Sepulang dari acara employee gathering, Sabrina memutuskan langsung pulang saja ke rumah. Tadinya dia ingin pulang ke apartement Rayya saja, tapi ternyata Rayya akan mampir dulu membeli kebutuhan dapur, katanya. Sabrina malas ikut, dia ingin langsung rebahan saja di kamarnya yang sunyi. Memasuki rumahnya yang sepi, dengan cahaya lampu temaram, nyaris terlihat suram. Itu sudah terlalu biasa. Sabrina tidak merasa terganggu sedikitpun dengan suasana itu. Ruangan yang pertama kali dia datangi adalah—kamar mamanya. Menggeret koper kecil itu, lalu dia letakkan di lantai, tepat di depan pintu kamar. Dia ketuk dua kali. “Silakan masuk,” jawab suara dari dalam kamar. Itu bukan suara sang mama. Sabrina melangkah memasuki kamar. Diihatnya seorang wanita berseragam serba putih sedang duduk di te

