bawah. "Kau tampan sekali. Mau pergi kencan dengan gadis lain, heh?" goda Juliet. "Hahaha, kau ini! Mana mungkin aku bisa berkencan dengan gadis lain saat aku benar-benar milikmu seutuhnya?" Romeo mengambil tempat duduk di kasur. Ia menatap wanitanya dengan pandangan penuh cinta. "Aku mau cari kerja." "Oh, benarkah?" tanya Juliet tampak antusias. "Hmm-mm," Romeo mengangguk. "Oh, akhirnya!" pekik Juliet. Ia membuang selimut tebalnya dan langsung memeluk Romeo. "Jika kau mau mencari pekerjaan, kau memerlukan ini." Juliet menarik Romeo berdiri. Wanita berambut merah itu membuka almari, nampak mencari-cari sesuatu di laci dalam hingga ia mengeluarkan sebuah dasi berbahan halus dengan warna biru gelap. Juliet berbalik, lalu segera mengalungkan dasi itu ke kerah kemeja Romeo. Dengan penuh ketulusan, Juliet pun mengikatkan dasi tersebut hingga penampilan Romeo tampak jauh lebih baik. "Sempurna!" puji Juliet. Romeo tersenyum. Ia maju untuk memeluk tubuh Juliet. "Inilah sebabnya aku sangat mencintaimu. Bagaimana mungkin ada banyak orang yang tidak menyukaimu ketika kau sebaik ini? Kau adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang memiliki hati paling baik." Mendengar hal itu Juliet tertawa kecil. Ia mendongak lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat ke bibir Romeo. "Berhenti memujiku atau aku akan terbang tinggi ke atas langit. Kau membuatku malu," kata Juliet. "Ayo, kali ini aku akan menyiapkan sarapan untukmu." Juliet menarik tangan Romeo keluar dari kamar dan menuruni tangga. Mereka langsung menuju ke arah dapur. "Ini," Juliet meletakkan sebuah sandwich hasil buatannya ke piring Romeo. Romeo menerimanya dan langsung memakannya dengan lahap. "Enak?" "Tentu saja," jawab Romeo, sekali lagi menggigit sandwich tersebut. "Kau tidak bersiap-siap untuk pergi bekerja?" tanya Romeo setelah sarapannya habis. Ia melihat penampilan Juliet yang masih terbungkus piyama tidur, padahal biasanya jam segini perempuan itu sudah bersiap. Minimal sudah selesai mandi. "Terlambat sedikit juga tidak masalah. Lagi pula badanku rasanya tidak enak." "Kau sakit?" tanya Romeo setengah panik. Ia menyentuh dahi Juliet tapi gadis itu segera menahan tangan Romeo kembali. "Aku tidak apa-apa, Sayang," kata Juliet. "Aku hanya perlu sedikit istirahat." "Kau yakin?" Juliet mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu jangan bekerja hari ini. Tetaplah tinggal di apartemen dan bilang pada bosmu jika kau sakit. Mengerti?" "Tapi aku harus-" "Juliet," potong Romeo tegas. "Apa perlu aku yang mendatangi langsung kantormu dan memintakan ijin pada bosmu?" Juliet mengerjab lalu menggeleng cepat. "Kau tidak perlu melakukan itu." "Kalau begitu turuti apa mauku, ku mohon." Romeo meremas dua tangan Juliet. Tatapannya penuh dengan permohonan. "Aku tidak ingin ada sesuatu yang buruk menimpamu." Setelah berpikir sejenak, Juliet akhirnya mengangguk. "Baiklah, Aku akan istirahat di rumah saja." "Bagus," kata Romeo puas. Ia mencium bibir Juliet. "Kalau begitu, aku akan pergi untuk mencari pekerjaan. Do'akan aku agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji yang banyak." Juliet tertawa tapi juga mengangguk. "Oke!" "Aku pergi dulu," pamit Romeo. Menit berikutnya ia sudah keluar dari apartemen Juliet. *** Beberapa detik setelah pintu apartemen tertutup, Juliet segera berlari menaiki tangga. Ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas, mencari-cari sebuah nomor telepon yang ia namai dengan nama "Mom". Juliet tersenyum, lalu menekan tombol panggil hingga terdengar nada sambung dari sbeerang. Juliet berjalan mondar-mandir di dalam kamar hingga nada sambung tersebut berganti dengan sebuah suara sapa yang terdengar akrab di telinganya. "Halo?" Tersenyum, Juliet menatap jendela kamar yang sudah ia sibak tirainya. Cuaca di luar cukup bagus hari ini. Awan biru pun terlihat sangat indah di atas sana. "Halo, Sayang?' jawab Juliet dengan senyum senang. Ia melirik jam di dinding kamarnya. "Hari ini kau bisa ke apartemenku." "Benarkah? Bukankah kau mengatakan ada tunanganmu di sana?"  "Hari ini dia pergi untuk mencari pekerjaan. Jadi dari pada aku mati bosan di tempat ini, aku mengundangmu dengan senang hati." Terdengar tawa nyaring dari seberang. "Kau memang gadisku. Aku akan sampai di sana dalam waktu 10 menit. Istriku juga sedang berada di rumah sakit." "Oh, dia sakit?" tanya Juliet penasaran. "Bukan, tapi anakku. Dia demam jadi istriku membawanya ke dokter. Sudahlah, aku akan sampai ke sana secepatnya. Biarkan aku bersiap-siap." Juliet tersenyum. "Tentu saja. Aku akan menunggumu." Baru saja Juliet hendak menutup teleponnya, pria tersebut berkata lagi. "Jangan lupa untuk memakai sesuatu yang seksi, cantik!" Juliet tertawa lalu sambungan telepon pun tertutup. Berbalik, menatap kamarnya yang bernuansa abu-abu, Juliet segera masuk ke kamar mandi. Ia menggosok gigi lalu mengisi bath-up dengan air panas, setelah itu ia menuju almari. Memilih sebuah lingerie yang ia simpan di dalam sebuah kotak pribadi. Tak butuh waktu lama bagi Juliet untuk mengganti piyama tidurnya dengan lingerie tersebut. Ting tong ting tong! Bel apartemen berbunyi. Juliet sempat merapikan rambutnya yang kusut sejenak di depan cermin sebelum ia keluar kamar, menuruni tangga dan membukakan pintu. Itu pasti kekasihnya. "Thom!" seru Juliet sembari memeluk pria berkaus polo tersebut. "Juliet," sapa pria bernama Thomas tersebut. "Aku merindukanmu." "Aku juga," jawab Thomas. Mereka berciuman lalu segera masuk. "Aku-" "Tahan apapun yang ingin kau katakan. Kau sudah mandi?" tanya Juliet. Thomas tersenyum miring. Tanpa menjawab apapun, ia langsung meraih tubuh Juliet dan menggendongnya. Juliet memekik, tertawa dan mengalungkan kedua tangannya di leher Thomas. "Jadi, di mana kamar mandinya, Tuan Putri?" tanya Thomas sembari melangkah lebih jauh masuk ke dalam apartemen Juliet. "Di sebelah sana!" tunjuk Juliet ke kamarnya yang berada di lantai dua. "Nakal sekali, kau ingin memakai kamarmu dengan tunanganmu dan bermain-main denganku, hm?" "Hahaha, dia tidak akan tau," jawab Juliet. "Dan lagi pula, itu kamar kita, bukan kamarku dengan tunanganku. Karena kaulah yang lebih dulu memakainya. Denganku." Thomas tertawa. langkahnya semakin bersemangat menaiki tangga. Sesampainya di kamar, Thomas menurunkan Juliet. Melucutii pakaian gadis itu. Juliet melakukan hal yang sama pada pria itu. Lalu selama berjam-jam lamanya, dua sejoli tersebut memadu kasih. Tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing. *** Airish memasuki sebuah gedung perusahaan berlantai 40 dengan langkah kaki tegap. Pakaian seksi yang sengaja ia kenakan dari salah satu sponsor selama ia menjadi model membungkus tubuhnya dengan indah. Tak jarang, banyak para pria yang sempat melirik atau menghentikan aktivitas paginya sejenak saat Airish lewat di depan mata mereka. "Ronald!" seru Airish saat melihat sahabatnya dari jarak beberapa meer di depan. Yang merasa dipanggil pun menoleh. Ia melambaikan tangannya pada Airish. Senyum lebar pun menghias wajah separuh Arab-nya. "Hai, darling. Kau masih hidup rupanya," kata Ronald ketika Airish sudah ada di sampingnya. Mereka berjalan beriringan menuju sebuah lift. "Hahaha, justru aku punya kabar gembira." "Apa itu?" Pintu lift terbuka. Keduanya masuk ke dalam tanpa memutus percakapan mereka. "Romeo kabur dari rumah." Mengernyit, Ronald menatap Airish tidak mengerti. "Kenapa? Bukankah kata 'kabur' terdengar kekanakan? Ayolah, aku dengar pewaris McK Group itu sudah berusia sekitar 28 tahun. Jadi lebih baik kau mengatakan jika dia ingin hidup mandiri terlepas dari keluarganya." Airish melambaikan tangan di udara. "Aku tidak tau apa itu namanya tapi dia minggat karena menolak dijodohkan denganku." "Apa? Dia menolak dijodohkan denganmu?" tanya Ronald terkejut. "Benar sekali." Airish tersenyum lebar. "Bukankah itu kabar baik? Karena aku-" "Heh, wanita sableng! Kau baru saja ditolak mentah-mentah oleh seorang calon pewaris dan kau mengatakan itu kabar gembira? Sepertinya kau perlu pergi ke dokter otak, siapa tau dia tau kenapa kau memiliki pikiran yang nyleneh." Airish tergelak. "Yah, kau kan tau aku masih belum siap untuk-" Jegrek ... cessshhh.. Lift bergoncang sejenak. Lampu di dalamnya bahkan sempat padam beberapa detik sebelum menyala kembali. Akibat goncangan tersebut, Ronald yang memiliki tubuh lebih besar refleks menarik tangan Airish dan memeluknya. Ia takut gadis bertubuh mungil ini kenapa-kenapa. Namun sepertinya itu akan menjadis ebuah kesalah pahaman yang berlanjut, sebab tepat sat itu, lift terbuka. Menampakkan sosok pria berdasi biru gelap yang sedang menunggu lift. Itu Romeo, dan ia mengenal siapa gadis yang sedang berdiri di pelukan seorang pria. Romeo akhirnya menangkap basah siapa sosok Airish, wanita yang selalu disanjung orang tuanya dan dikenal sebagai sosok wanita yang baik. "Tch," decak Romeo. Ronald mundur lalu bertanya pada Airish. Mereka masih tidak menyadari jika di balik punggung Ronald ada Romeo. "Kau tidak apa-apa?" "Hmm," jawab Airish. "Terima kasih." "Tidak apa-apa. Aku-" "Jika kalian ingin b******u atau melakukan sesuatu yang lebih aku tidak peduli. Tapi ku mohon. orng yang sedang berdiri di sini hendak naik ke dalam lift. Bisakah kalian keluar dari pada membuatku tidak nyaman nanti?" Ronald dan Airish terkejut dan menoleh. "Romeo!" seru Airish dengan mata terbelalak. Kenapa pria ini ada di sini? Romeo tersenyum lalu menyapa Airish dengan wajah yang dibuat riang. "Halo, mantan calon istri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD