"Jadi, Airish kembali lagi ke kehidupanmu?"
Juliet bertanya sembari mengelus rambut Romeo yang tengah berbaring dengan menyandarkan kepalanya di paha perempuan itu. Beberapa saat yang lalu, ia baru saja menjelaskan tentang situasinya pada Juliet.
"Hmmm, tapi kau pasti menangkap hal buruknya bukan?" kata Romeo, menenggelamkan wajahnya ke perut Juliet. Romeo memang selalu menyukai aroma tubuh kekasihnya ini. Harum dan menenangkan.
"Dijodohkan dengannya?"
Romeo mengangguk, lalu merubah posisinya menjadi duduk. "Aku mana bisa menikah dengannya saat aku sudah melamarmu? Dan kau tau betapa aku mencintaimu."
"Manis sekali," tawa Juliet sembari menyentil hidung Romeo. "Jadi karena itu kau kabur dari rumah?"
"Benar. Aku tidak tahan lagi dengan sikap kedua orang tuaku yang selalu melihatmu dengan buruk. Padahal kau adalah sosok malaikat yang Tuhan kirimkan kepada ku. Aku tidak tau kenapa mereka bisa begitu tidak menyukaimu di saat kau begitu baik dan peduli pada orang-orang."
"Mungkin mereka sedang tidak melihat saja," jawab Juliet. Tangannya bergerak menyentuh wajah Romeo, lalu ia menciumnya. "Yang penting kau tau siapa aku sebenarnya."
Romeo tersenyum lalu kini dialah yang mencium Juliet. Ciuman itu berbalas, semakin lama semakin panas hingga membuat napas mereka sama-sama memburu. Romeo bahkan sudah merebahkan tubuh Juliet dan bersiap untuk melakukan lebih.
"Tidak, tidak, Romeo. Aku harus pergi sekarang," cegah Juliet ketika tangan Romeo mulai menyusup ke dalam kemeja yang Juliet kenakan.
Tampaknya Romeo tidak mendengarkan sebab tangannya tetap bekerja, mengelus perut Juliet dengan lembut.
"Romeo ...," erang Juliet.
"Aku menginginkan mu, Juliet. Sekarang juga," gumam Romeo disela ciumannya yang mulai turun ke leher jenjang milik Juliet.
Romeo melepaskan kancing kemeja Juliet, dari atas, satu per satu. Akan tetapi saat di kancing nomor 4, tangan Juliet menahan Romeo.
"Aku tidak bisa," ucapnya dengan napas yang memburu. Mata Juliet penuh dengan kabut gairah yang berusaha ia tahan.
"Kenapa?" Sama seperti Juliet,. Romeo juga merasakan hal yang sama. Bahkan ia mulai merasa suhu tubuhnya meningkat sebab menginginkan lebih dari ini.
Juliet segera beringsut duduk, lalu berdiri untuk menjaga jarak dari Romeo.
"Juliet ...,"
"Kau tau aku memiliki janji penting," jawab Juliet sembari mengancingkan kembali kemejanya. Wanita berambut merah itu mengibaskan pakaiannya sedikit untuk menghilangkan sedikit kusut.
"Janji apa? Mengunjungi panti asuhan?"
Juliet mengangguk lalu membungkukkan badannya. Ia kembali mencium Romeo tapi kali ini dengan singkat.
"Tidak bisakah kau menundanya sebentar saja? Terlambat satu jam bukan masalah besar bukan?" tanya Romeo yang masih tidak rela kekasihnya meninggalkan dirinya di saat dia sedang dalam kondisi on.
"Dan kau juga tau jika aku tidak menyukai keterlambatan, bukan? Aku orang yang sangat tepat waktu."
"Bahkan jika itu demi aku?" ujar Romeo merajuk. "Please?" lanjutnya membujuk sembari memasang wajah memohon. Akan tetapi hal itu ternyata tidak cukup mampu untuk membuat Juliet tetap tinggal. Tampaknya gadis itu memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap segala sesuatu sekecil apapun itu.
Dan itu adalah salah satu hal yang mempu membuat Romeo tergila-gila dengan Juliet. Bayangkan saja jika mereka sudah menikah dan berkeluarga nanti, Juliet pasti akan menjadi seorang ibu yang sempurna untuk mendidik anak-anaknya. Dan yang lebih penting lagi adalah kesetiaan Juliet yang tidak akan pernah ia pertanyakan seumur hidup. Sebab menurut Romeo, wanita berkomitmen adalah wanita yang loyal, setia pada pasangan dan keluarga.
"Aku akan pulang sekitar jam 9 malam. Ada makanan di kulkas jika kau lapar," ujar Juliet sambil lalu meninggalkan Romeo. Sementara perempuan itu mengambil tas kulitnya, Romeo menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Bibirnya merengut karena kecewa.
"Hahaha, jangan pasang wajah seperti itu. Aku mencintaimu!" pamit Juliet meninggalkan apartemen.
***
Hai, hari ini dikit saja ya huhu... Lagi ada acara. Next time bakal balik normal lagi setelah saya balik ke rumah.
Oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar. Juga, mampir baca ke cerita-cerita ku yang lain karena dijamin nggak kalah serunya!
See you next chapter!
Bye ;*