11. Es Krim

1506 Words
"Es kriiiiimmmmm!" Kelima cowok yang bersama Aurara menutup wajah malu. Menggeleng tegas saat orang lewat menunjuk Aurara yang berteriak heboh dan loncat-loncat minta es krim-- isyarat bahwa mereka tidak kenal Aurara. Kaka dengan sikap bodo amatnya geleng-geleng. Menarik pergelangan Aurara agar cewek itu berhenti heboh. "Iya, beli es krim. Gak usah loncat-loncat," ucapnya datar namun penuh peringatan. Aurara nyengir lebar. "Beliin ya? Ya ya ya? Ini bakal jadi traktiran kamu yang pertama sejak kita pacaran." Kaka mengangguk. Jujur saja, Kaka tidak pernah mentraktir teman ceweknya. Kalau cowok mah sering. Memang dasar teman-temannya fakir traktir. Kaka berjalan duluan menuju stand es krim. Diikuti Aurara yang senyam-senyum kegirangan. Sementara Zidan, Seno, Ilham dan Ismail memilih meninggalkan Kaka dan Aurara diam-diam. Bosan sekaligus malu berjalan bersama cewek macam Aurara. "Es krim rasa cokelat satu," pinta Kaka pada mas penjual. Mas penjual es krim itu mengangguk lalu tangannya mulai gesit mengambil cup dan meraup es krim yang Kaka minta. Kaka memberikan selembar uang lalu mengambil alih es krim cokelat yang menjunjung tinggi itu. Aurara menerima es krimnya saat Kaka memberikannya. Dia mulai menikmati es krimnya. "Kok, tau, sih aku suka rasa cokelat? Jangan-jangan kita jodoh? Aamiin. Hehehe." "Cewek biasanya suka cokelat." Kaka menjawab singkat. "Iya, sih." Aurara mengernyit saat Kaka hanya memandanginya, tidak ikut membeli es krim. "Loh, Kaka nggak beli juga? Enak, loh." Kemudian dia mendekatkan es krimnya ke mulut Kaka. Kaka menggeleng. "Kenapa? Takut diabetes karena makan es krim di sebelah aku? Es krimnya nggak terlalu manis, kok. Aku juga meskipun manis nggak akan bikin diabetes, tapi malah bikin kangen." Aurara terkikik geli. Kaka tetap menggeleng. "Gue nggak suka es krim." "Karena dingin?" tanya Aurara. Dia berhenti m******t es krim. Fokus mendongak menatap Kaka. Kaka sekali lagi menggeleng. Lalu mendekatkan es krim Aurara ke bibir cewek itu. "Udah makan aja, keburu leleh." Aurara menggeleng. Kembali menjauhkan es krimnya. "Kenapa dulu? Aku, kan kepo. Apa karena kamu nggak punya uang buat beli es krim lagi?" Aurara tidak tahu saja. Uang jajan Kaka tidak akan habis bahkan jika membeli satu stand es krim ini. (Oke, lebay) "Tapi nggak mungkin. Kamu, kan orang kaya. Pasti banyak duitnya." Aurara meletakkan jari telunjuk di dagu. "Ah, aku tahu! Kamu, kan dingin, kalo makan yang dingin-dingin bisa jadi kulkas berjalan, dong!" Aurara tertawa. Hingga es krim dalam genggamannya akan luruh ke lantai. "Gue dingin?" Kaka menaikkan sebelah alis. Tangannya bergerak menggenggam tangan Aurara yang bebas. Digenggamnya erat beberapa detik hingga bisa merasakan suhu badan Aurara. "Tangan lo yang dingin," ucapnya lalu melepas genggaman. Jika tidak sedang memegang es krim. Aurara sudah salah tingkah dan menutup wajahnya malu karena perlakuan Kaka. Entah kenapa, setiap sentuhan Kaka mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Aurara makin jatuh cinta saja. "I-ya. Ta-tangan kamu anget." Aurara gelagapan. Kaka mengedikkan bahu."Itu berarti lo yang dingin, bukan gue." Kaka berjalan meninggalkan Aurara yang masih mencerna ucapan Kaka barusan. Aneh memang, mall ini terasa dingin. Tapi mengapa tangan Kaka terasa hangat? "Loh, dayang-dayang kita kemana?" tanya Aurara saat menyadari tak mendapati empat s*****n-- ditambah Ismail di tempat semula. "Mereka lagi di tempat games," jawab Kaka seadanya. "Ngapain?" "Main games. Apalagi?" Aurara malah menggeleng takzim. "Pantesan nggak dapet pacar juga. Orang masih kayak bocah. Masa udah mau lulus SMA masih main di mall? Itu, kan buat anak kecil. Dasar masa kecil kurang bahagia." "Bawel," celetuk Kaka. Aurara menoleh. "Masa, sih?" Kaka mengangguk. Aurara nyengir. "Gapapa aku bawel. Aku sukanya tetep kamu doang, kok." Lah? Apa hubungannya? Kaka terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dari tatapan mata gadis ini, tidak sama sekali dia temukan ada kebohongan disana. Aurara ... menyayanginya dengan tulus. Kaka menatap datar. "Lo mau kemana sekarang? Ayo gue anter." "Emh, aku mau beli kuncir rambut aja. Malu juga kunciran pake karet gelang." Aurara menunjuk rambutnya. Yang masih setia terkuncir tinggi menggunakan karet gelang berwarna merah. "Kenapa nggak dari dulu beli kuncir rambut?" tanya Kaka. Aurara nyengir. "Udah beli. Tapi selalu ilang," jawabnya. "Ilang apa lupa?" "Lupa naro sih hehehe. Padahal selalu aku pake, dilepas pun cuma pas mau tidur. Aneh ya? Sering dipake tapi lupa," terang Aurara cengengesan. "Ayo." Kaka mulai melangkah, diikuti Aurara yang berjalan di sampingnya. Ketika menyadari mulutnya terasa lengket, Aurara menarik lengan hoodie putih Kaka. Kaka menunduk. "Apa?" "Mulut aku lengket. Mau cuci muka dulu. Anterin ke toilet dulu, ya?" pinta Aurara. Dia menggerakkan mulutnya dari dimonyongkan, nyengir sampai miring sebelah berharap lengketnya dapat berkurang. Kaka terlihat berpikir sejenak. "Gue tunggu sini." "Ih! Nggak bisa gitu, dong!" Aurara berseru tak terima. "Bisa. Kenapa nggak bisa?" Kaka memasukkan kedua tangannya di saku hoodie. Ikut berhenti saat Aurara menghentikan langkah dan justru menatapnya kesal. "Tadi katanya aku mau kemana kamu mau nganterin? Gimana, sih? Lupa?" cerocos Aurara. Dia bersedekap d**a. Kaka mengehela napas. "Ra ...." Aurara melotot. "Apa? Nggak mau anterin? Oh, oke! Aku bakal teriak kalo kamu itu suka sama Hello kitty." Kaka mendelik. "Kata siapa? Jangan ngaco." "Ya kata aku, lah. Kan, aku bilang barusan. Mall ini besar, aku takut kesana kemari sendiri. Lagian aku nggak tahu toiletnya dimana." Aurara menyapu pandang. Mall semakin ramai. "Tau." "Hah?" "Lo tau toiletnya dimana. Udah sana. Gue tunggu sini," jawab Kaka lempeng. Aurara mencebik. Menghentakkan kaki kesal lalu berjalan cepat menuju toilet setelah sebelumnya melemparkan tas selempangnya ke arah Kaka yang langsung cowok itu tangkap. *** "Hem, oke. Dilla suka boneka apa, Sen?" Zidan bertanya dengan dahi berkerut dalam. Dia memerhatikan satu persatu boneka dengan berbagai macam warna dan bentuk. Dalam toko boneka ini, sekitar ada sepuluh rak yang memajang aneka boneka dari yang kecil hingga besar dan dari yang bentuknya normal hingga abnormal. Seno mengusap dagu. Lalu menggaruk alisnya. "Gue nggak tau. Tapi cewek biasanya suka boneka yang warna pink." "Apa kita beliin boneka babi aja? Itu, kan warna pink," usul Zidan. Sudah hampir satu jam mereka berempat hanya berdiri memandangi para boneka yang tak balik memandang mereka dan belum juga menemukan boneka apa yang disukai Dilla. Seno menggeleng. "Jangan, babi tuh haram. Yang lain yang lain." "Bang Zidan, kita beliin boneka buat siapa, sih?" Ismail yang semenjak tadi memperhatikan pun akhirnya menyuarakan rasa penasarannya. Zidan menoleh. Lalu menunjuk Seno yang asik menimang-nimang boneka apa yang sekiranya cocok untuk Dilla. "Bang Seno suka main boneka? Kayak Jelita, dong," seru Ismail. "Bukan buat Bang Seno. Tapi buat gebetan Abang," jawab Seno akhirnya. "Jelita? Siapa Jelita? Anaknya Annisa Bahar?" Zidan yang memang suka kepo bertanya. Sejenak dia mengalihkan perhatian dari boneka-boneka itu pada Ismail yang malah tersenyum kikuk. "Jelita itu ... temen Mail. Iya! Temen Mail Bang." Ismail menjawab heboh. Anak kecil itu mencengkeram ujung bajunya gugup. Zidan mengernyit. "Perasaan gue nanyanya biasa aja, deh. Kenapa lo jawabnya heboh banget? Jangan kayak Kakak lo, deh. Ngeri gue." "Dan, udah jangan bacot mulu. Ini bantuin gue nyari biar kita cepet-cepet keluar. Lo gak liat daritadi banyak yang liatin kita?" Seno melirik takut ke arah samping. Disana banyak cewek yang memperhatikan mereka. Mungkin heran mengapa tiga cowok ganteng tengah berada di toko boneka yang biasanya banyak dimasuki oleh cewek saja. Zidan justru melambai pada mereka yang langsung mendapat respon pekikan heboh. Seno justru segera memukul punggung Zidan keras. "Lo jangan ganjen, deh. Kek cowok gak laku aja. Udah, ayo pindah kesana." Seno menunjuk ke arah rak boneka lainnya. Lalu menarik kerah belakang Zidan yang masih asik melambai dan mengedipkan mata genit pada cewek-cewek tersebut. Ilham dan Ismail mengikuti. "Bang Ilham," panggil Ismail saat mereka telah tiba di rak lainnya. Seno dan Zidan kembali berdebat. "Iya?" "Gebetan itu apa?" Ilham diam sejenak. Antara lucu dan bersyukur bahwa masih ada anak seusia Ismail yang sepolos ini. Jaman sekarang anak SD pun banyak yang sudah pacaran bahkan memanggil satu sama lain Mama Papa dan sejenisnya. Jangan ditanya apa itu gebetan, definisi pelakor saja mereka pasti tau. "Mmm. Gebetan itu sejenis Pdkt. Simpelnya gini. Ismail suka sama temen yang tadi namanya Jelita-" "Mail nggak suka Jelita!" Ismail tak terima. "Ini seumpama. Jadi Ismail suka Jelita, Ismail kayak menargetkan kalo Jelita itu harus jadi pacar Ismail nanti. Gitu," jelas Ilham. Dia menggaruk belakang kepalanya. Ragu dengan penjelasannya sendiri. "Menargetkan-menargetkan, lo kira lagi Pilpres! Lo tuh masih kecil, Mail. Belum waktunya ngerti begituan. Mending belajar yang bener biar gak b**o kayak kakak lo," tukas Zidan sewot saat selesai berdebat dengan Seno. "Hush, lo kalo ngomong di depan anak kecil difilter dulu, kek. Ngatain kakaknya didepan adeknya sendiri." Seno geleng-geleng. "Udah, deh jangan urusin gue. Lo urusin tuh boneka mana yang cocok buat Dilla." Zidan mendorong bahu Seno agar lebih mendekat ke arah rak boneka. "Gue ada usul," sela Ilham saat Zidan dan Seno akan berdebat kembali. "Apaan lo? Udah gak usah ngomong. Palingan juga usul lo unfaedah banget. Udah hapal gue." Zidan menyuruh Ilham bungkam. Kalau begini dia menyesal menawarkan bantuan agar Seno dapat mendekati Dilla setelah penolakan tempo hari. "Nggak boleh suudzon, dong Dan sama sahabat sendiri. Jadi gini, Dilla kan mukanya jutek tuh, dia juga jahat udah nolak Seno berkali-kali-" "Gak usah diperjelas juga, Ham." Seno setengah sabar. Ilham cengegesan. "Nah, dari situ kita bisa cari karakter boneka apa yang sesuai buat Dilla." "Boneka apa?" tanya Seno. Wajahnya berubah antusias. "Gimana kalo Dilla kita beliin boneka Annabelle?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD