Sheana hampir menjatuhkan ponselnya.
Jarinya gemetar saat membaca pesan itu lagi.
[ Keluar sama Grace ternyata cuma alibi, ya? ]
Matanya menyapu sekitar, seolah paranoia mulai menempel seperti kabut. Lampu strobo, dentuman bass, orang-orang menari tanpa peduli dunia. Tapi Sheana tahu—ada mata yang mengawasinya.
“Aku harus pulang,” gumamnya pelan, mencoba bangkit.
Ellan menangkap lengannya, lembut tapi cukup kuat untuk menahan.
“Sheana.” Suaranya rendah. “Siapa yang kirim pesan itu?”
Dia menggeleng. “Nggak penting.”
“Tapi bikin kamu pengen kabur di tengah malam yang udah sempurna ini?” Ellan mencondongkan tubuh, suara musik membuat dia harus bicara lebih dekat. “Tell me.”
Sheana menarik napas panjang. “Itu... seseorang yang seharusnya nggak tahu aku di sini. But somehow, dia tahu.”
“Dirga?”
Sheana mengangguk. Ia memaksakan senyum. “Tapi aku udah biasa kayak gini. Aku bisa urus sendiri.”
Ellan berdiri, mendekatinya lebih dekat dari seharusnya. “No. You’re not alone. Not tonight.”
“Ellan...”
“Let me take you home.”
Sheana menatapnya sejenak. Tatapan itu—penuh pertahanan. Tapi juga... lelah.
“Okay,” bisiknya.
*
Mereka tidak langsung pulang.
Ellan membawa mobilnya ke tempat tertutup, parkiran rooftop gedung tua yang kosong dan sepi. Tempat mereka menghabiskan waktu beberapa malam yang lalu.
Angin malam terbuka lebar, kota menyala di kejauhan. Dia memutar musik pelan dari speaker mobil. Lagu jazz yang entah kenapa cocok dengan detik-detik hening mereka.
Sheana bersandar di jok, diam, masih menggenggam ponsel seperti senjata.
Ellan menyandarkan dagunya di kemudi, lalu melirik Sheana dengan senyum khasnya.
“Aku pernah bilang kamu bisa kabur,” katanya. “Tapi kamu juga bisa stay. Cuma butuh alasan kecil buat bertahan.”
Sheana mengalihkan pandangan. “Alasan kecil itu bisa jadi jebakan.”
“Kalau aku jebakan, kamu udah kejebak dari awal.”
Sheana tertawa kecil. Suara itu tipis, tapi nyata.
“Kenapa kamu ngelakuin ini, Ellan?”
“Because I like you. A lot. Too much, maybe.”
“Jangan bilang gitu.”
“Kenapa?”
“Karena aku... nggak bisa ngasih kamu apa pun.”
Ellan menatapnya. Dalam. Lalu menyentuh tangan Sheana yang masih menggenggam ponsel.
“Kamu udah ngasih aku sesuatu. Sebuah alasan buat jadi lebih dari sekadar pretty boy escort.”
“Tapi kalau gini sama aja kamu kayak nyulik, padahal ada suami aku yang lagi nungguin di rumah. Entah apa alasan aku waktu pulang nanti.”
Sheana menggigit bibir bawahnya.
Lalu pelan-pelan, ia bersandar ke arah Ellan. Bukan untuk ciuman. Bukan untuk pelukan. Tapi hanya menempelkan dahinya di bahu pria itu.
Ellan nggak bergerak. Ia biarkan Sheana bersandar begitu saja. Lama. Seolah bahunya memang diciptakan untuk jadi tempat pelarian seseorang yang kelelahan.
“You don’t have to explain anything tonight,” bisik Ellan. “Not to Dirga. Not to anyone.”
Sheana menutup mata, masih membisu.
Ellan melanjutkan, suaranya rendah tapi mantap. “Kalau kamu mau pulang, I’ll take you. Tapi kalau kamu cuma butuh waktu… buat nggak mikir dulu, I’m here.”
Sheana masih tenggelam dalam kebisuannya sendiri.
“Sheana…”
Ellan menunduk sedikit, agar bisa menatap wajah wanita itu dari samping. “Kamu punya hak buat merasa takut. Tapi kamu juga punya hak buat milih siapa yang ada di samping kamu pas kamu takut.”
Sheana akhirnya membuka mata, pelan.
“Dan kamu?” bisiknya. “Kamu mau ada di sisiku cuma karena kasihan?”
Ellan menggeleng. “No. I’m here because I choose to be. Karena aku tahu kamu lebih dari sekadar istri dari seseorang yang nggak bisa jaga kamu.”
Sheana tertawa pelan. Pahit. “Kamu nggak tahu siapa Dirga, Ellan. He’s not someone you mess with.”
“Dan kamu bukan orang yang bisa ditindas,” balas Ellan cepat. “You’re strong. Tapi bahkan orang kuat pun butuh tempat buat jatuh.”
Sunyi sejenak.
Kemudian Sheana berkata lirih, “Kalau aku jatuh... kamu yakin bisa nangkep aku?”
Ellan mengangguk pelan. “Aku nggak janji bisa selalu sempurna. But I promise one thing—aku nggak akan ninggalin kamu pas kamu lagi jatuh.”
Sheana menghembuskan napas pelan. “But I feel like I’m cheating.”
Ellan menunduk sedikit, mendekat. “You’re not. You’re surviving.”
Mereka diam. Hanya ada angin malam, musik jazz pelan dari speaker, dan detak jantung yang entah milik siapa yang mulai tak teratur.
Ellan memiringkan kepala, menatap Sheana. “Aku tahu kamu takut. Tapi aku mau kamu tahu… Aku di sini bukan untuk menyelamatkanmu. I just want to be someone yang bisa kamu andalkan, meski Cuma sebentar.”
Sheana memejamkan mata. “And then what? Setelah malam ini?”
“Kita nggak harus tahu semua jawabannya sekarang.”
Ia menyentuh ujung rambut Sheana, lembut, seperti takut merusak sesuatu yang rapuh.
“Yang aku tahu, malam ini... kamu nggak sendiri. Kamu ada di sini, sama aku. Dan itu cukup.”
Sheana mengangkat wajahnya sedikit. Tatapan mereka bertemu. Jaraknya terlalu dekat untuk sebuah kebetulan.
“Kalau aku minta kamu jangan jatuh cinta sama aku… kamu bakal nurut?” tanyanya dengan niat sedikit bercanda.
Ellan tersenyum kecil, sedih. Tapi tampak keseriusan di wajahnya. “Too late.”
Sheana justru tertawa pelan. Menganggap kalimat itu hanya sebuah hal yang biasa diucapkan oleh seseorang seperti Ellan.
*
Sheana membuka pintu rumah pelan-pelan. Jam sudah lewat tengah malam, dan meski langkahnya ringan, rasa bersalah membebani seperti ransel penuh batu. Lampu ruang tamu masih menyala. Dirga duduk di sana, di sofa, seperti bayangan yang menunggu.
“Lama banget pulangnya,” suaranya datar. Tapi matanya tajam, menyisir Sheana dari kepala sampai kaki. “Kamu keluar sama Grace, katanya?”
Sheana menelan ludah. “Iya... bareng Grace dan beberapa teman. Cuma makan dan karaoke sebentar.”
Dirga berdiri. Wajahnya tidak marah, tapi justru tenang. Terlalu tenang.
“Lucu,” katanya sambil mengangkat ponsel. “Soalnya aku lihat kamu di story Grace. Dan... ada cowok itu. Ellandra, kan namanya?”
Sheana membeku. “Ellan...,” desisnya tanpa sadar.
Dirga memutar layar ponselnya. Story w******p Grace masih terlihat—klip pendek yang memperlihatkan lampu-lampu strobo, lalu tawa Grace dan Sheana. Di latar belakang, wajah Ellan sekilas muncul, sedang bicara dengan bartender.
“Itu cuma kebetulan,” kata Sheana cepat. “Aku nggak tahu dia juga ada di sana.”
“Kebetulan?” Dirga terkekeh pelan. “Lucu ya, kadang dunia kecil banget. Yang aku ingat,” Dirga menatap istrinya lekat-lekat, “waktu kita pergi ke rumah Pak Alvino kemarin, kamu bilang kamu nggak kenal sama anak itu.”
Sheana mengangkat dagunya. “Dan aku memang nggak kenal—waktu itu. Baru tahu siapa dia setelah obrolan kemaren. Tapi aku tetap nggak pernah berniat nyari dia. We just happened to bump into each other. Nggak janjian, nggak sengaja ketemu. Serius.”
Dirga melipat tangan di d**a. “Tapi kamu nggak pulang bareng Grace, kan?”
“Dia pulang duluan karena ada urusan mendadak. Aku... aku lagi nggak enak badan. Ellan nganterin pulang karena dia tahu aku nggak bawa kendaraan.”
Dirga berjalan mendekat, perlahan. Tidak menyentuh. Tidak marah. Tapi tekanan itu terasa. “Sheana, kamu pikir aku bodoh?”