Bab 2 :
Coco dan Hydrangea Biru (2)
******
DI DALAM kamar mandi, Zavie sibuk mengomeli Coco. Tangan kecilnya menyabuni Coco dengan sabun khusus untuk kucing yang rutin dibelikan oleh orangtuanya. Sementara itu, kepala Zavie tampak berbusa sebab agaknya ia masih belum membilas sampo di kepalanya. Ada satu mainan bebek yang bertengger di kepalanya.
“Coco, biar Javi tanya cekali lagi,” kata Zavie serius. “Coco ngapain akhir-akhir ini ke taman bunga cendirian? Biacanya, kan, Coco main ke cana kalau ada Javi aja. Ngapain, cih?”
Seperti biasa, si gembul berbulu itu hanya mengeong. Zavie pun menghela napas. Zavie serius nanya, lho, ini. “Coco jawab dulu, kenapa beberapa hari ini Coco main ke citu cendiri terus ceharian, dari pagi campai core, campai malem kalau Javi nggak jemput. Liat, nih, badannya Coco jadi kotor cemua.”
Berhubung Coco hanya mengeong saja, Zavie jadi tidak puas. Besok Zavie harus cari tahu, nih! Coco memang hobi berlari-lari di taman bunga itu, tetapi biasanya Coco hanya ke sana kalau ada Zavie di sekitarnya atau minimal ada Zavie yang mengawasinya dari teras belakang rumah. Kalau tidak begitu, Coco tidak akan ke sana sendirian, apalagi kalau hari sedang hujan begini! Pasti Coco akhir-akhir ini rajin sekali ke taman sendirian karena ada sebabnya. Waktunya Zavie mencari tahu apa sebabnya.
“Zavieee!” panggil mamanya tiba-tiba. Zavie langsung menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka, lalu ia menemukan mamanya yang baru saja sampai di pintu itu, berdiri berpegangan dengan kosen pintu seraya menatap tubuh anaknya yang masih dipenuhi dengan busa. “Udah belum mandinya? Lama banget mandinya, Nak!”
Zavie hanya menatap mamanya dengan mata bulat polosnya itu. “Belum celecai, Mama.”
Mamanya pun jadi menepuk jidat. Setelah itu, Mama langsung masuk ke kamar mandi. Dia menghampiri anak bungsunya tersebut dan langsung berjongkok, kemudian mengangkat tubuh anaknya itu agar berdiri. “Hadeh. Udah, udah, Mama mandiin aja, deh. Bisa-bisa satu jam-an, nih, kalau Mama biarin.”
Mau tak mau, karena takut Mama mengamuk, Zavie pun hanya mengerucutkan bibirnnya dan mengangguk. Dia dan Coco ujung-ujungnya jadi dimandiin sama Mama. Tangan Mama memandikan mereka dengan gesit; Coco yang sudah terbiasa mandi pun hanya diam saat Mama memandikannya.
Setelah selesai mandi, Mama lantas membawa Zavie dan Coco keluar dari kamar mandi. Mama langsung mengambil handuk dan mengeringkan tubuh keduanya di depan kamar mandi. Coco langsung lari ke ruang tamu tatkala tubuhnya sudah dikeringkan dengan handuk oleh Mama; Coco berlari ke ruang tamu dan langsung sibuk menjilati bulu-bulunya sendiri. Sementara itu, Zavie yang masih dihanduki oleh Mama pun mendadak bertanya pada Mama dengan polosnya, “Mama, kira-kira kenapa, ya, Coco akhir-akhir ini main cendirian ke taman belakang terus?”
Astaga. Mama sudah tahu Zavie ini adalah anak yang suka kepo, tetapi ternyata kekepoannya separah ini. Kalau belum tahu jawabannya maka kekepoannya belum selesai. Jangan-jangan, dulu Mama salah merk waktu memilihkan s**u untuk Zavie.
Mama pun mengernyitkan dahi, mencoba untuk sedikit berpikir. Dia harus merespons Zavie kalau tidak mau Zavie mengulang-ulang pertanyaannya sampai sepuluh kali. “Hm…mungkin sekarang dia rajin ke situ setiap hari karena…”
Zavie memiringkan kepalanya. “Karenaa?”
“…karena ada temennya di situ,” lanjut Mama.
Sontak mata Zavie berbinar. Teman? Wah, ada kucing baru, ya? Zavie harus cari tahu, nih! Zavie harus lihat teman Coco! Waaah, Zavie jadi tidak sabar. Mudah-mudahan hari esok segera tiba. Waktunya dia mencari tahu!
Setelah selesai mengelap tubuh Zavie dengan handuk, Mama pun membawa Zavie ke ruang tamu. Di ruang tamu itu ada sofa, meja, TV, dan rak majalah. Mama menyuruh Zavie untuk menunggu di dekat sofa, lalu Mama mengambil baju Zavie dari dalam kamar. Begitu Mama datang mendekati Zavie kembali, Mama terlihat membawa sepasang piama garis-garis milik Zavie yang berwarna biru muda. Biru muda adalah warna favorit Zavie.
Mama pun memakaikan pakaian Zavie. Mama mengoleskan minyak telon di perut dan punggung Zavie terlebih dahulu, menaburkan bedak juga di sana, lalu mulai memakaikan pakaian anak bungsunya itu. Mulai dari celana dalamnya, kaus dalam, hingga celana panjang dan baju panjangnya. Zavie menurut saja; kedua tangan kecilnya berpegangan pada bahu Mama tatkala Mama memakaikannya baju.
Tak lama kemudian, Zavie mendengar pintu depan rumah mereka terbuka. Zavie langsung menoleh dan dia menemukan Papa yang baru saja pulang dari kantor. Seragam Papa tidak basah, mungkin karena Papa naik mobil. Melihat kepulangan Papa, Zavie pun langsung senang bukan main. Matanya berbinar; dia langsung excited. Menyadari anaknya yang excited, Mama pun mempercepat gerakan tangannya; Mama langsung menyisir rambut Zavie dan memberikan bedak pada wajah Zavie dengan cepat. Alhasil, bedak di wajah Zavie jadi berantakan.
“Papaaa!!” teriak Zavie senang, dia langsung berlari ke arah papanya yang juga terlihat senang melihat anak laki-laki bungsunya. Papa tampak sedikit membungkuk dan merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menyambut dan memeluk Zavie yang tengah berlari ke arahnya.
“Zavieeee!” teriak papanya balik. Papa kelihatan sedang membawa dua buah bungkus plastik berwarna hitam. Papa lalu melanjutkan, “Papa bawa martabak coklat, Dek!!”
Zavie lalu memeluk papanya. Tatkala mendengar Papa sedang membawa martabak, Zavie pun melompat kegirangan di pelukan papanya dan berteriak, “Yeeeeeyyy!! Maltabaaak!!”
Papa pun langsung menggandeng tangan mungil Zavie dan membawa Zavie ke sofa yang ada di ruang tamu. Mama masih ada di sana, sedang menunggu seraya tersenyum. Sebetulnya, Papa agak heran, anaknya itu bisa menyebutkan ‘r’, tetapi terkadang ada masa-masanya di mana huruf ‘r’ itu berubah menjadi ‘l’.
“Papa bawa makanan untuk Coco juga,” ujar Papa kemudian. “Makanan Coco habis, ‘kan, kata Mama.”
“Iya, Papa, makanannya abis!” jelas Zavie dengan antusias, dia tahu juga kalau makanan kucingnya habis. “Makacih, Papa!!”
“Okeeee!” Papa pun mengusap kepala Zavie dan tertawa. Kelihatan benar-benar jadi bucin untuk gumpalan lemak yang berwujudkan anak bungsunya itu. Lucunya bukan main, rasanya pengin cubit pipinya dan peluk badannya kuat-kuat. Gemas sekali rasanya. Papa meletakkan bungkusan-bungkusan itu ke atas meja, lalu ia membuka salah satu bungkusan yang berisi martabak. Setelah bungkusnya terbuka, Papa lantas membuka kotak martabak itu dan Zavie mulai ngiler tatkala memperhatikan kotak martabak yang perlahan-lahan terbuka. Mata Zavie membulat dan berbinar-binar. Begitu kotak itu terbuka dan memperlihatkan martabak coklat yang ada di dalamnya, Zavie langsung mengambil sepotong martabak yang ada di sana dan langsung memasukkan martabak itu ke mulutnya. Gigitan pertama sukses membuat Zavie serasa bagai di surga. Zavie sibuk memakan martabak itu sampai-sampai ia lupa pada Mama dan Papa yang kini tengah mengobrol di samping kanan dan kirinya, Zavie tak tahu mereka sedang mengobrol tentang apa, yang jelas martabaknya enak sekali. Mulut Zavie dan tangan Zavie sampai celemotan karena dipenuhi dengan coklat.
“Papa,” panggil Zavie di sela-sela acara makan martabaknya. “Coco kayaknya punya temen balu.”
Papa yang tadinya tengah mengobrol bersama Mama pun jadi menatap kepada Zavie. “Oh ya? Wah…siapa?”
“Nggak tau, Papa, becok Javi cali tau,” kata Zavie seraya menggigit potongan terakhir martabak yang ada di tangannya.
Saat Zavie masih mengunyah potongan terakhir itu, tiba-tiba Mama berteriak, “Atlas, ada martabak!!”
Zavie refleks menoleh ke arah Mama yang tengah berteriak; Mama berteriak seraya mengarahkan pandangannya ke kamar Kak Atlas, kakaknya Zavie.
Jadi, Zavie ini sebenarnya punya seorang kakak. Kak Atlas namanya; nama lengkapnya adalah Atlas Alastair. Kak Atlas adalah satu-satunya saudara Zavie. Anak Pak Haryo Alastair saat ini hanya ada dua, yaitu Atlas Alastair dan Zavier Alastair. Namun, perbedaan usia antara Atlas dan Zavie bisa dibilang sangat jauh; Atlas sudah SMA, sementara Zavie masih berusia empat tahun. Jika Zavie adalah tipe anak yang cerewet dan kepoan…maka Atlas adalah kebalikannya. Dia tipe cowok yang tidak banyak bicara; dia bicara seperlunya saja. Dia siswa andalan di sekolahnya; dia juara umum, dia kapten basket, dan dia juga saat ini sedang menjabat sebagai Ketua OSIS.
Mendengar Mama yang berteriak karena menawari Kak Atlas martabak, Zavie pun jadi berinisiatif.
“Mama, Mama,” panggil Zavie, membuat Mama jadi menoleh ke arahnya. Zavie pun lalu melanjutkan, “Javi aja yang panggil Kakak.”
Setelah itu, tanpa menunggu respons dari Mama, Zavie pun langsung berlari ke arah kamar Kak Atlas yang berada tak jauh dari ruang tamu. Suara langkah kaki kecilnya itu terdengar lumayan jelas karena ia berlari melewati ruang tamu terlebih dahulu sebelum akhirnya ia sampai di depan pintu kamar Kak Atlas yang berwarna coklat muda.
Tatkala sudah sampai di depan pintu kamar Kak Atlas, Zavie pun mulai berjinjit agar bisa meraih gagang pintu kamar itu. Zavie menggunakan sebelah tangan kirinya untuk memegang gagang pintu kamar itu, lalu setelah menekan gagang pintu itu ke bawah, Zavie pun mulai mendorong pintu tersebut ke dalam. Membukanya perlahan. Dia tak mau mengganggu Kak Atlas.
Saat pintu kamar itu sudah terbuka nyaris setengah, Zavie dapat melihat sosok Kak Atlas yang sedang belajar di meja belajarnya. Lampu yang ada di atas meja belajar itu hidup dan sinarnya berwarna krem. Namun, lampu kamar Kak Atlas belum dihidupkan—hanya lampu yang ada di meja belajarnya saja—mungkin karena malam belum tiba. Kamar Kak Atlas jadi terlihat agak gelap karena cuaca di luar masih hujan. Langit masih mendung, tentunya.
Atlas yang tengah fokus ke buku pelajaran itu pun mulai menoleh ke pintu kamarnya. Di sana sudah ada adiknya yang tengah berdiri seraya melihat ke arahnya dengan penuh keingintahuan. Sebelah tangan adiknya itu masih memegang gagang pintu dan kedua kaki adiknya itu tengah berjinjit. Mulut adiknya itu celemotan, dipenuhi dengan coklat.
Zavie menatap Kak Atlas dengan mata bulatnya yang melebar karena ingin tahu. Mata bulat Zavie itu tampak begitu jernih dan polos, seperti kelinci. Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa detik lamanya—tanpa bersuara—hingga kemudian Atlas menyaksikan mulut adiknya yang celemotan itu mulai berbicara,
“Kakaak… Ada maltabak.” []