Tanpa rasa jijik, Farraz mengecup pelan lembah nan indah itu, kemudian satu jarinya masuk secara perlahan. "Ah, Farraz!" "Aku suka kau memanggilku dengan sebutan itu," bisik Farraz pelan dengan suara serak. "Bagaimana kalau aku memanggilmu, Sayang!" Adiva berucap dengan suara tersendat karena tidak tahan dengan semua tingkah bosnya. Mendengar lenguhan Adiva, Farraz memajukan wajahnya sehingga dia mencium dan menjilat dengan gerakan lambat. Adiva hanya bisa merasakan nikmat dengan menjambak pelan rambut Farraz. "Owh, aku tidak tahan, Farraz! Aku menginginkanmu!" Adiva menyemburkan aroma cinta yang tidak bisa dia tahan. Tidak berhenti di sana, Farraz semakin mejadi dengan menciumi lembah yang basah itu. Tubuh Adiva melengkung indah, dan menyemburkan aroma cinta untuk ke dua kalinya.

