Bab. 8. Mendekat.

1498 Words
Farraz semakin mencengkram erat tangan Adiva. "Jadi, kau ingin aku menjadi kekasihmu?" tanya Farraz dengan tatapan menantang. Adiva tersenyum, dengan perlahan, dia mencoba melepas cengkraman tangan bosnya dengan tangan satunya yang bebas. "Kau ingin menjadikanmu wanita simpanan?" Adiva membalikkan pertanyaan yang langsung membungkam bibir Farraz. Setelah bisa melepaskan tangan bosnya itu, Adiva menuju ruang ganti. Dia memakai baju yang dia pilih sendiri. Beberapa waktu berlalu, dia kembali ke depan bosnya. "Suka tidak suka, aku sudah memilih pakaian yang aku kenakan, Pak Farraz." Adiva mendekat tanpa rasa sungkan, meski hatinya menahan rasa takut kalau Farraz akan murka. Dia beranikan diri memakaikan jas bosnya itu. "Terima kasih untuk hari ini, Bos. Aku salah mengira, jika anda orang yang jahat. Dan ternyata, anda sangat baik," bisik Adiva pelan. Adiva mundur dua langkah, dia masih menatap bosnya yang berdiri tanpa kata. "Jika anda benar-benar berkenan, aku akan memikirkan keinginan anda yang tadi." "Lagi pula, anda adalah orang yang berpengaruh di kota ini. Siapa tahu anda benar-benar mencintai saya," ucap Adiva meninggalkan Farraz yang masih berdiri menatap ke arahnya. "Gadis ini sudah gila," gumam Farraz sambil mengikuti langkah Adiva. Lelaki itu membayar tagihan untuk pakaian yang dikenakan Adiva. "Aku ada urusan kamu kembali ke kantor naik taksi saja. Ini untuk transportasinya!" titah Farraz sambil menyodorkan uang ratusan ribu kepada sekertarisnya. "Tidak perlu, Pak. Saya masih punya uang," jawab Adiva dengan senyum tipis. Wanita cantik itu memesan taksi dari aplikasi online. Sedangkan Farraz menyelipkan uang itu di tas Adiva, lalu masuk ke mobilnya. "Mentang-mentang bos, berlagak semaunya," monolog Adiva menggelengkan kepalanya. Senyum tipis namun penuh makna itu terlihat jelas di wajah Adiva. "Kalau dia terpikat, akan lebih mudah aku membalaskan dendam kepada Maula. Biar wanita itu sadar, jika lelaki yang dia cintai bisa dengan mudah meninggalkannya setelah mencintai wanita lain," ucap Adiva dengan penuh kebencian. Adiva kembali ke kantor, dia tidak memperdulikan tatapan mata beberapa karyawan yang tertuju ke arahnya. Kejadian hari ini pasti sudah menyebar ke seluruh penjuru kantor. Satu teman wanita yang tak pernah bersikap menghakimi datang ke mejanya. Dia bertanya mengenai keadaannya. "Adiva, apa Pak Farraz membawamu ke dokter?" Adiva menatap temannya itu dengan senyum lebar. "Aku tidak apa-apa. Mereka hanya mendorongku. Aku keluar beli baju karena pakaianku rusak." "Ah, syukurlah. Aku senang mendengarnya. Lagi pula, mereka sudah mendapat hukuman." Adiva mengangguk, "Kembali ke mejamu. Kalau Pak Farraz tahu, dia akan marah melihat kita ngobrol." ___ "Nona, malam ini hujan lebat dan cuaca dingin. Kenapa anda memakai pakaian tanpa lengan," ucap Kalvian sambil memberikan kain ke Adiva. "Jangan panggil aku Nona atau apa pun yang menyebabkan mereka curiga. Panggil saja Adiva!" "Baik." Keduanya sempat terdiam beberapa saat, hingga Kalvian menceritakan semua kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu kepada Adiva. "Mengenai kasus orang kepercayaan Maula, saya sudah mengurusnya dengan baik. Sudah saya pastikan semua ulah dia sendiri, agar anda tidak terlibat." "Apakah Maula sudah tahu kalau orang kepercayaannya tiada?" "Sudah. Dia bahkan menyembunyikan fakta ini agar Tuan Farraz tidak tahu." Adiva tersenyum puas, dia mengambil gelas berisi jus jeruk dan dia teguk perlahan. "Selangkah demi selangkah, semua akan aku lakukan untuk menghancurkan Maula." "Tapi Nona, kalau anda melibatkan diri dengan Tuan Farraz, saya takut anda akan ketahuan. Dia lelaki yang berbahaya. Bahkan tidak kenal ampun kepada orang yang sudah memanfaatkannya." "Tenang, Kalvian. Aku akan bertindak sehalus mungkin. Aku akan membuat dia jatuh cinta padaku sampai dia membuang istrinya dengan kemauannya sendiri." "Aku akan membantumu dari belakang Nona. Apapun rencanmu, jangan sampai anda lakukan sendiri." "Aku akan terus melibatkanmu, Kalvian. Jangan khawatir!" "Tuan Wira menelpon dan bertanya mengenai Anda." "Besok pagi aku akan menelpon. Kalau enggak ada halangan akhir pekan kita kembali ke Jogja." "Baik, Nona!" "Oh, iya, Kalvian, aku mau bertanya." "Apa, Nona?" "Farraz Ekawira terkenal sombong arogan dan dingin kepada setiap orang. Menurutmu, apa yang dia lakukan sekarang?" "Dia akan membuat gaduh semua orang rumah. Melampiaskan kekesalan pada orang bawahannya." "Tidak dengan malam ini, Kalvian. Dia mulai memikirkanku," jawab Adiva dengan senyum tipis dan tatapan menerawang. Adiva pergi ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tertawa pelan. "Rasanya, tidak sabar untuk melihat wajah Maula yang kacau." Tawa berderai, Kieran yang lemah lembut sudah tidak ada lagi. Yang ada wanita energik tanpa takut dengan kekayaan yang banyak. Semua penderitaan selama enam tahun itu, ia akhirnya bangkit dan menjalankan perusahaan dari seorang pengusaha tanpa keturuanan. "Aku juga akan mengambil alih perusahaan ayah dari tangan wanita iblis itu. Tak akan aku beri kesempatan untuk dirinya senang, selama nafasku masih berhembus." ___ Farraz duduk termangu di ruang kerjanya. Lelaki berparas tampan itu sedang mengerjakan beberapa dokumen yang tidak sempat tersentuh saat di kantor. Namun, pikirannya tiba-tiba teringat kepada Adiva. Wanita cantik dengan tubuh seksi dan punya sifat pemberani. "Hanya dia satu-satunya wanita yang tidak pernah takut padaku. Jika semua wanita tertunduk takut jika berhadapan denganku, dia seolah menantang tanpa rasa gentar," gumam Farraz dengan tatapan datar. Keduanya telapak tangannya tergenggam erat di meja. Seolah kekasalan dalam dirinya terlalu menumpuk dan enggan ia lampiaskan. "Bahkan dia berani meminta diriku menjadi kekasihnya. Wanita itu memang gil@." Farraz melihat jam di dinding ruangannya. Malam terus berlalu. Dia mulai keluar dan menuju sebuah kamar. Di sana, putrinya sudah tertidur. Seperti biasa, dia mengecup kening dan mengucapkan selamat malam. "Aku pernah curiga, kalau dia bukan putriku. Tetapi setelah aku melakukan tes DNA sendiri, dia benar anakku." "Namun dengan kenyataan Maula yang melahirkannya, rasanya aku enggan percaya. Dari Bela bayi hingga kini tumbuh besar, dia tidak pernah menunjukkan kasih sayang dari seorang ibu," ucap Farraz lirih dengan memandang Bela. Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Farraz. Sebesar apa pun kebenciannya terhadap istrinya, dia tidak bisa menghapus kenyataan bahwa Maula adalah ibu dari anaknya. Farraz keluar dari kamar putrinya menuju kamarnya. Saat membuka pintu, Maula sudah menunggu dengan gaun tidur yang tipis berwarna putih. "Sayang, kau mau mandi dengan air hangat? Aku akan siapkan," ucap Maula dengan wajah berbinar. Farraz menatap dengan tatapan datar. "Sudah berapa kali aku ingatkan, kalau jangan pernah mengambil peran dari seorang istri." "Farraz, sudah enam tahun lamanya kita bersama, tidak adakah rasa cinta atau kasihan kepadaku?" tanya Maula dengan air mata menggenang di pelupuk mata. "Kau lupa atau pikun, Maula? Sebelum aku menikah denganmu, bukankah aku sudah mengatakan hanya memberimu status istri di mata dunia, bukan memberikan tahta hatiku. Jadi, kembali ingat kata-kataku malam ini!" "Aku ingatkan lagi, Maula. Aku masuk ke kamar ini hanya untuk mengambil bajuku. Kau lupa jika semua ini sandiwara, selama ini kita tidur terpisah," ucap Farraz dengan tatapan marah. Lelaki itu mengambil bajunya dan kembali ke kamarnya. Dia menjatuhkan tubuhnya pada sofa. "Semua harus aku akhiri. Aku akan nenyuruh Adiva memindahkan semua barangku dari kamar wanita si alan itu." "Dia wanita yang sangat jahat, hanya satu yang membuatnya beruntung. Dia melahirkan anakku!" Pagi harinya, setelah sarapan dan Bela berangkat sekolah, Farraz bicara kepada istrinya mengenai rencana yang ia putuskan semalam. "Maula, sekertarisku siang nanti akan datang untuk memindahkan semua barngku dari kamarku. Ini perintah, jangan membantah dan mempersulitnya!" "Farraz, kau—" "Jangan membantah! Semua sudah menjadi keputusanku. Kau punya kebebasan juga hakmu, begitupun aku!" Farraz langsung pergi meninggalkan istrinya yang masih kesal di meja makan. "Dia benar-benar tidak tersentuh. Selama enam tahun ini, aku hanya menjadi istri di atas kertas saja." Maula merasa sedih karena lelaki yang dia cintai tidak pernah melihatnya sebagai wanita. "Sudah enam tahun berlalu, tetapi, tidak ada kesempatan untuk mendapatkan hatinya." Setibanya di kantor, Farraz memanggil Adiva ke ruangannya. Aroma manis yang menguar menusuk hidungnya langsung membuat lelaki tampan itu memejamkan mata. 'Wangi ini lagi, yang selalu membuatku ingat dengan kejadian malam itu. Jika dia adalah orangnya, kenapa tidak langsung meminta pertanggung jawaban?' tanya Farraz dalam hati. "Ini tiga dokumen yang harus anda tanda tangani pagi ini, Pak. Dan jadwal hari ini akan saya bacakan!" "Jam sepuluh pagi ada meeting dengan kepala devisi. Jam dua ada pertemuan penting dengan Tuan Hendrik di restoran," ucap Adiva. Farraz masih diam dengan pandangan tidak mai lepas dari wajah ayu Adiva. "Apakah masih ada yang harus saya lakukan, Pak?" "Setelah makan siang, kamu ke rumahku dan masuk ke kamar Nona Maula. Ada barangku di sana, tolong kamu pindahkan ke kamarku!" Perintah dari Farraz membuat Adiva mengangguk, namun dia juga kepo mengenai kamar yang terpisah. 'Apakah mereka pisah ranjang?' tanya Adiva dalam hati. Jam makan siang pun tiba, Adiva langsung menuju kediaman Farraz. Saat pintu utaman terbuka, dia dipersilakan masuk. Langlahnya pelan dengan tatapan mengelilingi ruangan. Senyum tipis yang berbalut kebencian itu terlihat dari wajah cantiknya. 'Akhirnya, aku bisa sampai di rumah ini,' gumam Adiva pelan. Dia memberitahu alasan kedatangannya karena di suruh oleh Tuannya. Namun sebelum dia melakukan semua tugasnya, dia harus meminta izin dulu kepada nyonya rumah. "Bisakah aku bertemu dengan Nona Maula?" "Beliau di kamarnya. Silakan duduk lebih dulu, saya akan panggilkan!" "Terima kasih!" Adiva sudah menyiapkan mentalnya, jika Maula akan marah atas izin yang diberikam suaminya. Beberapa waktu menunggu, Adiva akhirnya bertemu Maula untuk yang kedua kalinya. Tatapan Maula terus menatap sekertaris suaminya. Berkulit putih rambut panjang dan punya tubuh yang proposional, membuat wanita itu menjadi waspada. 'Kenapa tatapannya seperti ingin memakanku?' tanya Adiva dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD