Pesta, Kabur... Just You and Me

1067 Words
Sheana menarik napas, mencoba tidak gemetar. “Aku pikir kamu tahu, aku cukup pintar untuk nggak ngelakuin sesuatu yang bodoh.” Sunyi. Dirga hanya menatap Sheana tanpa kedip. Seolah mencari kebenaran dari kata-kata istrinya itu. “Dia cuma kenalan, Ga. Aku nggak minta kamu percaya langsung. Tapi kalau kamu masih anggap aku istrimu, minimal hargai keputusan aku untuk jujur sekarang.” Dirga masih diam, lalu makin mendekati Sheana tapi tidak menyentuhnya. Jarak mereka hanya satu napas. Tangannya menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga, seolah penuh kasih. “Aku cuma pengin kamu ingat,” katanya pelan, “bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan sekarang... akan selalu punya konsekuensi.” Sheana mengangguk. “Aku tahu.” “Kamu tahu, Na…” bisiknya. “Aku nggak marah.” Sheana menatapnya ragu. “Aku cuma pengen ngerti,” lanjut Dirga, suaranya nyaris seperti pelukan. “Apa kamu lagi nyari sesuatu yang nggak bisa kamu dapet di rumah ini? Atau dari aku?” Detik itu, Sheana tahu ini bukan sekadar pertanyaan. Ini ujian. Ini perang dingin yang dimulai dengan senyum manis dan berakhir entah di mana. Dirga menunduk, mengecup kening istrinya lembut. “Tidur, ya. Besok masih panjang.” Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga berbalik dan masuk ke kamar, meninggalkan Sheana berdiri di ambang ruang tamu dengan nafas tercekat. Dirga tidak teriak. Tidak membanting apa pun. Tapi justru itu yang membuat Sheana semakin takut. Lelaki itu hanya diam, menatapnya seolah ia puzzle yang tak lagi pas di tempatnya. Bukan dengan kemarahan, tapi keraguan. Dan keraguan Dirga lebih tajam dari cemburu siapa pun. Sheana berdiri sendirian di ruang tamu. Sepi. Jam dinding berdetak lambat. Bahkan AC di sudut ruangan terdengar lebih nyaring dari biasanya. Dirga sudah masuk kamar, tapi pintunya tidak ditutup. Seolah sengaja. Sheana memejamkan mata. Napasnya dalam, berat. Bukan Ellan yang menakutkan. Bukan Dirga. Tapi ketakutan bahwa dirinya sedang hanyut ke arah yang tak bisa ia tarik kembali. Sementara itu di tempat lain, Dirga menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Story Grace sudah hilang. Tapi ekspresi Sheana tidak hilang dari benaknya—tatapan gugup itu, napas yang ditahan, senyum paksa. Ia tahu Sheana berbohong. Tapi anehnya, ia tidak merasa marah. Ia justru merasa… tertarik. Rasa penasaran itu menjalar, seperti racun yang merambat pelan di pembuluh nadi. Sheana memang selalu terlalu jujur. Dan malam ini, kejujurannya muncul dari rasa takut. Bukan dari rasa cinta. Dirga berjalan ke depan cermin. Menatap bayangan dirinya. Ia tersenyum kecil. Ia tidak akan mengonfrontasi Sheana. Belum. Biarkan saja istrinya merasa aman. Biarkan dia berpikir dirinya masih mengendalikan keadaan. Karena di saat itulah... dia paling mudah dikendalikan. “Sheana…” gumamnya. “Aku ingin tahu sampai seberapa jauh kamu berani mengambil risiko.” * Sejak sore, Alvino mondar-mandir di ruang kerja rumah besarnya. Setelan jas sudah rapi, dasi merah marun mengilap melingkari lehernya. Tapi wajahnya tetap menyiratkan satu hal. Kesal. “Ellan,” panggilnya sambil mengetuk pintu kamar anaknya. Ellan hanya membuka pintu sedikit. “Aku nggak ikut, Dad. Udah kubilang.” “Come on. Just this once. I need you to meet some of our key partners. Kamu harus mulai ambil bagian dalam ini semua.” “Tiap minggu ada pesta pengusaha. Sama aja. Mereka cuma duduk, bragging about their fake success and laugh like idiots.” Alvino menghela napas panjang, nyaris pasrah. “Okay. Fine. Aku capek maksa kamu.” Beberapa menit kemudian, Alvino sudah ada di ruang tamu, bersiap berangkat. Ia membuka ponsel dan menelepon seseorang. “Dirga? Ya. Malam ini kamu datang, kan?” Di seberang, suara Dirga terdengar ramah. “Tentu, Pak Alvino. Saya nggak akan absen.” “Bagus. Tapi aku ada satu permintaan.” “Apa itu?” “Bawa istrimu. Sheana. Sayang banget istri secantik itu jarang terlihat di pertemuan penting. Di sana nanti banyak istri pengusaha juga. Dia pasti bisa berbaur.” Sejenak sunyi. Lalu Dirga menjawab, “Baik, Pak. Saya akan ajak Sheana.” Ellan, yang berdiri di balik tangga dengan tangan menyentuh pagar kayu, mendengarnya dengan jelas. Ia menatap ke arah ayahnya yang meletakkan ponsel. Dan, untuk pertama kalinya malam itu, Ellan turun perlahan. “Aku ikut.” Alvino menoleh, nyaris terbelalak. “Kau bilang—” “Aku berubah pikiran.” Alvino tersenyum kecil, puas. “Finally.” ** Pesta digelar di ballroom hotel bintang lima, dengan langit-langit tinggi dan lampu gantung seperti kristal hujan. Para tamu mengenakan jas dan gaun mahal. Musik jazz mengalun lembut. Ellan duduk di sisi Alvino, mengenakan setelan gelap yang membuat bahunya terlihat lebih bidang dari biasanya. Tangannya menggenggam gelas wine yang bahkan belum disentuh. Matanya menemukan Sheana—dan ia seakan langsung kehilangan akal sehat. Wanita itu berjalan bersama Dirga, mengenakan gaun satin emerald dengan potongan terbuka di punggung, rambutnya disanggul rendah, anting-anting menggantung anggun di telinganya. Kulitnya bercahaya, bahkan dalam sinar lampu yang redup. Sheana tersenyum tipis saat seseorang menyapa, tapi Ellan tahu itu bukan senyum sungguhan. Dirga memegang tangannya, posesif namun santai. Tapi sesekali matanya menyapu ke arah ruangan. Termasuk ke arah Ellan. Namun Ellan tak peduli. Ia hanya menatap Sheana. Dan ketika acara resmi dimulai—saat para pria mulai maju ke podium untuk membual tentang proyek mereka, dan para istri digiring ke kursi di sisi belakang—Ellan mengambil ponsel dan mengetik. Ellan: [ I know you feel out of place. Kamu nggak seharusnya ada di sini—and I mean that in the best way possible. Karena ini emang bukan duniamu, wajar kalau kamu ngerasa nggak nyaman.] Sheana: [ Kau sedang duduk di depan. Berhenti mandangin aku kayak gitu.] Ellan: [ Mau kabur sebentar? Just us—orang kayak kita.] Sheana: [ Aku nggak bisa. Dirga di sini.] Ellan: [ Trust me. Once those old men start bragging on stage, they won’t notice anything. Kau bahkan bisa pergi ke luar negeri dan kembali sebelum mereka selesai membual.] Sheana: [ Kau gila.] Ellan: [ Mungkin. Tapi kita sepaham. Temui aku di depan. Aku tunggu.] Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit. Saat ia hampir menyerah, pintu samping ballroom terbuka perlahan. Sheana muncul. Langkahnya ragu, tapi ia tetap maju. Ia masuk ke dalam mobil Ellan tanpa berkata apa pun. Dan mereka melaju, menjauh dari pesta dan segala keglamoran palsu di dalamnya. “Kita mau ke mana?” tanya Sheana pelan, menoleh sebentar sebelum kembali menatap ke luar jendela. “Ke tempat waktu berhenti,” jawab Ellan. “Tempat yang nggak ada orang-orang kayak mereka. Just you and me.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD