GERAM MENYERGAP DIRI

1017 Words
Setelah diberi nasihat oleh sang pria, rupanya Arabella pun langsung menyerap setiap kata yang terlontar dari mulut Brian. Memang ia tidak langsung menurut patuh pada detik Brian memberinya wejangan. Sebab, Arabella ini bukan tipikal perempuan yang mudah menurut pada setiap nasihat yang diberikan khusus kepadanya. Justru, ia selalu mencernanya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia pun mengerti hingga tak lama sesudahnya, barulah Arabella pun bersedia untuk melunakkan kekerasan hatinya. Seperti yang hendak dilakukannya sekarang ini. Selepas Brian pamit untuk pergi ke kantor, Arabella memang sempat menenangkan dirinya sejenak. Lalu tak lama kemudian, ia pun lantas bergegas bangkit guna menemui sang bunda untuk meraih maafnya. Menuruni setiap undakan tangga dengan mata celingukan ke sana kemari, Arabella pun melanjutkan ayunan langkahnya menuju dapur. Biasanya, sang bunda selalu menyibukkan diri di dapur setelah suaminya berangkat ke kantor. Maka sebelum mencari bundanya ke sudut lain, Arabella menggerakkan langkahnya menuju dapur lebih dulu karena ia sangat yakin bahwa bundanya ada di situ. Benar saja dugaannya. Sesampainya di ambang dapur, ia pun mendapati Zara sedang mencuci piring dan perabotan dapur lainnya. Semenjak suami pertamanya memilih pergi bersama mantan asisten rumah tangganya dulu, Zara seolah punya trauma terhadap wanita mana pun yang berprofesi sebagai pembantu. Maka lebih baik dia mengurus rumah sendirian saja daripada kejadian lalu berpotensi terulang kembali. Mula-mula, Arabella pun sengaja berdeham sebagai tanda agar bundanya tahu bahwa putri sematawayangnya sedang ada di sekitarnya. Namun ternyata, alih-alih menoleh ke sumber dehaman barusan, Zara justru tetap fokus pada kegiatannya dan tak mau repot untuk sekadar melirik. Membuat Arabella sontak mencebik, seiring dengan ia yang sigap melangkah menuju sang bunda yang kemudian dipeluknya dari belakang. "Bunda marah ya sama Ara?" Sembari merengut sedih, ia lantas mencoba membujuk bundanya agar tak keterusan marah kepadanya. "Maafin Ara, Bun. Ara sadar, kok, kalau tadi Ara udah gak sopan sama Bunda. Ara pergi di saat Bunda masih berupaya memberi tahu Ara. Untuk itu, Ara sengaja samperin Bunda ke sini biar Bunda gak marah lagi sama Ara. Please, ya, Bun ... maafin Ara. Ara janji gak akan ulangin kesalahan Ara lagi di lain waktu. Ara mohon, Bunda jangan kelamaan, dong, ngambeknya. Nanti kalo Bunda marah, Ara harus manja-manjaan sama siapa? Masa sama Papa? Kan, malu," rengek gadis itu bak anak seusia dini. Dalam sekejap, menyebabkan bundanya mendengkus geli sehingga ia merasa tidak tahan lagi untuk tetap diam dan berpura-pura ngambek. Lalu dengan spontan, ia pun menjawil hidung Arabella tak peduli walau jari tangannya masih sangat basah mengingat ia belum selesai mencuci. "Ngaco kamu. Ya kalo udah nikah, masa masih manja-manjaan sama Bunda, sih. Segala tanya harus manja-manjaan sama siapa lagi kalo bukan ke Bunda. Ya memang bukan juga beralih ke papamu. Kalo udah nikah, jelas manja-manjaannya jadi ke suami kamu atuh. Masa gitu aja masih harus nanya, sih. Bunda jadi beneran khawatir, deh, sama kamu. Makanya tadi Bunda sempat tanya, kira-kira, kepala kamu apa pernah kejedot dinding? Habisnya, setiap apa yang kamu ucapkan, itu kayak mencerminkan seakan-akan kamu masih lajang. Padahal pernikahan kamu aja baru dilangsungkan dua hari yang lalu. Tapi kelakuanmu, masih aja kayak anak SMP," cerocos Zara tak habis pikir. Bahkan saking cemasnya ia pada perilaku sang anak, ia sampai harus berhenti dulu dari kegiatan mencucinya. "Jawab, deh, dengan jujur! Sebenarnya, kamu anggap serius gak, sih, sewaktu Brian nikahin kamu? Atau jangan-jangan, kamu malah mengira seolah pernikahan kemarin itu hanyalah main-main belaka lagi," lontar wanita paruh baya itu menatap tajam. Menuntut jawaban paling serius dari putrinya yang masih amat polos tersebut. Arabella masih manyun saja ketika diharuskan segera memberi jawaban kepada bundanya. Sejujurnya, ia tidak ingin mengelabui wanita yang sudah melahirkannya ini. Maka Arabella pikir, mungkin tidak ada salahnya juga jika ia berkata yang sebenarnya saja kepada bundanya. "Jujur ya, Bun. Ara tuh sebenernya merasa gak siap saat dinikahin sama Kak Brian kemarin. Tapi karena Bunda sama papa keburu setuju apalagi sempat menyebut bahwa kasus perginya Gilang di hari pernikahan kami berpotensi merusak nama baik keluarga sekaligus martabat Ara, maka dengan terpaksa Ara pun jadi gak bisa nolak ketika tahu bahwa Kak Brian yang bakal gantiin Gilang di pelaminan. Lagi pula, ya masa Ara harus nyerahin diri Ara sepenuhnya sama Kak Brian, sih. Sebelumnya, kan, Kak Brian itu kakak tiri Ara, masa tiba-tiba aja harus jadi suami Ara. Mana mungkin juga, kan, Ara harus jatuh cinta sama kakak tiri Ara sendiri. Gak ada tuh dalam kamus Ara bahwa Ara harus menerima kakak tiri Ara sebagai suami Ara," celoteh gadis itu menggebu-gebu. Meluapkan segala kegundahannya sejak dua hari lalu kepada sang bunda yang sudah lebih tahu luar dalamnya. Mendengar itu, terang saja Zara pun tersentak kaget. Mulanya, Zara pikir Arabella akan belajar menerima keberadaan Brian sebagai suaminya. Tapi ternyata, malah seperti inilah yang telah dipikirkan oleh Arabella sejauh ini. Memang hal tersebut cukup aneh dan sangat mengganjal. Tapi jika Tuhan sendiri yang menginginkan hal itu terjadi, maka manusia bisa apa? Selain menerima segalanya dengan lapang, tentu selaku umatnya para manusia pun tidak bisa asal menampik. "Itulah sebabnya Ara kepengin masuk kerja aja walau masa cuti belum habis. Ara pikir, buat apa juga Ara repot urusin Kak Brian sementara Ara aja gak bisa terima Kak Brian sebagai suami Ara. Kalo bisa, sih, Ara pengin cerai aja dari Kak Brian. Lagian ya, Bun, Kak Brian juga, kan, masih punya pacar. Inget gak sama foto cewek yang pernah dijadiin walpaper ponselnya Kak Brian, terus keciduk langsung sama papa? Nah, itu pacar Kak Brian, Bun. Malah katanya, bulan depan tuh seharusnya jadi agenda penting buat Kak Brian. Karena, Kak Brian udah ada niatan buat ngelamar pacarnya. Makanya, Bun, bisa gak, sih, kalo Ara cerai aja sama Kak Brian? Kasian Kak Brian kalo harus terjebak dalam pernikahan yang gak diinginkan begini. Lebih bagus, Kak Brian ceraikan dulu Ara. Biar dia bisa beneran nikah sama pacarnya sesuai rencana yang udah disusunnya sejak lama," cerocos Arabella menganggap enteng. Padahal, tidak semua hal bisa dianggap mudah untuk dilakukan. Membuat Zara agak geram juga ketika mengetahui bahwa putrinya ini sangat tak tahu diri. Bahkan tanpa mereka sadari, rupanya ada sosok lainnya juga yang diam-diam telah mendengarkan celotehan sang gadis bersama ibunya di dapur tersebut. Membuat kedua tangannya terkepal kuat di tengah rasa geram yang menyergap diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD