Bab 3

2053 Words
Salah satu kebiasaan buruk Egha adalah suka bangun siang. Namun, itu hanya berlaku di akhir pekan atau hari libur saja. Sedangkan di hari lainnya, Egha akan secepat Rasya. Pagi ini, karena mereka masih dalam rangka baru pindahan rumah dan belum mulai bersekolah, Egha masih bergelung dalam selimut tebalnya meskipun matahari sudah lumayan tinggi bersinar. Udara kota Bandung yang tidak seberapa panas membuat tidurnya semakin lelap. Ini sudah kedua kalinya Rasya memasuki kamar setelah bangun tidur tadi pagi, tapi tidak juga didapatinya Egha yang sudah bangun. Adik kembarnya masih setia dengan dengkuran halusnya. "Kamu mau bangun jam berapa, sih, Gha?" Rasya mencoba menarik selimut adik kembarnya. "Masa jam segini belum bangun juga!" gerutunya kesal. Namun, ternyata insting Egha tetap terjaga meskipun sedang tidur. Secepat Rasya menarik menyingkap selimutnya, secepat itu pula Egha menariknya sehingga selimut sudah menutupi tubuhnya sampai sebatas leher, lagi. "Gha, bangun!" seru Rasya setengah memekik. Pipinya menggembung, bibir mengerucut. "Jangan kayak kebo, dong!" "Jangan rese, ya, Sya!" Egha menggumam. Entah dia sadar atau tidak, matanya masih terpejam rapat, hanya mulutnya saja yang berbicara. "Lo kalo mau bangun, ya, bangun aja sendiri. Nggak usah ngajak-ngajak gue." Rasya melebarkan mata mendengarnya, pipinya makin menggembung. "Eghaaaa!" serunya kesal. "Aku, tuh,.udah bangun dari tadi pagi, ya. Nggak ada, tuh. ngajak-ngajakin kamu, tapi ini udah siang banget. Gha. Kamu mau bobonya sampe kapan coba?" "Bisa nggak, sih, lo nggak ribut? Pagi-pagi berisik amat!" "Astaga, Egha!" Rasya sudah benar-benar memekik kini. Dia mengentakkan kaki saking kesalnya. "Ini udah hampir jam sepuluh, ya. Gha, ya, udah nggak pagi lagi!" Egha berdecak, menutup telinganya kepalanya dengan sebuah bantal lagi yang berada di tempat tidur bagian bawah. Tadi malam sepertinya dia menendangnya sehingga salah satu bantal berbentuk kepala beruang itu berpindah tempat jadi ke situ. Rasya benar-benar berisik baginya, pekikannya yang seperti suara tikus terjepit sangat mengganggu, sampai-sampai membuat tidurnya terganggu. Dia terbangun karena mendengar suara pekikannya, bukan karena selimutnya yang ditarik tadi. "Berisik, Sya! Kalo belum jam dua belas artinya masih pagi!" Egha melemparkan guling ke arah Rasya dengan mata yang masih saja terpejam. Hebatnya, guling itu mengenai kepala Rasya, memberantakkan rambutnya yang diikat ekor kuda. "Eghaaaa!" Sekali lagi teriakan Rasya melengking, dan sekali lagi bantal berbentuk kepala beruang mengenai tubuhnya. "Egha....!" Egha berbalik, memutar tubuhnya menjadi berbaring miring menghadap Rasya. Matanya yang tadi terpejam sedikit terbuka, menatap kakak kembarnya yang berdiri sambil berkacak pinggang. "Mending sekarang lo keluar, deh, Sya, atau mau gue timpuk lagi. Kalo mau bangunin gue ntar aja jam dua belas siang. Ingat, jam dua belas siang!" ucapnya tajam dengan penekanan di akhir kalimat. Dengan kaki mengentak Rasya keluar dari kamarnya. Bukan karena takut pada ancaman Egha, mereka sudah terbiasa bermain perang bantal dan guling, dan rasanya tidak sesakit itu. Dia hanya kesal saja pada Egha yang tetap tidak mau bangun juga. Padahal Mama yang memintanya untuk membangunkan Egha untuk membantu mereka merapikan rumah agar cepat beres. Jika tidak disuruh Mama to dak akan dia mau membangunkan adik kembarnya yang memang susah dibangunkan jika sedang liburan seperti mereka sekarang ini. Dia lebih senang membereskan semuanya sendirian. Mereka belum memiliki asisten rumah tangga, sementara Papa sudah harus pergi ke kantor hari ini juga sehingga tidak dapat membantu. Rasya mempercepat langkah menuruni tangga. Dia ingin segera sampai ke ruang tengah rumah mereka yang masih berantakan. Ruang tamu dan dapur sudah rapi, Mama dan Papa yang merapikannya tadi malam saat dia dan saudara kembarnya sudah tidur. Tinggal ruang tengah dan ruang keluarga yang masih berantakan. "Egha nggak mau bangun, Ma!" lapor Rasya dengan bibir mengerucut dan pipi yang menggembung. Dia duduk di samping Mama yang sedang menepuk-nepuk banyak sofa. "Pas dibangunin Rasya, Egha malah marah-marah." Rachel mengembuskan napas melalui mulutnya dengan pelan. Dia tersenyum. mengusap puncak kepala Rasya. "Nggak apa-apa, Sayang. Jangan gitu, dong, mukanya, ntar cantiknya hilang, lho." Dia tersenyum. "Lagian nggak salah Rasya juga Egha nggak mau bangun, 'kan, emang udah kebiasaan dia yang bangun siang kalo nggak sekolah. Mama aja yang lupa minta kamu bangunin dia." Mereka bertiga sudah tahu kebiasaan buruk Egha yang sangat susah dibangunkan jika tidak sedang ada kegiatan sekolah atau kegiatan lainnya yang dianggapnya penting. Egha akan bangun siang, meskipun dibangunkan dia tidak akan bangun. Jika bangun pun, dia akan kembali tidur lagi setelah mengusir si pengganggu dari kamarnya. Egha akan bangun sendiri setelah matahari sudah tinggi, biasanya pukul dua belas siang, bisa kurang sedikit, bisa lebih sedikit. Dia tak akan bangun jika jarum jam masih berada di angka sebelas. Tadi Rachel kelupaan dan meminta Rasya untuk membangunkan Egha karena mereka membutuhkan bantuannya. Sebenarnya Egha bukan anak yang pemalas, justru sebaliknya. Dia juga sangat bersemangat dalam segal hal apalagi aktivitas semacam ini. Asal jangan menyuruhnya duduk di belakang meja belajar untuk mengerjakan tugas sekolah. Mati-matian dia akan menolaknya. Egha akan mengerjakannya bila sudah kepepet. Meskipun begitu, nilai akademisnya selalu bagus. Tak sebagus Rasya yang memang sangat suka membaca dan segala aktivitas di dalam ruangan, tapi Egha tetap mendapatkan posisi sepuluh besar di kelasnya. "Tapi, 'kan, Rasya kesal, Ma. Masa Egha bilang sekarang masih pagi?" adu Rasya. Pipinya tetap menggembung. "Dia minta dibangunin pukul dua belas siang ntar." Kali ini Rachel menarik napas, kemudian baru mengembuskannya setelah mendiamkannya satu detik di paru-parunya. "Biarin aja. Kalo kesal kamu nggak usah bangunin dia, ntar juga dia pasti bangun sendiri kalo udah siang banget, kayak biasanya " Dia kembali tersenyum, meletakkan bantal pada sofa di sampingnya, mengambil bantal yang lain kemudian melakukan hal yang sama pada bantal sebelumnya. Rasya yang melihatnya langsung mengikuti. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mama. Masih ada beberapa bantal sofa lagi yang perlu mereka rapikan, lalu menata beberapa hiasan rumah lainnya, kemudian membersihkan lantai dan mengepelnya, setelah itu baru beres semuanya. Rasya yakin ketika Egha bangun nanti mereka sudah menyelesaikan pekerjaan ini. Bukannya iri pada Egha karena saudara kembarnya tidak ikut membantu, dia lebih menunggu wajah takjub Egha ketika melihat betapa indahnya rumah mereka. "Kata Papa, mulai besok bakalan ada asisten rumah tangga yang bantu-bantu Mama di rumah. Terus kalian harus siap-siap buat ke sekolah karena lusa kalian sudah harus masuk sekolah," lapor Mama. "Papa udah daftarin kalian ke sekolah baru sejak beberapa hari sebelum kita pindah ke sini, jadi mulai lusa kalian udah bisa ke sekolah." "Kenapa nggak besok aja, Ma, kita ke sekolahnya?" Pertanyaan itu tak hanya membuat Rachel terkejut, tapi Rasya juga demikian. Mereka menoleh bersamaan, mengerutkan alis melihat Egha duduk di anak tangga dengan membawa serta selimut tebalnya. "Udah bangun, Nak?" tanya Rachel. Sedikit heran dengan Egha yang biasanya belum bangun di jam sekarang sudah duduk saja di sana. "Tumben." Kini dia tertawa geli. Egha meringis, bangkit dan berdiri, melangkah menuruni tangga menuju Mama dan Rasya, lantas ikut bergabung bersama mereka. "Egha kebangun tadi terus ingat kalo kita barusan pindahan." Dengan manja Egha meletakkan kepala di bahu Mama, dan menguap. "Egha nggak bisa tidur lagi, Ma," rengeknya. "Mungkin karena Egha terlalu semangat kali, ya?" Rasya memutar bola mata mendengarnya. Tadi saja saat dibangunkannya, Egha tidak mau, bahkan mengusirnya dari kamar mereka, dan meminta untuk dibangunkan jam dua belas siang. Sekarang, belum juga jam sepuluh dia sudah bangun. Sungguh, seandainya saja bisa, dia ingin menelan adik kembarnya itu hidup-hidup saking kesalnya. Sayangnya, dia tidak akan bisa melakukannya. Selain karena dia bukan kanibal dan tidak memiliki ilmu sihir seperti cerita-cerita di dalam dongeng, dia juga sangat menyayangi Egha. Namun, yang namanya kesal tetap saja kesal, dan dia bukanlah seseorang yang bisa meredakan rasa kesalnya begitu saja meskipun orang yang membuatnya kesal sudah meminta maaf. Apalagi Egha tidak berkata apa-apa padanya, dia malah sibuk bermanja-manja dengan Mama. Bukannya iri atau cemburu, Egha memang lebih manja pada kedua orang tuanya ketimbang dirinya. Adik kembarnya juga bisa lebih terbuka akan segala hal kepada mereka, daripada dirinya yang tertutup. Dia lebih suka memendam semuanya sendirian, dan berusaha mencari solusinya seorang diri. Jika otaknya sudah benar-benar buntu, barulah dia meminta saran dari kedua orang tuanya Rasya melemparkan bantal sofa yang baru saja selesai dirapikannya, kepada Egha. Tidak kuat, oleh karena itu Egha tidak berusaha menghindar meskipun dia mengetahui apa yang akan dilakukan kakak kembarnya padanya. Dia hanya mendelik kesal, kemudian memeluk bantal sofa itu. Mendekapnya erat, seolah ia adalah boneka kesayangan. "Nggak usah rese, deh, Sya. Gue, 'kan, adik lo, wajar kali kalo gue manja sama nyokap." Rasya tidak menjawab. Dia tak ingin menjadikan perdebatan mereka menjadi lebih panjang, yang pada akhirnya tetap dimenangkan oleh Egha. Dia selalu menyangkal semua opininya, seolah perbendaharaan kosakata yang dimilikinya tak terbatas, melebihi dirinya yang bisa dikatakan lebih pintar dalam bidang akademis. "Ini beneran lusa kita berdua baru sekolah, Ma!" Egha kembali bertanya. Dia menegakkan punggung, membenarkan duduknya. Bantal sofa yang tadi dilempar Rasya masih berada dalam pelukannya. Rachel mengangguk. "Kenapa nggak besok aja, sih?" Egha memasang wajah memelas. Dia sangat ingin ke sekolah, tak sabar ingin bertemu teman-teman barunya. "Besok kita beli perlengkapan sekolah dulu, Gha," sahut Rasya. "Kata Mama, Papa tadi ngomong gitu." "Lho, kok, beli lagi? Bukannya yang kemaren masih bisa dipake, ya, Ma?" Egha menatap Mama dengan mata melebar. Dia tak ingin peralatan sekolah yang baru, alat-alat tulisnya yang lama masih bisa digunakan, untuk apa membeli yang baru? Buang-buang uang saja. Bukankah uangnya bisa digunakan untuk keperluan yang lain? "Emang kamu nggak mau yang baru?" Rachel balas bertanya. Sepasang alisnya mengernyit. Rasya tadi tidak masalah mereka akan belanja peralatan sekolah yang baru besok, Egha sepertinya menolak. "Kalo yang lama masih bisa dipake, kenapa harus beli yang baru lagi, Ma?" Kembali Egha melontarkan pertanyaan yang membuat alis Rachel semakin berkerut. Dia memiliki dua orang anak kembar, tapi sifat dan karakter mereka benar-benar bertolakbelakang. "Sayang, 'kan, duitnya." Egha menopang dagu, kedua siku diletakkan di atas bantal sofa yang dipangkunya. "Bisa dipake buat beli yang lain lagi, atau bisa disumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan." Rasya menggigit pipi dalamnya mendengar penuturan sang adik kembar. Kenapa dia tidak berpikir seperti Egha, dan malah menyetujui tawaran Mama dengan senang hati? Dia malah sudah tidak sabar lagi untuk membelinya. Astaga! Betapa payah dirinya yang lebih mementingkan dirinya sendiri. Apa yang dikatakan Egha benar, barang-barang mereka masih baru semua, termasuk peralatan sekolah. Masih bisa digunakan tanpa harus membeli yang baru, yang mana hanya akan membuang-buang uang saja. Oke, mereka memang berkecukupan, tidak pernah kekurangan. Namun, kali ini dia harus bisa menempatkan diri di posisi orang-orang yang tidak mampu. "Rasya setuju sama Egha, Ma," ucap Rasya kemudian. "Kayaknya kita nggak usah aja beli yang baru. Egha benar, peralatan sekolah kita masih baru semuanya." Egha tersenyum lebar, sepasang alisnya naik turun dengan cepat. Dia bangun dari duduknya, berpindah ke samping Rasya, dan memeluk kakak kembarnya itu. "Kita, 'kan, kembar, ya, Sya, makanya selalu sama pikirannya." Egha mencium pipi Rasya sekilas. Rachel hanya tersenyum saja melihat kelakuan kedua putri kembarnya. Egha tak hanya lebih aktif dan ceplas-ceplos, bisa dikatakan dia lebih memiliki rasa kemanusiaan dibanding dengan Rasya. Egha yang lebih sering pergi ke panti asuhan, Rasya hanya mengikutinya saja. "Jadi, udah deal, nih, kita nggak jadi shopping besok?" tanyanya. "Kita jalan-jalan aja, Ma!" Egha berseru dengan semangat. "Pengen liat mall di Bandung." Dia nyengir kuda. "Terus kita makan-makan. Setuju, nggak, Sya?" Rasya hanya mengangguk. Dia selalu setuju dengan usul Egha karena memang sama dengan yang diinginkannya. Dia juga ingin jalan-jalan, melihat-lihat kota Bandung yang memiliki cuaca lebih sejuk dibandingkan Surabaya. Juga ingin mencoba kuliner khas Bandung yang katanya sangat enak, tak kalah dari makanan khas kira-kira lainnya. Mungkin nanti dia bisa berolahraga lebih keras lagi untuk menurunkan berat badan. "Oke! Ko gitu besok kita cuman jalan-jalan aja. ya, sama makan juga." Si kembar mengangguk bersamaan. "Hari ini kita bersih-bersih rumah baru sekalian ngerapihin. Mau?" tanya Rachel menyapa kedua anaknya bergantian. Biasanya Egha selalu malas jika Haris menggerakkan tubuhnya di pagi hari seperti ini, karena itu dia menanti reaksinya. "Boleh, deh, Ma." Egha mengangguk. "Mumpung Egha belum mandi." Dia tertawa. "Gitu, ya, Dek. Kalo udah mandi nggak mau bantuin Mama lagi, ya?" Rachel memasang wajah garang. Meskipun tak bertahan sampai satu menit karena wajah itu tak mempan terhadap kedua putrinya. Mereka tahu dirinya bukanlah orang yang pemarah seperti itu. "Mama mukanya nggak ngedukung buat jadi cerewet kayak Tante Desi," ucap Egha disela tawa. Dia memegangi perutnya yang sakit karena tadi harus menahan tawanya. "Mama, 'kan, nggak pemarah, nggak bakalan bisa akting jadi Mama-mama yang cerewet." Rasya ikut menimpali. Dia juga memegang perutnya yang sakit karena harus menahan diri untuk tidak terlalu mentertawakan Mama. Dia tak ingin dianggap tidak sopan. Rachel kemudian juga tertawa. Suasana ruang tengah yang tadinya hening sekarang jadi lebih semarak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD