Tepat saat Aurara dan Ismail berpijak di lantai mall yang luas ini, hujan pun turun dengan deras. Suara rintik hujan berpadu dengan bising suara dari dalam mall yang dapat Aurara lihat jika saat ini sedang sangat ramai. Banyak yang memakai baju rapi pertanda baru pulang kerja dan sejenak mampir untuk sekadar meminum teh atau kopi panas di cafe dalam mall. Aurara menghembuskan napas lega.
"Mail, lo di dalem jangan norak, ya? Kalo norak gue lempar dari lantai atas," ancam Aurara menunjuk lantai atas. Ismail mendelik.
"Kak Rara, Mail bukan pertama kali masuk mall. Bahkan nggak bisa diutung jari. Kak Rara tuh, terakhir kali kita ke mall bareng, Kak Rara takut naik eskalator. Lupa?" ucap Ismail jahil.
Dia tersenyum licik saat tahu sang kakak berdecak sebal.
"Waktu itu, kita mau naik ke lantai dua, Kak Rara mau cari kuncir rambut kalo nggak salah. Mail udah naik eskalator duluan, tuh. Eh, pas nengok ke belakang Kakak masih diem di bawah. Muka Kakak pucet banget." Ismail menjeda ucapannya, dia mengembungkan pipi menahan tawa. "Terpaksa Mail turun lagi, sampe dimarahin tuh sama Om-om karena ngelawan jalur. Pas Mail udah di samping Kakak, Kakak malah gandeng Mail ngejauh. Ngajak pulang. Ya Mail marah, lah. Baru juga sampe udah pulang aja."
"Mail tarik Kakak naik, Kakak malah balik tarik Mail. Kita tarik-tarikan terus sampe Kakak jatuh ke lantai terus teriak GUE TAKUT NAIK ESKALATOR, MAIL! Seketika, orang-orang ketawa, dan saat itu juga Mail pengen gelindingin diri saking malunya," curhat Ismail. Dia mengungkit kejadian yang sungguh memalukan itu.
Aurara mendengkus. "Udah, deh, kata Pak Ustadz nggak baik ngungkit keburukan orang lain. Dosa," jawab Aurara sok bijak. Padahal mah nutupin rasa malunya juga.
"Terus, abis itu Kakak malah ngajak mail lew-"
Aurara membungkam mulut Ismail yang terus membuka aib-aibnya di masa lalu dengan tidak ada lembut-lembutnya. Tinggi mereka yang tak terpaut jauh, Ismail setinggi kuping Aurara membuat mereka terlihat seperti anak kembar tengah bertengkar hingga tiba-tiba suara tawa terdengar keras.
"Serius?"
Suara itu. Aurara menoleh cepat ke arah kanan. Dan benar saja, di sana berdiri empat cowok jangkung dengan ekspresinya masing-masing. Zidan dengan wajah menyebalkannya yang kali ini sedang tertawa. Seno dengan wajah ramahnya juga ikut tertawa. Ilham dengan alis bertaut dan Kaka yang menatap Aurara datar.
"Heh, anak cacing, kedip! Segitu gantengnya kita sampe ngeliatinnya gitu banget?" Zidan berseru duluan. Tawanya perlahan reda.
"Hah? Aurara anak cacing? Bukannya anak manusia? Kok, gue baru tau ya, Dan?" sahut Ilham sengaja iseng.
"Diem deh lo, Ham. Bikin kesel aja," gertak Zidan. Dia maju selangkah lalu menepuk tangan di depan wajah Aurara.
Aurara terkesiap. Dia mengerjap-ngerjap. "Kak Zidan nggak sopan, ih."
"Bodo. Dasar norak. Naik eskalator aja takut," ejek Zidan lalu tertawa lagi.
Aurara cemberut. "Kalian denger semuanya?"
"Menurut lo?"
"Kaka denger?" tanya Aurara pada Kaka. Memastikan.
Kaka mengangguk.
Wajah Aurara pucat pasi. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ih malu."
***
"Eh, Ka! Kita ke lantai dua aja, ke cafe Lezatto." Zidan menginterupsi dari belakang. Mereka berenam sudah seperti rombongan keluarga bahagia.
Tanpa menoleh Kaka mengangguk. Mereka berbelok menuju eskalator untuk naik ke atas lantai dua. Tanpa Kaka sadari, Aurara memucat seketika. Dua langkah sebelum naik eskalator, Aurara mencegah lengan Kaka.
Kaka menoleh. "Apa?"
Aurara menggigit bibir. Dia mendongak menatap Kaka memelas. Membuat Kaka mengerutkan dahi bingung. "Kenapa?"
Tawa Zidan menggelegar di belakang. Diikuti tawa Ilham dan Seno. Ismail nyengir, mengangkat jari telunjuk dan tengah.
Sebenarnya momen inilah yang ditunggu-tunggu Zidan. Menyaksikan kenorak-an Aurara.
Kaka berdehem setelah sadar. "Ayo naik."
Aurara mendongak. "Takut."
"Ada gue."
Meksi takut-takut, Aurara mengangguk tak yakin. Lalu mulai melangkah mendekat. Kaka mengangguk yakin saat kaki mereka akan melangkah naik. Aurara merapatkan dirinya pada Kaka. Dia memejamkan mata erat.
"Jangan merem," tegur Kaka. "Buka mata lo, ayo sekarang naik. Pelan-pelan aja, jangan takut."
Aurara mengangguk. Membuka mata dan bersamaan melangkah naik eskalator dengan Kaka. Tubuhnya sejenak terenyak ke belakang. Dia semakin merapatkan tubuhnya pada Kaka, bahkan pipinya menempel persis di lengan Kaka. Eskalator bergerak pelan, Aurara merutuk dalam hati, mengapa lamban sekali jalannya.
"Kenapa takut?" tanya Kaka memecah hening.
"Aneh. Masa tangga gerak-gerak?" jawab Aurara lirih.
Kaka mengerjap. "Ini namanya teknologi. Biar kalo naik ke lantai berapapun nggak akan capek. Lift malah lebih simple lagi. Naik lift juga takut?"
Aurara menggeleng. "Kalo itu kan kita kayak naik timba air, ditarik ke atas pelan-pelan."
Kaka tergelak. Jawaban absurd Aurara di luar dugaannya. "Ayo sekarang ngelangkah lagi, kita udah sampe," suruhnya. Aurara mengangguk lalu hati-hati melangkah keluar eskalator. Dia menghembuskan napas panjang.
"Penderitaan berakhir," gumamnya lega sekali.
"Alah, penderitaan apa penderitaan? Penderitaan masa peluk-peluk Kaka? Modus lo!" ejek Zidan.
"Aku emang takut kali. Sewot mulu sih," kesal Aurara. Zidan benar-benar banyak omong.
"Dih, jaman sekarang gak ada tuh orang takut naik eskalator. Cuma lo doang. Cupu!" Zidan tak henti-hentinya berbicara.
"Dih, jaman sekarang nggak ada tuh orang jomlo suka iri sama yang pacaran. Cuma Kak Zidan doang. Cupu!" Aurara balik mengejek. Menirukan perkataan Zidan.
"s**t!"
"Dan, inget, lo suka ngomong orang ganteng haram marah, kan? Jangan marah," peringat Ilham. Zidan yang hampir lupa sontak mengangguk patuh.
"Udah, ah, ayo tunjukin mana cafe Lezatto tadi," tegur Aurara. Dia berjalan duluan sembari merangkul lengan Kaka yang hanya bisa pasrah saja.
"Minta ditunjukin malah jalan duluan." Seno tak habis pikir.
"Kan, ada Kaka," sahut Ilham.
"Tau lo Sen. Jangan mentang-mentang lagi galau jadi rada gesrek kayak Ilham." Zidan menimpali.
"Kok, bawa-bawa gue, sih?" Kali ini Ilham nge-gas. Tak terima dirinya dibilang gesrek.
"Apa lo? Lo emang gesrek. Gak nyadar? Apa gak tau? Sekarang udah tau, kan?" cerocos Zidan masih dengan nada juteknya.
Ilham memanyunkan bibir. Merajuk. Sedangkan Seno geleng-geleng tak habis pikir. Mereka bertengkar seperti anak kecil di dalam mall seramai ini. Jengah, Seno menarik Ismail— yang sedari tadi menyimak percakapan orang dewasa dengan bingung— untuk menyusul Kaka dan Aurara yang mungkin saja sudah duduk manis di dalam cafe sana.
"Aelah, lo bikin kita ditinggal," gerutu Zidan lalu berlari menyusul teman-temannya. Ilham pun menyusul masih dengan wajah sedihnya.
Di dalam cafe sangat ramai. Hampir saja Kaka dan rombongan tak mendapat meja. Namun beruntung karena sebuah rombongan sudah berdiri dan meninggalkan cafe. Cafe Lezatto ini sangat cocok untuk banyak orang seperti mereka ini karena bentuk bangkunya yang lebar berhadap-hadapan. Ornamen dalam cafe Lezatto ini hampir semuanya berwarna coklat dan terbuat dari kayu. Dari meja, bangku hingga tembok dan langit-langitnya. Dapat dibilang, cafe ini sangat instagramable sekali.
Tak lama, seorang perempuan dengan rambut hitam sebahu datang ke meja mereka. Dia tersenyum lalu menyerahkan buku menu.
"Gue spageti sama nasi goreng. Minumnya milk tea aja," ucap Zidan.
"Rakus banget."
"Masalah buat lo? Gue emang lagi laper. Gue makan baru tau rasa!" sewot Zidan pada Aurara.
"Oh, Kak Zidan makan temen ternyata. Makanya nggak juga punya pacar. Kanibal, sih." Aurara menopang dagu. Menjulurkan lidah saat Zidan melotot.
"Nggak sopan lo sama Kakak Kelas. Ismail, jangan ditiru, nanti lo gak punya temen." Zidan menoleh pada Ismail.
Ismail nyengir. Mengacungkan jempol. "Siap, Bang Zidan."
"Sok dekat sok kenal banget sama Mail." Aurara tak terima.
"Emang udah kenal, yakan?" Zidan memberikan tinjunya, lalu melakukan tos dengan Ismail.
"Mail, jangan deket-deket dia, dia itu jomlo ngenes, kalo lo ketularan gitu gimana? Kan, gawat. Secara, muka lo kan kek gue, manis dan imut," cetus Aurara. Dia memberi tatapan peringatan pada Ismail.
"Udah." Kaka menepuk pundak kiri Aurara pelan.
Aurara menoleh, lalu nyengir lebar. "Oke. Udah capek juga debat sama dia." Aurara menunjuk Zidan dengan telunjuknya.
Mbak Waiters menatap bingung ke-enam orang ini. Sedari tadi mereka hanya berdebat tanpa memilih menu. Hendak menegur mereka namun sepertinya dua dari mereka terlihat galak.
Ilham menggebrak meja. "Woy! Mbaknya udah nungguin daritadi, lo berdua malah asik debat. Kalo mau debat sana ke Mata Najwa,!" ucapnya menggebu-nggebu.
Semua menepuk dahi— kecuali Kaka.