Tandai jika masih terdapat kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih.
_________________________________________________________________________________________________________
“Jangan making out di sini, dude! Carilah kamar atau hotel! Kalian berdua bisa mengganggu kenyamanan orang lain!”
Miranda seketika itu juga menoleh, begitu juga dengan Michael. Mereka berdua sontak menjauhkan tubuhnya satu sama lain saat mendapati sosok Sean yang tengah berdiri dengan raut dinginnya.
Okay.....Miranda malu sekarang! Dia bahkan hampir saja terjatuh saat mendengar suara bariton itu menegurnya dengan sangat tiba-tiba. Tapi Miranda tidak akan menunjukkan rasa-rasa seperti itu di hadapan Mike, Sean atau siapapun. Cukup dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu tentang rasa itu.
Lagipula untuk apa dia malu?
Ini Amerika, dan kegiatan yang ia lakukan tadi sudah menjadi hal biasa di sini. Dan untuk Sean, Miranda anggap itu sebagai angin lalu. Biarlah sang mantan ada di sini. Apa pedulinya? Mereka sudah bercerai dan tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara keduanya.
“Maaf, jika kami sudah mengganggu kenyamananmu,” ujar Mike memecah keheningan yang tercipta. Sean pun hanya diam dan langsung melesat masuk ke dalam toilet. Setelah Sean pergi, Miranda kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum. Ia mengalihkan tatapannya pada Mike. Miranda mengusap rahang tegas Mike dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Kita bisa lanjutkan ini nanti,” ujar Miranda dan kemudian pergi mencari tempat duduk di lantai kelas atas itu. Sedangkan Mike, pria itu tengah mengulum senyum bahagianya mendengar bisikan dari Miranda. Lihat saja! Suatu hari nanti dia akan menjadikan Miranda sebagai miliknya.
Dan Mike pun segera mengikuti Miranda dari belakang.
_________________________________________________________________________________________________________ Sean yang sudah masuk ke dalam toilet kosong itu pun hanya bisa berdiri seperti orang bodoh. Sean merasa bodoh karena akhirnya dia melangkahkan kakinya mendekati tempat di mana Michael dan Miranda berkencan. Sean merasa bodoh karena telah bertindak gegabah. Dan Sean merasa bodoh karena tindakkan gegabahnya, ia harus masuk ke dalam toilet ini, padahal sejujurnya dia sedang tidak memiliki keperluan di dalam sini.
Apa yang akan dipikirkan oleh wanita itu sekarang? Oh s**t! Mungkin dia akan berpikir jika dia sedang cemburu!
“Ah s**l!” sedih Sean sambil menyugar rambutnya dengan kasar.
_________________________________________________________________________________________________________
“Apa kau terkejut?” tanya Mike memulai pembicaraan setelah terjadi keheningan yang cukup lama di antara dirinya dan Miranda. Miranda yang mengerti ke mana arah pembicaraan Mike pun tersenyum dan menyesap minuman bersodanya.
“Jika yang kau maksud adalah McAdams, maka akan kujawab ya,” jawab Miranda dengan santai. Mike tersenyum samar. Dia suka wanita yang jujur seperti Miranda.
“Aku pikir kau sudah tahu tentang kedatangannya ke New York,”
“Honestly, aku tidak pernah peduli dengannya. Mau dia ada di New York atau di mana pun, selagi dia tidak menggangguku, maka semuanya akan baik-baik saja,” ujar Miranda yang kemudian kembali menyesap sodanya. Sedangkan Mike yang mendengar penuturan Miranda pun hanya bisa terdiam
“Kami sudah bercerai dan melupakan satu sama lain. And ya.. i’ts over!”tegas Miranda dengan enteng dan kembali menyesap minumannya sekali lagi. Mike mengangguk mengerti. Berati ketakutannya akan kembalinya Sean ke New York hanyalah sebuah angan yang berlebihan.
“Selama tiga tahun ini kau tidak pernah berkontak dengannya?” tanya Mike untuk memastikan. Miranda menggeleng.
“Jika kami masih berkontak ria dan akrab, untuk apa kami bercerai? Mungkin akan jika kami memiliki anak. Tapi kan ini tidak. Jadi jangan berpikiran konyol!” jawab Miranda yang ditanggapi dengan senyuman oleh Mike.
“Kau sendiri bagaimana? Sudah berhasil melupakan mantan tunanganmu?” Miranda yang kini balik bertanya pada Michael. Michael menghembuskan napas pelan dan tersenyum lebar.
“Tentu saja! Dan saat ini aku telah jatuh cinta pada seorang wanita cantik yang ada di hadapanku,” ujar Mike, dan itu sukses membuat Miranda terkekeh pelan.
“Jangan terlalu percaya akan cinta Mike. Selagi kita masih bisa menjaga hubungan, cinta tidak akan pernah diperlukan,” ujar Miranda dengan serius. Dan itu sukses membuat Mike terkejut.
“Kau tidak percaya cinta?”
Miranda menggeleng.
“No!”
“Kalau begitu aku yang akan membuatmu percaya akan cinta,” ujar Mike yang diakhiri dengan suara tawa keduanya.
“Kau ada waktu besok?” tanya Mike. Miranda menggeleng.
“Besok aku harus menjalani pemotretan untuk beberapa majalah di Paris. Dan sebenarnya, sehabis dari sini aku akan langsung terbang ke sana,” ujar Miranda.
“Kau akan ke Paris? Really?” tanya Mike yang terlihat kaget. Miranda mengangguk pasti.
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Aku juga akan ke sana besok. Aku ada beberapa urusan kantor di sana,”
“Kalau begitu, kenapa bertanya tentang waktuku besok?” kekeh Miranda dan kembali menyesap minumannya. Mike menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Hmm...aku pikir kau tidak memiliki jadwal. I mean, aku pikir kau libur. Maksudku aku ingin mengajakmu pergi ke Paris jika kau sedang free. Tapi nampaknya, Tuhan memang telah merencakan sesuatu dengan begitu indah, hingga kita akan pergi bersama ke Paris besok,” jawab Mike salah tingkah.
“Mau menciptakan suasana romantis di kencan kedua heh?” goda Miranda, hingga membuat Mike terbahak. Ini yang Mike suka dari seorang Miranda Smith, dia tipe wanita yang mudah bergaul dan ramah, sehingga tidak sulit untuk memulai suatu pembicaraan dengannya.
“Ya, jika kau bersedia,”
“Tentu saja! Tapi paparazzi, aku-.…”
“Kita akan melakukan kencan dengan cara yang private. Aku tidak sebodoh itu untuk mengajakmu berkencan di tempat umum. Lagipula mana mau kau kuajak berkencan di jalan raya, iya kan?”
Miranda mengangguk sambil tertawa pelan. Padahal dulu, dia dan Sean berkencan di sebuah restaurant yang tidak terlalu elite. Miranda langsung menggelengkan kepalanya saat ia mengingat hal itu.
“Damn! Lupakan Miranda!”
“Baiklah. Aku setuju!” ujar Miranda. Mike pun mengangguk pelan dan kemudian melirik jamnya.
“Mau pulang sekarang? Kita harus menyiapkan kebutuhan untuk besok,” ajak Mike. Miranda menggeleng pelan.
“Kau duluan saja, aku masih ingin di sini sebentar lagi,” ujar Miranda. Mike pun mengangguk.
Miranda berdiri dan berpelukan singkat dengan Mike sebelum akhirnya pria itu dengan tiba-tiba mencium keningnya dengan lembut hingga mampu membuat Miranda membatu di tempanya.
“Aku pergi dulu, sampai jumpa besok,” ujar Mike lalu pergi meninggalkan Miranda yang masih terpaku. Miranda tidak menyangka jika ia akan mendapatkan kecupan hangat dan lembut seperti itu dari Mike.
“Berubah menjadi jalang heh?”
Suara itu langsung membuat Miranda tersadar dari lamunannya. Begitu ia menoleh ke belakang, ia langsung mendapati Sean yang tengah menatapnya dengan senyum mengejek. Miranda terdiam sejenak.
Dan tanpa mau ambil pusing, ia langsung mengambil tas tangannya dan meletakkan billnya di atas meja. Miranda bersikap tidak melihat dan mendengar suara Sean. Namun belum sempat ia melangkah, Sean dengan sigap langsung menahan pergelangan tangannya.
“Apa kau pikir, kau sudah berubah menjadi wanita berkelas setelah aku memberimu harta itu, Anne?” tanya Sean dengan wajah penuh hinaan. Miranda menatap tajam ke arah Sean dan ia langsung menghempaskan kasar tangannya hingga terlepas dari cengkraman Sean.
Miranda masih diam. Dia tidak akan menanggapi semua yang dikatakan oleh Sean. Terserah lelaki itu mau berbicara apa, selagi dia tidak menanggapi maka semuanya akan baik-baik saja. Semuanya telah berubah sehingga tidak ada alasan bagi Miranda untuk menjawab ataupun menanggapi ucapan Sean.
“Cih! Kau bahkan harus menjadi w************n sekarang. Memalukan!” lanjut Sean sambil menatap ke arah Miranda yang sama sekali tidak merespon semua hinaannya, Miranda bersikap seolah dia adalah hantu yang tak terlihat.
“Kenapa diam saja? Apa kau merasa malu sekarang? Atau-…” belum sempat Sean menyelesaikan kalimatnya, Miranda pergi meninggalkannya begitu saja. Wanita itu bahkan melangkah dengan begitu tenang.
Sean yang mendapat perlakuan seperti itu pun menjadi marah bukan main. Memangnya dia pikir, dia itu siapa hingga berani mengabaikannya seperti itu? Sean pun langsung berbalik dan menatap tajam punggung wanita yang tiga tahun lalu berani menggugat cerai dirinya di pengadilan.
Dengan langkah seribu Sean juga ikut meninggalkan area klub setelah membayar billnya. Sean menuruni anak tangga dengan sangat cepat, entah kenapa, dia sangat ingin memaki mantan istrinya malam ini.
Entah ingin memaki atau ingin melihat wajah cantik Miranda, sekali lagi. Hanya Sean yang tahu.
Sedangkan Miranda yang sudah keluar dari area klub segera berjalan menuju basemant untuk mengambil mobilnya yang ia parkirkan di sana. Miranda memang terlihat biasa saja, namun percayalah jika dia saat ini sedang ingin menangis.
Kenapa setiap dia bertatap muka dengan Sean, lelaki itu selalu saja menyakitinya. Apa iya Miranda harus pindah ke planet Mars agar tidak bertemu dengan pria itu lagi?
Pusing memikirkan itu semua, Miranda pun akhirnya menemukan mobilnya. Miranda segera menekan kunci mobilnya hingga pintu mobil itu terbuka secara otomatis. Miranda sudah bersiap akan masuk ke dalam mobilnya sebelum sebuah tangan besar membalikkan tubuhnya dan mengunci semua pergerakkannya.
“What the hell are you doing?!” teriak Miranda dengan spontan.
Mata birunya menatap tajam ke arah pria yang tak lain dan tak bukan adalah mantan suami sialannya, Sean Russel McAdams.
“Ah...kau baru mau berbicara dengan cara yang seperti ini ya? Kau memang jalang sejati, Anne,” gumam Sean dan semakin merapatkan tubuh mereka. Miranda takut, tentu saja! Tapi dia tetap berusaha untuk tenang. Pria ini mungkin sedang mabuk sehingga berani melakukan hal seperti ini terhadapnya.
“Apa rasanya jadi orang kaya hm? Terkenal, memakai barang mewah dan juga....digilai oleh banyak pria. Bagaimana rasanya?” tanya Sean sambil mengangkat dagu Miranda dengan jari telunjuknya. Miranda terdiam sejenak sebelum akhirnya ia dengan kasar mendorong tubuh besar Sean ke belakang.
“Semua bukan urusanmu! Jadi jangan pernah menggangguku!” balas Miranda dengan sinis sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Sean dengan sejuta amarahnya yang memuncak.
“Ahhh....everything has change heh?” kekehnya dengan smirk tajamnya sambil memandang penuh emosi ke arah mobil Miranda yang melaju kencang.
“Ish! Harusnya dia kubuat babak belur saja tadi! Ah! Sean s****n!”
#To be Continued...