14. Wejangan

1722 Words
"Aurara. Good name and good girl. Cewek humoris. Boleh lah nyeimbangin lo yang kaku bak kaos kaki yang nggak dicuci sepuluh tahun." Kaka hampir berjingkat karena tiba-tiba suara menyebalkan itu menyambutnya saat keluar dari kamar mandi. Suri, kakaknya itu duduk bersila di atas ranjangnya dan lebih menyebalkan lagi ponselnya berada di genggaman cewek jadi-jadian itu. "Nggak sopan lo," ucap Kaka ketus sembari merebut kasar ponselnya. Suri mengangkat bahu acuh. "Ya sorry." "Sana keluar! Mau ngapain lo ke kamar gue?" usir Kaka dengan tidak santai. Suri mengehela napas panjang. Sebenarnya dia tidak ada maksud apa-apa kemari. Hanya numpang rebahan dan menikmati adem dan damainya kamar Kaka. Suri sudah bosan dengan kamarnya yang seluruhnya berwarna hitam, dan juga berantakan. Enak disini. "Gue nggak mau ngapa-ngapain sebenernya. Tapi gue punya tujuan setelah baca chat lo sama PACAR baru lo itu," ucap Suri penuh penekanan di kata pacar. Kaka hanya diam. Tak berniat menanggapi. Suri menggeser duduknya. "Sini duduk cah ganteng," ucapnya sembari menepuk bagian kosong di sampingnya. Kaka mendengkus, hendak protes namun akhirnya memilih menurut. Dia sedang malas ribut sore ini. "Apa?" "Tenang. Selow dong." Suri memperbaiki duduknya menjadi lebih tegak. Lalu berdehem. "Lo suka, sayang sama pacar lo?" tanya Suri to the point. Kaka sontak menatap datar wajah Suri yang sudah penasaran. "Kepo lo." Suri menabok lengan Kaka dengan kuat. "Bisa nggak, ditanya orang tuh jawabnya yang bener. Udah jelek, pake segala judes segala. Manusia macem apa lo," cerca Suri saking kesalnya. "Keluar sana lo! Kesini ngajak ribut doang buat apa," ucap Kaka setelah puas mengumpat untuk lengannya yang beberapa saat berdenyut nyeri akibat pukulan Suri. Suri menggeleng tegas. "Bodo amat lo mau ngomong apa. Gue akan tetep di sini sampe gue dapet apa yang gue cari," keukeuhnya. Kaka berdecak. Menghela napas panjang. "Lo mau cari apa?" "Cari jawaban sebenarnya apa perasaan lo sama pacar lo itu," jawab Suri mantap. "Sejak kapan lo jadi ngurusin hidup orang?" heran Kaka. Karena Suri adalah tipe yang bodo amat sama hidup orang. Ya, dia memang humoris dan juga bar-bar. Tapi dia sama seperti dirinya, tidak suka mencampuri urusan orang lain. "Lo termasuk orang?" "Hm." "Gue meyakini kalo lo samsak padahal." Suri mengedikkan bahu. Lalu teringat apa topik utama yang akan dia bahas kali ini. "Back to topic. Lo sayang sama pacar lo?" "Nggak." "Ck. Dimana-mana, kalo udah pacaran tuh saling sayang. Jadi, cuma dia doang yang menjunjung tinggi perasaan dalam hubungan kalian?" tanya Suri. Ini bahasan yang menarik. "Bahasa lo." Kaka terkekeh. Suri menabok lagi lengan Kaka. "Gue serius." "s**t. Sakit Kak," umpat Kaka. Lama-lama begini, bisa-bisa lengannya berubah jadi lengan geprek. "Lemah!" ledek Suri. Kaka mendengkus. "Ribet lo. Daritadi tinggal jawab muter-muter mulu. Jadi, dia doang yang sayang dan lo nggak sayang dia?" Suri bertanya. "Iya," jawab Kaka datar. "Bodoh." Suri mendesis. "Kalo udah pacaran, nggak ada waktu untuk namanya belajar menyayangi. Pacaran itu fase dimana kita lebih jelas menyalurkan rasa kasih sayang. Lebih terfokus. Lah kalo kasus lo ini, lo cuma akan memberi sedikit demi sedikit rasa sakit buat dia. Dia memperlakukan lo manis karena dia sayang. Dan balasan lo apa? Lo balas perlakuan itu karena kasihan, karena formalitas. "Lo tahu? Ngejar-ngejar untuk akhirnya si cowok luluh itu lebih baik daripada tanpa berjuang hubungannya udah jelas tapi rasa sayang malah masih dipertanyakan. Yang pertama emang sakit-sakit dulu, tapi akhirnya berbuah manis. Kalo yang kedua, dari awal udah manis, tapi sakit di akhir. Paham? Kalo paham, putusin dia." Suri menutup kalimat panjangnya dengan dua kata yang mampu membuat Kaka tertegun. "Nggak," jawab Kaka setelah beberapa detik terdiam. "Sejak kapan lo tega sakitin cewek?" Kaka diam lagi. Dia mencerna semua kalimat yang kakaknya katakan. Ini semua mengingatkannya pada masa itu lagi. Tanpa sadar tangannya terkepal. Matanya menyorot tajam udara kosong di depannya. Kaka tidak berpikir sejauh itu saat Aurara menembaknya dulu. Dan apa yang harus dia lakukan setelah tahu bahwa apa yang Suri katakan sepenuhnya benar? Suri menghela napas panjang. "Putusin dia, Ka." *** Suara gaduh terdengar dari ujung ke ujung ruang kelas 11 IPS 2 yang sedang jamkos karena guru yang mengajar sedang sakit. Sementara sampai saat ini guru piket belum mendatangi mereka untuk menyampaikan sekiranya apakah ada tugas dari guru yang sedang izin tersebut. Saat Fajar, sang ketua kelas hendak ke ruang guru untuk menanyakan apakah ada tugas, cowok itu dihadang oleh teman-temannya. "Jar, mau kemana? Udah sini duduk main monopoli," ucap Anto, cowok dengan tinggi yang kurang bila dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Alias pendek. "Tau lo Jar. Gue kasih tau, main monopoli dapat meningkatkan taraf hidup dengan cepat. Nggak usah capek-capek kita udah bisa beli hotel," seru Gowo. Si gendut. "Udah ayo sini duduk. Kalo lo jalan ke ruang guru capek, loh. Ini kelas kita di lantai sepuluh, dan ruang guru ada di lantai satu," seru Bima sembari menggandeng lengan Fajar yang sontak ditepis kasar oleh ketua kelas itu. "Kita di lantai dua b**o!" tegur Anto pada Bima yang semakin ngawur saja. Bima memasang ekspresi pura-pura terkejut. "Lantai yang lainnya roboh? Omg!" "Digigitin semut Bim jadinya abis tinggal empat lantai ini doang deh," sela Aurara tiba-tiba. "Fajar, nggak usah ke ruang guru. Ayo ke pantai aja cari senja. Gue temenin sampe dapet. Fajar dan Senja, woah keren," ucapnya beralih menatap Fajar. Cewek itu ikut mencegat tubuh Fajar yang masih saja keukeuh hendak melangkah ke luar kelas. "Apa, sih Ra? Jangan ikut-ikutan tuh manusia sengklek deh," jawab Fajar ketus sembari melirik teman-teman laki-lakinya. "Loh, kok malah ngatain gue sih? Gue baik mau nemenin elo cari senja. Daripada ke ruang guru, lo mau cari siapa?" tanya Aurara yang diangguki oleh teman-teman yang lain. "Senja-senja apa, sih? Berisik lo. Minggir!" Fajar yang sudah terlanjur kesal mendorong bahu Aurara yang menutupi jalan lalu segera melangkah ke luar kelas. Bima berdecak, lalu mengembuskan napas panjang. "Fajar udah pergi. Ayo kita konser," ajaknya yang sontak saja diangguki oleh yang lainnya. Aurara tersenyum lebar. Dia juga suka konser seperti ini. Aurara bersiap-siap, Bima yang baru saja dari belakang kelas menyerahkan sapu ijuk untuk dijadikan mik. Aurara lalu naik ke atas meja setelah mengikatkan taplak meja pada pinggangnya dan bersiap dengan lagu andalannya. Bang Jono. Setelah memastikan semua anggota 'konser' nya kali ini sudah siap semua, Bima ikut naik ke atas meja bersama Aurara dan setelah itu terdengar suara meja yang dipukul dengan irama disertai petikan gitar. "E e e Bang Jono kenapa kau tak pulang pulang, pamitnya pergi cari uang dicariin malah menghilang," nyanyi Aurara dengan suara nyaring. Tak lupa pinggulnya dia gerakkan ke kanan dan ke kiri. "Abang cari istri lagi Neng," sahut Bima tanpa irama sembari menggoyangkan kedua jari telunjuknya. Aurara memukul lengan Bima. "Dulu kau janji bawa berlian untukku, sehari makan sekali pun tak tentu, kau bilang inilah kau bilang itulah bosan dengan alasanmuuu," lanjut Aurara dengan nada centil. "Abang juga udah bosen sama Eneng," sahut Bima santai yang setelahnya diikuti jeritan kaget saat dirinya didorong Aurara hingga terjatuh dari atas meja dengan posisi tengkurap. Satu kelas pun tertawa ngakak melihatnya. "Eh anjiirrr, lo dorongnya kekencengan," umpatnya lalu berdiri dan naik lagi ke atas meja. Aurara masih ngakak mengingat bagaimana proses hingga akhirnya Bima terjatuh. Sementara Bima yang sudah tidak sabar untuk bergoyang lagi merebut 'mik' dari tangan Aurara karena cewek itu masih saja ngakak dan mulai menyanyi. Anggota 'band' diam, menunggu lagu apa yang akan Bima nyanyikan lalu akan mengikuti irama. "MANA MUNGKIN." Bima melempar sapu ijuk ke tangan kirinya. "SUAMIKU, DATANG KE RUMAHMU—" "Lagu apaan tuh! Sini Aurara Gotik aja yang nyanyi," ucap Aurara tiba-tiba merebut 'mik' nya dari tangan Bima. "KAU PIKIR HIDUP INI CUMA MAKAN BATU, KAU PIKIR ANAKMU TAK BUTUH s**u. s**u YANG INILAH s**u YANG ITULAH SUSA SUSI SUSI SUSAAAHH." Aurara menunjuk-nunjuk Bima dengan mimik wajah marah seolah Bima adalah suami yang tak tahu diri yang tidak menafkahinya dan anak-anaknya. "Maaf Neng, Abang mau cari istri baru aja. Eneng makin hari makin nyusut aja. Makin kecil, Abang udah kagak nafsu lagi, " sahut Bima dengan nada tak peduli. Satu isi kelas tertawa. Aurara memasang wajah terluka dan membuang muka dramatis. "Apanya yang kecil Bim?" tanya Anto disertai tawanya. "Badannya maksudnya." Setelahnya Bima ikut tertawa ngakak. "Kirain apanya." Anto semakin ngakak. "Terimakasih," ucap Aurara membungkukkan badannya menghadap teman-temannya, tak menyahuti ucapan Bima dan Anto. Bima ikut membungkuk, lalu menegakkan badan dan merangkul bahu Aurara. "Sekian dari kami, pasutri ter-gemes sekelurahan." Aurara mendelik, lalu menepis lengan Bima. "Lo tuh udah jomlo, ngaku-ngaku lagi. Miris banget tuh idup," Dia menatap Bima sedih. "Mentang-mentang udah punya pacar lo Ra," cibir Bima. "Palingan abis ini putus," lanjutnya spontan dan langsung saja mulut Bima ditabok Aurara dengan keras. "Mulutnya. Lo nggak tau apa pura-pura lupa kalo ucapan adalah do'a. Jahat ah Bima. Gue sumpahin lo nggak dapet jodoh!" semprot Aurara dengan galak. Bima sontak berdiri dan membelalakkan mata. "Eh anjir, lo kok jadi nggak soulmate lagi sama gue?! Lo bilang gue tuh ganteng nan manis dan pasti bakal cepet dapet jodoh. Lo kok sekarang bilang gitu?!" sengaknya tak terima. Aurara mendelik. "Kapan gue bilang lo ganteng nan manis?!" Dia jadi nge gas sendiri. "Belagak lupa lagi lo." Bima terkekeh sinis. Aurara memukul kepala Bima cukup keras hingga si empunya kepala mengaduh. Aurara memiringkan kepala, memperhatikan ekspresi Bima yang meringis sembari mengusap-usap kepalanya. "Udah balik belom Bim otak lo?" tanya Aurara serius. Bima menurunkan tangannya dari kepala. Lalu nyengir lebar. "Makasih Ra. Gue jadi merasa polos lagi," ucapnya lalu merebut sapu ijuk dan hendak bernyanyi lagi. "BALONKU ADA LIMA. PURA-PURA WARNANYA, HIJAU KUN--" nyanyiannya langsung terpotong seketika saat Pak Falik datang diikuti Fajar di belakangnya. Dengan kalap Bima melempar sapu ijuk sembarangan dan lari tergopoh-gopoh turun dari meja. Begitupun Aurara. Cewek itu melepas paksa taplak meja dari pinggangnya dan melompat turun dari meja lalu hendak ikut Bima yang akan berlari ke luar kelas. Namun sia-sia. Pak Falik menempatkan dirinya di tengah pintu bermaksud mencegat kedua murid bebalnya itu. "Mau kemana kalian?" tegur Pak Falik dengan nada datar. Guru yang dikenal tidak suka basa-basi dan kejam itu menatap tepat pada kedua muridnya itu. Bima meneguk ludah susah payah. Menyeka keringat di dahi yang tiba-tiba saja muncul. "Anu Pak, sa-saya mau ke toilet! Iya, ke toilet!" serunya tidak bisa biasa saja. "Nggak tau nih si Rara mau kemana. Mau kemana lo? Ikut gue ke toilet? Nggak boleh Ra. Tapi ayo deh nggak apa-apa." Aurara melotot. Hendak menimpali Bima namun ucapan yang penuh dengan nada perintah Pak Falik membuatnya menelan lagi kosa katanya. "Ikut saya ke ruang BK sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD