12. Mikhayla

1816 Words
"Hai, Kaka, Zidan." Kaka dan Zidan menoleh mendengar sapaan itu. Perjalanan mereka yang hendak ke kantin terhenti oleh suara yang nyaris mereka lupa itu suara siapa. Setelah sepenuhnya menghadap sang penyapa, Zidan berseru. "Mikhayla?!" "Hai." Cewek yang disapa Mikhayla itu tersenyum. Melambai pada Kaka yang hanya diam saja. Kaka mengangguk. Tak sama sekali terkejut atas kehadiran Mikhayla. "Astaga! Gue pangling banget. Lo makin cantik aja, sih. Rambut lo, rambut lo yang bikin beda," seru Zidan masih heboh. Dia menunjuk rambut pirang Mikhayla yang berbeda dari enam bulan lalu. Mikayla terkekeh. Menyentuh rambutnya sendiri. "Gimana? Keren, nggak? Di sana rambutnya hampir pirang semua, biar dikira dari Amerika beneran, aku cat pirang aja." Di akhir kalimatnya dia tertawa. Zidan mengacungkan dua jempolnya. "Keren. Lo udah kayak bule kesasar di sini," balas Zidan. Mikhayla tertawa. "Kalian mau ke kantin, kan? Aku boleh ikut?" "Boleh, lah. Sekalian gue mau minta oleh-oleh dan kepo sama gimana lo di sana," sela Zidan cepat. Cowok itu bahkan sudah merangkul bahu Mikhayla untuk berjalan menuju kantin. Mikhayla menoleh ke belakang dimana Kaka hanya menatap datar dan berjalan mengikuti. "Mik, gue yang ngajak lo ngomong, bukan Kaka," protes Zidan saat Mikhayla malah melihat Kaka. "Eh, iya-iya. Aku pasti bawa-lah oleh-oleh buat kamu. Buat Kaka, Seno dan Ilham juga," jawab Mikhayla akhirnya. "Wah. Lo bawain gue apa? Yang buat gue harus lebih bagus daripada yang lain, ya?" ucap Zidan. Mikhayla tertawa. Tawa yang manis, merdu. Ketawanya cewek banget. "Siap-lah. Oleh-olehnya masih ada di mobil. Nanti aku ambil," jawab Mikhayla. Dia sekali lagi menoleh ke belakang. Kaka sedang memainkan ponselnya tanpa melihat jalan. Mikhayla hendak menegur tapi— Bruk! "Aduh! Jalan tuh liat-liat, dong! Gue segede gini masa ya nggak keliatan?" Mikhayla dapat melihat seorang cewek tersungkur, dia berseru marah sembari mengusap dahi dan pantatnya bergantian akibat tertubruk oleh badan Kaka. Cewek itu bukan segede apa yang barusan dia bilang. Cewek itu bertubuh mungil dengan kunciran tinggi di rambutnya. Namun anehnya, bukannya bersikap ketus Kaka justru terkekeh singkat dan mengulurkan tangannya. Masih lekat diingatan Mikhayla, Kaka bukanlah orang yang dengan mudah menolong orang lain yang bukan dia kenal. Siapa cewek itu? "Segede apa?" tanya Kaka pada cewek yang baru saja dia tubruk. "Omg! Jadi kamu yang nabrak aku? Hampir aja aku tonjok," jawab cewek itu membuang napas. "Kenapa lari-lari?" "Aku mau ke kelas kamu tadi, mau bareng kamu ke kantin," jawab Aurara cengegesan. "Heh Rara Jonggrang! Sok preman banget lo pake segala mau nonjok. Paling tepuk nyamuk juga nyamuknya nggak mati," cerca Zidan yang sudah berhenti melangkah dan berbalik menghampiri Kaka. "Kak Zidan mau nyoba tonjokan aku? Iya? Sini," jawab Aurara menantang. Dia sudah mengangkat kepalan tangannya. Zidan maju. Mencondongkan wajahnya bermaksud agar Aurara segera meninjunya. "Nih, palingan kayak digigit semut." Aurara semakin geram. Mengambil ancang-ancang dan buggh! "Arrggh!" Zidan mengerang, memegangi pipinya yang terasa berdenyut. Dia mundur hingga di balik punggung Mikhayla. Ini tonjokan yang sakit. Aurara meniup kepalan tangannya lalu berseru, "Safe." "Safe pale lo! Pipi gue nyut-nyutan b**o!" protes Zidan. Dia masih asik mengusap-usap pipinya yang terasa berdenyut. "Yang minta ditonjok, kan Kak Zidan sendiri. Masa salahin aku? Aku nggak salah, kan Kaka?" Aurara mengedikkan bahu acuh lalu mendongak menatap Kaka. Kaka mengangguk menyetujui. "Kamu siapa?" Kalimat pertama yang keluar dari bibir Mikhayla mengalihkan atensi Aurara. "Eh, halo, Kak, aku Aurara Jihana biasa dipanggil Rara. Aku salah satu cecannya 11 IPS 2. Salam kenal," jawab Aurara riang sembari mengulurkan tangannya. Mikhayla awalnya mengernyit, namun segera menjabat tangan Aurara. "Salam kenal, Aurara." Mikhayla tersenyum ramah. Aurara berseru, terpesona. "Astaga! Kakak ini cantik banget. Kakak pindahan dari luar negeri ya? Dari mana? Tapi, kok udah pinter bahasa Indonesia?" tanyanya bertubi-tubi. Zidan yang menyaksikan menyentakkan kepala. "Nggak usah kepo deh lo. Udah ayo ke kantin." Kaka mengangguk. Lalu berjalan mengikuti Zidan yang kembali merangkul Mikhayla. Banyak siswa-siswi yang menyapa Mikhayla dengan sopan hingga ada yang berteriak. Mikhayla dengan ramah balas tersenyum tanpa risih meski lengan Zidan bertengger di pundaknya. "Apa?" tanya Kaka saat Aurara menarik lengan bajunya. "Itu pacarnya Kak Zidan?" Aurara balik bertanya. Kaka menggeleng. "Bukan." "Terus itu siapa?" "Mikhayla." "Dia siapanya Kak Zidan?" Kaka menoleh ke arah Aurara lalu menghela napas. "Temen." "Masa temen gitu? Rangkul-rangkul segala? Oh, aku tau. Kak Zidan suka gituin cewek-cewek pasti, ya? Dan salah satunya Kakak itu?" cerocos Aurara sembari memicing menatap Zidan dan Mikhayla. "Bukan," jawab Kaka lempeng. "Ya terus apa, dong?" Aurara mengentakkan kaki kesal. Kaka hanya menjawab dengan mengangkat bahu acuh. Mereka pun akhirnya duduk di bangku biasa mereka duduki. Tidak ada Seno dan Ilham karena mendadak mereka menyalin PR yang lupa mereka kerjakan. Kasihan sekali, waktu istirahat malah dibuat nyalin PR. "Jadi, Kakak itu siapa?" Aurara mencondongkan badannya mendekat ke arah Mikhayla yang duduk di depannya. Mikhayla tertawa. "Kamu beneran nggak kenal aku?" tanyanya. Aurara menggeleng kecil. Namun matanya menyorot fokus sosok cantik di depannya. Mencoba mengingat-ingat untuk kemudian menjentikkan jari heboh. "Astaga! Kakak ini yang pertukaran pelajar itu, kan? Aduh, bisa-bisanya aku lupa sama orang famous, terkenal dan cantik kaya gini," keluhnya menepuk dahi. "Kamu lucu," jawab Mikhayla sembari tertawa. Secara tidak langsung mengiyakan tebakan Aurara. Aurara tersipu malu. "Makasih. Ya ampun, aku pengen terbang dipuji lucu sama orang cantik." Mikhayla lagi-lagi tertawa. Dia beralih menatap Kaka yang sedari tadi hanya diam sembari menopang dagu memperhatikannya dan Aurara. "Kamu daritadi diem terus. Kamu apa kabar, Ka?" tanya Mikhayla menatap Kaka penuh kerinduan. "Baik," jawab Kaka. "Lo di sana gimana? Lancar?" "Baik, cuma ya ada beberapa masalah kecil yang masih bisa aku atasi sendiri selama di sana, tapi selebihnya baik-baik aja," jawab Mikhayla. Kaka mengangguk. "Oh ya, gimana olimpiade enam bulan lalu? Siapa yang jadi partner kamu? Dan hasilnya gimana?" Mikhayla menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Sama Agung dan Yola. Hasilnya kurang memuaskan. Kami jadi runner up," jelas Kaka. Sedikit ada nada kecewa di kalimatnya. Terlihat jika Mikhayla juga ikut kecewa. Namun sedetik kemudian dia tersenyum lebar. "Kita pasti bakal bisa jadi juara satu di olimpiade terakhir kita nanti, Ka. Pasti!" serunya semangat. Kaka menegakkan badan, mengernyit. "Olimpiade terkahir?" "Iya, olimpiade fisika terkahir kita sebelum fokus ke ujian nasional. Kamu nggak tau?" Mikhayla terlihat terkejut. Kaka menggeleng. "Pak Basir belum ngasih tau kamu berarti. Tadi pagi aku dikasih tau, dan olimpiade itu akan di adain satu bulan lagi," jelas Mikhayla. Kaka mendesah. "Waktunya terlalu singkat." Dia tahu, jika ini olimpiade terakhirnya, itu berarti ini akan menjadi olimpiade yang tidak seperti yang pernah dia ikuti. Dan dia hanya diberi waktu satu bulan untuk latihan? "Cukup kalo kita bener-bener memanfaatkan waktu yang ada dengan baik." Mikhayla tersenyum, menenangkan. Kaka menatap Mikhayla sekilas lalu mengangguk. Dia tersenyum tipis. "Kalian, kok ngobrol deket banget?" Aurara yang sedari tadi menyaksikan dengan dahi berkerut dalam akhirnya membuka suara setelah sebelumnya hendak menyela namun masih tahu sopan santun. *** "Dia Mikhayla Ainsley Sugata. Satu-satunya siswa SMA Angkasa yang ikut terpilih untuk pertukaran pelajar di Amerika enam bulan lalu. Dan ya, hari ini dia pulang. Dia sekelas sama gue waktu kelas 10, dan seterusnya kita beda kelas. Kita teman baik." Kaka menghela napas pelan ketika menyelesaikan ucapannya. Menatap datar Aurara yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama. Cewek itu terus merecokinya dalam perjalanan kembali ke kelas masing-masing untuk menjelaskan siapa itu Mikhayla. Dan dengan malas Kaka akhirnya menjelaskan di sini, di belakang sekolah. Yang tentunya juga atas paksaan Aurara. Sementara itu Mikhayla sendiri sudah diseret Zidan karena cowok itu menagih oleh-oleh dari Amerika. "Kalian teman baik? Yakin, kan teman baik? Yakin nggak ada yang saling suka?" seloroh Aurara heboh. Dia memajukan wajahnya, matanya menyelidik Kaka yang hanya bisa menaikkan sebelah alis. "Kamu nggak suka dia, kan?" Telunjuk Aurara dia arahkan tepat di pipi Kaka. "Enggak," jawab Kaka mantap. Dia mendorong kening Aurara agar cewek itu sedikit menjaga jarak. Bisa gawat kalau ada yang melihat mereka berada dijarak yang sedekat ini, apalagi ini tempat sepi, bisa-bisa dikira yang iya-iya nanti. "Serius? Kak Mikhayla, kan cantik. Dia kayak model, tinggi semampai, rambutnya berkilau kayak di iklan shampo. Kibas-kibas syantik." Aurara mempraktekkan dengan mengibaskan rambut hitamnya yang kebetulan tidak dia kuncir dengan keras hingga mengenai wajah Kaka. "Ya ampun! Maaf maaf, aku nggak sengaja," seru Aurara saat Kaka dengan refleks mengucek matanya. Kemudian dia mengambil alih dengan meniup mata Kaka beberapa kali hingga perihnya berkurang. Kaka mengerjap-ngerjap. Perihnya sudah berkurang, tapi dia sudah tidak tahan melihat wajah Aurara yang menatapnya tanpa berkedip, mulut cewek itu pun sedikit terbuka. Dan tanpa bisa ditahan lagi tawa Kaka pun pecah, menggema di penjuru belakang sekolah yang di sekitarnya hanya ada pohon-pohon besar dan punggung belakang gedung sekolah. Aurara terkesiap. Memundurkan sedikit wajahnya dan menatap Kaka dengan kening berkerut saat cowok itu masih asik tertawa. Itu tawa Kaka yang paling keras, dan juga paling lepas. Meskipun tidak tahu sebabnya, Aurara akhirnya ikut tertawa. Dia bahkan sampai memukuli lengan Kaka. Saat pukulan di lengannya semakin keras, Kaka menghentikan tawanya, menatap datar Aurara yang masih meneruskan 'acara' tertawanya. "Udah, Ra," ucap Kaka berubah datar. "Hah? Apa?" ucap Aurara ditengah tawanya. "Udah ketawanya. Mukulnya juga udah," jawab Kaka tanpa mencoba menarik tangan Aurara dari lengannya. Aurara baru sadar. "Eh, maaf maaf. Nggak tau kenapa, ya, mandang sama pegang-pegang kamu rasanya enak." Dia nyengir lebar, menarik tangannya. Kaka mendorong kening Aurara dengan jari telunjuk. "Udah cebol, m***m lagi." Aurara nyengir semakin lebar. "Gitu aja bukan m***m dong beb. m***m tuh gini," ucapnya sembari memajukan wajahnya dan hendak menjangkau pipi Kaka. Dan sebelum bibirnya menyentuh pipi Kaka— "Aurara," gemas Kaka sembari mengusap cepat wajah Aurara dengan satu telapak tangannya. "Disini banyak setannya, ayo balik." Kemudian dia melangkah meninggalkan Aurara dengan langkah lebarnya. "Ih, aku jangan ditinggal, dong! Katanya disini banyak setannya, kalo aku di bawa mereka gimana? Ih, Kakaaaa!" kesal Aurara. Dia kemudian menyusul Kaka, dia harus berlari demi bisa mensejajarkan langkah Kaka. Bruk! Kaka refleks menoleh. Dan benar saja, di belakangnya, Aurara sudah tersungkur di atas tanah. Dan astaga! Aurara menangis? Dengan helaan napas Kaka berbalik menghampiri Aurara. Ditariknya tubuh Aurara yang tersungkur hingga menjadi duduk. "Ceroboh," cecarnya. Dia merapikan rambut Aurara yang semula berantakan menutupi wajahnya. "Jangan nangis, luka ini aja." "Enggak nangis," bela Aurara. Dia menghapus kasar airmatanya. Namun malah yang keluar semakin banyak. "Sakit, lutut aku berdarah, banyak lagi, tuh," ucapnya sembari menunjuk lututnya yang tergores cukup dalam akibat tanah di belakang sekolah ini yang dipenuhi kerikil-kerikil. "Bisa jalan?" tanya Kaka. Aurara langsung menggeleng cepat. "Enggak bisa, sakit." Tanpa banyak bicara Kaka langsung membopong tubuh mungil Aurara menuju UKS. Sepanjang lorong sedang sepi, pertanda waktu istirahat sudah usai. Kaka mengembuskan napas lega. Dia mempercepat langkahnya agar Aurara bisa segera ditangani dan tidak terjadi infeksi yang serius. "Udah, jangan nangis lagi, Ra," ujar Kaka saat dirasa baju seragam bagian dadanya basah. Aurara memeluk erat-erat leher Kaka dan menyandarkan kepalanya pada d**a Kaka. Dia masih menangis sesenggukan. Kalau saja tidak dalam keadaan terluka begini, Aurara sudah akan syukuran tujuh hari tujuh malam karena Kaka menggendongnya seperti ini. Namun sayang, situasinya berbeda kali ini. "Sakit," rengeknya dengan nada manja. "Tahan bentar, ini kita mau sampe," ujar Kaka menenangkan. Semakin mempercepat langkah agar cepat sampai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD