bc

Obsession

book_age16+
37
FOLLOW
39
READ
love-triangle
possessive
family
drama
tragedy
mystery
city
highschool
first love
school
like
intro-logo
Blurb

Egha juga ingin bahagia seperti saudara kembarnya, Rasya. Salahkah kalau ia mempertahankan pemuda yang dicintainya dengan cara apa pun?

Well, mungkin tidak salah kalau seandainya Ken bukanlah kekasih sang saudara kembar.

Cover original by Me

Gambar

https://unsplash.com/photos/NeRKgBUUDjM

Font by PicsArt

chap-preview
Free preview
Bab 1

Keluarga Segara tengah berbahagia. Rachel Segara, menantu satu-satunya keluarga itu, baru saja melahirkan sepasang bayi kembar berjenis kelamin perempuan. Bastian Segara, Ayah si bayi, menamai putri kembarnya Magdalena Rasya Segara dan Regha Isabella Segara. Seperti harapan para orang tua lainnya, Bastian pun berharap kedua putrinya menjadi perempuan-perempuan tangguh kelak. Atau setidaknya seperti para perempuan di keluarga Segara lainnya.

Dari hari ke hari si kembar menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Mereka berdua juga sangat mirip, apalagi kalau Rachel mendandani dan memakaikan mereka pakaian dan aksesoris yang sama. Mereka berdua hampir tidak dapat dibedakan, kecuali Egha yang terlihat lebih aktif daripada sang kakak, Rasya.

Bertambah besar perbedaan sikap si kembar semakin terlihat. Rasya ternyata lebih pendiam dari Egha yang lahir lima menit setelahnya. Egha lebih lincah, juga lebih aktif dan agresif. Sehingga sering membuat kedua orang tuanya kewalahan menghadapi tingkahnya. Namun meskipun sikap mereka berbeda, kedua gadis kecil itu sangat akrab.

Memasuki usia sekolah si kembar semakin terlihat cantik. Mereka selalu menjadi idola baik di sekolah Taman Kanak-kanak, sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Selain cantik mereka juga pintar, karena itu mereka menjadi murid populer di sekolah. Sayangnya mereka tidak pernah sekelas sehingga semakin tinggi tingkatan kelas mereka semakin mereka terlihat tidak akrab. Untungnya itu hanya berlaku di sekolah, karena di rumah mereka nyaris tak terpisahkan. Tidur pun mereka masih berada di satu kamar yang sama. Baik Egha maupun Rasya tak ada yang mau tidur terpisah.

Di sekolah, Egha lebih terkenal daripada Rasya. Mungkin karena sikap Egha yang lebih terbuka dan mudah bergaul sehingga ia bisa memiliki lebih banyak teman dibanding Rasya yang pendiam. Di sekolah, Egha lebih sering bergaul dengan teman-temannya ketimbang dengan radya, sehingga kadang Rasya merasa teracuhkan. Sebenarnya ia juga ingin seperti Egha tetapi tidak bisa, ia masih belum bisa menghilangkan sifat malunya. Sementara untuk teman, ia hanya sedikit memilikinya. Kurangnya rasa percaya diri membuatnya hanya memiliki sedikit teman, dan rata-rata temannya memiliki kepribadian yang tak jauh berbeda dengannya.

Di Sekolah Menengah Atas mereka lain lagi. Baik Egha maupun Rasya mempunyai teman yang sama banyak, karena mereka satu kelas kali ini. Setiap yang berteman dengan Egha pasti juga akan berteman dengan Rasya. Egha juga selalu mengajak Rasya untuk pergi ke mana pun ia pergi. Duduk pun mereka sebangku. Untung saja Egha celamitan dan Rasya pendiam, sehingga tidak terlalu susah membedakan mereka.

Hanya Rachel Segara saja yang tidak kesusahan membedakan di kembar. Walaupun mereka bertukar posisi Rachel tetap dapat membedakan mereka. Pernah suatu hari,batas ajakan Rasya, mereka bertukar tempat. Alasannya Rasya ingin tahu bagaimana reaksi orang tua mereka. Ternyata Rachel mengetahuinya, padahal Egha sudah mengenakan baju dan aksesoris Rasya, begitu pun sebaliknya. Egha juga berdandan seperti Rasya yang feminim. Namun Rachel tidak dapat ditipu. Si kembar kapok mengerjai Ibu mereka.

"Ada yang mau Papi kasih tau sama kalian semua," ucap Bastian suatu malam. Mereka baru selesai makan malam dan masih berada di tempat duduk masing-masing. "Papi harap kalian jangan menyela dulu sebelum Papi selesai ngomong."

Tak ada yang bersuara, termasuk Rachel. Aura Bastian memang sedikit lebih menyeramkan daripada sang istri. Padahal Bastian bukankah tipe pria yang dingin. Ia adalah pria yang hangat sangat menyayangi keluarganya, bahkan cenderung memanjakan mereka. Namun, di saat tertentu aura penyayang Bastian akan terganti dengan aura tegas secara otomatis.

"Kita akan pindah ke Bandung Minggu depan." Jeda, Bastian menatap wajah anggota keluarganya satu persatu. Rata-rata wajah mereka menunjukkan keterkejutan, hanya saja untuk bertanya sebab dan alasan kepindahan, mereka masih segan. "Sebenarnya Papi sudah lama pengen kita pindah, tapi selalu Papi tunda. Alasannya adalah kalian, Papi nggak mau kalian merasa nggak enak terus nggak betah."

"Egha mau kok, Pi!" sahut Egha semangat.

Rachel berdehem menegur putri bungsunya. Ia ingin mengingatkan kalau Egha telah melanggar perkataan Ayahnya. Namun reaksi Bastian tidak seperti dugaan Rachel. Perempuan itu mengira kalau suaminya akan marah karena Egha telah berani tidak mentaati perkataannya, bukan tersenyum seperti sekarang.

"Kamu senang kita akan pindah ke Bandung?" tanya Bastian. Senyum masih menghiasi wajah tampannya. Ia tadi sengaja meminta seperti itu, untuk tidak menyelanya sebelum ia selesai bicara. Namun bukan berarti ia serius, ia tahu kalau Egha pasti tidak akan tahan untuk tidak memberi tanggapan. Ia hanya mencoba mereka saja tadi. Ternyata dugaannya benar, Egha yang super aktif yang bertanya lebih dulu.

Egha mengangguk. "Senang dong, Pi," jawabnya sambil tersenyum lebar. "Aku sih mau kita pindah ke mana aja pasti senang terus. Hitung-hitung nyari pengalaman sama teman baru, Pi. Juga yang penting kita tetap bareng, nggak ada masalah buat aku."

Rachel menghela napas. Tentu saja bagi Egha seperti itu. Egha yang lincah dan aktif tentu menyukai hal-hal menantang seperti itu, tapi bagaimana dengan Rasya? Apakah putri sulungnya juga berpikiran seperti sang adik?

Sementara Bastian kembali menyunggingkan senyum. Ia sudah tahu kalau putri bungsunya menyukai petualangan dan kepindahan mereka ke Bandung tentu merupakan sebuah petualangan bagi Egha. Bastian menyukai semangat putri bungsunya.

"Kalo Rasya gimana?" Bastian mengalihkan perhatian kepada si sulung yang tampak diam saja dengan kepala tertunduk. "Senang juga nggak?"

Egha menyenggol lengan kakak kembarnya, karena sang kakak diam saja setelah beberapa detik pertanyaan dari Ayah mereka terdengar.

"Sya, Papi nanya lo," bisik Egha.

Cepat Rasya mengangkat kepala mendengar bisikan itu. Menatap sang Ayah yang saat ini juga sedang menatapnya dengan tatapan serba salah. Ia ingin menjawab tetapi takut, juga malu. Ia takut kalau Papi akan marah setelah mendengar jawabannya nanti. Rasya menggigit bibir.

"A-aku setuju juga, Pi," jawab Rasya kembali menundukkan kepala.

Bastian menghela napas melihat reaksi putri sulungnya. Rasya tidak seperti Egha yang berani mengutarakan perasaan. Dari apa yang dilihatnya, sepertinya putri sulungnya tidak setuju dengan niat kepindahan mereka.

Rachel melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh suaminya. Sebagai Ibu dari si kembar yang selalu bersama kedua putrinya itu setiap mereka berada di rumah, tentu ia lebih mengerti perasaan kedua putrinya. Sama seperti Bastian, ia juga menyadari kalau putri sulung mereka sepertinya tidak setuju dengan rencana kepindahan Ayahnya.

Egha juga menyadarinya. Saudara kembarnya sepertinya tidak ingin mereka pindah. Entah kenapa, padahal ia sangat menyetujui rencana itu. Mereka akan mendapatkan suasana dan teman baru tentu saja.

"Beneran lo setuju, Sya?" tanya Egha lirih. Sekali lagi gadis itu menyenggol lengan kakak kembarnya.

Rasya tidak menjawab Egha. Sebagai tanggapan, gadis itu hanya mengangguk saja.

"Bohong kan lo?" tebak Egha tepat sasaran. "Lo kalo nggak setuju usul Papi bilang aja. Papi nggak marah kok," bujuk gadis itu. Suaranya masih lirih.

Rasya tetap diam. Kepalanya semakin menunduk dalam. Ia juga ingin seperti Egha, bisa menunjukkan dan mengatakan perasaan tanpa ragu. Namun ia terlalu malu dan takut untuk itu. Ia masih belum bisa dan belum terbiasa.

"Rasya, kamu kalo nggak setuju sama rencana Papi bilang aja, Sayang. Papi nggak akan marah." Rachel juga ikut membujuk putri sulungnya. Rasanya memang sedikit aneh kalau putri kembarnya sangat berbeda, padahal saat kecil dulu sifat mereka nyaris sama. "Iya kan, Pi?" Rachel menatap suaminya. Meminta sang suami untuk ikut membujuk Rasya agar mau bicara dengan isyarat matanya.

Bastian mengangguk. "Iya, Sya. Papi nggak marah," sahut Bastian. "Papi malah senang kalo kamu mau bilang gimana perasaan kamu."

Kepala cantik Rasya perlahan terangkat. Mata cokelat gelapnya menyapu wajah sang Ayah. Tampak senyum hangat di wajah Ayahnya yang masih terlihat tampan diusia yang sudah tidak muda lagi itu. Kedua sudut bibir Rasya terangkat tanpa disadarinya melihat senyum itu. Kemudian gadis itu mengangguk mantap. Ia sudah memantapkan pilihan kalau ia akan mengikuti ke mana pun keluarganya akan pergi. Karena bagi Rasya, rumah adalah di mana keluarganya berada.

"Aku setuju kok, Pi," ucap Rasya sambil mengangguk sekali lagi. "Aku akan ikut ke mana aja kalian pergi."

Rachel tersenyum bangga. Ia tahu pasti sangat tidak mudah bagi Rasya untuk bisa seperti tadi. Putrinya itu terlalu pemalu.

"Gitu dong, Sya." Sekali lagi Egha menyenggol bahu kakak kembarnya, kali ini lebih keras dari tadi sampai-sampai membuat Rasya sedikit bergeser dari duduknya. "Nggak mati juga kan kalo ngomong." Egha tertawa kemudian memeluk Rasya.

Rasya tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum malu dengan pipi yang merona.

Rachel dan Bastian tersenyum bahagia melihat keakraban kedua putrinya. Mereka berharap si kembar akan terus saling menyayangi sampai akhir hayat mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Memang sangat berat untuk berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat dengan kita. Hal itu juga dirasakan si kembar Egha dan Rasya ketika berpisah dengan teman-teman sekolah mereka. Rasanya sangat sedih saat mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman sekelas mereka. Egha yang jauh dari kata cengeng saja sampai menangis. Gadis itu berpelukan dengan dua orang sahabatnya yang juga sama-sama menangis.

"Jangan lupain kita ya, Gha," pinta Keisya di sela tangis. Gadis itu menyusut air matanya.

Egha mengangguk sedih. "Kalian juga jangan lupain gue ya?"

Keisya dan Lola mengangguk bersamaan sebelum kembali memeluk Egha.

Sementara Rasya menatap semuanya dengan senyum haru. Di sebelahnya berdiri Martha, temannya dan juga Egha tetapi tidak seakrab Keisya dan Lola. Si kembar memang memiliki teman yang sama banyak, tetapi Rasya tidak memiliki teman seakrab kedua teman yang dimiliki Egha. Sehingga Rasya masih bisa menyembunyikan air matanya.

"Besok ya kalian pindahnya, Sya?" tanya Martha serak. Sangat kentara kalau ia sedang menahan haru.

Rasya mengangguk, menoleh menatap Martha. Mata gadis itu tampak memerah. Rasya tahu kalau Martha juga sedih seperti yang lainnya.

"Iya," jawab Rasya. "Besok pagi, Tha."

"Senang kenal kamu, Sya." Martha tersenyum. "Aku harap kamu nggak lupa sama kami."

Rasya menggeleng. "Aku nggak ada niat buat ngelupain kalian. Kalian semua itu teman-teman pertama aku, juga teman-teman terbaik," sahut Rasya.

Senyum Rasya mengembang, mengakibatkan dua bulir bening menuruni pipinya. Kemudian entah siapa yang memulai, Rasya dan Martha sudah saling memeluk diselingi isak tangis.

***

"Nggak nyangka ya, Sya, kalo besok kita udah nggak di sini lagi," ucap Egha.

Si kembar berada di dalam kamar mereka. Berbaring di ranjang masing-masing setelah setengah harian membantu kedua orang tua mereka berbenah. Mereka memang pulang lebih awal di sekolah tadi. Setelah acara perpisahan dengan teman sekelas mereka yang diwarnai dengan tangisan, mereka langsung pulang untuk membantu mengepak barang-barang mereka yang masih berada di luaran. Saat ini mereka baru selesai mengepak semua barang dan sedang beristirahat di kamar sambil menunggu waktu makan malam tiba.

Seperti biasa Rasya tidak langsung menjawab. Napas keras terdengar terembus dari mulutnya. Rasya mengerjap beberapa kali, mengusir air yang mulai menggenangi matanya.

"Rasanya sedih banget. Iya kan, Gha?" tanya Rasya tanpa menatap kembarannya. Matanya menstap lurus langit-langit kamarnya yang berwarna merah muda.

Berbeda dengan langit-langit di bagian Egha yang berwarna biru laut. Selain berbeda sifat dan karakter, mereka juga mempunyai warna kesukaan yang berbeda. Rasya yang lebih feminim menyukai warna merah muda, sedangkan Egha yang ceria lebih menyukai warna biru. Meskipun mereka tidur dalam satu kamar, tetapi dibatasi dengan warna-warna kesukaan mereka. Batas yang sering buat dan mereka langgar sendiri.

Egha menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan. "Gue nggak nyangka kalo pisah sama teman-teman kita bakalan sesedih ini," sahut Egha. "Rasanya waktu cepat banget berlalunya. Nggak nyangka gue kalo seminggu bisa secepat sekarang."

Rasya kembali tak menyahut. Gadis itu hanya diam, tetapi di dalam hati Rasya mengiakan perkataan adik kembarnya. Saat kita ingin berlama-lama bersama orang yang kita sayangi, waktu akan bergerak semakin cepat. Namun sebaliknya kalau kita sedang berada di titik terendah, waktu seolah enggan beranjak.

Egha bangun dari rebahannya, duduk mengarah kepada Rasya.

"Gue pasti bakalan kangen banget sama mereka." Egha mendongak, menatap langit-langit Rasya yang berwarna merah muda. "Terutama sama Keisya sama Lola."

"Aku bakalan kangen sama semuanya, Gha," sahut Rasya. Gadis itu perlahan duduk menghadap Egha dan memeluk lututnya.

Egha juga menatap Rasya. "Menurut lo, kita bisa dapet teman nggak ya di Bandung nanti?" tanyanya.

Rasya tersenyum kecut sebelum menjawab. Kalau Egha yang mudah mendapatkan teman saja bertanya seperti itu padanya, apalagi ia yang pemalu. Rasya mengulangi pertanyaan yang diajukan Egha. Apakah mereka bisa mendapatkan teman di Bandung?

Rasya mengangkat bahu. "Kalau kamu pasti nggak susah nyari teman ya, Gha?" Rasya menatap lurus-lurus adik kembarnya yang sedang memeluk boneka Mickey tikus kesayangannya. Rasya tidak tahu apa yang menarik dari tokoh kartun itu sehingga Egha sangat menyukainya. Padahal menurutnya Mickey tikus tidak menarik. Di Disney, ia lebih menyukai para princess dibandingkan tokoh-tokoh Disney yang lain.

Egha tidak menjawab. Gadis itu hanya mengangkat bahu. Ia tidak tahu apakah ia bisa dengan mudah mendapatkan teman di Bandung seperti di Surabaya sini. Ia tidak bisa meramal, juga tidak bisa melihat masa depan.

"Nggak tau gue, Sya." Egha menggeleng. "Kalo gue sih berharap kayak gitu."

Rasya tersenyum masam. "Kalo aku gimana?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. "Menurut kamu, aku bisa dapat teman cepat juga nggak, Gha?"

Lagi-lagi Egha menggeleng. "Gue bukan cenayang, Sya," jawabnya. "Jadi gue nggak tau jawaban dari pertanyaan lo." Egha kembali berbaring. "Jangankan pertanyaan lo, pertanyaan gue aja gue nggak tau jawabannya, Sya," lanjutnya dengan tatapan lurus ke langit-langit tempat tidurnya yang bergambar Mickey tikus.

Rasya tersenyum tipis. "Seandainya aja kita bisa ngeliat masa depan ya, Gha. Kayaknya bakalan seru. Kita bisa liat siapa calon suami kita di masa depan."

Egha langsung menatap Rasya mendengar perkataan kakak kembarnya itu. Gadis itu bangun dengan cepat, duduk menghadap sang kakak kembar yang menatapnya dengan bingung.

"Kamu kenapa, Gha?" tanya Rasya dengan sepasang alis yang mengernyit. "Kok natap aku kayak gitu?"

Rasya bergerak serba salah melihat tatapan yang dilayangkan Egha padanya. Saudara kembarnya itu menatapnya lekat seolah ia seseorang yang tertangkap basah telah mencuri sesuatu.

Egha mengerjap beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Rasya. Egha menjawab pertanyaan Rasya dengan pertanyaan pula.

"Lo serius sama perkataan lo soal suami-suami itu?"

Rasya mengedipkan mata sekali. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Egha. Kalau yang ditanyakan Egha soal keseriusannya yang ingin melihat calon suaminya di masa depan, entahlah. Ia tahu kalau itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, akan tetapi kalau seandainya bisa tentu saja itu akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Ia pasti akan dengan senang hati mencoba untuk melihatnya.

"Emang kenapa?" Rasya juga menjawab pertanyaan Egha dengan pertanyaan.

Egha memutar bola mata. Gadis itu berdecak, kesal dengan Rasya yang juga bertanya. Kalau terus seperti ini tidak akan ada habis-habisnya. Salah satu dari mereka harus ada yang mau menjawab, dan sepertinya itu akan menjadi bagiannya.

Egha mengangkat bahu. "Ya nggak apa-apa sih, cuman aneh aja kalo emang bisa kayak gitu. Nggak seru, nggak ada tantangannya lagi,"jawab Egha. "Gue sih lebih milih nggak tau, Sya. Daripada ntar pas gue udah tau ternyata gue nggak suka, kan ribet."

Rasya tersenyum. Beginilah mereka. Selalu berbeda dalam segala hal, tetapi mereka sangat saling menyayangi. Ia sangat menyayangi Egha dan ia yakin begitu pun sebaliknya. Mereka memang bersaudara kembar, tetapi tak selalu sama kan? Berbeda itu wajar, yang tidak wajar adalah kita berbeda kemudian setiap orang bersikeras mengatakan kalau pendapatnya adalh paling benar dan tidak ada yang mau mengalah.

Ia yang sangat menyukai dongeng tentu berharap suatu hari akan terjadi keajaiban dalam hidupnya seperti semua dongeng yang dibacanya. Dan bukankah melihat calon suami masa depanmu juga memerlukan keajaiban?

Sementara bagi Egha yang aktif dan menyukai petualangan serta tantangan menganggap semua hal seperti itu tidak menarik dan tidak menyenagkan. Sangat tidak menantang.

"Tapi aku mau , Gha, kalo ada," sahut Rasya.

Egha kembali memutar bola mata bosan. Ia sudah tahu Rasya pasti seperti itu. Saudara kembarnya adalah gadis yang feminin dan suka berdandan. Sementara ia sendiri tidak suka dengan semua itu, ia lebih suka makan dan jalan-jalan. Apalagi ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Rasanya sangat menyenangkan bisa mengenal dan bermain bersama orang-orang yang baru dikenalnya.

"Suka-suka lo aja deh, Sya. Tapi kalo gue sih ogah!"

Egha kembali berbaring, terapi hanya beberapa detik. Ketika Rasya memutuskan untuk berbaring ia justru kembali duduk dengan cepat. Saking cepatnya membuat Rasya terkejut sampai-sampai gadis itu mengusap jantungnya yang berdebar.

"Apaan sih, Gha? Bikin orang kaget aja!" gerutu Rasya dengan bibir mengerucut.

Egha menghiraukan gerutuan Rasya. Gadis itu malah menatap kakak kembarnya serius.

"Sekolah kita nanti gimana ya, Sya?" tanya Egha. "Menurut lo kita bakalan jadi populer kayak di sekolah kita di sini nggak?"

Rasya memutar bola mata menatap Egha. Tak habis pikir dengan semangat saudara kembarnya. Apalagi melihat binar di mata cokelat Egha. Kadang Rasya berpikir, apakah tidak lelah menjadi seseorang yang selalu bersemangat dalam segala hal seperti Egha? Ia yang melihat bagaimana antusiasnya Egha terhadap sesuatu saja rasanya sangat lelah.

"Jangan mikirin itu dulu deh," sahut Rasya lembut. "Kita juga belum tau kan gimana sekolah kita nanti. Syukur-syukur langsung dapat teman, gimana kalo kita dicueki nanti?" tanyanya.

Egha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia heran mengapa Rasya selalu mengkhawatirkan sesuatu yang kadang tidak penting? Ia yakin tidak ada yang akan mencueki mereka di mana pun mereka berada, asalkan mereka bersikap ramah. Sebagai orang atau siswa baru, usahakan untuk menyapa lebih dulu. Jangan malu apalagi gengsi, harus yakin kalau mereka akan membalas sapaan kita.

"Nggak bakalan ada yang nyuekin lah kalo kita nggak cuek."

"Kamu sih enak, Gha. Aku yakin kamu pasti bisa cepat dapat teman. Nah aku?"

Pertanyaan bernada khawatir Rasya membuat Egha ingin tertawa sekaligus menangis. Ataukah ia harus keduanya. Entahlah, ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan ia menjawab dengan sesuatu yang dapat  memojokkan kakak kembarnya. Yang pasti sekarang ia hanya dapat menghibur Rasya.

"Semoga aja kita sekelas lagi ya, Gha. Biar aku nggak kayak anak hilang."

Egha mengangguk, mengaminkan harapan Rasya. Ia juga berharap semoga di sekolah baru mereka sekelas. Ia juga tidak ingin Rasya merasa terasing, kakak kembarnya itu sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kalau ia jangan ditanya. Di mana pun tempatnya ia pasti bisa menyesuaikan diri. Ia juga suka mencoba hal-hal baru. Dan bandung adalah kota yang sangat tepat untuk mencoba hal baru itu. Ia tidak akan menyia-nyiakan kepindahan mereka ke kota kembang itu. Ada banyak tempat yang ingin dikunjunginya, terutama  Paris Van Java. Membayangkan ia akan berjalan-jalan menyusuri kota Bandung kemudian Bogor membuatnya tersenyum. Apalagi membayangkan villa di kaki bukit dan perkebunan teh.

Alis Rasya berkerut melihat adik kembarnya yang tersenyum sendiri. Dasar Rasya penakut, gadis itu bergidik ngeri. Ia takut kalau-kalau Egha kerasukan. Ingin meninggalkan kamar rasanya tidak mungkin, kamar ini adalah kamarnya juga.

"Gha, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rasya takut-takut.

Sekarang Egha yang menatap Rasya bingung.

"Apa maksud lo?" tanya Egha sedikit kesal.

"Kamu senyum-senyum sendiri, Gha, aku takut kamu kerasukan," jawab Rasya polos.

"What?" pekik Egha tidak percaya dengan pendengarannya. Rasya sialan memang, kalau bukan saudaranya pasti ia sudah menendang bokongnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kelana: Aku, Ibu dan Dia ( Bahasa Indonesia )

read
239.3K
bc

THE ROOMMATE

read
54.8K
bc

Pernikahan Palsu

read
192.6K
bc

MANTAN SUAMIKU (BAHASA INDONESIA)

read
351.8K
bc

Last Day In New York

read
8.0K
bc

Escape (With a Cold Man)

read
8.8K
bc

Terjebak Cinta Presdir Mesum (Konten Dewasa, Indonesia)

read
425.1K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play