Tidak sabar Yudhis membukakan gerbang pagar besi. Namun detik kemudian, dia tercengang di ambang pintu pagar. Sorot matanya memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Rayya?” desisnya tak percaya. “Haiii Mas Yudhis! Maaf ya aku agak terlambat sedikiiittt!” Rayya mengatupkan kedua telapak tangan sebagai permintaan maaf, tapi bibirnya melengkung bulan sabit—tersenyum. “Sedikit katamu? Ini sudah hampir dua puluh menit loh Ray kamu terlambatnya dan … itu—aduh! Aduduuhhh! Kamu kok—ahh!” Yudhistira sampai tidak sanggup berkata-kata lagi, sebab dilihatnya penampilan Rayya kali ini sungguh ajaib! Rayya yang selalu berpenampilan sederhana dengan warna-warna monoton, dipikirnya akan datang malam ini dengan memakai gaun malam yang anggun, juga wajah yang dirias cantik. Seperti waktu malam gal

