64. Fakta Baru yang Terungkap

1915 Words

"Mau ke mana? Aku ... rindu, Dhis," ujar Putra. Tangan kanannya membentang saat tanah membelah jadi dua, memisahkan pelukan Gendhis dan Putra yang sebelumnya teramat erat. Gendhis terbata. Suaranya tercekat di pangkal tenggorokan. Bahkan, untuk menggeleng pun ia tak kuasa. Tubuhnya kaku melihat tanah yang terus membelah, membentang jarak antara ia dan mendiang suaminya. Hanya tatapan matanya yang sarat akan cinta dan rindu yang bisa berbicara tanpa kata, sedangkan Putra, ia terlihat mundur selangkah dari tempatnya berpijak. "Dhis. Tolong aku. Tolong kami. Aku ...," Putra menggantung permintaannya. Ia telah mengatupkan kedua tangan di d**a, sembari menatap Gendhis penuh pinta. Pada detik berikutnya, ia menoleh ke belakang. Pada bayang Rania yang menantinya dengan wajah penuh derai air mat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD