Seperti pagi-pagi biasanya, Romeo akan bangun tepat ketika matahari terbit untuk melakukan jogging. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke taman untuk melakukannya, karena mansion Romeo memiliki lebih dari cukup besar taman di sekitar.
Lalu untuk sekedar infromasi, badan atletis yang pria itu miliki adalah merupakan salah satu dari hasil olah raga rutin yang Romeo jalani. Romeo ingin tetap sehat seperti ayahnya dan memiliki tubuh yang bagus.
Dengan cepat Romeo memakai kaus dan celana training. Tak lupa, ia juga mengalungkan sebuah handuk kecil di leher. Untuk mengusap keringat nanti. Karena biasanya ia akan berlari kurang lebih selama 2 jam.
Setelah semua dirasa cukup, Romeo bergegas meninggalkan kamar. Baru saja ia membuka pintu kamar ia terkejut luar biasa saat ada benda jatuh dengan bunyi gedebuk kencang.
"Apa ... apa yang kau lakukan?!" serunya saat melihat ternyata benda itu adalah seorang Airish.
Airish yang sudah tergeletak di lantai beringsut duduk. Ia mendongak hingga menyebabkan wajahnya yang masih mengantuk berat terlihat. Sungguh, Airish yang sekarang lebih terlihat mirip seperti gembel dari pada seorang model cantik.
"Sakit," gumam Airish. Ia mengelus kepalanya yang tadi terantuk lantai, sembari meraba apakah ada bagian yang benjol.
Bukannya merasa kasihan, Romeo malah melipat kedua tangan di depan d**a. "Jadi, kau tidur semalam di depan kamarku?"
Tentu saja Romeo tidak akan melupakan fakta ini, bahwa Airish menyukai kamarnya. Sejak kecil dulu, Airish memang punya kebiasaan aneh. Perempuan itu tidak bisa tidur nyenyak di kamar-kamar lain di rumahnya kecuali kamar Romeo. Tak jarang, baik Alex maupun Sivia menyuruh Romeo untuk berbagi kamar dengan Airish, yang membuat Romeo sering jengkel setengah mati.
Tapi sekarang keadaan sudah berbeda. Mereka sudah sama-sama dewasa. Jadi Airish tidak bisa seenaknya ikut tidur di kamar Romeo, terlebih saat pria itu langsung menendangnya dari kamar semalam.
"Tidak," bantah Airish menolak mengaku.
"Lantas? Apa ini?"
Airish berdiri, mengibaskan piyamanya yang sudah setengah kusut. "Aku hanya sedang berperan sebagai calon istri yang baik."
Dahi Romeo mengernyit tidak mengerti dan Airish dengan baik hati menjelaskan.
"Aku sengaja menunggumu di situ untuk menjagamu dari ... hantu, maling atau apapun itu," kata Airish mencoba terdengar masuk akal.
Romeo mendengus. "Sekarang jelas, kau lebih pantas menjadi satpamku dari pada calon istriku."
Bukannya tersinggung, Airish malah tersenyum lebar. "Benar, aku akan menjadi satpammu! Lebih tepatnya lagi, satpam di hatimu."
"Menjijikkan. Aku tidak butuh perempuan berpenampilan gembel sepertimu untuk menjaga hatiku. Lagi pula aku sudah memiliki perempuan yang menjaganya."
"Kau mau ke mana?" tanya Airish mengalihkan topik, sama sekali mengacuhkan pernyataan Romeo sebelumnya.
"Bukan urusanmu," jawab Romeo. Ia menutup pintu kamarnya lalu berjalan melewati Airish.
"Tunggu! Aku ikut!" seru Airish mengikuti Romeo yang sudah berlari kecil menuruni tangga.
***
"Sayaaaanggg ... hosh hosh ... calon suamikuuu ... hosh hosh ... Tunggu aku!" teriak Airish.
Romeo sialan! Kenapa tidak bilang kalau dia mau jogging? kata Airish dalam hati.
Mengacuhkan teriakan Airish, Romeo tetap berlari dengan kecepatan yang teratur. Udara dan cuaca pagi ini terasa sejuk, membuat Romeo semakin bersemangat menjalankan olah raga rutinnya.
"Sayaaangg!!" panggil Airish sekali lagi dengan napas tersengal. Ia mulai kepayahan mengejar Romeo. Maklum saja, mana pernah seorang Airish olah raga?!
Romeo masih saja mengacuhkan teriakan Airish. Seolah ia memang sedang berlari di tamannya yang luas seorang diri seperti biasa.
"Tunggu hosh hos ... Romeo ... " Airish akhirnya berhenti. Rasanya ia ingin muntah sekarang juga.
Benar saja, gadis itu langsung membekap mulut dan refleks berlari ke tepi. Ia pun memuntahkan isi perutnya ke tanaman hijau seperti pagar yang sudah terpangkas dengan rapi.
"Hueeek ... Hueeekk ..."
Tidak ada yang keluar melainkan cairan bening. Wajar karena dia belum sarapan.
"Kenapa kau muntah di sini?!"
Airish terkejut saat mendengar bentakan itu. Ia menoleh dan mendapati Romeo menatapnya setengah jijik setengah kesal. Ternyata pria itu berbalik badan menghampirinya setelah mendengar suara muntah.
Lalu pria itu menatap tanaman itu dengan kasihan.
"Kau akan membuat tanaman itu mati."
"Sebelum dia mati, aku yang akan mati duluan. Kenapa kau berlari cepat sekali?" omel Airish sembari menyeka mulut.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau mengikutiku?" desis Romeo.
"Aku tidak tau kau akan pergi untuk jogging!"
"Dasar bodoh! Jelas-jelas aku memakai pakaian seperti ini dan kau masih tidak tau aku mau jogging?"
Airish menarik napas, mulutnya ditekuk ke bawah. "Sudahlah, gendong aku kembali ke mansion," ujarnya lalu mendekati Romeo. Kedua tangan Airish terjulur ke depan, persis seperti anak kecil yang minta gendong.
Akan tetapi, kurang selangkah lagi dia mencapai tempat di mana Romeo berdiri, pria beriris mata biru itu sudah mencegahnya dengan menahan dahi Airish dengan jari telunjuknya, menyebabkan Airish berhenti mendekat.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuhku. Apalagi setelah kau muntah," peringat Romeo tajam. "Menjijikkan."
Airish memutar bola mata, lalu tanpa mengindahkan peringatan yang baru saja keluar dari bibir Romeo, gadis itu sudah melesat menuju balik punggung Romeo. Dengan bar-bar ia pun sudah naik ke punggung pria itu.
"Airish!"
"Hahaha, ayo, Sayang! Ayooooo kita kembali ke mansiooon!" serunya.
Romeo menggetatkan rahang. Gadis ini benar-benar menyebalkan.
"Turun sekarang juga!"
"Tidak mau! Aku mau muntah lagi! Aku tidak kuat jalan. Ini sudah terlalu jauh dari mansion."
Kesal, Romeo memutar lengan Airish yang bergantung di lehernya. Tarikan Romeo jelas sangatlah kuat hingga menyebabkan Airish terhuyung dan refleks turun dari tubuh Romeo. Ia tidak ingin mengambil resiko jatuh berdua di atas paving.
"Aku bilang menjauh dariku! Dasar perempuan menyebalkan," jengkel Romeo. Ia berbalik lalu melanjutkan lari paginya. Romeo tidak peduli kala Airish berteriak memanggil namanya berulang kali dan menyatakan ia sedang sekarat karena ingin muntah lagi.
Persetann! Biar saja dia sekalian mati! umpat Romeo dalam hati.
***
"Airish, dari mana saja kau?" Sivia terkejut melihat sosok Airish tiba-tiba muncul di ruang makan.
Airish tidak menjawab. Ia malah langsung duduk di meja makan sebelum akhirnya mengambil roti milik Romeo yang baru saja hendak ia makan.
Romeo mendelik, menatap kesal pada Airish. Baru saja ia hendak mengatai Airish, Sivia cepat-cepat mengambil alih.
"Biar Mama buatkan yang baru lagi." Sivia melirik Airish yang sedang memakan roti sarapannya dengan gigitan besar-besar. "Dia tampak kelaparan."
Romeo memutar bola mata.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Alex yang sejak tadi memperhatikan Airish.
Airish menelan makanannya lalu segera meneguk air putih di meja makan. Lagi-lagi milik Romeo.
"Aku tidak apa-apa, Om. Hanya saja, olah raga memang bukan sahabat baikku," jawab Airish sambil meringis.
"Mungkin Romeo bisa mengajarimu untuk bersahabat dengan olah raga," ucap Sivia melirik anak semata wayangnya. Sementara yang dilirik sudah mendengus kecil.
"Mom pikir aku seorang coach? Aku pengusaha Mom. Dan dia lebih butuh seorang pengasuh dari pada seorang coach," tunjuknya pada Airish.
"Atau mungkin seorang suami."
"Aku setuju denganmu, Sayang," lanjut Alex pada perkataan Sivia. Mereka berdua tersenyum.
"Dan harus berapa kali aku mengatakan pada kalian jika aku tidak akan menikahinya? Ayolah, kalian pikir kita hidup di jaman dulu? Aku tidak butuh dijodohkan!"
"Yah, tidak ada salahnya bukan? Kalian terlihat cocok satu sama lain," ujar Sivia berpendapat.
"Mom!" seru Romeo tidak terima.
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Romeo pun akhirnya menatap Alex serius.
"Aku benar-benar tidak bisa menikah dengannya Dad. Aku tidak mencintai Airish."
Kalimat Romeo sekarang membungkam semua orang yang ada di meja. Terutama bagi Airish. Apakah ini sudah saatnya dia berhenti bermain-main dengan Romeo? Sebab Airish juga tidak ingin menikah dengan Romeo.
"Kau akan mencintainya setelah—"
"Tidak! Tidak, Dad!" Romeo menarik napas. "Karena aku sudah bertunangan dengan Juliet."
Sivia yang tadi sibuk membuat roti sandwich untuk Romeo jadi berhenti. Terlalu terkejut dengan kabar itu.
"Kau apa?!" tanya Alex tidak santai.
Romeo mengangguk, lalu melanjutkan. "Dan aku sudah melamarnya."
Hening.
Tidak ada suara di meja makan itu untuk beberapa detik lamanya. Hingga Alex akhirnya berdiri. Ekspresi wajahnya begitu sulit untuk dibaca.
"Batalkan pertunanganmu dengan anak pembantu itu!" kata Alex.
"Apa? Tidak!" jawab Romeo tegas.
"Dengar, Romeo. Kau tidak boleh dan tidak akan menikah dengan Juliet. Aku dan ibumu menentangnya. Kau tau itu sejak lama dan—"
"Kenapa? Beri aku alasan kenapa kalian berdua tidak bisa menerima Juliet?" tanya Romeo gusar.
Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Romeo, Alex melanjutkan kata-katanya.
"—Airish lah yang akan menjadi istrimu. Dad dan Mom akan mempersiapkan pernikahan kalian secepatnya."
Kini Romeo tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia berdiri, sehingga tatapan matanya bisa sejajar lurus dengan sang ayah.
"Jika kau terus-terusan memaksaku untuk menikah dengan Airish, lebih baik aku pergi dari rumah ini!"
Sebelah alis mata Alex terangkat, "Oh, ya? Coba saja. Kau tidak akan bisa hidup tanpa uang dariku."
"Siapa bilang?!" tantang Romeo. "Aku bisa hidup tanpa uang darimu!"
Alex tersenyum miring dan senyuman itu diartikan Romeo sebagai senyuman merendahkan karena tidak percaya.
Mata Romeo menyipit lalu ia mendengus kesal.
"Baiklah jika itu maumu! Aku pergi dari rumah ini sekarang juga!"
Romeo berbalik, berjalan meninggalkan meja makan. Sivia meneriakkan namanya berkali-kali, tapi Romeo tetap acuh.
Lihat saja, ia pasti bisa hidup mandiri tanpa uang dari ayahnya! Dan Romeo berjanji tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi sampai kedua orang tuanya membatalkan perjodohan menggelikan itu.
"Juliet, aku harus bertemu dengan Juliet," gumam Romeo. Menaiki sebuah taksi dan segera menuju apartemen di mana kekasihnya berada.
***