"Get Out of My Head, Sheana."

1138 Words
“Aku nggak bilang begitu,” jawab Dirga datar. “Tapi kamu juga nggak nanya aku senang atau nggak.” Dirga terdiam sejenak. “Kamu senang?” Sheana ragu menjawab. “Nggak tahu... aneh aja.” Dirga membalikkan badan, akhirnya menghadap Sheana. “Aneh gimana?” Sheana ikut membalik, menatap suaminya dalam temaram lampu. “Aku nggak tahu. Kayak... bukan aku. Tapi justru itu yang bikin aku ngerasa hidup lagi.” Dirga menatapnya tajam. “Karena pesta atau karena seseorang di pesta itu?” Sheana menahan napas. “Aku nggak...” “Jawab, Sheana.” “Aku cuma... capek jadi istri yang diem-dieman sama suaminya sendiri.” Dirga menghela napas berat, lalu kembali memalingkan tubuh. “Kita tidur aja.” Sheana tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung suaminya dan tahu, malam itu jarak mereka makin jauh. Dalam hati kecilnya, Sheana benci mengakui... tapi satu-satunya momen yang membuatnya merasa ‘ada’ malam itu, adalah ciuman terlarang yang bahkan tidak ia sesali. ** Ellan duduk di meja kerja, ponsel di tangan, matanya kosong. Tak ada notifikasi penting. Tapi otaknya tak berhenti memutar satu hal. “She’s not mine. But it never felt like she truly belonged to him either.” Ellan pikir, semalam hanyalah lelucon kecil yang tak akan berbekas. Tapi nyatanya, pagi ini yang mengganggunya bukan tumpukan chat atau notifikasi tentang pekerjaan… tapi bayangan wajah Sheana saat ia mundur dari ciuman itu. Sheana tidak menolaknya. “Kenapa kau nggak tarik diri, Sheana? Kau tahu itu salah, tapi kau tetap di situ...” Ia menatap layar ponsel yang kosong. Tangannya sibuk menggulir halaman demi halaman, tapi tak satu pun yang benar-benar dibaca. Sebuah suara di kepalanya berkata, “Forget it, Ellan. She’s married. Dan suaminya bukan orang sembarangan.” Tapi suara lain menimpali. “Apa mungkin selama ini dia nggak bahagia ?” Ellan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, menutup mata. Aroma samar dari rambut Sheana tadi malam masih terasa. Dan makin ia mencoba menghapusnya, justru makin dalam jejak itu menempel. Ia pun mulai membuka sosial media. Mencari akun Dirga. Lalu dari situ, ia menelusuri foto-foto lawas. Menandai momen-momen saat Sheana terlihat... tersenyum, tapi kosong. “Apakah mereka benar-benar bahagia? Apakah Sheana merasa sendirian seperti yang ia rasakan saat duduk di ayunan itu...?” Ellan mengambil ponsel. ‘Hey. Last night...’ Jari-jarinya ragu, sebelum akhirnya menghapus pesan. Diam. Mengetiknya lagi. Hapus lagi. Ia berdiri, berjalan menuju balkon rumahnya, menatap alam yang mulai disinari mentari pagi. “Get out of my head, Sheana...” gumamnya pelan. Tapi otaknya justru bekerja lebih aktif. Dia ingin tahu, kapan Sheana biasanya pergi belanja, apakah dia bekerja, siapa teman dekatnya, dan—ini yang paling mengganggunya—berapa kali dalam seminggu Dirga meninggalkan rumah pagi-pagi... atau pulang malam. Karena semakin tahu sedikit... ...Ellan justru makin ingin tahu lebih banyak. Dan keinginan untuk melihat Sheana lagi… tidak lagi bisa ditahan. *** Alvino menurunkan cangkir kopi yang baru saja menyentuh bibirnya. Matanya tak lepas dari sosok Ellan yang duduk di seberang meja panjang rapat. Mata putranya tertuju lurus ke depan, fokus. Wajahnya serius. Rahangnya mengeras setiap kali mendengar presentasi salah satu kolega. Bukan hal baru melihat Ellan di ruangan ini. Tapi… ada yang terasa berbeda. Dulu, Ellan sering duduk dengan bahu malas, jemari sibuk memainkan pulpen atau ponsel. Sekarang, dia benar-benar menyimak. Dan lebih dari itu, dia terlihat menunggu sesuatu. Alvino menyipitkan mata. Sejak kapan Ellan bisa seserius itu? “Meeting minggu depan diadakan di ballroom hotel, kan?” tanya Ellan tiba-tiba saat rapat hampir usai. Alvino mengangguk, heran. “Iya. Kenapa?” “Just making sure,” jawab Ellan datar, tapi Alvino menangkap sekilas kilat dalam matanya. *** Beberapa hari kemudian, Alvino kembali mengamati dari kejauhan. Pesta ulang tahun CEO salah satu rekan bisnisnya berlangsung cukup mewah. Ruangan penuh dengan obrolan dan tawa, gelas anggur dan aroma parfum mahal bercampur. Dan Ellan, yang biasanya hanya muncul sebentar lalu menghilang, kali ini justru berdiri cukup lama di sisi ruangan. Matanya… lagi-lagi fokus. Tapi bukan ke arah pembicara atau musik. Melainkan ke satu titik. Alvino mengikuti arah pandang itu. Sheana. Wanita itu berdiri di dekat buffet, tertawa kecil saat seorang istri pengusaha lain menunjukkan koleksi foto cucunya. Anggun, tenang, dan—ya, memang tak bisa disangkal—cantik. Alvino menyipit. Sekali lagi, ia melihat Ellan menyesap minumannya pelan tanpa berkedip. Menatap. Sheana tak menyadari. Atau pura-pura tidak. Setelah acara usai dan tamu mulai bubar, Alvino berdiri di balkon ruangan yang kini lebih sepi, menatap lampu kota. Langkah kaki mendekat dari belakang. “Dad,” sapa Ellan. “Kau bertahan cukup lama malam ini,” komentar Alvino tanpa menoleh. “Acara seperti ini… ternyata nggak selalu membosankan,” jawab Ellan, mengangkat bahu. Alvino tersenyum samar. “Kalau kamu tertarik ke dunia bisnis karena wine dan live music, itu kemajuan juga.” Ellan tertawa kecil. “Maybe I’m growing up.” “Or maybe,” Alvino menoleh kini, menatap putranya lekat-lekat, “you’ve found something… atau seseorang, yang bikin kamu betah.” Ellan membalas tatapan itu sebentar, lalu memalingkan wajah. “You think too much, Dad.” Dan Alvino membiarkannya. Tapi dalam hatinya, ia menyimpan pertanyaan, Sejak kapan Ellan datang tepat waktu ke pertemuan yang sama tiga minggu berturut-turut… hanya saat Dirga membawa istrinya? Belum ada kesimpulan. Tapi Alvino tahu satu hal, ia tak akan diam jika sesuatu mengganggu keseimbangan keluarga Dirga. Bukan hanya soal nama baik. Tapi karena Alvino tahu, anaknya tidak pernah tertarik pada hal biasa. Dan Sheana… bukan wanita biasa. Ia ingat dengan jelas bagaimana pertama kali mengenal istri Dirga. Sikap Sheana selalu tenang, tutur katanya terukur. Bukan tipe wanita yang haus sorotan, tapi justru itu yang membuatnya menonjol. Bahkan di tengah wanita-wanita sosialita yang suka memamerkan perhiasan dan prestise, Sheana selalu tampak berbeda. Tenang, sederhana, tapi tak pernah luput dari pandangan. Dan sekarang, pandangan itu juga tertangkap dalam mata Ellan. Alvino bukan pria bodoh. Ia pernah muda. Ia tahu seperti apa tatapan pria yang sedang tertarik dan bagaimana tatapan itu berubah jadi bahaya saat ditujukan ke arah yang salah. Apalagi ini bukan sembarang wanita. Ini istri kolega kerjanya sendiri. Dan Ellan, entah sadar atau tidak, mulai bergerak melintasi batas yang tidak seharusnya disentuh. Keesokan harinya, Alvino sengaja masuk ruang kerja Ellan tanpa mengetuk. Ia ingin mengamati secara alami, bukan dengan pertanyaan langsung yang akan membuat putranya bersikap defensif. Ellan sedang duduk di depan laptop, tapi cepat menutup layar saat melihat ayahnya. “Dad.” “Busy?” “Just catching up,” jawab Ellan ringan. Alvino menarik kursi dan duduk di hadapannya, memerhatikan meja kerja Ellan yang biasanya berantakan kini tampak cukup rapi. Bahkan ada folder dengan catatan tangan yang teratur—hal langka bagi seseorang yang biasanya mengandalkan memori dan intuisi seperti Ellan. “Lagi rajin sekali akhir-akhir ini,” gumam Alvino. Ellan mengangkat bahu. “Waktunya kontribusi lebih banyak, kan?” Alvino menyandarkan tubuh. “Karena istri Dirga sering hadir di pertemuan, ya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD