"Siap jadi janda?" Andra terkekeh sementara Kinan mencebik. "Mama kamu datangi aku kemarin." Kinan mengeluh. Andra mengangguk. "Jadi gimana?" "Gimana apa?" "Tanggapan kamu. Gak keberatan kan?" "Jelas kita harus bicarakan. Yang pasti bukan sekarang." "Aku bisa tunggu, tapi gak yakin Mama sabar menunggu." "Orang tua kamu sekolot itu?" Bahkan hanya pegangan tangan, harus menikah. Apa itu masuk akal? "Mereka cuma gak mau anaknya jadi pria b******k yang pegang anak orang sembarangan." "Ya masa pegang nenek- nenek juga harus langsung nikah." Kali ini Kinan tertawa membayangkan hal itu. "Ya gak gitu juga. Sedikit kemungkinan nafsu tercipta kalau itu hanya nenek- nenek." Kinan menipiskan bibirnya. Menghentikan pembicaraan. Apalagi dari ujung matanya dia melihat Bram menatapnya tajam.

