Wajah Ellan menegang sepersekian detik. Ia terlalu cepat mengangkat alis, terlalu cepat berpura-pura tak mengerti.
“I mean… dia memang punya keahlian di bidang presentasi dan komunikasi. Nggak aneh kalau dia sering dilibatkan,” tambah Alvino, dengan nada santai tapi tajam.
“Kalau punya pikiran lain, itu urusanmu, Dad.”
“Dan kalau aku tahu kamu punya ketertarikan lain, itu juga urusanku.”
Sunyi sejenak. Ruangan tiba-tiba terasa lebih kecil dari biasanya.
“Dirga itu kolega kita, Ellan. Aku nggak bilang kita dekat, tapi kamu tahu apa artinya menjaga garis.”
“Aku nggak ngapa-ngapain,” jawab Ellan pelan. “Nggak lebih dari memperhatikan.”
Alvino tersenyum datar. “Itu kata yang halus untuk obsesi diam-diam, kalau kamu lupa.”
*
Setelah meninggalkan ruangan itu, Alvino berjalan pelan di lorong panjang kantor keluarga mereka. Dadanya terasa berat.
Ia tidak ingin percaya anaknya sedang bermain api. Tapi firasatnya—dan insting lamanya dalam membaca manusia—tak bisa dibungkam.
Jika Ellan memang mulai menginginkan Sheana…
Itu bukan hanya akan menghancurkan keluarga.
Itu akan menghancurkan dirinya sendiri.
Dan sebagai seorang ayah, Alvino tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
***
Lounge hotel bintang lima itu berpendar lembut oleh lampu gantung kristal. Alunan jazz klasik mengisi udara malam, bercampur aroma wine tua dan parfum mahal.
Di sudut ruangan, Ellan duduk bersandar pada sofa kulit, satu kancing jasnya dilepas, memperlihatkan betapa ia tampak tak sepenuh hati berada di sana.
Di depannya, Clarisse, wanita berusia empat puluhan yang flamboyan dan penuh pesona, tengah menceritakan perjalanan liburannya ke Amalfi Coast.
Tapi Ellan hanya mengangguk sesekali, tatapannya kosong.
“You haven’t touched your wine,” tegur Clarisse, menggoyang pelan gelasnya.
Ellan tersenyum tipis. “Lagi nggak mood.”
Clarisse mencibir manja. “Oh come on, darling. This isn’t you. Usually you talk, tease, toast. Kamu kenapa sih, malam ini?”
Ellan menoleh ke arah pintu masuk, seolah menanti sesuatu. Atau seseorang.
Dan saat itu Sheana masuk.
Gaun biru tua yang jatuh pas di tubuh rampingnya, rambut disanggul setengah, dan langkahnya tenang tapi berwibawa. Sheana datang sebagai wakil Dirga untuk acara sosial kecil yang diadakan oleh sponsor klien Dirga.
Tatapan Ellan langsung berubah. Tegas. Tajam. Seolah baru benar-benar hidup setelah lima belas menit mati rasa.
Clarisse mengikuti arah pandangannya. “Siapa gadis cantik yang baru aja mencuri perhatian kamu?”
Ellan tak menjawab. Ia berdiri.
“Tunggu bentar, Clarisse. I’ll be back in a minute.”
Sheana baru saja mengambil segelas mocktail dari pelayan saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
“Ngapain kamu di sini?” tanyanya pelan, tak menoleh.
“Biasa... nemenin klien,” jawab Ellan, tenang. “Old friend.”
Sheana menoleh, menatap matanya. “Sepertinya beberapa kebiasaan emang sulit dihilangkan, ya?”
Ellan menatap balik. “ Hanya kebiasaan yang emang nggak seharusnya bertahan, yang akan hilang dengan sendirinya.”
Sunyi sejenak.
Sheana menghela napas, hendak berbalik, namun tangannya refleks meraih jas Ellan dan merapikan bagian bahu yang lecek. Sentuhan kecil. Tapi cukup membuat Ellan kehilangan pijakannya sejenak.
“You shouldn’t be here,” bisik Sheana, masih menunduk.
“Kamu juga nggak seharusnya ada di sini,” balas Ellan.
Clarisse datang sebelum napas sempat kembali normal.
“There you are! Oh—Sheana, darling?” katanya ceria. “What a surprise. Kamu kenal Ellan juga? What a small, lovely world.”
Sheana membeku sepersekian detik. Tapi dengan cepat ia memaksakan senyum. “Clarisse. Always a pleasure.”
“Dirga sent you, I presume?” tanya Clarisse.
“Iya. Dia ada meeting lain, jadi malam ini aku mewakili dia.”
“Wonderful.” Clarisse menggandeng lengan Ellan. “Kami baru aja mau pergi. Kita pergi sekarang, Ellan?”
Sheana hanya mengangguk. “Enjoy your evening.”
Langkah-langkah mereka menjauh. Tapi bahkan saat Clarisse terus berbicara di sisinya, telinga Ellan tak menangkap apapun. Saat mereka sampai di mobil, Clarisse masuk duluan. Ellan masih di luar, berdiri sejenak, merapikan jasnya yang tadi disentuh Sheana.
Aroma tipis parfumnya tertinggal di sana.
Ia memejamkan mata. Menghela napas.
“What are you doing to me, Sheana…” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Ia mengerjapkan mata, berusaha menepis perasaan yang mulai menggerogoti. Mungkin dia hanya lelah. Mungkin karena alkohol yang baru saja diminum. Mungkin karena perasaan sesaat yang sudah terlalu sering ia alami—saat bertemu orang-orang menarik, namun akhirnya pergi begitu saja tanpa meninggalkan bekas.
Tapi ini berbeda.
This is different.
Dia menghela napas panjang, menatap langit malam yang gelap. Seperti ada sesuatu yang menghalangi pikirannya untuk jernih. Lalu, saat ia hendak masuk ke dalam mobil, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan baru masuk. Dia membuka layar ponsel dan melihat siapa pengirimnya.
Sheana: [ Aku seharusnya nggak membiarkan kamu sedekat ini. ]
Sebuah pesan singkat, namun cukup mengguncang. Ellan terdiam sesaat, menatap layar ponselnya, jari-jarinya gemetar sedikit. Begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi kata-kata itu tak kunjung keluar.
“Kenapa kamu malah ngirimin aku pesan?” pikirnya.
Ia ingin membalas, namun entah mengapa, tangannya malah mengetikkan pesan yang lebih pendek lagi.
Ellan: [ You didn’t have a choice. ]
Ia menekan kirim, lalu menatap layar ponselnya, menunggu balasan yang entah kapan akan datang. Dalam keheningan malam itu, udara terasa begitu berat. Ada ketegangan yang menggelantung di antara mereka—tak terucap, namun terasa. Entah kenapa, semakin ia mencoba melupakan, semakin ia terjerat oleh bayangan itu.
Beberapa menit berlalu. Ponselnya berbunyi lagi.
Sheana: [ Maaf. Aku nggak berpikir panjang. ]
Ellan tersenyum tipis. Mungkin Sheana merasa terjebak, seperti halnya dirinya. Mereka berdua berada dalam permainan yang penuh kebingungan ini, dan keduanya menyadari bahwa semakin dalam mereka terlibat, semakin sulit untuk keluar.
Ia mengetik cepat, tanpa berpikir panjang.
Ellan: [ Mungkin kita berdua memang nggak berpikir. ]
Balasan itu datang hampir seketika.
Sheana: [ Jangan buat ini jadi lebih sulit dari yang seharusnya. ]
Akal sehat Ellan kembali hadir. Dia tahu bahwa ini adalah jalur yang sangat berbahaya. Sheana sudah menikah. Dan bukan dengan sembarang orang. Tapi seperti sebuah magnet, setiap kali dia mencoba menjauh, dorongan untuk mendekat semakin kuat.
Tapi tak bisa.
Dia tidak bisa terus melanjutkan ini.
Belum sempat ia merespons, pintu mobil di depannya terbuka. Clarisse melambaikan tangan dari dalam.
“Ellan! Kamu ikut atau nggak? I’m getting bored in here!”
Ellan menatap ponselnya sejenak, sebelum menutup layar dan memasukkannya ke saku. Ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
“Yeah, yeah. I’m coming,” jawabnya tanpa ekspresi, meskipun hatinya tetap merasa kacau.
Di dalam mobil, Clarisse mulai bercerita tentang liburannya ke Amalfi Coast yang penuh dengan cerita seru. Namun, suara Clarisse terasa samar di telinganya. Pikiran Ellan kembali melayang ke Sheana.
***
Hari berikutnya, Ellan kembali duduk di meja rapat. Fokusnya masih terpecah, tapi kali ini ia mencoba lebih keras untuk tidak memikirkan Sheana. Namun, perasaannya semakin tidak terkendali saat rapat selesai, dan ia melihat Dirga masuk bersama Sheana.
Mereka berjalan berdampingan, tampak bahagia. Dirga bahkan meletakkan tangannya di punggung Sheana dengan penuh perhatian.