Merasa bosan, Arabella pun bertekad untuk jalan-jalan ke mall saja mumpung hari masih siang dan cuaca pun tampak cerah. Akan tetapi, kemudian dia teringat dengan perkataan bundanya yang mengharuskan ia untuk selalu meminta izin kepada Brian apabila Arabella hendak bepergian.
"Perlu bilang dulu apa enggak ya? Lagi pula, kan, cuma ke mall doang. Semisal gak bilang pun kayaknya gak jadi masalah. Toh, Kak Brian juga paling lagi sibuk di kantor jam segini. Mana ada waktu dia buat jawab teleponku. Apalagi baca pesanku. Huft, sebaiknya aku gak usah bilang aja. Gak bakal lama juga lagian. Sebelum hari gelap juga aku udah bakalan ada di rumah lagi," gumam gadis itu menimbang.
Setelah sempat bersolek sebentar di depan cermin rias di dalam kamarnya, Arabella pun menyambar sling bag-nya yang menggantung di belakang pintu. Tanpa perlu berlama-lama lagi, ia menyampirkan tas tersebut di pundak kanannya. Selanjutnya, bergegas keluar kamar dengan tak lupa kembali menutup pintu bahkan menguncinya.
Sembari bersenandung kecil, gadis itu mulai melenggang menuruni undakan tangga. Sampai di bawah, ia lantas berpapasan dengan sang bunda yang sontak menghentikan gerak langkahnya.
"Mau ke mana sore-sore begini?" Zara menatap sang anak dari ujung kaki sampai ke puncak kepala.
Menyengir, Arabella pun sigap menjawab, "Mau jalan-jalan ke mall, Bun, sebentar. Habisnya bosen diem terus di rumah. Mau masuk kerja pun belum dibolehin, kan? Ya udah, daripada Ara pingsan karena kebosanan, kan, mending Ara cari hiburan aja di mall." Sesemangat mungkin, ia menjelaskan perihal niatannya kepada sang bunda.
Untuk sesaat, Zara pun mengernyitkan dahi. "Udah izin sama Brian belum?"
Skak mat! Niat hati ingin menghindari hal tersebut, tapi kini ia malah diingatkan kembali oleh bundanya. Terang saja, Arabella pun menjadi gelagapan dibuatnya.
"Kok, diem? Jangan bilang kamu belum minta izin ya sama suami kamu. Ya ampun, Ara, harus berapa kali Bunda kasih tau kamu, hem? Ketika statusmu berubah menjadi seorang istri, ke mana pun kamu mau pergi, meminta izin dari suamimu udah menjadi sebuah keharusan yang gak boleh dilewatkan. Lagi pula, apa susahnya, sih, tinggal minta izin doang? Lewat pesan obrolan pun gak jadi masalah. Yang penting kamu ada bilang sama Brian. Daripada kena tulah. Memangnya kamu mau dilanda hal buruk ketika di jalan gara-gara gak izin dulu sama suami kamu? Pamali, Sayang. Percaya deh, sama perkataan Bunda," urai Zara tak bosan menasihati.
Alih-alih patuh pada perkataan bundanya, justru Arabella malah mendecak kesal seiring dengan mulutnya yang berkata, "Males deh, Bun. Masa perkara ke mall doang harus izin sama Kak Brian dulu. Tanpa bilang pun kayaknya Kak Brian gak bakal keberatan kalo dia tau Ara main ke mall sendiri." Gadis itu mendengkus sebal. Walau bundanya yang sedang memberi nasihat, tapi tetap saja ia merasa risi.
"Mana bisa begitu, Sayang. Udah deh, daripada kamu kena tulah nantinya, lebih baik sekarang bilang dulu sama Brian. Gak susah, kok. Ketimbang tinggal minta izin doang. Ayo, cepet! Jangan ngeyel ya. Bunda gak pernah ajarin kamu buat membangkang, lho," cetus Zara mendesak.
Arabella merengut. Dia menjadi kesal hanya karena dipaksa meminta izin pada Brian. Membuat ia lantas mendadak berbohong, seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag dan berpura-pura mengirimkan pesan singkat kepada Brian.
"Ara udah bilang sama Kak Brian. Jadi, Bunda gak usah larang Ara lagi sekarang! Bye, Bun! Kalo inget nanti Ara bawain oleh-oleh, ya," seru gadis itu sembari berlalu. Menyebabkan Zara hanya bisa geleng-geleng kepala di tengah ia yang lanjut melangkah seusai melihat anaknya pergi.
***
Arabella kegirangan sendiri. Setelah sekian lama ia tak diperbolehkan menyetir mobil sendiri, akhirnya kini ia pun bisa kembali mengemudikan mobil kesayangannya yang sudah cukup lama tak dikendarai. Mengingat selama berpacaran dengan Gilang ia dilarang keras menyetir sendiri, maka dengan terpaksa Arabella pun selalu mengandalkan sopir pribadinya Gilang ke mana pun dirinya hendak bepergian.
"Udah lama gak nyetir, tanganku jadi agak kaku begini, deh, kendaliin setir. Padahal, dulu sebelum pacaran sama Gilang, aku sering banget berkendara sendiri bersama mini copper kesayanganku ini. Hadiah terakhir yang ayah beri sebelum dia pergi diembat wanita lain," gumam gadis itu di tengah kegiatannya.
Arabella masih saja teringat dengan perilaku ayah kandungnya yang memilih pergi bahkan menikah dengan wanita lain dibanding mempertahankan rumah tangganya bersama sang bunda. Padahal, bundanya kurang apa? Segala hal sering kali ia lakukan hanya demi supaya suaminya bahagia. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Ketika seorang suami tak luput dari mata keranjangnya, maka walau hanya digoda oleh seorang pembantu pun dia langsung luluh hingga setuju pergi meninggalkan istri sahnya sendiri.
"Mungkin gak, sih, kalo Gilang juga pergi gara-gara kepincut wanita lain? Seperti ayah yang tergoda oleh pembantu yang dulu sempat bekerja di rumah. Boleh jadi Gilang pun mungkin aja terkena sihir dari para pelakor gak tahu diri. Tapi yang bikin ngenesnya adalah, kenapa dia gak pergi sejak dulu aja? Kenapa harus di hari pernikahan kami Gilang baru memutuskan pergi? Apa gak ada hari yang lebih epik dari hari pernikahannya sendiri?" Gara-gara teringat tragedi sang bunda yang ditinggal suami pertamanya dulu, Arabella pun jadi menyangka bahwa Gilang pun digondol pelakor juga tanpa sepengetahuannya.
Gadis itu memelotot lebar ketika nyaris saja ia menabrak seekor kucing yang melintas ke depan mobilnya secara mendadak. Sehingga dengan spontan, ia pun membantingkan setir sampai mobilnya harus menabrak batang pohon beringin agar bisa menghindari kucing jalanan yang hampir terlindas barusan.
"Aw," Arabella memekik nyeri tatkala keningnya terbentur cukup kencang mengenai setir mobil yang dikendarainya. Gara-gara menghindari kucing tak berdosa itu, kini, muka mobil Arabella pun harus penyok seiring dengan keluarnya asap dari dalam kap mini copper-nya.
Gadis itu meringis kesakitan sembari sibuk meraba jidatnya. Memang tidak sampai berdarah, tetapi luka lebam sudah tampak ke permukaan. Kebetulan di sela ia mengalami kecelakaan kecil tersebut, ponselnya pun berdering nyaring. Sembari menahan nyeri dan tak henti meringis-ringis, Arabella lekas merogoh ponselnya sekaligus menjawab panggilan yang masuk tanpa sempat melihat nama si pemanggil.
"Ya, halo!" Gadis itu menyahut dengan suaranya yang agak gemetaran.
"Bella, kamu kenapa? Kok, suaramu kayak yang lagi nahan sakit gitu. Kamu baik-baik aja, kan?"
Mengenali suaranya, Arabella yang refleks membelalak pun sempat menarik dulu letak ponselnya demi melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Kemudian pada saat nama Brian terpampang di sana, barulah Arabella tersadar bahwa ia akan menghadapi masalah yang cukup rumit.
"Halo, Dek. Kamu dengar suara kakak, kan? Kakak tanya sama kamu, kamu baik-baik aja, kan? Kamu ada di rumah atau di mana, sih? Bisa tolong jawab gak dengan jelas," lontar Brian kembali. Memunculkan rasa takut sekaligus merasa setengah berdosa juga sehingga Arabella hanya mampu menggigit bibir bawahnya alih-alih ia menjawab tanya sang pria.
Petaka ini namanya! Mungkin gak, sih, kalo aku baru aja kena tulah gara-gara udah bohongin Bunda dan gak izin dulu sama Kak Brian? Batin Arabella dirundung kekhawatiran.
Lalu setelah itu, sang gadis pun berusaha menelan salivanya susah payah seiring dengan memberanikan diri untuk berkata sejujurnya kepada Brian.